TRAVELOG

Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid

Kabar gembira itu datang. Pertengahan Desember, saya mampir ke rumahnya. Dua cangkir kopi Toraja terhidang. Cerita pendakian Carstensz Pyramid pun dimulai.

“Anak saya khawatir ketika saya bilang mau ke Papua,” kata Teguh Umbara (40). Ia sempat waswas, tetapi berusaha menguatkan tekad. “Mumpung sehat dan ada rezeki,” imbuhnya.

Tiket pesawat Jakarta–Timika sudah dipesan jauh hari. “Lebih murah,” ujarnya. Tapi pas pulang, Teguh kena harga normal lebih dari tiga juta rupiah untuk penerbangan Timika–Jakarta. Pemandunya mewanti, kalau mendaki ke pegunungan di Papua, jangan langsung pesan tiket pulang karena jadwal perjalanan rentan berubah. 

“Faktor cuaca sangat memengaruhi,” kata Teguh.

Benar saja, baru tiba di Bandara Mozes Kilangin, Timika, dia tak bisa segera ke titik awal pemanjatan tebing Carstensz Pyramid: Lembah Kuning (Yellow Valley). Teguh tertahan semalam di penginapan setempat. Aturan main dari pihak trekking organizer (TO), jika kendala cuaca menghambat jadwal yang sudah ditentukan, biaya hotel untuk semalam dari mereka.

“Yang gawat kalau lebih dari satu malam, kita harus bayar sendiri,” tuturnya. Saya yang mendengarnya menahan napas. Ngeri, betapa harus siap biaya ekstra kalau main ke Papua. Situasi kerap tak terduga. Kecukupan saldo di rekening jadi jaminan kita tidak terlunta.

Besoknya, cuaca cerah. Pendamping mengabari helikopter sedia mengudara. Teguh bersyukur hanya menginap semalam di Timika. Capung terbang membawanya melintasi deret Pegunungan Sudirman di atas pertambangan Freeport.

“Saya perdana naik helikopter. Mendebarkan. Tapi seru, bisa lihat aktivitas Freeport dan melewati celah-celah gunung,” ucap bos perusahaan rotan itu.

Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid
Teguh di dalam helikopter yang akan terbang ke Lembah Kuning/Dokumentasi Teguh Umbara

Bertemu Seven Summiter

Tidak sampai setengah jam, helikopter mendarat di Lembah Kuning. Tenda warna-warni berserak. Pekan ketiga Oktober 2025 itu, Teguh setim dengan pasangan dokter asal Lombok. Mereka menggunakan jasa TO Indonesia Expeditions atau dikenal “Inex”.

Inex digawangi oleh Sofyan Arief Fesa (Ian), salah satu dari empat pendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (world seven summits) asal Mahitala Unpar. Tim mereka menjadi yang pertama dari Indonesia dalam menyelesaikan misi seven summits tahun 2009–2011. 

Selain Ian, kata Teguh, dia didampingi pula oleh Fransiska Dimitri Inkiriwang (Deedee); pendaki wanita Mahitala Unpar yang menyandang world seven summiter. “Mereka menemani sejak di Timika sampai base camp Yellow Valley.”

Teguh melanjutkan, pendaki bule mendominasi area kemah, tapi beda TO. Informasi yang dia dengar, tidak banyak TO bisa mengakses pendakian ke Carstensz Pyramid. Mesti punya modal dan jejaring kuat, termasuk pemandu profesional bersertifikasi. Kementerian Kehutanan lewat Taman Nasional Lorentz, tidak sembarang memberi izin kegiatan alam terbuka di sana.

“Sekarang saja ada empat TO kena sanksi tak boleh mendaki Carstensz. Ketat sekali,” bebernya.   

Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid
Tenda pendaki menyemut di Lembah Kuning/Dokumentasi Teguh Umbara

Tertahan Cuaca Buruk 

Lembah Kuning ada di ketinggian 4.200-an mdpl. Teguh sempat menikmati cuaca cerah. Dia terpana menatap dinding piramida Carstensz yang menjulang 600 meter. Langkah dan napasnya terasa berat saat lalu-lalang di sekitar tenda. “Apalagi pas mau buang air, kan agak jauh tuh, napas ngos-ngosan,” sahutnya. 

Karena diantar helikopter sampai Lembah Kuning, Teguh sadar aklimatisasinya belum optimal. Beruntung kendala cuaca membuat rencana pemanjatan tertunda beberapa hari. Tubuh pun mulai beradaptasi dengan kondisi suhu dan ketinggian di sana. 

Baru pada 27 Oktober 2025, pemandu mengabari cuaca memungkinkan untuk ke puncak. Teguh keluar tenda ketika gelap dan dingin mencengkeram Lembah Kuning. “Pukul dua dini hari kami bergerak. Setelan sudah pakai peralatan manjat,” ceritanya.

Tidak langsung menyatukan tubuh dengan tali pengaman lewat cincin kait (carabiner) dan jumar (ascender), seratus meter pertama dilalui Teguh dengan melangkah dan scrambling; merayapi batuan karang Carstensz.    

“Alhamdulillah, cuaca bersahabat. Sunrise cantik sekali. Kami mendaki penuh semangat,” ucapnya.

Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid
Suasana pagi di dinding cadas Carstensz/Dokumentasi Teguh Umbara

Pemandangan Salju Tersisa

Walau sudah dua bulan berlatih teknik panjat di tebing Citatah (Bandung)—dipandu Nadya Gianifa (anggota Wanadri)—Teguh mengaku deg-degan saat menapaki medan sebenarnya: tebing Carstensz Pyramid. “Padahal sudah latihan, tapi tetap ngerasa ciut,” ucapnya.

Jauh hari, pihak TO mewajibkan siapa yang mau mendaki Carstensz mesti intensif latihan panjat tebing di daerahnya. Memastikan kesiapan menuju titik 4.884 mdpl.   

Teguh bercerita, perjalanan menggapai atap Nusantara, paling mendebarkan bukan saat meniti jembatan tali (tyrolean traverse) menyeberangi jurang ratusan meter, melainkan ketika melewati dua rekahan tebing yang harus diloncati. “Detak jantung seolah terhenti,” ucapnya seraya menjelaskan tyrolean traverse relatif aman, karena pendaki melangkah pada seutas tali sambil pegangan dua tali (kanan-kiri) yang terhubung dengan carabiner.

Langit biru menyambut Teguh ketika menjejak puncak Carstensz Pyramid. Mereka dikawal guide profesional, Kang Ruslan asal Bandung. Pukul 08.00 WIT itu, mentari hangat menyapa. Lanskap alam sungguh memukau. Gugusan puncak Pegunungan Sudirman elok terhampar. 

“Puncak Soemantri dan Puncak Soekarno (Nggapulu) terlihat masih berselimut salju. Kalau di puncak Cartensz enggak ada (salju). Tapi agak di pojokan, masih kelihatan sedikit salju,” terangnya.

“Mampir ke tempat salju itu?” cecar saya. 

“Wah, terpisah jurang, bahaya.” 

Selama dua jam Teguh bercengkerama di area puncak Carstensz. Membuat dokumentasi dari pelbagai sudut. Tak ada kabut dan mendung. Mensyukuri kesempatan yang diberikan Tuhan, dapat merengkuh salah satu puncak tertinggi dunia.

Teguh menyeberangi jurang selebar 15 meter (kiri). Teguh mengibarkan bendera “Wong Cherbon” di puncak Carstensz Pyramid, 27 Oktober 2025/Dokumentasi Teguh Umbara

Hujan Menyergap

Teguh membawa bekal air hangat dan makanan ringan. Setelah puas menorehkan jejak di puncak Nemangkawi (anak panah putih)—sebutan suku Amungme untuk Carstensz Pyramid—pukul sepuluh pagi mereka turun. Langit berubah gelap, hujan dan angin dingin menerjang.

“Jujur, perjalanan turun lebih menegangkan,” ujarnya.

Susah payah Teguh menuruni tebing dengan cara rappelling; tangan kiri memegang tali karmantel di depan wajah, tangan kanan jadi “rem” di bagian pantat. Harus seimbang saat tubuh merosot dan melompat kecil, seraya memastikan tali bergulir lancar dari figure of eight yang terkait di tali tubuh (harness) pinggang pendaki.

Kedua kaki menapaki batuan tebing, guyuran hujan membuat fokus terpecah. Melupakan lelah usai muncak, berusaha turun dengan selamat, sambil menahan dingin tumpahan air langit.

“Pas rappelling itu kaya meras tali. Sarung tangan basah, tembus. Tangan terasa beku,” kenangnya.

Menjelang kaki tebing, pemandu sempat menunjukkan lokasi terakhir “mamak pendaki” Lilie Wijayanti dan sahabatnya Elsa Laksono, yang gugur di pelukan tebing Carstensz pada 1 Maret 2025. “Posisinya sudah dekat dengan base camp, namun takdir berkata lain,” ungkap Teguh.

Pukul 15.00 WIT Teguh tiba di Lembah Kuning dan bergegas ke tenda. Mengganti pakaian basah, meneguk air hangat, mengantisipasi serangan hipotermia. “Lega sampai base camp lagi,” ujarnya terharu.

Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid
Perlu keterampilan memanjat dan menguasai peralatannya jika hendak mendaki Carstensz Pyramid/Dokumentasi Teguh Umbara

Kendala Cuaca dan Gangguan Keamanan

Cuaca buruk menunda kepulangan Teguh. Tak bisa langsung ke Timika. Bahkan pada satu momen, dua petugas keamanan bersenjata laras panjang yang berjaga di Yellow Valley meminta semua pendaki tidak keluar tenda seharian. Situasi di kawasan kaki gunung, Kabupaten Mimika, tak kondusif.

Penempatan aparat di sana cukup beralasan. Pemerintah Indonesia tak mau kehilangan muka. Carstensz Pyramid adalah destinasi wisata internasional. Jangan sampai perusuh menyentuh para pengunjung.

“Total sepekan saya di Lembah Kuning. Padahal muncaknya hanya sehari saja, mirip pendakian tektok,” kata Teguh terkekeh.

Yang juga mengkhawatirkan, lanjut dia, stok makanan di base camp menipis. Kabut tebal membuat pilot heli enggan terbang. Tak ada lalu-lalang helikopter sekian hari. Menanti tiga malam, akhirnya waktu yang diharapkan datang. Cuaca cerah membuat lalu-lintas penerbangan Lembah Kuning–Mozes Kilangin kembali hidup.

“Akhirnya meninggalkan Yellow Valley. Batuan tajam tebing Carstensz merobek tas jadi kenangan,” tuturnya bangga.

Menunjang pendakian Carstensz Pyramid, Teguh banyak membeli perlengkapan pendakian terbaru. Seperti sepatu khusus untuk medan tebing dengan batuan tajam, jaket penahan suhu dingin ekstrem, kacamata salju, sarung tangan spesial hingga dry bag pengaman perbekalan andai diterpa hujan es.  

Berapa biaya pendakian ke sana? Teguh menghabiskan 120 juta rupiah. Rinciannya 90 juta untuk TO, sisanya transportasi, akomodasi, logistik, dan peralatan mutakhir. “Saya ingin kasih pengalaman berharga buat anak-cucu,” ucapnya.

Tentu saya bungah dengan pencapaian Teguh. Saya mengulas kisah awal pertemuan kami di Lombok dalam artikel “Teman Rinjani”. Alumni SMAN 2 Kota Cirebon itu memang fenomenal. Baru kenal olahraga mendaki tahun 2022, kini nyaris menuntaskan sirkuit Seven Summits of Indonesia. Menyisakan Mahameru yang entah kapan “jinak” kembali.

“Insyaallah tahun depan (2026), saya mau ke Elbrus,” kata Teguh. 

Kisah Kawan yang Mendaki Carstensz Pyramid
Fragmen pendakian Carstensz Pyramid tim Mahitala Unpar (2009) di buku Menapak Tiang Langit/Mochamad Rona Anggie

Kontak Ian Mahitala Unpar

Penulis kemudian menghubungi Ian. Hubungan kami dekat sesama aktivis mahasiswa pencinta alam (mapala). Ian adalah ketua Mahitala Unpar ketika misi pencarian pendaki hilang di Argopuro tahun 2006. Survivor atas nama Vincent dari Mahitala Unpar hingga sekarang lenyap ditelan rimba gunung yang terkenal dengan puncak Rengganisnya. 

Ian menjelaskan kecenderungan pendakian Carstensz Pyramid ada di bulan Maret dan Oktober. Ini mengikuti siklus kunjungan pendaki dunia, terutama yang sedang mengincar seven summits. Sementara Desember–Februari, para petualang menyesaki gunung-gunung di bumi bagian selatan, seperti Aconcagua (Argentina) dan Vinson Massif (Antartika).

Akhir Februari sampai Maret, pendaki internasional biasanya ke Indonesia (Carstensz) dan Tanzania (Kilimanjaro). Pada akhir Maret hingga akhir April, pendaki membanjiri pegunungan Himalaya. Periode tersebut merupakan waktu ideal untuk menziarahi pucuk bumi: Everest (8.848 mdpl).

Namun, kata Ian, bukan berarti Carstensz Pyramid tak bisa didaki di bulan lain. Bisa saja dengan tetap mempertimbangkan faktor cuaca dan situasi keamanan setempat. “Saya pernah muncak Carstensz di Agustus. Lancar dan aman,” pungkasnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Teman Rinjani