Menjadi mahasiswa sastra rasanya kurang afdol jika tidak berlagak bohemian layaknya penyair jalanan. Minimal, pernah foto berpose mengapit rokok di depan mulut, sedikit mendongak, dan memasang tatapan tajam yang menantang—persis potret ikonik Chairil Anwar. Saya pun pernah mengalami masa-masa ‘kerasukan’ imaji Binatang Jalang itu. Namun, sayangnya, itu hanya kecintaan di permukaan. Saya sibuk meniru gayanya, belum mencapai level cakrawala pengetahuan dan kebiasaan “membaca”-nya yang disiplin.
Sampai Adzana Aqsha, kawan sekelas di kuliah, hadir sebagai interupsi. Dialah yang menarik saya keluar dari permukaan, menyarankan saya menelusuri jejak sang penyair lewat buku Aku karya Sjuman Djaya. Buku bersampul merah yang legendaris karena ditenteng Rangga di film AADC itu bukan sekadar naskah film bagi kami, melainkan semacam pintu masuk untuk memahami kegelisahan seorang lelaki naif yang ingin hidup seribu tahun lagi.
Agenda Pembuktian
Namun, setelah melahap buku itu dan mengikuti trennya, saya sadar bahwa saya adalah satu dari sekian banyak orang yang terjebak dalam arus, mengagumi Chairil lewat kacamata budaya pop. Satu hal yang mengganjal, semua kekaguman itu masih terasa abstrak. Chairil bagi saya seperti mitos, tokoh fiksi dalam sejarah; sebuah nama besar yang ‘hidup’ dari mulut ke mulut, di atas kertas dan layar lebar.
Hingga akhirnya, dorongan untuk membuktikan Chairil bukan sekadar mitos memuncak ketika saya bertandang ke sebuah kontrakan di Jakarta. Bersama kawan saya, Kiki dan Lanang, obrolan sore itu berujung pada kesepakatan: TPU Karet Bivak. Mulanya mereka sangsi. Dari sekian banyak pilihan tempat yang dianggap vacation–able di ibu kota, mereka heran, mengapa saya memilih sebuah pemakaman?
Tak ingin mengulur waktu, melihat langit Jakarta semakin meredup, saya menyambar keraguan mereka dengan sebuah dusta jenaka bahwa, agenda ini adalah perintah Allah! Kami pun tergelak. Beruntung, Kiki dan Lanang juga begitu mafhum dengan sastra, apalagi Chairil; mereka tahu betul bahwa pertanyaan mereka—pun jawaban ngawur saya tadi—hanyalah bumbu candaan saja.
Maka, kami pun segera membelah kemacetan Jakarta, menukar kenyamanan nongkrong dengan ziarah. Kami membawa dua motor: saya boncengan dengan Kiki, Lanang sendiri. Segera kami ingin menghadap nisan penyair itu, melihat langsung tempat sosok yang pernah membuat saya dan/atau kami (juga Cinta) jatuh hati itu kini beristirahat, ‘mampus dikoyak-koyak sepi’ tepat di bawah kaki kami.

Perjalanan ke Karet Bivak
Perjalanan dari Cibubur seperti pengejaran terhadap sisa-sisa nyawa puisi yang masih tertinggal. Kekhawatiran akan turun hujan membuat kami terburu-buru. Menurut Google, kami bisa mencapai Karet Bivak dalam sejam. Lokasinya cukup strategis di wilayah Karet Tengsin, Tanah Abang.
Kalau melihat peta, TPU Karet Bivak seperti ‘pulau hijau’ yang dikepung ikon-ikon modernitas Jakarta: kawasan perkantoran dan Citywalk Sudirman. Intinya, ia berada di jantung Jakarta, terkepung kemacetan dan beton ibu kota. Membayangkan sebuah pemakaman luas ada di tengah-tengah wilayah sepadat itu saja sudah membuat saya penasaran.
Setelah cukup lama menembus kemacetan, kami tiba di Jalan R.M Margono Djojohadikoesoemo. Kiki sang navigator memberi aba-aba kalau tujuan sudah di depan mata. “Lima menit lagi sampai. Di depan ada persimpangan, ambil kiri, ya,” ujarnya. Saya mengikuti, tetapi mendadak ragu karena ada dua ruas jalan yang sama-sama membelok ke kiri dalam jarak yang sangat berdekatan.
Kiki dengan yakin menyuruh saya mengambil belokan kiri pertama. Saya menurut saja. Tak lama, Kiki tertawa. Ternyata, navigasinya keliru. “Harusnya jalur yang depan tadi!” serunya. Saya hanya bisa mengumpat sambil tergelak. Akibat salah ambil belokan, kami terjebak di jalur yang tak memungkinkan untuk putar balik. Jarak yang semula tinggal lima menit membengkak jadi lima belas menit karena kami dipaksa memutar jauh menyisir jalan protokol yang lebar.
Namun, Jakarta punya caranya sendiri untuk menguji niat. Kesalahan itu justru membawa kami melaju tepat di depan patung Jenderal Sudirman hingga terseret jauh ke Bundaran HI.
Di sinilah sebuah benturan naratif terjadi. Kami sedang melakukan perjalanan menuju kematian—mencari kuburan penyair yang mati muda—tetapi ruang justru melempar kami ke jantung kapitalisme. Bagaimana rasanya harus menempuh labirin kemajuan menuju pekuburan sunyi? Niat ziarah saya terasa begitu purba.
Setelah drama berakhir, motor kami akhirnya menepi tepat di depan gerbang TPU Karet Bivak. Suasana mendadak berubah; ruwetnya jalan Sudirman berganti pemandangan penjual-penjual bunga berderet rapi di sepanjang trotoar.
Kami turun, merenggangkan kaki sejenak, sebat sebentar, lalu mendekati salah satu pedagang. Saya memutuskan untuk membeli sebungkus bunga tabur—mewakili kami bertiga. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp10.000. Sambil memegang kantong plastik berisi kembang itu, ada rasa haru yang aneh. Sepuluh ribu rupiah untuk sebuah perjumpaan yang sudah lama saya impikan. Ya, setidaknya sejak masih sibuk berpose gaya-gayaan dengan rokok di depan kamera dulu.
Pusara Berukir Bait Puisi
Memasuki area dalam, hamparan rumput hijau menyambut, tertata rapi dalam blok-blok yang presisi. Karet Bivak sore itu begitu hidup sekaligus khusyuk; jauh dari kesan seram yang biasanya melekat pada pemakaman. Saya melihat banyak orang berlalu-lalang, berjongkok di samping nisan, dan menaburkan bunga.
Langkah saya terhenti sejenak di awal masuk. Tepat di bagian depan, seperti tuan rumah yang menyambut setiap tamu, berdiri sebuah makam yang ukurannya tinggi besar-mencolok dibanding nisan-nisan sekelilingnya. Itulah makam Ibu Fatmawati. Mengetahui sang Penjahit Bendera Pusaka dimakamkan begitu megah di garda depan, saya membayangkan sedang melewati pintu masuk menuju perpustakaan besar sejarah Indonesia. Ada rasa hormat yang muncul seketika, sekaligus kesadaran bahwa perjalanan mencari nisan Chairil Anwar di balik kemegahan ini barulah dimulai.
Kami sempat kebingungan, berputar-putar di antara ribuan nisan yang tampak serupa dari kejauhan. Sadar bahwa pencarian manual hanya buang-buang waktu, saya menyerah dan membuka mesin pencarian untuk memastikan koordinatnya. Di sana tertera jelas: Blok AA1 Blad 35 No. 248.
Sebenarnya, saya sudah khatam dengan rupa makamnya. Gambar nisan putih yang memanjang ke atas—menyerupai pena atau bambu runcing berukir bait puisi “Aku”—sudah sering saya lihat di berbagai media. Namun, di lahan seluas ini, rupa yang ikonik itu pun bisa terselip jika kita tak tahu persis alamatnya.
Berbekal angka-angka tersebut, saya menghampiri seorang petugas makam. “Pak, kalau Blok AA1 sebelah mana, ya?” tanya saya. Ia memberikan petunjuk begitu mantap, dan kami kembali melangkah dengan keyakinan yang mantap pula.
Setelah menelusuri Blok AA1, langkah kami akhirnya terhenti di depan nisan putih berbentuk pena. Saya berlutut, menaburkan bunga. Senja jatuh sepenuhnya di Karet Bivak, menyapukan warna tembaga di atas pusara. Di hadapan “pintu rumah” si Binatang Jalang, kegelisahan yang saya bawa jauh-jauh dari Cibubur mendadak mendidih. Angin bangkit membawa pesan masa lalu, mengusik batin saya dengan pertanyaan telanjang: masih adakah kata yang berguna mengajarkan cinta di tengah dunia yang dijepit gunung emas dan berlian ini?

Ini bukanlah kunjungan wisata sastra. Ada semacam ironi yang agaknya juga menyakitkan: saya bisa sampai Jakarta, bisa menginjakkan kaki di Karet Bivak ini, justru karena saya sedang menyerahkan leher pada industri, bukan untuk mencari sajak. Dan di depan nisan ini, saya merasa seperti seorang pengkhianat yang datang meminta restu.
Ini adalah upaya saya untuk merdeka—lepas dari sekadar gaya-gayaan bohemian—menuju pemahaman yang lebih perih tentang kenyataan. Sambil menaburkan sisa bunga, saya membisikkan baris-baris yang telah saya siapkan, sebuah aduan terakhir bagi seorang penyair yang sedang mempertaruhkan sisa dayanya pada kata-kata:
Karet Bivak
pada sepetak tanah kau berbaring
di karet, di karet, tempatmu berada
ini waktu sudah sangat sempit
terbatas tak sempat buat sajak
aku mengadu padamu yang tertidur
sebentar dengar dan bangkitlah
terbang jadilah kata bersayap
hinggapi pucuk nisan dan pandangi aku
seperti angin ketika senja mengelus
memukul dentur jiwaku hampa
hei kau yang masih berbaring
di karet, pilihanmu
berapa lama lagi puisi bertahan
sebelum dihempas topan ajaib
menuju dunia sempurna bahagia
dijepit gunung-gunung emas intan berlian
masihkah kau ada harap
meluap dalam dada darah serta rasa
ketika cinta sonder pusaka
sonder makna dan lekas jadi pudar artinya
bisakah puisi kembali berdiri
berjajar baris menabuh genderang
kini di sini, tempatmu berbaring
di karet, di karet
sekali lagi, sebaris lagi?
Saya menoleh sekali lagi ke hamparan “kota mati” ini sebelum pulang. Karet Bivak adalah salah satu penjaga arsip para tokoh besar bangsa. Di luar sana, Jakarta boleh berisik dengan mesin-mesinnya, tapi di sini, di bawah nisan pena ini, saya tahu jawabannya: puisi harus tetap berdiri, walau hanya sebaris lagi, walau hanya untuk menunda sepi.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Kind Shella, seorang pegawai swasta yang kelewat batas menyukai keindahan. Selain bekerja, ia juga tergabung dan aktif belajar semesta keredaksian di Penerbit Kobuku.



