Itinerary

Jika Rindu Keheningan, Datanglah Pagi-Pagi ke Situ Cipiit

Pemuda berjaket cokelat muda itu berdiri persis di tengah-tengah pertigaan Jalan Raya Pelabuhan-Pangleseran, Sukabumi, Jawa Barat. Ada tiga kendaraan roda empat dan beberapa sepeda motor yang akan masuk ke Jalan Raya Pelabuhan dari arah Pasar Pangleseran, Minggu pagi lampau (9/7/2023). Dengan kedua tangannya ia memberi kode kepada para pengemudi kendaraan. Terutama yang melaju dari kedua arah di Jalan Raya Pelabuhan untuk memberi jalan bagi kendaraan dari arah Pasar Pangleseran.

Begitu kendaraan dari arah Pasar Pangleseran surut, saya buru-buru menghampiri pemuda tersebut. Saya bertanya dalam bahasa Sunda ihwal rute menuju Situ Cipiit. Dengan bahasa Sunda aksen Jampang, ia mengarahkan saya agar lurus dan kemudian setelah bengkel belok kiri ke arah Leuwiliang. Saya ucapkan terima kasih dan segera mengikuti arahannya.

Pemuda tadi bukan satu-satunya orang yang saya tanya tentang rute jalan ke Situ Cipiit. Total ada delapan warga lokal yang saya gali infonya sepanjang jalan menuju Cipiit. Selain mengonfirmasikan mengenai rute yang harus saya tempuh, bertanya langsung ke warga lokal juga menjadi sarana saya untuk memaksa diri mempraktikkan bahasa Sunda. Sehingga kemampuan komunikasi saya dalam bahasa daerah tersebut tetap terpelihara.

Jika Rindu Hening dan Sunyi, Datanglah Pagi-Pagi ke Cipiit
Jalan makadam menuju Situ Cipiit/Djoko Subinarto

Tak Terjangkau Angkutan Umum

Secara administratif, Situ Cipiit berada di Kampung Rawa Seel, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi. Dari Terminal Utama Sukabumi, yang berada di Jalur Lingkar Selatan, jarak ke Situ Cipiit sekitar 15,4 kilometer. Itu perhitungan di atas kertas yang berpatokan pada aplikasi Google Maps.

Dari mulai terminal hingga Desa Tanjungsari, tidak ada sama sekali plang atau papan petunjuk yang menunjukkan lokasi maupun rute menuju Cipiit. Plang penunjuk arah ke Situ Cipiit baru saya temui persis beberapa ratus meter sebelum pintu masuk ke lokasi. Plangnya kecil. Terpasang di posisi yang tidak terlalu ideal untuk mata pengendara.

Dalam hal transportasi, Situ Cipiit sama sekali tidak terjangkau oleh angkutan umum. Apabila memaksa menggunakan kendaraan umum, kita hanya bisa sampai Pasar Pangleseran. Untuk sampai Situ Cipiit, jika tidak membawa kendaraan sendiri, pilihannya harus menyewa mobil atau naik ojek dari Pasar Pangleseran. Namun, bagi yang suka blusukan bisa saja memilih berjalan kaki. Toh jarak dari Pasar Pangleseran ke Situ Cipiit cuma lima kilometer. Rute sejauh itu dapat ditempuh dengan berjalan kaki santai selama kurang lebih 1—1,5 jam. Dari jarak tersebut, sekitar 3,4 kilometer didominasi dengan tanjakan dan jalan makadam.

Posisi Situ Cipiit, yang juga sering disebut Situ Dewa Dewi, berada di sebuah cekungan dan ada pohon-pohon pinus di sekelilingnya. Situnya sendiri tak begitu luas. 

Dari aplikasi mountain and peak finder yang terpasang di ponsel, saya ketahui terdapat sedikitnya delapan gunung dan bukit yang berada di sekitar Situ Cipiit. Yang paling dekat adalah Gunung Guha, berjarak 1,3 kilometer dari Cipiit. Adapun yang terjauh, yaitu Gunung Walat, berjarak sekitar 9 kilometer.

Jika Rindu Keheningan, Datanglah Pagi-Pagi ke Cipiit
Tegakan pohon pinus di sekitar Situ Cipiit/Djoko Subinarto

Jadi Arena Kamping

Sewaktu saya datang menyambangi situ atau telaga pagi itu, terlihat sekelompok pemuda tengah bergegas meninggalkan lokasi usai membongkar tenda yang mereka pakai untuk berkemah di tepian situ. 

Di sudut lain, tak jauh dari tegakan pohon-pohon pinus, tiga tenda lainnya yang masih berdiri. Para penghuninya tampak asyik mengobrol di luar tenda.

Langit terlihat biru bersih. Embun pagi yang masih lekat menempel di rerumputan. Membasahi sebagian kulit kaki saya yang terbuka lantaran saya hanya menggunakan sandal jepit. Nyanyian burung-burung liar di balik rimbunnya pinus di ujung timur situ terdengar nyaring. Tak ketinggalan bunyi belalang dan jangkrik juga turut melengkapi suasana pagi.

Saya melangkahkan kaki mendekati situ. Serumpun ilalang yang berada persis di pinggir situ bergoyang-goyang tersapu embusan angin. Air situ sekilas tampak kuning kecokelatan. Warna yang terlihat mendominasi permukaan Situ Cipiit rupanya diakibatkan dasar situ merupakan tanah lempung berwarna kuning pekat kecokelatan. Saya berjalan lebih mendekati bibir situ. Ternyata airnya jernih. Tampak ikan-ikan kecil berenang-renang riang.

Dari sisi timur, saya bergeser ke utara. Saya mendapati sejumlah bongkahan batuan purba tak jauh dari bibir situ. Di dekat onggokan batuan purba, terpasang plang logam bertuliskan “Situ Dewa Dewi Cipiit.” Terdapat pula logo Perhutani di bagian atas plang tersebut.

Saya teruskan mengitari situ hingga ke sisi barat sampai melihat sebuah tugu atau monumen. Saya perhatikan sudut demi sudut dan menemukan sebuah tulisan di bagian bawah tugu:

“Ingatlah hari ini, kawan. Ini untuk mengekalkan kenangan bahwa ternyata cinta, kasih sayang, dan persahabatan itu memang ada. Sukabumi, Januari 2021. P4-Alumni E27 IPB Bogor.”

  • Jika Rindu Keheningan, Datanglah Pagi-Pagi ke Cipiit
  • Jika Rindu Keheningan, Datanglah Pagi-Pagi ke Cipiit

Opsi Pas Bagi Penyuka Keheningan

Luas total kawasan Situ Cipiit sekitar dua hektare. Areal tanahnya sendiri sepenuhnya milik Perum Perhutani. Dalam hal pengelolaan Situ Cipiit untuk kepentingan pariwisata, Perum Perhutani melakukan kerja sama dengan warga setempat.

Tarif masuk ke Situ Cipiit tergolong murah meriah, yakni Rp5.000 per orang, sementara parkir kendaraan Rp3.000. Adapun untuk berkemah tarifnya Rp15.000 per orang.

Lokasinya yang agak terpencil dan tidak terjangkau transportasi umum membuat Situ Cipiit sejauh ini tak begitu ramai disesaki wisatawan. Bahkan di hari libur sekalipun.

Bagi mereka yang mendamba keheningan dan kesunyian, Situ Cipiit dapat menjadi salah satu opsi yang pas untuk dikunjungi. Apalagi jika datang selagi hari masih sangat pagi, tatkala butiran-butiran embun masih erat mencumbu rerumputan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Bersepeda Melibas Tanjakan Ciloto ke Warung Mang Ade