Travelog

Hatiku Terpaut Kepada Sendang Biru

Entah berapa kali aku pergi ke TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Sendang Biru. Walaupun tidak menyajikan bibir pantai yang tertutup hamparan pasir. Bagiku, Sendang Biru menyuguhkan keindahan dan kenangan yang tidak ternilai harganya. 

Sendang Biru dikenal sebagai lokasi bongkar muat hasil nelayan melaut. Tidak hanya itu, Sendang Biru menjadi ikonik Kabupaten Malang atau Malang Selatan. Banyak produksi sumberdaya perikanan yang dihasilkan, mulai dari cumi-cumi hingga komoditi utama berupa tuna. Sehingga Sendang Biru bukan hanya bertujuan untuk rekreasional semata, tetapi roda perekonomian juga berputar disana.

Menumpang kapal bermotor di Pantai Sendang Biru

TPI Sendang Biru/Melynda Dwi Puspita

Lain halnya dengan TPI Sendang Biru, Pantai Sendang Biru menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup populer. Pantai ini berlokasi di Desa Sumber Agung, Kecamatan Sumbermanjing Wetan yang bersebelahan langsung dengan TPI Sendang Biru. Nama pantai ini juga dikenal sebagai tempat untuk melaksanakan tradisi Petik Laut setiap tahunnya. Tradisi yang bertujuan sebagai ungkapan wujud rasa syukur para nelayan atas melimpahnya hasil melaut. 

Mengunjungi pantai, merupakan pengalaman pertama di tahun 2018 dan belum pernah terulang kembali hingga saat ini. Seperti halnya pantai yang ada di Malang Selatan lainnya, mendatangi Pantai Sendang Biru akan dikenakan tarif masuk sebesar Rp10 ribu. Pantai ini dikelola langsung oleh pihak Perhutani KPH Malang. 

Pantai Sendang Biru/Melynda Dwi Puspita

Bibir pantai memiliki pasir putih yang bersekat dengan sebuah beton penghalang. Sekat ini berfungsi untuk mengaitkan tali kapal nelayan yang parkir. Melihat deretan kapal berjejer, membuat diri ini ingin mencoba diterpa ombak, melawan arus air dan berada di tengah lautan lepas. Banyak kapal nelayan yang bersandar, mulai dari perahu kecil hingga kapal bermotor. Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, aku bersama beberapa orang teman mencoba menumpang kapal bermotor. Dengan bermodalkan Rp100 ribu, kami diberi kesempatan untuk mengelilingi perairan Sendang Biru. Apabila beruntung, seringkali terlihat lumba-lumba yang melintas.

Selain hanya digunakan berkeliling, kapal nelayan menjadi moda transportasi untuk mengantarkan penumpang menyebrangi lautan menuju Pulau Sempu. Mengingat Pulau Sempu menjadi satu-satunya Pulau Taman Nasional yang berada di selatan Pulau Jawa. Saat ini Pulau Sempu tidak dibuka untuk kegiatan wisata.

Bercengkerama dengan nelayan

Aku berdua bersama seorang rekan, pernah menuju ke Pantai Sendang Biru jauh-jauh dari Kota Malang. Hanya untuk mengabadikan foto terkait aktivitas nelayan dan kapal melaut. Kami juga sempat membuat obrolan ringan bersama para nelayan yang nampak asyik membenahi jaring ikan. “Saya berasal dari Pemalang, Jawa Tengah. Teman-teman yang lain juga sama”, ucap seorang nelayan berkaos biru langit sembari telunjuknya mengarah kepada kumpulan pria dewasa.

Kami juga sempat naik ke kapal yang terlihat ada cumi-cumi sedang dijemur di atas deck. Seorang pria berkaos hitam dan tanpa mengenakan celana nampak ramah mempersilahkan kami untuk sejenak mengamati kondisi di dalam kapal. Aku sendiri terbiasa bertemu nelayan yang seakan-akan ‘porno’ di atas kapal. Bukan karena keinginan mereka, karena saat itu kemungkinan pakaiannya sedang basah terkena air laut maupun air hujan. “Saya dari Makassar, mbak”, ujarnya.

Aku jadi teringat ucapan seorang pria jangkung yang asli berasal dari kawasan Sendang Biru. “Kalau, warga asli Sendang Biru banyak yang jadi petani atau berkebun. Yang jadi nelayan malah kebanyakan dari luar daerah”. Mungkin terdengar ironis, karena harta karun dari wilayah sendiri malah ‘diambil’ orang lain. Namun tidak ada yang bisa disalahkan karena laut adalah kekayaan milik bersama.

Memancing 

Sendang Biru memiliki perairan yang subur. Sehingga tidak mengherankan apabila nelayan selalu mendapatkan ikan walaupun tidak sedang musimnya. Momen ini tidak dilewatkan oleh penggiat hobi memancing. Setiap harinya akan terlihat banyak orang yang sedang terduduk di tepi jembatan beton untuk menunggu ikan menyambar kailnya. Begitu pula dengan beberapa temanku.

Walaupun aku pernah berkuliah di Fakultas Perikanan dan Ilmu Perikanan. Belum pernah rasanya diri ini mencoba aktivitas memancing. Aku hanya bisa mengamati dan menemani teman-teman yang memiliki hobi menarik alat pancing.

Memborong Ikan

Pasar Ikan/Melynda Dwi Puspita

Tidak hanya ilmu kehidupan yang diperoleh, bertandang ke TPI Sendang Biru akan rugi rasanya tidak membeli ikan-ikan segar. Memasuki kawasan TPI Sendang Biru ini, sebenarnya ditarik biaya kurang lebih sebesar Rp2.000 hingga Rp3.000. Namun berkali-kali aku pergi kesana, tidak pernah sekalipun aku dihadang petugas tiket. “Mungkin memang rezeki,” pikirku.

Selain dapat mengamati proses pelelangan ikan, pengunjung juga diperbolehkan membeli ikan di sebuah pasar ikan. Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau. Banyak pula jenis seafood yang diperjualbelikan, udang, lobster, tuna, cakalang dan masih banyak lagi. Sebaiknya berkunjung di awal hari, karena biasanya nelayan mulai berdatangan membawa hasil tangkapan.

Saat melaksanakan magang di kawasan ekowisata bahari, yang bertetangga dengan Sendang Biru. Aku dan kawan-kawan pernah mencicipi tuna bakar berukuran besar di salah satu rumah makan. Hal itu menjadi salah satu pengalaman tak terlupakan bagiku karena mengonsumsi ikan besar secara bersama-sama.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.

Melynda Dwi Puspita adalah sebutir pasir pantai asal Probolinggo, Jawa Timur.
    Artikel Terkait
    Travelog

    Harapan di Tanah Perantauan

    Travelog

    Perjalanan ke Gunung Butak

    Travelog

    Sebuah Petualangan di Bukit Gading

    Travelog

    Sepenggal Kisah di Balik Pembangunan Sirkuit Mandalika

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    Worth reading...
    Pantai Indrayanti, Gunung Kidul, Seharusnya Jadi Tempat Favorit