TRAVELOG

Hal-Hal Sederhana di Pantai Gratis Pesawaran

Cuaca Februari memang masih sulit ditebak. Sekian rencana bisa saja gagal demi guyuran hujan yang datang tanpa salam. Ini situasi yang akrab dihadapi warga sekitaran Bandar Lampung di musim penghujan. Tapi saya punya siasat. 

“Hari ini mari ke pantai,” celetuk istri saya, Kamis (5/2/2026). Saya terkejut. Itu ide yang rawan menjadi gagal, apalagi bila bayangan ke pantai yang kita punya adalah pelesir menikmati debur ombak, berlarian di tepi pantai dengan payung hangat matahari, dan menyongsong langit senja sebagai penutup. Maka saya tak tahan buat merespons, “Hidungmu sakit, nggak?”

“Sakit, sih. Tapi mengapa tidak?” Pertanyaan itu bagian dari siasat mengakali musim pancaroba yang tak menentu seperti sekarang. Percaya tidak percaya, istri saya memiliki kemampuan khusus. Hidungnya terasa sakit apabila hari itu, atau beberapa jam ke depan, hujan akan turun. Awalnya saya tidak percaya. Namun, ketahuilah, sudah ribuan hujan kami hadapi berawal dari sakit hidungnya.

Benar saja, selepas mengurus sejumlah hal hingga pukul 2 siang, awan hitam menggelayut di langit Kedaton, Bandar Lampung. Tanpa menunggu lama, rintik hujan mulai membasahi kota. Kami menepi sejenak. “Kita tak jadi pergikah?” tanya dia.

Saya menunjuk hujan yang juga membawa angin lumayan kencang. “Lihat itulah, nggak lucu kalau kita berdua sakit.” Saya mendapati wajahnya yang tertekuk. “Oke-oke, kita tunggu sampai reda dulu.”

Kami menunggu di warung kelapa muda Telemung di tepi jalan Pagar Alam, depan kampus Universitas IIB Darmajaya.  Dua porsi siomay dan dugan telemung—kelapa muda yang dicampur susu UHT—entah mengapa terasa pas walau dingin tengah menggigit kulit. Saya mengingat-ingat kali terakhir pergi ke pantai. Sepertinya setahun lalu, sebelum kami memutuskan menikah. Kala itu kami pergi ke Pantai Mutun, Pesawaran. Apakah kami akan pergi ke sana lagi kali ini?

Hal-Hal Sederhana di Pantai Gratis Pesawaran
Lapangan tembak di seberang pantai. Kendaraan pengunjung bebas parkir di pinggir jalan/Wahid Kurniawan

Penantian yang Terbayar

“Sudah reda, ayo kita pergi.” Saya menengadahkan wajah ke atas. Benar, sudah reda. Mike—motor Beat kami—saya pacu membelah jalanan Bandar Lampung yang mulai memadat lantaran mendekati jam pulang kantor. Di beberapa titik kami masih merasai rintik hujan, tetapi itu cuma sesaat. Sebab, begitu sampai di Telukbetung, lalu menuju Lempasing, menyusuri Jalan Way Ratai, sinar hangat menerpa wajah kami. “Kali ini kita pergi ke pantai gratis yang belum pernah kamu kunjungi,” jelasnya.

Saya coba menebak pantai gratis mana yang ia maksud. Pilihannya banyak kalau bicara soal destinasi wisata kebanggaan masyarakat Lampung ini. Dari pinggir daerah Pesawaran, Kalianda, hingga Pesisir Barat, sekian pantai ditawarkan dengan kekhasannya masing-masing.

Bila ingin menikmati pasir bersih memanjang yang membuatmu bebas berlarian hingga kaki kebas, lalu bersantai di gazebo hingga senja paling cemerlang hinggap di mata, coba pergilah ke Pantai Embe atau pantai sekitarnya di Kalianda. Atau kalau mau merasakan debur ombak Samudra Hindia, pantai-pantai di Pesisir Barat jadi jagoannya. Jika cukup beruntung, kawanan lumba-lumba bakal memanggil namamu. 

Namun, bila waktumu terbatas dan rombongan yang kaubawa cukup ramai, coba pertimbangkan pantai-pantai di Pesawaran, seperti Mutun, Pulau Mahitam—yang perlu menyeberang lewat dermaga Ketapang—atau Klara yang bisa ditempuh cukup singkat dari pusat kota. Adapun pantai tujuan kami, rupanya merupakan pantai tak bernama di tengah-tengah jalur antara dermaga Ketapang dan Pantai Klara 2. Letaknya masih di Jalan Way Ratai, tepatnya di depan Yonif 7 Marinir/Ajabra.

Hal-Hal Sederhana di Pantai Gratis Pesawaran
Bibir pantai dipenuhi bongkahan batu karang/Wahid Kurniawan

Pantai Tanpa Retribusi

Tak perlu heran mengapa pantai itu tanpa nama. Sebab, memang tidak dikelola secara resmi sebagai objek wisata. Itulah mengapa warga bebas pergi ke sana tanpa khawatir dipungut bayaran. “Setahuku ini lahan ini milik marinir. Siapa yang berani masang karcis?” jelas istri saya setelah perjalanan 1,5 jam.

Kami disambut suara tembakan dari lapangan tembak yang memang persis berada di depan bibir pantai. Kami mendapati sejumlah pengunjung sudah lebih dulu tiba. Kebanyakan muda-mudi yang mungkin mengirit biaya kencan. Satu pasangan memancing perhatian kami karena tengah asyik merangkai alat pancing sederhana: cuma bermodalkan senar pancing dan kail, sementara gulungannya memakai botol minum gelasan. 

“Ide mancing pasti muncul di tengah perjalanan kemari,” kata saya. “Kira-kira cowoknya sempat berujar, ‘Nanti kita mancing’, Lalu si cewek bingung dan si cowok dengan enteng bilang lagi, ‘Cukup senar sama kail. Aman.’ Ide yang menarik. Kapan-kapan kita coba.”

Istri saya tertawa. Katanya, ia sempat khawatir kalau saya bakal kecewa datang kemari. “Tak banyak yang ditawarkan. Paling kita cuma bisa duduk-duduk, jalan di tepiannya pas lagi surut, iseng nyari biota laut, sama foto-foto.” 

Bukankah pantai-pantai lain menawarkan hal yang kurang lebih sama? Rasanya sulit merasakan kekecewaan apabila kau bisa duduk menikmati sepoi angin yang membelai kulit, sembari tersiram hangat matahari sore, menikmati lembut pasir pantai, dan tertawa-tawa mengejar kepiting di tempat seperti ini. Apalagi mengingat dana yang mesti kita keluarkan di pantai-pantai sekitarnya yang makin melonjak. Kentara betul punglinya. Pantai ini jelas menawarkan alternatif membebaskan pikiran dari gemerlap kota yang kian sibuk dan membuat sakit kepala.

Kendati tak banyak hal bisa dilakukan, tapi saya mendapati senyum cerah dan deraian tawa di sekitar kami. Sekelompok remaja putri asyik berlarian sambil berswafoto entah sejak kapan. Tampak juga keluarga dengan putra-putri mereka yang heboh menangkap udang, kepiting, juga kerang. Sementara di sisi lain, sepasang muda-mudi membawa kursi kecil sendiri, lengkap dengan meja dan minuman dingin, barangkali asyik membicarakan betapa si perempuan tampak lebih menawan ketimbang langit cemerlang yang hadir di depan mereka.

Tenggelam dalam Perburuan Mencari Kepiting

Kami pun tak mau kalah. Selepas menyantap sepiring bakso dan mi ayam yang dijual di depan markas marinir, kaki kami turun memijak pasir pantai. Ada tembok pemecah ombak yang mesti dituruni dengan hati-hati. Selusinan batu karang ragam ukuran tersebar di bibir pantai yang kami kira panjangnya lebih dari seratus meter. Istri saya tak mau berjalan jauh-jauh. Ia takut jatuh dan membahayakan janin dalam kandungan delapan bulannya. Maka ia pun melepas saya buat melangsir sendirian. “Aku di sekitaran sini saja, ya. Kamu coba cari kepiting atau apalah. Asal jangan jauh-jauh.” 

Dan itulah yang saya lakukan dua jam ke depan. Aktivitas menyusuri pantai yang airnya hanya semata kaki itu rupanya keterlaluan membuat lupa waktu. Sesekali saya menengok untuk mengecek keadaannya dan ia hanya melambai. Saya tersenyum, ikutan melambai, kemudian saya berjalan kembali. 

Seekor kepiting sukses mencapit jari tengah saya, sementara kepiting lain membuat saya tampak konyol mondar-mandir mengejarnya dan hanya beroleh peluh di leher. Saya merasa terkalahkan. Dua hal itu cukup membuat dopamin menjalari tubuh saya, untuk tak menyebutnya dendam buat menangkap lebih banyak kepiting lain yang masih tersebar. 

Hingga menjelang senja yang hampir tenggelam, air laut perlahan naik dari semata kaki jadi setinggi betis. Di bibir pantai, pengunjung lain mulai berdatangan. Istri saya tampak seperti anak hilang di samping dua rombongan baru yang mengapitnya. Saya berjalan ke arahnya dengan sekantung plastik berisi kepiting yang sukses dikalahkan. “Ketagihan, ya,” sambutnya. Saya tertawa saja. Tak menyangka bisa sedemikian menikmati kegiatan yang awalnya terlihat konyol itu.

Hal-Hal Sederhana di Pantai Gratis Pesawaran
Senja mulai turun/Wahid Kurniawan

Kami melihat sekeliling. Selain pengunjung yang makin ramai berdatangan, pandangan kami ditarik oleh pasangan yang memancing tadi. Si perempuan bersorak kegirangan saat umpan pancingnya disambut. Ikan kecil berhasil ditariknya, dan si lelaki bilang, “Tuh kan, apa aku bilang?”

Kami tertawa. Kami mengerti maksud pembicaraan mereka. Sebab, tadi mereka pergi agak ke tengah dan tak dapat apa-apa. Si perempuan meminta mereka kembali saja, menyudahi upaya menggaet ikan itu. Tapi sepertinya si lelaki sama keras kepalanya terhadap buruan, sebagaimana saya memandang kepiting-kepiting yang lolos. 

“Setelah baby lahir, kita ke sini lagi dan coba memancing,” kata saya. Tawanya berderaian kembali. “Semoga cuaca cerah seperti sekarang,” pungkas saya.

Langit kesumba makin kentara. Matahari mulai memadatkan warnanya hingga senja yang barangkali dicari orang-orang praktis membuai mata. Kami ingin menikmatinya lebih lama, tapi kami khawatir apabila pulang saat gelap. Perjalanan pulang yang sepanjang jalannya dilingkupi pohon yang dahan dan daunnya menjuntai, membuat perasaan tak aman mudah hinggap. Maka, kami memutuskan menghidupkan Mike

Seiring bibir pantai yang makin tertinggal di belakang, saya mengingat momen beberapa saat lalu. Sebuah tempat yang mungkin tak menawarkan banyak hal, tetapi tampaknya selalu menyediakan hal buat dimaknai sepenuh hati. Seperti kecipak langkah di atas air, pekik saat mata kail disambut ikan, atau sekadar kejar-kejaran dengan kepiting yang tak selalu mengizinkanmu menang.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Wahid Kurniawan

Wahid Kurniawan, penikmat sastra. Telah menerbitkan buku "Tiga Fragmen Air Mata dan Kisah Lainnya" (Noken Studio Publisher, 2024)

Wahid Kurniawan

Wahid Kurniawan, penikmat sastra. Telah menerbitkan buku "Tiga Fragmen Air Mata dan Kisah Lainnya" (Noken Studio Publisher, 2024)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyibak Kabut Kenangan di Taman Nasional Way Kambas