Travelog

Pan Java Mulyoagung, Tanah Tak Terpakai yang Kini Menjadi Desa Wisata

Ide hanyalah sebatas bayangan tanpa sebuah tindakan dan sebuah tindakan hanyalah sebatas angan-angan tanpa sebuah dukungan. Hal inilah yang telah dirasakan oleh para Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang setelah berhasil menyulap tanah desa seluas lima hektare yang tidak terpakai—dalam arti tidak menghasilkan pundi-pundi rupiah—menjadi Desa Wisata Pan Java Mulyoagung.

Desa Wisata Pan Java Mulyoagung dapat dimaknai sebagai Panorama Alam Jawa di Desa Mulyoagung, sebab di desa ini menyajikan wisata kuliner khas Jawa seperti nasi empok sayur bobor, es dawet, dan beberapa jenis gorengan; sekaligus dengan pemandangan khas alam Jawa seperti gubuk tani beserta hamparan hijau persawahan. Pelbagai olahan makanan di sini berasal dari hasil panen warga setempat.

Jajanan /Akhmad Idris

Desain gubuk di tengah ladang persawahan, seolah membawa setiap pengunjungnya ke masa-masa indah dahulu kala. Menikmati olahan khas nasi empok seolah menjadi penawar atas rasa rindu terhadap masakan nenek yang telah lama tiada atau pisang goreng khas buatan mamak yang kini terbaring lemah di atas kasur sebagai bukti bahwa setiap manusia memiliki masa. Memang benar, setiap hal bisa saja hilang; pergi; atau tak kembali, tapi kenangan adalah hal yang akan selalu abadi dalam setiap memori.

Desa Wisata Pan Java Mulyoagung dapat tercipta sebab inisiasi dari para muda-mudi Pokdarwis desa yang ingin ‘mempermanenkan’ penampilan (potensi kuliner dan budaya) Desa Mulyoagung ketika pagelaran Festival Tempoe Doeloe pada tahun 2017 lalu. Sungguh sangat disayangkan jika potensi kuliner dan budaya Jawa di Desa Mulyoagung hanya ditunjukkan sekali setiap tahun. Keresahan tersebut mendorong mereka untuk membuat desa bisa dikunjungi oleh pelbagai kalangan masyarakat di setiap saat.

Kemudian para muda-mudi Pokdarwis Desa Mulyoagung memutuskan untuk mengunjungi desa-desa wisata yang sukses di Kabupaten Malang, mulai dari Boon Pring Andaman; Gubugklakah; hingga cafe sawah Pujon Kidul untuk menimba ilmu tentang pendirian desa wisata. Setelah dirasakan memperoleh referensi yang cukup, sepuluh orang mewakili Pokdarwis Desa Mulyoagung membuat proposal yang berisi tentang konsep Desa wisata Mulyoagung (Pan Java).

Proposal yang telah dibuat itu dipresentasikan di depan kepala desa dan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Malang. Perjuangan mereka akhirnya tidak sia-sia, sebab proposal tersebut disetujui. Banyak dukungan yang mulai berdatangan, hingga beberapa investor dari warga desa sendiri berkeinginan untuk turut serta. 

Para Pokdarwis memang sengaja tidak menerima investor dari luar desa, agar seluruh warga Desa Mulyoagung sama-sama memiliki sense of belonging (perasaan memiliki) terhadap Pan Java Mulyoagung. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Zhao, dkk (2012) dalam penelitiannya bahwa sense of belonging merupakan kelekatan emosional individu terhadap objek tertentu. Jika seseorang telah memiliki sense of belonging, maka ia akan memiliki kasih sayang dan rasa keanggotaan terhadap objek tersebut.

Muda-Mudi Pokdarwis Desa Mulyoagung Membangun

Pengunjung/Akhmad Idris

Keberadaan Pan Java Mulyoagung seolah menjadi oase di tengah gurun modernisasi. Menjamurnya cafe-cafe atau tempat nongkrong kekinian menjadikan cafe bernuansa tradisional bernilai mahal. Bukankah setiap hal yang berceceran akan menjadi hal yang membosankan, sementara hal yang jarang ditemukan akan menjadi hal yang dirindukan?

Tak berlebihan jika seorang filsuf asal Prancis, Pierre Teilhard De Chardin mengatakan bahwa manusia di belahan bumi bagian manapun adalah makhluk yang penuh misteri. Artinya, ketika berada di zaman tradisional mereka ingin segera berkembang menuju zaman modern. Sementara ketika sudah berada di zaman modern, mereka justru ingin kembali ke zaman tradisional. 

Dulu, manusia terkagum-kagum dengan kecanggihan teknologi. Mulai dari alat komunikasi berbasis benang dan kertas yang dianggap kurang efisien, sehingga akhirnya terkesima dengan alat komunikasi berbasis jaringan seperti telepon genggam dan kini telepon pintar. Mulai dari hamparan hijau persawahan dan perkebunan yang dianggap terlalu ndeso, hingga akhirnya terpesona dengan bangunan-bangunan tinggi pencakar langit.

Pan Java Mulyoagung/Akhmad Idris

Namun itu dulu. Kini, manusia kembali merindukan suasana tenang yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan sekaligus masih steril dari pencemaran polusi khas daerah industri. Agaknya hal inilah yang mampu dibaca dengan baik oleh muda-mudi Pokdarwis Desa Mulyoagung yang menginisiasi pendirian desa wisata Pan Java. 

Sejauh ini, Pan Java Mulyoagung sudah memiliki beberapa bagian bangunan—dan masih terus melakukan pembangunan—seperti Cafe Kopi Tani yang menyediakan minuman kopi khas persawahan, Warung Tani yang menyediakan olahan makanan serta jajanan khas Jawa, dan Sambal Desa Kasemo yang menghadirkan olahan sambal khas warga Mulyoagung.

Akhir kata, terima kasih kepada para muda-mudi Pokdarwis Desa Mulyoagung yang berhasil menyediakan obat untuk rasa rindu terhadap masa lalu.

Dosen dan penulis buku "Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia."

Dosen dan penulis buku "Wasiat Nabi Khidir untuk Rakyat Indonesia."
    Artikel Terkait
    NusantarasaTravelog

    Menikmati Segelas Cendol Elizabeth di Hari Minggu

    Travelog

    Memaknai Fenomena Alam Pasca Badai Seroja

    Travelog

    Mengenang Perjuangan Kemerdekaan di Taman Tegallega

    Travelog

    Cara Terbaik Memaknai Pulang (4)

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *