Interval

Demam “Gowes” dan Pengembangan Pariwisata

Potensi negara kita untuk mengembangkan industri wisata bersepeda masih sangat terbuka. Banyak kawasan menawan di negeri ini yang menantang untuk disambangi dan dijelajahi dengan sepeda.

Aktivitas bersepeda di sejumlah kota di Indonesia menunjukkan tren yang meningkat belakangan ini. Setidaknya ini ditandai dengan kian banyaknya warga di beberapa kota yang mengayuh sepeda menyusuri pelbagai jalur untuk mencapai beragam destinasi di setiap akhir pekan. Belum lagi aktivitas gowes yang rutin digelar oleh sejumlah aktivis dan komunitas sepeda di hari-hari kerja biasa.

Kita berharap tren bersepeda yang meningkat ini ikut mendorong dan membentuk kultur bersepeda yang semakin kuat di masyarakat. Dengan begitu, sepeda, yang notabene sangat ramah lingkungan itu, menjadi alat transportasi sehari-hari masyarakat. Di saat yang sama, industri wisata bersepeda juga diharapkan akan tumbuh dan berkembang.

Manfaat besar

Tidak perlu diragukan, penggunaan sepeda secara masif akan memberikan manfaat besar bagi kesehatan Bumi yang kita huni. Kita tahu saat ini miliaran ton gas beracun terus dilepaskan ke udara tanpa henti, menjadikan udara di sekeliling kita kian kotor dan membahayakan. Salah satu sumber gas beracun yang mengotori udara kita saat ini adalah kendaraan bermotor berbahan bakar fosil.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sendiri mendorong negara-negara anggotanya serta para pemangku kepentingan lainnya untuk menekankan dan mempromosikan penggunaan sepeda sebagai sarana untuk mewujudkan tercapainya pembangunan berkelanjutan, memperkuat pendidikan, termasuk pendidikan jasmani, khususnya untuk anak-anak dan kaum muda, meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, mempromosikan toleransi dan saling pengertian serta menghormati, juga memfasilitasi inklusi sosial dan pengembangan budaya damai.

Selain itu, PBB mendorong pula negara-negara anggotanya untuk mencurahkan perhatian khusus pada penggunaan sepeda dalam strategi pembangunan lintas sektoral dan sekaligus memasukkan sepeda dalam kebijakan pembangunan di level internasional, regional, nasional, maupun lokal.

Ketersediaan infrastruktur sepeda menjadi salah satu elemen krusial yang mampu mendorong warga memilih sepeda sebagai sarana transportasi sehari-hari. Keberhasilan Kopenhagen (Denmark), Groningen (Belanda), dan Portland (Amerika Serikat) menjadi Kota Sepeda antara lain karena pengelola kota-kota tersebut mampu menyediakan infrastruktur sepeda secara prima.

Sejumlah warga bersepeda di luar jalur sepeda yang baru di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu, 7 Desember 2014 via TEMPO/Dasril Roszandi

Kita perlu mengapresiasi langkah sejumlah pemerintah daerah di negeri ini yang telah membangun jalur khusus bagi pesepeda (bike lane). Sebagai hal yang sangat dibutuhkan demi menjamin kenyamanan dan keselamatan para pesepeda, jalur khusus tersebut perlu diperbanyak dan diperpanjang–jika mungkin hingga ke luar kota.

Keberadaan jalur khusus pesepeda perlu didukung pula oleh sarana parkir sepeda. Dengan demikian, para goweser tidak kebingungan atau kerepotan ketika mereka telah sampai di suatu tempat dan harus memarkir kendaraan mereka. Tempat dan fasilitas publik seperti taman kota, perpustakaan, kampus perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, rumah ibadah, gedung pertemuan, pusat perbelanjaan, kantor pemerintah, seyogianya mulai menyediakan lahan parkir buat sepeda.

Khusus untuk kampus perguruan tinggi dan sekolah, tidak ada salahnya apabila diwajibkan memiliki lahan parkir sepeda. Ini guna menyokong gerakan bersepeda ke kampus maupun bersepeda ke sekolah. Pengelola sekolah perlu mendorong agar siswa-siswinya bersepeda, ketimbang menunggang sepeda motor dan naik mobil pribadi seperti banyak dikukan para siswa sekarang ini—kendatipun sebagian dari mereka tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM) karena masih belum cukup umur.

Keberadaan pangkalan sewa sepeda (bike sharing) perlu pula diperbanyak untuk mengakomodir mereka yang tidak memiliki atau tidak membawa sepeda, namun ingin bersepeda. Jika memungkinkan, pangkalan sewa sepeda ini tersedia juga di sekitar kompleks-kompleks permukiman sehingga akses warga untuk bersepeda semakin mudah.

Mengingat kita berada di daerah tropis, di mana matahari bersinar sepanjang tahun, infrastruktur hijau berupa pohon-pohon rindang peneduh jalan mutlak dibutuhkan untuk membikin nyaman para pesepeda. Pohon-pohon berdaun rimbun yang berjejer di kanan dan kiri jalan membentuk kanopi, selain membuat suasana terlihat asri, juga akan membikin hawa lebih adem dan lebih segar. Keberadaan jalur khusus pesepeda dengan pohon-pohon peneduh yang rindang menjadikan para goweser tidak akan cepat lelah dan kehilangan banyak cairan tatkala harus mengayuh pedal sepeda di siang hari bolong saat matahari bersinar sangat terik sekalipun.

Yang juga penting adalah edukasi bagi para pesepeda. Edukasi bersepeda dibutuhkan agar para pesepeda mampu senantiasa tertib berlalu-lintas, mematuhi rambu-rambu yang berlaku dan sekaligus menghormati pengguna jalan lainnya. Dengan begitu, mereka tidak akan membahayakan diri sendiri dan juga orang lain.

Bagaimanapun, jalan raya bukan hanya milik pesepeda, tetapi juga milik pengguna jalan lainnya. Itulah sebabnya ada prinsip share the road—saling berbagi jalan dengan pengguna jalan lainnya. Komunitas-komunitas sepeda yang ada memiliki kewajiban untuk ikut mengedukasi para anggotanya agar mampu tertib saat bersepeda.

Wisata sepeda

Dalam kaitannya dengan kepariwisataan, aktivitas bersepeda dapat ikut mendukung pengembangan sektor wisata minat khusus dalam wujud wisata bersepeda. Aktivitas wisata bersepeda bisa dilakukan di kawasan perkotaan, daerah pinggiran maupun di daerah perdesaan. Wisata ini bisa pula digabungkan dengan event atau acara tertentu, seperti atraksi seni, pameran, festival, maupun perlombaan/pertandingan olahraga.

Menurut Outdoor Industry Association yang bermarkas di Colorado, Amerika Serikat (AS), bersepeda merupakan salah satu bentuk rekreasi dan wisata yang paling cepat pertumbuhannya saat ini. Di AS, aktivitas wisata bersepeda menyumbang pemasukan sekurangnya 83 miliar dolar AS per tahun. Sementara di Skotlandia, wisata bersepeda menghasilkan antara 120 juta hingga 257 juta dolar AS per tahun.

Sejumlah pesepeda gunung menyusuri jalanan di Desa Sebotok, Moyo, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Jumat, 2 November 2012 via TEMPO/Rully Kesuma

Wisata bersepeda bukan saja sangat cocok dikembangkan di wilayah perkotaan yang padat, tetapi juga di perdesaan yang notabene masih memiliki banyak kawasan berpanorama asri, lantaran dampak negatifnya terhadap lalu lintas yang sangat rendah serta tidak menimbulkan polusi udara dan suara.

Ditilik dari durasi tinggalnya di destinasi wisata, wisatawan bersepeda cenderung tinggal lebih lama. Merujuk kepada hasil kajian dari Universitas Montana, yang bertajuk “Analysis of Touring Cyclists: Impacts, Needs and Opportunities for Montana” (2013), wisatawan yang menggunakan sepeda umumnya tinggal sekitar 40 persen lebih lama dibanding para wisatawan bermotor dan bermobil.

Potensi negara kita untuk mengembangkan industri wisata bersepeda tentu saja masih sangat terbuka. Banyak kawasan menawan di negeri ini yang menantang untuk disambangi dan dijelajahi dengan sepeda. Pemerintah dan pelaku industri wisata bisa bekerja sama dengan berbagai komunitas sepeda untuk merancang dan menyiapkan paket-paket wisata bersepeda yang atraktif, baik itu yang menyasar wisatawan domestik maupun mancanegara.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Djoko Subinarto

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.
Artikel Terkait
Interval

Sepenggal Kisah tentang Komodo dan Ata Modo

Interval

Lahan-lahan Bermain yang Mendatangkan Generasi Sehat

Interval

Lenyapnya Pusaka Pertanian

Interval

Melihat Kampung Wisata Polowijen dan Pariwisata Berbasis Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *