Itinerary

Camping di Waduk Sermo

Camping di Waduk Sermo memang bukan menjadi tujuan utama kami karena sebetulnya, tujuan awal kami datang ke sana adalah untuk memancing dan memasak. Itulah mengapa hanya alat pancing, alat masak, dan bahan makanan saja yang kami bawa. 

Awal cerita perjalanan kami dari Solo ke Waduk Sermo memakan waktu sekitar dua setengah jam menggunakan mobil pribadi. Kami berangkat berempat dengan berbekal Google Maps saja untuk sampai di lokasinya. Selama perjalanan memang tidak ada yang spesial, hanya canda tawa kami selama perjalanan yang tak ada habisnya.   

Sesampainya di Waduk Sermo, kami disuguhi dengan pemandangan yang indah. Waduk yang luas dengan suasana damai dan tenang. Masih banyak juga pepohonan yang tumbuh di sekitar waduk, jadi pemandangannya memang sangat memikat. 

Tiket Masuk Waduk Sermo

Waduk Sermo via Deta Widyananda
Waduk Sermo via Deta Widyananda

Setelah membayar tiket masuk Waduk Sermo dengan harga Rp5 ribu per orang. Kami pun mulai masuk dan mempersiapkan segala perlengkapan untuk memancing. Menurut beberapa informasi yang kami peroleh, memancing di Waduk Sermo memang butuh perhatian khusus karena ikan yang dipancing tidak bisa diperlakukan sama untuk umpannya. 

Namun karena tak ingin mengambil risiko, kami membawa berbagai umpan yang sekiranya bisa memikat ikan seperti pelet, cacing, dan lumut. 

Dua jam sudah berlalu dan belum ada ikan yang berhasil kami pancing. 

Sambil menunggu yang lainnya asyik memancing, saya berkeliling sejenak untuk sekedar melihat-lihat keindahan Waduk Sermo ini. Pasalnya, waduk ini sangat terawat dan bahkan lokasinya pun bisa dibilang lumayan bersih. Mungkin enak kali ya untuk ngecamp di Waduk Sermo ini, tapi sayangnya kami tidak mempersiapkan alat camping yang memadai. 

Rasa penasaran memang sudah bergejolak sehingga seperti ada yang menyuruh saya untuk melihat-lihat ke bagian loket masuknya tadi. Saya sempat melihat ada tiket untuk camping di Waduk Sermo seharga Rp15 ribu per orangnya. Siapa tahu kami bisa mencari tempat persewaan alat camping terdekat jika semuanya mau. 

Camping Di Waduk Sermo

Setelah melihat-lihat sejenak dan sedikit bercengkrama dengan pengelolanya, ternyata di situ memang menyediakan persewaan untuk camping. Ketika saya tanya apakah masih memungkinkan untuk kami camping di waduk ini. Petugasnya bilang kalau masih ada kuota untuk camping kami berempat, beliau kembali menerangkan kalau sebelumnya memang harus reservasi dahulu karena seringnya penuh menjelang sore.

Saya bergegas menemui teman-teman saya dan menawarkan apakah mereka mau menginap semalam di sini Tak butuh banyak kata-kata untuk membujuk karena mereka tertarik dengan suasana dari waduk ini. Bersih, tidak terlalu ramai, dan tenang memang paling pas untuk tempat camping, memancing, dan memasak.

Saya kembali lagi ke tempat pengelolanya tadi berada. Membayar tiket untuk camping dan sewa alat-alat untuk campingnya. Untuk tenda disewakan seharga Rp50 ribu dengan kapasitas empat orang sedangkan untuk lampu emergency disewakan dengan harga Rp15 ribu.  

Fasilitas yang Lengkap

Fasilitas camping di Waduk Sermo bisa dibilang lumayan lengkap. Pengalaman saya berkunjung ke waduk lain memang tidak selengkap ini fasilitasnya. Mulai dari mushola, toilet, area parkir yang luas, area camping yang terawat, hingga fasilitas air bersih pun ada. 

Ditambah lagi untuk kayu bakar tak perlu susah-susah mencarinya karena ada yang jual di dekat pos penjaga. Satu ikat kayu bakar dijual dengan harga Rp20 ribu saja, padahal menurut saya jumlah kayu bakarnya lumayan banyak.  Tak heran jika banyak orang yang merekomendasikan Waduk Sermo ini sebagai tempat camping favorit.

Setelah beberapa jam berlalu, tibalah waktu sore hari di mana matahari sudah ingin menutup shiftnya hari ini. 

Tangkapan ikan dari yang mereka pancing sejumlah 5 ekor ikan nila yang berukuran cukup besar pun juga sudah memuaskan hasrat mereka. Kami saling membantu untuk mendirikan tenda, mempersiapkan masak-masak, dan sedikit mendekorasi camping kami biar terkesan seperti lagi wild camping beneran. 

Empat kursi mancing yang sudah kami tata melingkar di sekitar perapian, tenda yang sudah terbuka dan alat-alat masak pun juga siap digunakan. Api kompor kami nyalakan dan mulai memarinasi slice beef bawaan kami. 

Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan suasana pun agak lebih gelap. Bau bakaran dari slice beef pun sungguh menyeruak, membuat kami semakin kelaparan. Banyak orang di sekitar kami yang sering curi-curi pandang, karena mungkin bau dari daging ini juga membuat perut mereka iri.

Nasi yang kami panaskan lagi menggunakan nesting juga menjadi pendamping slice beef yang kami masak barusan. Harusnya kami mulai memasak itu saat siang harinya jika tidak menginap semalam di Waduk Sermo ini. 

Menghabiskan Malam Dengan Keriangan

Waduk Sermo via Deta Widyananda
Waduk Sermo via Deta Widyananda

Namun karena perhitungan kami yang hanya membawa perbekalan makanan untuk sekali masak, maka lebih baik memang untuk santap malam saja. Saat siang harinya kami membeli makanan di warung-warung sekitar waduk. 

Sesi santap sudah selesai, maka acara selanjutnya adalah menyalakan api unggun!

Kami membagi tugas, sebagian untuk mencuci perlengkapan makan, sebagian membersihkan ikan, dan saya bertugas untuk menyalakan api unggun. Mereka memang sadar diri karena saat mereka memancing, hanya saya yang sibuk mengurus masalah persewaan tenda tadi. 

Suasana damai ditambah suara kodok dan jangkrik dari berbagai arah memang sungguh menjadi suatu yang tak terlupakan. Mungkin saya cuma bisa bercerta, namun jika kamu benar-benar di posisi saya, tentu akan merasakan hal yang sama. 

Mereka sudah kembali dengan membawa alat makan yang sudah bersih dan ikan yang siap untuk dipanggang. Benar-benar seperti wild camping beneran, sebagian tangkap ikan langsung dibakar di atas bara api, sebagian lagi kami masak di atas kompor.

  • Waduk Sermo via Deta Widyananda
  • Waduk Sermo via Deta Widyananda
  • Waduk Sermo via Deta Widyananda

Ikan kami marinasi terlebih dahulu menggunakan lada, garam, sedikit minyak, dan bubuk bawang-bawangan. Satu jam kami habiskan untuk bercengkrama membahas apapun yang ada di pikiran kami. 

Saat api sudah menyala stabil, ikan kami tusuk menggunakan ranting seadanya dan mulai kami panggang di dekat perapian. Sambil menunggu ikan matang, salah satu dari teman saya membuat kopi untuk sebagai teman bercengkrama. 

Tak berselang lama, ikan sudah matang dan kami icip-icip sampai habis. Bumbu-bumbu marinasi yang meresap hingga ke dalam daging ikannya memang tak ada yang bisa menandinginya. Malam semakin larut dan kami pun beranjak untuk tidur. 

Karena saat ini sedang masa pandemi, sebelumnya pengelola sudah memberikan himbauan untuk mereka yang camping harus sudah mengemasi perlengkapan dan meninggalkan lokasi pada jam 7 pagi. Hal ini untuk mengurangi kepadatan pengunjung agar terhindar dari pengunjung lain yang terpapar virus.  

Bagi kamu yang suka kegiatan alam, tak ada salahnya untuk mencoba camping di Waduk Sermo. Jangan lupa mempersiapkan peralatan camping yang memadai karena suhu udara di sana cukup dingin apalagi memasuki musim penghujan.  

Menurut informasi dari pengelolanya, sebaiknya memang harus reservasi terlebih dahulu agar mendapatkan slot untuk camping. Apabila slot sudah penuh maka pengunjung yang ingin camping tidak diperkenankan untuk masuk ke area, walaupun mereka sudah datang dari tempat yang jauh.

Nico Krisnanda seorang anak biasa yang punya mimpi besar, untuk tetap bernapas dan bisa membantu orang di sekitarnya menjadi tokoh-tokoh penting dunia!

Nico Krisnanda

Nico Krisnanda seorang anak biasa yang punya mimpi besar, untuk tetap bernapas dan bisa membantu orang di sekitarnya menjadi tokoh-tokoh penting dunia!
Artikel Terkait
Itinerary

Kekayaan Nusantara itu Bernama Halili dan Topi Nunu

Itinerary

Mencicipi Ragam Soto Nusantara

Itinerary

Ada Apa Saja di Museum Santet Surabaya?

Itinerary

Mampir ke Destinasi Wisata Ini Pas di Sumba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *