Interval

Bertemu Teman Perjalanan yang Dinanti-nanti Lewat Buku “Kelana”

Pada akhir 2020, akhirnya saya seperti punya teman perempuan perjalanan yang dinanti-nanti. Saya menutup tahun yang bagai roller coaster dengan buku “Kelana: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika” karya Famega Syavira Putri. Tiap kisahnya dalam menempuh separuh lingkar bumi ditulis begitu hangat dan memiliki kedekatan tersendiri bagi saya. Buku ini pun begitu spesial: catatan perjalanan, ditulis perempuan, dan tergolong baru karena terbit 2018.

Bila dalam buku-buku travel kebanyakan kita cenderung disuguhi kisah heroik pejalan perempuan yang melabeli dirinya backpacker murah, berfokus pada tips menekan biaya, atau seperti berkompetisi untuk menikmati tempat wisata terkenal, buku dari jurnalis BBC ini berbeda.

Ia mampu hadirkan kisah pejalan perempuan dengan berbagai kemelut dan sisipan sejarah. Latar belakang profesinya sebagai jurnalis, nampak nyata dalam karyanya yang penuh informasi berkat riset berpadu apik dengan pengalaman menarik yang dihadapinya dalam perjalanan. Dan seperti kata Leila S. Chudori, ia membawa subgenre penulisan perjalanan ke tahap yang lebih tinggi: ia memilih berdekatan dengan bumi dan air.

Perihal bumi dan air yang disinggung penulis Laut Bercerita, Famega memang menuturkan beberapa kisah perjalannya berkaitan dengan dua hal itu. Salah satunya soal ceritanya di Mongolia bersama keluarga nomaden. Keluarga yang ia tumpangi memiliki beberapa barang yang sumber listriknya dari panel surya di atap tenda.

Buku ini merupakan catatan perjalanan Famega ke Afrika sendirian via darat. Puluhan ribu kilometer ia tempuh bukan tanpa rasa takut. Ia membawa segala ketidakpastian, keraguan, dan kecamuk batin lain yang ada dalam petualangannya merayakan perbedaan dengan bermacam-macam orang yang ia temuinya di berbagai tempat. Berdiri 24 jam di kereta, makan langit-langit mulut kambing di Mongolia yang tidak boleh dimakan laki-laki karena akan membuat mereka jadi cerewet, menyusuri jalur Trans-Siberia, komunikasi melalui gambar, hitchhiking berbagai kendaraan, kehilangan barang, mendengarkan deklamasi puisi orang asing, dll.

Perempuan dengan ketar-ketir yang sama

Kelana: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika

“Kelana: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika” karya Famega Syavira Putri/Dewi Rachmanita

Menelaah tiap kalimat di buku Famega membuat saya berefleksi sekaligus mengenang berbagai perjalanan lama saya. Terlebih 2020 nyaris tidak pernah bepergian jauh. Saya memilih lebih banyak menghabiskan waktu di rumah walau kebosanan dan keinginan berwisata terus menyerang.

Bukan hanya soal rindu “escape” ke tempat berbeda, tapi rindu bertemu banyak orang baru dengan berbagai latar berbeda. Saya rindu melihat langsung banyak kebaikan dan belajar di perjalanan. Dan rindu ada rasa takut yang akhirnya saya jadikan teman dalam berkelana.

Salah satu bagian dari buku Kelana bercerita soal Famega yang ragu menumpang truk. Sang supir harus mengembalikan truk terlebih dahulu dengan jalur yang menjauhi jalan raya. Namun, siapa sangka setelah sempat berpikir buruk atau ragu, ternyata supir tersebut malah khawatir dengan kondisi Famega. Ia menyapa Famega lewat Facebook dan memastikan kondisi perempuan yang ia temuinya di jalan. Hal ini mengingatkan betul dengan banyak sekali orang yang sering bertanya kabar saya setelah kami berbeda arah. Hubungan dengan orang-orang itu pun selalu saya usahakan jaga baik bahkan sampai bertahun-tahun setelah perjumpaan pertama kali.

“Saya ketar-ketir. Begitulah susahnya jadi perempuan, apalagi yang sedang sendirian di negeri asing. Meski percaya dengan insting, saya harus selalu waspada dengan laki-laki. Semua orang harus saya waspadai sampai dia terbukti tidak punya niat jahat, yang tentu saja baru terbukti ketika tidak ada hal buruk yang terjadi hingga akhir perjumpaan.”

Kelana: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika

“Kelana: Perjalanan Darat dari Indonesia sampai ke Afrika” karya Famega Syavira Putri/Dewi Rachmanita

Di bab berjudul “Lithuania: Bergandengan Tangan Ala Baltik” itu memantik memori  saya dengan pengalaman yang sama terkait waspada dengan orang di perjalanan. Saat itu saya masih kuliah dan sedang melakukan perjalanan ke Lombok untuk menyusul teman kuliah yang baru Rinjani untuk sama-sama bertualang bersama teman kuliah kami lainnya yang tinggal di Lombok.

Kapal dari Bali yang saya tumpangi bersandar di Lombok tengah malam. Kala itu saya pertama kali turun kapal sendirian tengah malam di Lombok. Buta arah. Belum lagi minim lampu menerangan. Saya hanya mengikuti kebanyakan orang melangkah. Sampai saya akhirnya menyadari ada seorang laki-laki di belakang saya. Ia bertanya arah tujuan saya. Saya hanya mengiyakan dan menjaga jarak sebagai bentuk kewaspadaan. Ia terus di belakang bahkan mengikuti saya. Dan ia pada akhirnya menemani saya menunggu teman datang di sebuah minimarket. Pada akhirnya saya tahu, dia bukan orang jahat, malah membantu saya untuk menghindari tindak kejahatan dari orang lain di malam yang gelap.

Saya sering ditanya, apa tidak takut bepergian sendiri? Kok berani? Apa tidak pernah bertemu orang jahat? Kenapa tidak bersama teman, terutama yang perempuan?

Sama seperti Famega, dalam perjalanan tentu kita butuh bantuan orang lain. Jangan sampai rasa takut bertemu orang jahat membuat kita menutup diri dari orang lain yang sebenarnya baik. Dan saya cukup percaya dengan kemampuan saya menjaga diri. Pun insting untuk menilai baik atau jahatnya orang yang tidak muncul begitu saja.

Terkait mengapa tidak bepergian bersama teman-teman lain, jawaban saya ialah pada halaman 40.

“Bukannya saya tidak punya teman, tapi sulit sekali mencocokan jadwal dengan mereka. Kalau terus menunggu teman, kapan perginya?” kata YC, turis asal Malaysia yang Famega temui di Vietnam.

Menutup buku Kelana berarti menutup sementara perjalanan saya dengan seorang teman perjalanan perempuan yang memiliki pandangan soal perjalanan, maupun tulisan perjalanan dalam koridor yang hampir satu mahzab. Begitupun terkait rasa ragu, semangat, dan nano-nano perasaan lainnya ketika bepergian jauh. Dan saya tidak sabar untuk kembali “berpetualang” dengan Famega ke tempat-tempat penuh kisah manusia menarik lainnya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage TelusuRI. Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.

Dewi Rachmanita Syiam

Menggemari perjalanan, musik, dan cerita.
Artikel Terkait
Interval

Dulu dan Kini-nya Pendaki Gunung

Interval

Terumbu Karang yang Menopang Beban

IntervalSampah Kita

Geliat Wisata Gili Ketapang, Ada Masyarakat Merana

Interval

Hubungan Budaya dan Hutan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *