Itinerary

Belajar Fotografi Bersama Arbain Rambey

Saat ini, memotret menjadi hal yang sangat mudah untuk dilakukan. Karena kemajuan zaman, semua orang bisa menghasilkan foto yang bagus hanya dengan bermodal kamera ponsel. Tak jarang, kualitas kamera ponsel ada yang melebihi kualitas kamera full frame keluaran tahun 2000-an. Berbeda dari zaman kamera film, dari satu roll film isi 36, bisa jadi foto yang berhasil hanya 10 buah saja. Sekarang, dengan mode auto pada kamera, kita bisa menghasilkan gambar bagus, cukup sekali klik. Canggih, memang!

Kemudian, ada beberapa pertanyaan muncul. Beberapa diantaranya adalah, foto yang bagus itu foto yang seperti apa? Apakah karya foto kita bisa bermanfaat untuk orang lain?

Di kelas “Hore Hutan x Sekolah TelusuRI” yang bertajuk “Photography Class,” Arbain Rambey memaparkan dasar-dasar fotografi hingga tips memotret supaya gambar yang dihasilkan ciamik. Kelas dibuka oleh Arbain dengan memperlihatkan sebuah foto termahal di dunia.

Mengenal foto sebagai sebuah seni dan guna

Foto karya Rhein II by Andreas Gursky diatas, adalah foto termahal di dunia. Berhasil dilelang dengan harga lebih dari 4,3 juta dolar. Lalu, tidakkah kita berpikir kenapa foto ini bisa terjual dengan harga begitu tinggi?

Arbain menyampaikan bahwa secara garis besar foto terbagi menjadi dua kategori, yaitu foto seni dan foto guna. Foto karya Andreas tersebut, termasuk dalam kategori foto seni yang dinilai secara objektif tergantung pada siapa yang menyukainya dan siapa yang menjualnya.

Lain lagi dengan foto guna. Foto guna terbagi menjadi tiga jenis yakni foto dokumentasi, foto informasi, dan foto industri. Ketiganya dapat dengan mudah kita pelajari. Misalnya saja foto dokumentasi yang dihasilkan ketika melakukan sebuah perjalanan.

Kita bisa memotret detail-detail arsitektur sebuah candi, pemandangan alam, aktivitas masyarakat, hingga ragam kuliner. Kita bisa memotretnya, menjadikannya sebuah dokumentasi lengkap yang barangkali bisa diterbitkan menjadi sebuah buku atau tayang di media cetak dan media online. Pada akhirnya foto-foto tersebut terangkum menjadi sebuah foto informasi. Lain lagi jika foto-foto tersebut digunakan sebagai materi iklan pariwisata sehingga mempunyai nilai komersial. Foto industri, Arbain menyebutnya. Nah, fotografi perjalanan bisa masuk dalam kategori ini. 

Fotografi dan perjalanan

Arbain menyebut, foto yang paling banyak dicari orang saat ini adalah foto bertema kuliner, lanskap, dan budaya. Jadi, ketika melakukan perjalanan dan menemukan hal-hal unik, jangan lupa untuk mengabadikannya. Bisa saja, foto yang kita buat bermanfaat untuk orang lain dan menjadi referensi untuk perjalanan mereka.

Menurut Arbain, salah satu foto yang selalu dicari oleh banyak orang dan mudah dijual adalah foto lanskap. Foto-foto yang diambil pada zaman Belanda kebanyakan merupakan foto lanskap, foto-foto itu kini mencuri perhatian banyak orang. Arbain mengatakan, “kadang foto yang ambil di perempatan rumah saat ini bisa menjadi foto yang sangat berharga ketika 10 tahun mendatang.”

Salah satu yang dicontohkan Arbain adalah kisah Jongkie Tio. Ia memotret Kota Semarang dari tahun 70-an, kini semua karya fotonya dikumpulkan dan dijadikan buku, membuat masyarakat Semarang yang sudah hidup dari tahun 70-an bisa bernostalgia. Siapa sangka kan, foto-foto tersebut bisa menjadi sebuah karya yang berdampak untuk orang lain.

Tips memotret dari Arbain Rambey

Ambil dari dua format, vertikal dan horizontal.

Arbain Rambey pun membagikan banyak tips di kelas ini. Misalnya saja, ketika kita ingin memotret objek yang dianggap menarik, sebaiknya mengambil foto dengan dua format, format vertikal dan format horizontal. Menurutnya, jika kita hanya satu format foto saja, kita hanya punya pilihan untuk memotong foto tersebut, menyesuaikan dengan kebutuhan. Dengan begitu, akan banyak objek yang hilang.

Tidak perlu menunggu momen terbaik

Arbain menambahkan, saat melihat sebuah objek menarik, hal yang harus dilakukan adalah langsung memotretnya. Tidak perlu berpikir panjang dan menunggu momen yang pas. Waktu dimana kita terus mengikuti momen sambil menekan tombol shutter kamera secara berulang adalah kesempatan dimana bisa menemukan foto terbaik yang kadang-kadang kita tidak tahu kapan terjadi.

Jepret dengan sudut pandang berbeda

Saat melihat dua foto di atas, kita bisa memberikan dua cerita berbeda. Foto pertama dengan angle dari atas dan fokus pada kain tenun menceritakan tentang keindahan kain tenun itu sendiri. Di foto kedua, kita bisa bercerita kisah di balik kain tenun yang mahal ada penenun kain dengan hidup sederhana. Harus diingat bahwa fotografi menyangkut apa yang ingin kita ceritakan, bukan masalah foto harus tajam atau apapun.

Foto traveling yang menyeluruh

Jika kita sedang berkunjung ke sebuah tempat, dan ingin menceritakannya secara menyeluruh, pastikan untuk memotret setiap detail yang ditemu seperti masyarakat, kegiatan masyarakat, hingga suasana di tempat tersebut. Tujuannya, ketika orang melihat foto-foto kita, orang tersebut bisa merasakan apa yang kita rasakan ketika berada di tempat tersebut. 

Mengenal white balance dan pilih waktu yang tepat untuk memotret

White balance adalah akurasi warna foto yang dihasilkan. Sebuah tempat akan jauh lebih indah ketika dipotret pada pagi hari. Maka dari itu ketika traveling jangan malas untuk bangun pagi. Ketika jam sudah melewati pukul 8, cahaya matahari akan menjadi lebih terang dan kurang bagus untuk momen memotret.

Gunakan Filter

Filter dapat merubah rasa sebuah  foto. Menggunakan filter sah-sah saja dilakukan, karena menggunakan kamera yang berbeda pun akan menghasilkan suasana foto yang berbeda. Beberapa filter yang sering digunakan saat memotret adalah filter CPL yang dapat membuat pantulan pada air berkurang. Misal ketika ingin memotret ikan koi di dalam kolam, pastika menggunakan filter CPL agar ikan lebih terlihat dari permukaan air.

Buat komposisi

Arbain juga menyampaikan, jJangan lupa untuk memasukkan unsur setempat dalam mengambil sebuah objek. Memanfaatkan lingkungan agar gambar yang sobat pejalan ambil lebih menarik dan suasana pada gambar tersebut lebih terbangun. Misal ingin memotret sebuah gedung tua, ambillah foto bersama dengan pohon-pohon yang ada di sekitar gedung, agar suasana “lampau” lebih terlihat. 

Arbain menekankan bahwa fotografi saat ini bukan masalah teknik lagi, karena semua orang pada dasarnya bisa untuk memotret.

Salah satu motivasi seseorang membeli kamera adalah untuk dibawa traveling, mereka ingin merekam perjalanan yang akan dilakukan. Kalau kamu?

Seorang yang mencoba memberanikan diri untuk melupakan pantai, sehingga dapat menemukan samudra baru.

Avatar

Seorang yang mencoba memberanikan diri untuk melupakan pantai, sehingga dapat menemukan samudra baru.
Artikel Terkait
Itinerary

Menelisik Sejarah di Lembah Tumpang

Itinerary

Film Balada Si Roy: Bukan Sekadar Bahan Nostalgia

ItineraryNusantarasa

Sehari Memanjakan Perut dengan Beragam Kuliner Khas Sulawesi Selatan

Itinerary

Q&A: Proses Pembuatan Buku SELÉSA, Di Balik Sekat-Sekat Perjalanan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *