Interval

Andong, Kereta Kuda yang Mulai Tersingkirkan dari Jalanan

Andong, salah satu jenis kereta kuda khas Nusantara yang dapat ditemui sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Solo Raya. Keberadaan andong di wilayah tersebut tidak lepas dari area kekuasaan Kerajaan Mataram yang kini lebih dikenal sebagai Jawa Tengah, Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat dengan pusat pemerintahan di Kotagede, Yogyakarta.

Secara historis, awal mula terciptanya andong tidak jauh dari keberadaan kereta kencana yang banyak digunakan raja-raja Mataram beserta keturunan dan kerabatnya. Pada zaman dahulu kereta kencana hanya dapat dikendarai oleh para priyayi (bangsawan kelas tertinggi di Jawa). Bahkan hampir setiap priyayi telah memiliki Kereta Kencana tersendiri sebagai tunggangannya.

Dengan kereta kencana tersebutlah, para priyayi biasa mengunjungi masyarakat di pelosok desa. Oleh sebab itu, secara langsung masyarakat seringkali melihat kereta kencana yang berlalu-lalang ketika para bangsawan melakukan kunjungan. Hal tersebut yang kemudian membuat masyarakat umum untuk berinisiatif menciptakan transportasi khas mereka sendiri.

Masyarakat Jawa terinspirasi untuk membuat kereta berkuda yang disesuaikan dengan kemampuan mereka sendiri sehingga desainnya berbeda dengan kereta kencana yang terkesan “megah”.

Andong di Yogyakarta
Andong di Yogyakarta via TEMPO/Pribadi Wicaksono

Dilansir dari Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, andong di Yogyakarta pada awalnya tidak berbentuk selayaknya kereta kuda seperti yang kita kenal sekarang ini. Bentuknya lebih pendek dengan roda yang hanya berjumlah dua. Hal ini dikarenakan jalanan Kota Yogyakarta yang pada saat itu masih sempit.

Andong di Yogyakarta sepenuhnya milik Keraton Kasultanan Yogyakarta, barulah semenjak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII pada tahun 1877-1920 M sebagian masyarakat dapat menggunakannya, meski terbatas. Masyarakat umum dapat memiliki andong pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada tahun 1921-1939 M dengan fungsi utamanya untuk perdagangan.

Oleh masyarakat Jawa, andong merupakan perlambang status sosial tersendiri. Baik di Keraton Kasultanan Yogyakarta maupun Keraton Kasunanan Surakarta, andong dikenal sebagai penanda status sosial dengan tingkat tinggi di keraton. Para Kusir andong dipercaya sebagai priyagung yaitu orang yang dihormati dan kaya raya.

Masyarakat membuat andong dengan bahan utama besi dan kayu, utamanya jenis kayu jati. Pemilihan kayu tersebut dikarenakan kualitasnya yang tidak perlu diragukan lagi. Kayu jati menjadi golongan kayu yang ideal lantaran kekuatan, keawetan, serta keindahan seratnya. Bahkan hingga sekarang kayu jati sendiri dikenal sebagai kayu kelas kuat I dan kelas awet II yang sangat tahan terhadap rayap dan jamur. Apalagi secara geografis kayu jati banyak tumbuh di sekitar wilayah Jawa. 

Selain itu, yang menjadi alasan kuat banyaknya penggunaan kayu jati untuk perkakas orang Jawa adalah dari segi filosofisnya. Dalam falsafah hidup orang Jawa, terdapat sebuah kepercayaan masyarakat Jawa yang menyebut sebagai kayu jati sebagai kayu sejati yang melambangkan kesejatian dan keteguhan hidup. 

Serupa tapi Tak Sama

Memang jika dilihat sepintas, andong hampir mirip dengan bendi, dokar, maupun sado yang banyak dijumpai di wilayah lain. Akan tetapi jika dilihat lebih detail lagi, tentu memiliki perbedaan yang signifikan, misalnya adalah pada bentuk dan ukurannya. Ukuran andong lebih besar dan lebih tinggi jika dibandingkan dengan sado, bendi, dokar, atau beberapa jenis kereta berkuda lainnya. Dengan ukurannya yang besar itu, andong mampu ditumpangi hingga 5 orang dengan banyak barang bawaan yang biasa dibawa para ibu-ibu pengunjung pasar.

Penumpang duduk di belakang kusir dengan tempat duduk yang saling berhadapan depan belakang. Dengan posisi duduk inilah biasanya obrolan hangat para ibu-ibu yang hendak pulang maupun pergi dari belanja di pasar dapat hidup.

Andong di Yogyakarta
Bendi yang beroperasi di Pantai Parangtritis

Perbedaan pun juga dapat dilihat dari jumlah rodanya, jika pada umumnya kereta berkuda seperti, dokar, sado, dan bendi beroda dua, maka roda yang terdapat pada andong berjumlah empat di mana sepasang roda yang berada di bagian depan lebih kecil daripada sepasang roda yang berada di belakang.

Roda bagian depan terdiri atas 12 jeruji, sedangkan untuk roda bagian belakang terdiri dari 16 atau 14 jeruji yang juga terbuat dari kayu jati atau bisa juga kayu waru. Andong juga memiliki warna khas yang seolah menjadi pakem tersendiri. Warna cat yang biasa menjadi penghias andong yaitu warna kuning, hijau, atau coklat tua. 

Mulai Langka

Sayangnya eksistensi andong tidak semasyur pada zaman dahulu. Jika dulu orang-orang lebih memilih andong sebagai kendaraan umum jarak jauh dengan banyak muatan, sekarang peranannya sudah mulai tergeser.

Kini andong lebih banyak digunakan sebagai transportasi tradisional penunjang wisata. Seperti misalnya di Yogyakarta sendiri, andong hanya banyak ditemui di pusat kota sekitar Malioboro sebagai transportasi wisata dengan jarak tempuh yang tidak jauh. Sedangkan untuk di Solo Raya, sudah hampir jarang sekali ditemui kecuali hanya di sekitar Keraton Surakarta yang juga biasa digunakan para pelancong untuk berkeliling sekitar keraton. 

Andong di Yogyakarta
Andong yang melintas di Perempatan Malioboro/Rosla Tinika S

Banyak beberapa titik wisata yang lebih banyak menyediakan bendi sebagai kendaraan wisata. Misalnya di Pantai Parangtritis, Bantul maupun di Stadion Manahan, Surakarta yang menawarkan kereta berkuda jenis bendi dengan muatan paling banyak tiga penumpang orang dewasa. Di pasar-pasar tradisional pun juga semakin jarang menjadi pangkalan andong yang dulu menjadi primadona para pengunjung pasar. Banyak kusir andong yang beralih menggunakan dokar sebagai angkutannya. 

Pemilihan bendi di lingkungan wisata maupun dokar di sekitar pasar tersebut dikarenakan ukurannya yang lebih minimalis jika dibandingkan dengan andong. Penggunaan bendi dirasa lebih fleksibel bagi sebagian kusir karena tidak memerlukan banyak tempat parkir. Sedangkan penggunaan dokar sebagai alat angkutan umum juga tidak terlepas dari biaya perawatan andong yang lebih membutuhkan banyak biaya jika dibandingkan dengan andong yang berukuran lebih besar.

Meski langka, bukan berarti andong telah punah. Masih ada beberapa kusir andong yang ada di desa-desa sekitar Jogja—Solo yang masih menjaga dan melestarikan fungsi dan peran andong sebagai transportasi tradisional jarak jauh dengan muatan yang banyak ditumpangi para ibu-ibu belanja pasar.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu!

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.

Sekarang aku tengah menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Teman-teman bisa mengunjungi akun instagramku @roslats_ untuk sekadar ngobrol atau berbincang-bincang mengenai berbagai hal.
    Artikel Terkait
    Interval

    Bicara Tren Pariwisata 2022

    Interval

    Realita Pembangunan Kawasan Gunung

    Interval

    Angkutan Kota yang Tak Lagi Jadi Primadona

    IntervalPilihan Editor

    Sulawesi Selatan dan Bissu dalam Buku ‘Calabai’

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

    Worth reading...
    Becak-Becak, Nasibmu Kini