TRAVELOG

Angin Senja di Atas Rel Tua Temanggung

Siang itu, dengan cuaca yang cerah, saya berpikir untuk keluar dan sekadar berkendara. Tujuan saya kala itu adalah untuk sekadar mencari angin segar. 

Namun, ada niat lain. Saya sengaja ke Temanggung untuk melihat jembatan kereta tua yang terbengkalai. Saya sering mendengar kabar berembus, katanya tempat itu cocok untuk menikmati udara. Apalagi di sore hari.

Saya berangkat dari Magelang sekitar pukul 2 siang. Jam yang menurut saya masih cerah namun tak terlalu terik karena matahari sudah sedikit bergeser.

Sepanjang perjalanan, saya menyaksikan pemandangan yang begitu kontras. Mulai dari kehidupan urban di Kota Magelang, truk-truk besar yang mengantre sepanjang jalan, serta rombongan bus wisata yang terparkir di pinggir jalan.

Sampai saat saya memasuki wilayah Kabupaten Temanggung, pemandangan pun berubah perlahan. Jalanan yang tadinya sesak, kini sedikit berkurang. Saya juga sesekali dapat melihat Gunung Sumbing di sisi barat. Sungguh elok.

Tempat yang saya tuju ini berada di pinggir Sungai Progo. Duh, saya sudah bisa membayangkan betapa sejuk dan lembutnya angin di sana. 

Pemandangan jembatan yang membentang di atas Sungai Progo (Muhammad Nur Azza)
Pemandangan jembatan yang membentang di atas Sungai Progo/Muhammad Nur Azza

Tersembunyi dari Jalan Raya

Tampaknya, untuk yang pertama kali hendak pergi ke sini, agak sulit. Jalur menuju tempat ini adalah sebuah jalan kecil yang “menyempil” di tanjakan setelah jembatan besar Sungai Progo. Saya saja hampir terlewat karena tidak melihat jalan tersebut.

Rupa-rupanya, persis di bawah jembatan kereta yang saya maksud, terdapat sebuah taman kecil. Cukup tenang untuk sekadar bersantai di sana.

Saya pun menitipkan motor di sana karena ada petugas parkir yang menjaga. Sekalian saya hendak bertanya ke petugas parkir tersebut bagaimana caranya naik ke jembatan kereta yang ternyata tingginya lebih dari dugaan saya.

“Naik lewat batu-batu itu saja, Mas,” jawabnya. Saya berpaling, sedikit terheran lalu menunjuk susunan batu di lereng yang tinggi nan curam. Bertanya. “Iya, betul. Biasanya (orang-orang) juga lewat situ, kok,” ia tampak paham. 

Saya dengan wajah yang masih tak percaya mendekati batuan yang dimaksud tadi. Astaga, curam betul. Saya sih tidak apa jika naik lewat jalan itu. Masalahnya saya sedang membawa tas selempang yang agak berat dan sedikit takut jika terjadi apa-apa.

Kehabisan ide, saya mencoba memutari jembatan itu dari bawah. Mencari jalan lain sekalian memotret dari banyak sudut pandang.

Papan informasi kepemilikan aset dan tanah milik PT Kereta Api Indonesia (Muhammad Nur Azza)
Papan informasi kepemilikan aset dan tanah milik PT Kereta Api Indonesia/Muhammad Nur Azza

Sungguh tak menyesal saya kemari. Jembatan ini berdiri kokoh dan tinggi menyeberangi Sungai Progo yang lebar. Di bawahnya membentang persawahan warga yang hijau. Sejuk rasanya angin sore kala itu.

Saya memotret jembatan tua itu dari jauh. Mencoba mengambil sudut-sudut yang bagus untuk dipotret. Sungai Progo di bawahnya memang menambah kesan kokoh jembatan ini. Tiang-tiangnya berdiri tinggi menjulang menopang rel kereta yang sudah berkarat itu.

Sejenak saya berhenti memotret untuk menikmati pemandangan. Merasakan angin lembut yang bertiup. 

Tak lama, terlihat dua orang pemuda memarkirkan motor mereka lalu berjalan menuju sawah tempat saya berdiri. Keduanya membawa alat pancing ikan. Mereka menyapa saya dalam jarak yang sudah dekat dan bertanya, “Lagi motret, Mas?” Mungkin mereka melihat kamera yang saya bawa. 

Saya mengangguk. “Kalau mau, bisa dari atas sana, Mas. Lebih bagus!” Saya tak segera menjawab. Karena dari tadi saya memang sedang mencari jalan. Namun, mereka segera pamit untuk melanjutkan kegiatan. Katanya, mereka hendak turun ke bantaran sungai yang agak jauh dari jembatan. Ikannya lebih banyak! Saya pun mengucapkan terima kasih.

Pemandangan Sungai Progo dan sawah di sekitarnya (Muhammad Nur Azza)
Pemandangan Sungai Progo dan sawah di sekitarnya/Muhammad Nur Azza

Jalan Memutar yang Penuh Belukar

Karena rasanya hari sudah makin sore, dan saya masih belum berani untuk “mendaki” jalan yang ditunjuk oleh petugas parkir tadi, saya pun putar otak untuk berjalan ke sisi belakang jembatan. Barangkali ada jalan memutar.

Saya berjalan melewati lahan-lahan milik warga. Sementara sudah jelas bahwa jembatan itu berada di sisi yang lebih tinggi. Maka saya harus menemukan jalan menanjak.

Tak lama, saya menemukan sebuah jalan kecil menanjak penuh belukar. Terjal memang, tapi daripada jalan bebatuan yang tadi, saya memilih ini.

Susah payah saya berjalan perlahan mendaki tebing itu. Tak ada pohon atau apa pun yang bisa dijadikan tumpuan, saya mengambil sebuah ranting kecil yang tergeletak. Sesampainya di atas, saya harus berjalan lagi mendekati jembatan. Karena tempat yang saya daki ini agak menjauh dari jembatan.

Masih kesulitan. Saya perlu menyibak ilalang yang amat tinggi untuk menuju ke sana. Hingga akhirnya semua itu terbayarkan setelah saya mencapai ujung ilalang itu.

Pemandangan yang luar biasa segera terlihat. Rel dan rangka besi tua yang sudah berkarat namun masih terlihat kokoh, pemandangan sungai dan hamparan sawah juga lebih terlihat memukau dari atas. Di ujung lain jembatan, terlihat jelas sekali rumah-rumah di sana.

Jalan setapak berbatu yang terjal (kiri) dan pemandangan permukiman dilihat dari bagian atas rel/Muhammad Nur Azza

Saya mendapati jalan bebatuan tadi memang bisa dilewati karena terlihat seperti anak tangga. Namun, tetap saja, mengerikan.

Saya duduk sebentar di rel. Menikmati udara dari atas sini. Dari kejauhan terlihat dua pemuda yang tadi, sudah menemukan tempat memancing yang cocok. Beberapa petani terlihat di sawah.

Saya juga memotret sisi atas jembatan beserta pemandangan sungai dari atas yang menurut saya menarik untuk diabadikan. Sebelum kemudian kembali duduk untuk bersantai sejenak. Rasanya ingin berlama-lama di sini. Saya bisa melihat hampir semua hal dari kejauhan. 

Pikiran saya hanyut sejenak. Rel tua yang sekarang menjadi tempat bersantai ini dulunya merupakan jalur kereta yang aktif. Saya jadi bertanya-tanya, bagaimana rasanya menyeberangi Sungai Progo dengan kereta melalui jembatan ini?

Peta jalur kereta Secang-Temanggung (Sumber Majalah De Ingineur)
Peta jalur kereta Secang-Temanggung/Sumber: Majalah De Ingineur

Rasa penasaran itu membawa saya sedikit menengok ke belakang. Jembatan ini merupakan bagian dari jalur kereta Secang–Temanggung milik NISM yang mulai beroperasi pada 3 Januari 1907.1 Berarti, sudah lebih dari satu abad sejak kereta pertama melintas di sini.

Saya kembali memandang rel yang ada di hadapan saya. Kini ia sudah berkarat dan tak lagi dilalui kereta. Namun, dari atas sini saya masih bisa membayangkan bagaimana tempat ini dahulu terlihat ketika kereta-kereta masih ramai melintas. Rasanya seperti sedang duduk di atas mesin waktu.

Matahari mulai condong ke barat. Rasanya sudah waktunya untuk turun dan pulang. Saya pun meninggalkan jembatan tua itu, dengan sedikit rasa enggan. Ternyata, sekadar mencari angin sore bisa membawa saya sampai ke tempat yang menyimpan begitu banyak cerita.


  1. Reitsma, S. A. Korte Geschiedenis Der Nederlandsch-Indische Spoor- En Tramwegen. 1928. https://resolver.kb.nl/resolve?urn=MMKB21:035946000:pdf. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Muhammad Nur Azza

Warga Solo coret yang sedang belajar Hubungan Internasional di Solo. Menaruh perhatian pada konservasi alam dan arkeologi. Suka baca Doraemon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Reruntuhan Kuno Tersembunyi di Parakan