TRAVELOG

Menyusuri Kejayaan Singhasari yang Belum Purna di Candi Singosari

Matahari September baru naik ketika saya tiba di kawasan Candi Singosari, Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Pukul 07.30 WIB, suasana masih lengang. Rumah warga dan jalan raya mengelilingi candi, membuat peninggalan masa lampau ini menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Setengah jam kemudian, walking tour yang digelar Bersukaria bersama Walking Tour Malang dimulai. Hanya empat peserta yang hadir. Bersama pemandu, Nabilah Fatin, saya menelusuri sejarah kerajaan yang pernah berdiri di kawasan ini melalui bangunan dan artefak yang tersisa.

Nabilah mengajak kami mundur ke abad ke-13, ketika kawasan ini dikenal sebagai Tumapel. Nama Tumapel muncul dalam Prasasti Kudadu dan sumber-sumber Tiongkok dari masa Dinasti Yuan. Kakawin Nagarakretagama menyebut Kutaraja sebagai nama ibu kota pada masa awal kerajaan.

Nama Singhasari baru disebut ketika Sri Jaya Wisnuwardhana mengangkat Kertanagara sebagai yuwaraja pada 1254. Saat itu, nama ibu kota Kutaraja diganti menjadi Singhasari. Perubahan ini menunjukkan bahwa Tumapel, Singhasari, Singosari, dan wilayah yang kini menjadi Kecamatan Singosari memiliki konteks sejarah berbeda.

Struktur Candi Singosari yang mengimplementasikan konsep tiga alam. Candi ini berada di tengah perkampungan (Laily Nihayati)
Struktur Candi Singosari yang mengimplementasikan konsep tiga alam. Candi ini berada di tengah perkampungan/Laily Nihayati

Dari Ken Arok hingga Runtuhnya Singhasari

“Kisah sejarah ditulis dalam banyak versi,” kata Nabilah. Karena itu, cerita Ken Arok yang antara lain bersumber dari Pararaton perlu dibaca sebagai historiografi yang juga memuat legenda dan mitologi.

Dalam kisah populer, Ken Arok tumbuh jauh dari istana sebelum masuk ke lingkungan kekuasaan Tumapel. Pertemuannya dengan Brahmana Lohgawe membawanya kepada Tunggul Ametung, akuwu Tumapel, dan istrinya, Ken Dedes.

Ken Dedes dipercaya sebagai nareswari, perempuan yang kelak melahirkan keturunan raja. Kepercayaan itu menguatkan ambisi Ken Arok untuk menguasai Tumapel. Ia kemudian menggunakan keris Empu Gandring untuk membunuh sang empu, lalu menuduh Kebo Ijo sebagai pembunuh Tunggul Ametung. Ken Arok mengambil alih Tumapel dan menikahi Ken Dedes.

Pada 1222, Ken Arok disebut menaklukkan Kadiri dalam pertempuran di Ganter. Setelah kematiannya, takhta berpindah melalui konflik keluarga yang dalam Pararaton melibatkan Anusapati dan Tohjaya, hingga akhirnya Ranggawuni naik takhta dengan gelar Wisnuwardhana.

Pada masa Wisnuwardhana, kerajaan tampaknya memasuki periode yang lebih stabil. Putranya, Kertanagara, kemudian menjadi raja terakhir Singhasari. 

Kertanagara dikenal memiliki ambisi memperluas pengaruh Singhasari. Ekspedisi Pamalayu menjadi salah satu bagian penting politiknya. Pengaruh kerajaan pun menjangkau wilayah yang lebih luas di Nusantara.

Namun, ketika perhatian kerajaan tertuju ke luar, Jayakatwang dari Kadiri menyerang pada 1292. Kertanagara tewas dan Singhasari runtuh. Kekuasaan kemudian diteruskan Raden Wijaya, menantu Kertanagara, yang mendirikan Majapahit.

Perbandingan pahatan Kirtimukha di kaki dan tubuh candi Singosari (kiri) serta Arca Syiwa Guru, satu-satunya arca yang masih tersimpan di relung Candi Singosari/Laily Nihayati

Candi yang Seolah Belum Selesai

Setelah mendengar cerita sejarah, kami kembali mengamati Candi Singosari.  Menurut Nabilah, Candi Singosari ditemukan kembali pada 1803 oleh Nicolaus Engelhard dalam kondisi berupa tumpukan batu andesit. Candi ini pernah disebut Candi Menara, Candi Cella, dan Candi Cungkup, sementara masyarakat setempat mengenalnya sebagai Candi Renggo karena berada di Desa Candirenggo.

Perhatian terhadap candi meningkat pada masa kolonial. Pemugaran dilakukan secara bertahap; penanda di kompleks mencatat pekerjaan pada 1935 dan 1937. Bentuk yang terlihat sekarang merupakan hasil pemugaran dan penataan, sehingga tidak seluruhnya dapat dianggap sebagai kondisi asli bangunan pada masa Singhasari.

Kini, ketika berdiri di hadapannya, saya dapat mengamati perbedaan pengerjaan yang sebelumnya hanya dibicarakan dalam konteks sejarah. Ornamen bagian atas tampak lebih matang dan detail, sedangkan bagian bawah lebih sederhana. Perbedaan ini memunculkan dugaan bahwa pembangunan candi belum selesai. Dugaan tersebut kerap dikaitkan dengan masa pergolakan politik pada 1292 yang menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singhasari di masa akhir pemerintahan Kertanagara. 

Candi ini terdiri atas batur, kaki, tubuh, dan atap. Bagian kakinya memiliki relung di keempat sisi yang kini sebagian besar kosong. Salah satu relung yang masih ditempati adalah arca Syiwa Guru. Arca ini  menjadi satu-satunya yang tersisa di dalam Candi Singosari. 

Di atas kaki dan tubuh candi terdapat pahatan kepala Bhutakala atau Kirtimukha yang berfungsi sebagai penjaga tempat suci. Struktur Candi Singosari ini juga kerap dikaitkan dengan konsep tiga alam: Bhurloka (alam manusia dan hewan), Bhuvarloka (alam orang suci), dan Svarloka (alam para dewa). Sehingga, bangunan ini mengandung gagasan kosmologis dan keagamaan Hindu-Buddha.

Arca Prajnaparamita yang kehilangan kepala (paling kiri) dan dua Dwarapala yang tidak identik/Laily Nihayati

Arca yang Kehilangan Rumah dan Dua Raksasa di Tengah Permukiman

Pada masa kolonial, banyak arca dan artefak dari kawasan Singhasari yang dibawa ke Belanda dan kemudian menjadi koleksi museum. Kini, sebagian telah kembali dan disimpan di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.

Sejumlah arca dan artefak juga masih dapat ditemukan di pelataran Candi Singosari. Kami melihat arca Dewi Parwati, Syiwa Bhairawa, Ganesha, Prajnaparamita, lingga, yoni dan benda purbakala lainnya. Ada yang masih utuh, tetapi sebagian besar telah rusak dan kehilangan anggota tubuhnya. 

Prajnaparamita menarik perhatian saya. Arca perwujudan Ken Dedes ini duduk bermeditasi. Detail pahatan dan ornamennya masih terlihat jelas, tetapi sayang kepalanya telah hilang. Arca-arca yang terpisah dari konteks aslinya membuat saya membayangkan betapa luasnya kompleks yang dahulu berdiri di kawasan ini. 

Dari candi, kami berjalan sekitar 200 meter melalui Jalan Kertanegara menuju dua Dwarapala. Di tengah rumah dan lalu lintas warga, dua sosok raksasa itu berdiri dengan tinggi sekitar 3,7 meter, masing-masing dipahat dari batu monolitik.

Detail wajah, mahkota, perhiasan, dan senjata masih terlihat. Dwarapala berarti penjaga pintu atau gerbang, menandakan bahwa kawasan tersebut dahulu memiliki akses penting. Keduanya tidak dibuat identik: gestur tangan dan posisi gada berbeda, sementara ornamen tengkorak, ular, dan wajra menghiasi tubuhnya.

Menurut salah satu interpretasi Nabilah, Dwarapala berkaitan dengan penjagaan sisi barat. Jika benar, kawasan yang dijaganya berada di sebelah timur, sehingga pusat kekuasaan Singhasari mungkin terletak di arah tersebut. Namun, lokasi istana belum dapat dipastikan secara arkeologis.

Hiasan tengkorak di kepala Dwarapala yang bercirikan seni tantra (Laily Nihayati)
Hiasan tengkorak di kepala Dwarapala yang bercirikan seni tantra/Laily Nihayati

Ritus Keagamaan Kertanagara dan Pertanyaan-pertanyaan Lainnya

Dari detail yang kami amati pada Dwarapala, pembicaraan beralih pada kehidupan keagamaan masa Kertanagara. Ornamen tengkorak, ular, dan atribut lain sering dikaitkan oleh para peneliti dengan karakter visual tantris. 

Dalam sejumlah kajian, masa Kertanagara dikaitkan dengan praktik dan gagasan keagamaan yang mempertemukan unsur Buddha Tantrayana, termasuk tradisi Kalachakra, dengan pemujaan Syiwa Bhairawa. Karakter tantris tampak dalam sejumlah artefak dan simbol, seperti tengkorak, trisula, belati, kendang kecil, serta berbagai mudra. 

Di depan Dwarapala, saya melihat Singhasari dengan cara berbeda. Kerajaan ini tidak hanya meninggalkan kisah raja, perang, dan perebutan kekuasaan. Seni dan peninggalannya juga merekam kehidupan spiritual masyarakat pada zamannya, meskipun rekaman itu harus ditafsirkan melalui bukti yang tersisa.

Nabilah kemudian menceritakan Prasasti Singhasari yang ditemukan pada 1904. Prasasti bertarikh 1273 Saka atau 1351 Masehi itu berasal dari masa Majapahit dan kini disimpan di Museum Nasional Indonesia.

Isinya berkaitan dengan pembangunan caitya, bangunan suci untuk mengenang Kertanagara dan para brahmana yang gugur ketika Jayakatwang menyerang Singhasari. Lalu muncul pertanyaan: apakah bangunan yang kini disebut Candi Singosari merupakan caitya tersebut?

Belum ada jawaban final. Caitya mungkin hanya bagian dari kompleks yang lebih luas. Ada pula tafsir bahwa bangunan utama mulai dikerjakan pada masa Kertanagara tetapi tidak selesai. Kedua kemungkinan itu masih memerlukan dukungan bukti arkeologis dan epigrafis yang lebih kuat. Dari sejarah kerajaan hingga detail batu dan arca, setiap penjelasan justru membuka pertanyaan baru meski rute walking tour mendekati finis.

Peserta walking tour dan pemandu berfoto di depan Candi Singosari saat acara berakhir (Laily Nihayati)
Peserta walking tour dan pemandu berfoto di depan Candi Singosari saat acara berakhir/Laily Nihayati

Jejak yang Belum Purna

Menjelang akhir walking tour, kami kembali berkumpul di depan candi. Setelah berjalan dari satu jejak ke jejak lain, saya memandang kembali bangunan yang menjadi titik awal perjalanan. Saya datang untuk melihat candi, tetapi pulang membawa kisah tentang Ken Arok dan Ken Dedes, perebutan tahta, ambisi Kertanagara, keruntuhan Singhasari, serta jejak keagamaan tantrayana. 

Candi Singosari berdiri sederhana di tengah permukiman, tetapi menyimpan jejak kerajaan yang pernah berpengaruh besar. Istananya belum ditemukan, hubungan antarbangunan masih diteliti, arca-arca yang hilang, bahkan fungsi dan proses pembangunan candi pun masih menyisakan pertanyaan. 

Mungkin justru di situlah daya tariknya.

Singhasari telah lama runtuh, tetapi jejaknya belum hilang. Selama orang masih datang untuk melihat, bertanya, dan menelusuri, kisah itu akan terus hidup. Candi Singosari bukan sekadar situs peninggalan masa lalu. Ia menyimpan cerita tentang kekuasaan, keyakinan, kejayaan, kehilangan, dan kisah-kisah lain yang masih menunggu untuk ditemukan.


Referensi

Fandy. Sejarah Kerajaan Singhasari: Asal-Usul, Sistem Pemerintahan, dan Peninggalan. Gramedia, https://www.gramedia.com/literasi/sejarah-kerajaan-singhasari/. Diakses 16 September 2026.
Kriswanto, J. 2009. Pararaton: Biografi Para Raja Singhasari dan Majapahit. Jakarta: Komunitas Bambu.
Lalu, Mulyadi dkk. 2015. Relief dan Arca Candi Singosari-Jawi. Malang: Dream Litera Buana.
Slamet, Mulyana. 1979. Negarakertagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Brathara Karya Aksara.
Suwardono. 2001. Buku Petunjuk Kunjungan Wisata Candi Singosari. Malang: CV Sigma Media.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Laily Nihayati

Mantan jurnalis yang masih suka nulis dan healing tipis-tipis .

Mantan jurnalis yang masih suka nulis dan healing tipis-tipis .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Legenda Raden Panji Pulang Jiwo dan Sejarah Kota Kepanjen (1)