TRAVELOG

Melacak Jejak Pasujudan Raja Surakarta di Kampung Lawas Suyudan Boyolali

Kali ini saya ingin melacak jejak pasujudan atau tempat bersujud Sunan Pakubuwana X di Kabupaten Boyolali. Saat ini, pasujudan tersebut telah berubah menjadi Masjid Soejoedan atau Suyudan di kampung lawas Suyudan. Tidak jauh dari pusat kota Boyolali.

Kampung lawas Suyudan—selanjutnya disebut Suyudan atau Kampung Suyudan—berada di Kelurahan Kiringan, Kecamatan Boyolali, tepat di timur Warung Susu Segar dan Nasi Tumpang Pak Suprih. Masjid Suyudan berada tepat di tengah kampung, dikelilingi kolam air dan sumber mata air di sisi barat.

Sepintas, Suyudan tampak seperti perkampungan pada umumnya. Namun, jika lebih jeli melihatnya, bakal menemukan jejak peradaban kuno yang menarik untuk diungkap. 

Kolam teratai di Masjid Suyudan (Ibnu Rustamadji)
Kolam teratai di Masjid Suyudan/Ibnu Rustamadji

Masa Lalu yang Terlupakan di Suyudan

Peradaban awal Kampung Suyudan sejatinya adalah dusun dengan salah satu sesepuhnya, yakni Ki Patramenggala. Layaknya dusun kala itu, masyarakatnya hidup dengan bekerja sebagai petani dan peternak. Lanskap sekitar kampung yang didominasi areal persawahan dan perkebunan memperkuat fakta kondisi kehidupan masyarakat kampung Suyudan pada masa itu.

Satu fakta lain terungkap ketika tahun 1843, masyarakat kampung tersebut dibuat gempar dengan kasus pencurian harta benda termasuk ternak sapi dan kambing. Para pelaku berjumlah lima orang, yang notabene juga masyarakat setempat. Mereka mencuri ternak untuk membiayai kehidupan sehari-hari dengan menjualnya ke tukang jagal hewan dan kampung lain.

Kasus pencurian tersebut tercatat lengkap dalam catatan fisik tuan Roorda dalam Javaansche Brieven 1843 (hlm. 443-451) berjudul Sêrat Papriksan ing dhusun Ngangrang, kalih dhusun ing Soejoedan Bayawangsul ing dintên Sênèn tanggal ping 6 wulan Sawal ing taun Alip ăngka 1771 (atau 27 September 1843).

Istilah Bayawangsul merupakan istilah slang dari Boyolali yang merujuk Kampung Suyudan di Boyolali. Berdasarkan fakta tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa kampung tersebut sejatinya sudah eksis jauh sebelum tahun 1843. Masyarakat setempat percaya nama kampung mereka sejak dahulu berasal dari kata “sujud”, yang artinya pasujudan atau tempat bersujud. Masjid Suyudan menjadi bukti latar belakang penamaan tersebut, meski mereka tidak paham kapan dan siapa tokoh bedol desa Suyudan pertama kali. Mereka mendapat cerita turun-temurun dari para sesepuh, yang menegaskan pasujudan tersebut awalnya tempat salat putra Brawijaya V di sekitar kolam mata air. 

Kondisi tersebut dapat dimaklumi karena adanya perbedaan generasi meski menghuni kampung yang sama. Memang, di beberapa gang kampung terdapat hunian berarsitektur Jawa, tetapi sudah banyak yang berganti kepemilikan. Sehingga, tidak mudah untuk dapat mengidentifikasi antara nama tersebut dan kediamannya.

Plakat lambang Keraton Kasunanan Surakarta di dinding masjid (Ibnu Rustamadji)
Plakat lambang Keraton Kasunanan Surakarta di dinding masjid/Ibnu Rustamadji

Jejak Pasujudan, Masjid Suyudan, dan Sunan Pakubuwana X

Terletak tepat di tengah kampung membuat Masjid Suyudan tersebut sangat strategis untuk istirahat, sembahyang, dan pusat kegiatan masyarakat. Kolam ikan dengan deretan bunga teratai mengapung mengelilingi masjid turut memberikan kesan alami.

Merujuk cerita tutur yang disampaikan Heru Kusumo, penanggung jawab Masjid Suyudan, penamaan masjid didasari temuan sebuah batu alam di pinggir kolam mata air. Batu itu dipercaya sebagai tempat bersujud Bathara Katong yang notabene putra Brawijaya V. Kala itu menggunaan ejaan lama “Soejoedan”, lantas beralih eja Suyudan.

Heru menambahkan, batu tersebut dulunya memiliki permukaan datar menghadap ke barat. Tatanan batu tidak beraturan di lingkungan sekitar lainnya. Tidak ada yang memiliki kontur permukaan data dan cenderung bergelombang di bawah pohon beringin antara kolam mata air dan Masjid Suyudan.

Letak batu yang dipercaya pasujudan tersebut kini berada di bawah tanah ruang pengimaman. Masjid yang dibangun tahun 1827 itu sebelumnya hanya berupa musala berdinding gedhek atau anyaman bambu. Rangka utamanya berupa kayu. Dibangun pada masa Sunan Pakubuwana VI lalu disempurnakan oleh Sunan Pakubuwana X.

Sunan Pakubuwana X diketahui sebagai sosok di balik pembangunan pasujudan menjadi masjid. Sebagai sayiddin panatagama atau penjaga agama, tentu Sunan Pakubuwana X sangat menjunjung dan menghormati agama Islam. Tujuannya tidak lain menghindari kemusyrikan dan memberi tempat bersujud yang lebih baik kepada masyarakat Kampung Suyudan. Sunan Pakubuwana X diketahui sering tindhak (pergi) ke Masjid Soejoedan untuk bersembahyang setelah agenda kerja dari mancanagara kulon seperti Karesidenan Kedu.

Anak-anak kampung bermain di sekitar sendang Suyudan (kiri). Tampak pohon beringin dan bebatuan di pinggiran sendang/Ibnu Rustamadji

Proyek pembangunan Masjid Suyudan berlangsung tiga tahun hingga diresmikan pada 1830. Lamanya proses pembangunan karena harus membongkar musala yang ada sebelumnya terlebih dahulu. Kemudian mendirikan masjid yang lebih besar. Selain itu, keberadaan kolam air yang mengelilingi masjid memberikan tantangan sendiri dalam pembangunan pondasi utama.

Masyarakat meyakini, kolam air tersebut sudah ada sejak zaman ketika Bathara Katong menggunakan areal tersebut sebagai pasujudan. Air yang mengalir menuju kolam dipasok dari kolam mata air atau sendang di sisi barat. Mata air itu juga yang dipercaya digunakan Sunan Pakubuwana X untuk berwudu sebelum shalat.

Diketahui, Sunan Pakubuwana X tindhak ke Masjid Suyudan setiap hari Kamis Legi. Selain untuk salat, juga membagikan rezeki kepada masyarakat Suyudan dan sekitarnya. Setelah Sunan Pakubuwana X wafat, tidak ada lagi keluarga raja yang berkunjung ke Suyudan dan turut hilanglah tradisi ngemisan atau kemisan.

Saat ini, Masjid Suyudan lebih dikenal sebagai masjid tiban peninggalan Sunan Pakubuwana X. “Istilah tiban itu sebenarnya kiasan, Mas. Merujuk bahasa Jawa dari kata ‘tiba-tiba’. Tapi masjid ini tentu bukan masjid tiban, tetapi dibangun secara bertahap, di atas pasujudan yang kini berada di bawah ruang imam itu tadi,” timpal Heru Kusumo sembari bercanda.

Salah satu kediaman kuno yang masih bertahan di Suyudan (Ibnu Rustamadji)
Salah satu kediaman kuno yang masih bertahan di Suyudan/Ibnu Rustamadji

Kekunoan Kampung Suyudan

Meski Suyudan menyandang kampung lawas, tetapi tidak dengan kehidupan masyarakatnya yang mulai lebih modern. Masyarakat kampung tidak selamanya hidup dalam keterbatasan. Kampung Suyudan kini dihuni beragam latar belakang masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang diketahui sudah menetap puluhan tahun sejak orang tua mereka.

Mereka mampu bertahan hidup di kampung berbekal keahlian yang diwarisi turun-temurun, seperti beternak sapi dan bertani. Lanskap Suyudan yang didominasi persawahan dan perkebunan menjadi bukti nyata eksistensi masyarakat dalam bertahan hidup.

Air mengalir dari sendang mata air di barat Masjid Suyudan menuju permukiman dan areal persawahan, menjadikan lahan yang awalnya tidur kembali hidup. Hal ini membuat masyarakatnya mampu bertahan hidup melewati masa paceklik. Ibarat tubuh jika kekurangan asupan nutrisi dan air, tentu akan melemahkan kondisi yang menyebabkan dehidrasi hingga memicu kematian.

Tempat tinggal mereka tampak sederhana bahkan dikatakan bangunan lama. Namun, bukan berarti mereka tidak mampu secara finansial. Mereka mewarisi kediaman yang diwariskan dari leluhur dengan tetap mempertahankan keasliannya. Jika mereka ingin mendirikan rumah baru, maka harus menempati areal lain di samping rumah induk atau keluar dari Kampung Suyudan.

Kekunoan di Suyudan bagi saya bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Justru menjadi kunci membuka tabir masa lalu kampung tersebut sebagai bekal di kemudian hari. Besar harapan peninggalan yang ada di Kampung Suyudan tetap terjaga keasliannya sebagai bagian living monument masa lalu Kabupaten Boyolali. 

Jika bukan kita bersama, lantas siapa yang akan yang menjaga keberadaan kampung lawas tersebut? 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Jejak Stasiun NISM Bringin yang Kian Nestapa