EVENTS

Pameran 159 Tahun Kereta Api Pertama di Indonesia

Kota Semarang menjadi kota pertama yang memiliki jalur kereta api pertama di Hindia Belanda. Tepatnya pada 17 Juli 1864 dengan rute dari Stasiun Samarang di Semarang menuju Stasiun Tanggung di Kabupaten Grobogan. Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu, L.A.J. Baron Sloet van de Beele melakukan pencangkulan pertama untuk proyek yang dikerjakan oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS).

Hal ini disampaikan oleh Pak Tjahjono Rahardjo—seorang pegiat sejarah kereta api dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Kota Semarang–dalam Pameran 159 Tahun Kereta Api Pertama di Indonesia yang digelar di Rumah PoHan pada 30 Agustus 2026.

Pengunjung melihat koleksi foto pameran (Rivai Hidayat)
Pengunjung melihat koleksi foto pameran/Rivai Hidayat

Posisi Penting Kota Semarang

Pameran 159 Tahun Kereta Api Pertama di Indonesia menampilkan pameran foto, diskusi sejarah, dan pemutaran film tentang kereta api. Pameran ini merupakan hasil kerja sama dari Indonesia Railway Preservation Society (IRPS) Kota Semarang, Alliance Francaise Semarang, dan Rumah PoHan.

Pak Tjahjono menjelaskan, jalur pertama kereta api diresmikan pada 10 Agustus 1867. Jalur ini membentang sejauh 25 kilometer dengan empat stasiun pemberhentian: Stasiun Samarang, Stasiun Alastua, Stasiun Brumbung, dan Stasiun Tanggung. 

Pada masa itu, Belanda menghadapi tekanan politik, ekonomi, dan keuangan akibat konflik besar yang terjadi. Seperti Perang Napoleon di Eropa, dan Perang Jawa pada 1825–1830. Sebagai upaya meningkatkan perekonomian, Belanda membutuhkan sebuah sistem transportasi yang menghubungkan wilayah produksi dengan pusat perdagangan.

Kemudian pada 1830, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johannes van den Bosch mengenalkan sistem tanam paksa atau cultuurstelsel. Pulau Jawa dijadikan sebagai daerah penghasil komoditas ekspor, seperti: kopi, gula, nira, dan hasil pertanian lainnya yang memiliki nilai tinggi di pasar internasional.

Hasil produksi tanam paksa meningkat. Hal ini membuat Hindia Belanda membutuhkan sistem transportasi yang lebih cepat, efisien, dan kapasitas yang lebih besar untuk kebutuhan distribusi komoditas dari daerah produksi menuju pelabuhan. Ini menjadi salah satu dasar lahirnya sistem perkeretaapian di Hindia Belanda.

Semarang dinilai sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang penting di kawasan pantai utara Jawa. Kota ini juga menjadi pertemuan antara wilayah produksi pertanian yang meliputi kawasan Jawa Tengah dan vorstenlanden (wilayah keraton Surakarta dan Yogyakarta) dengan pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan internasional.

Menurut Pak Tjahjono, “Semarang menawarkan jalur keluar bagi komoditas tersebut, sekaligus menjadi ruang yang mempertemukan kepentingan ekonomi, modal swasta, dan kebijakan kolonial. Pilihan membangun jalur kereta api di kota ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari perubahan yang lebih besar dalam cara kekuasaan kolonial mengelola ruang, produksi, dan perdagangan.”

Tur kuratorial oleh Tjahjono Rahardjo (Rivai Hidayat)
Tur kuratorial oleh Tjahjono Rahardjo/Rivai Hidayat

Stasiun Samarang: Stasiun yang Telah Hilang

Dari empat stasiun pertama yang dibangun oleh NIS, hanya Stasiun Samarang yang telah hilang karena amblas akibat banjir rob yang menerjang kawasan Kemijen, Semarang. Tiga stasiun lainnya dalam keadaan terawat dengan baik, meskipun mengalami perubahan dibandingkan ketika pertama kali dibangun.

Ratri Septina, sejarawan arsitektur kereta api dan anggota Indonesia Railway Preservation Society (IRPS), menjelaskan bahwa bentuk Stasiun Samarang seperti huruf ‘U’ dan memiliki dua peron. Peron untuk penumpang dan barang. Selain itu, di stasiun ini juga terdapat buffer stop yang menandakan bahwa Stasiun Samarang merupakan sebuah stasiun akhir. 

Kini bentuk Stasiun Samarang tidak bisa ditemukan lagi. Hanya sedikit bagian stasiun yang tersisa, seperti tiang penyangga, besi lengkung, ventilasi udara, dan bagian lengkung pintu. Wilayahnya juga telah menjadi permukiman warga. Jalan di permukiman tersebut diberi nama Jalan Spoorland.

Pada tahun 1914, sebagian Stasiun Samarang dibongkar untuk membangun jalur rel baru menuju Stasiun Semarang Tawang. Stasiun Semarang Tawang dibangun pada 29 April 1911 dan diresmikan pada 1 Juni 1914. Stasiun Semarang Tawang dibangun untuk menggantikan Stasiun Samarang dalam melayani perjalanan kereta jalur Semarang-Surakarta-Yogyakarta.

Pak Tjahjono menjelaskan, Stasiun Semarang Tawang menjadi salah satu pintu masuk kedatangan para tamu pada perhelatan Koloniale Tentoonstelling. Sebuah pameran kolonial dalam rangka memperingati 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis.

Perusahaan Kereta Api di Semarang

Kemajuan industri kereta api yang dimulai oleh NIS mendorong berdirinya perusahaan kereta api baru di berbagai wilayah di Hindia Belanda. Baik perusahaan swasta, maupun milik pemerintah kolonial Hindia Belanda yang bernama Staatsspoorwegen (SS).

Selain NIS, di Semarang juga berdiri dua perusahaan kereta api milik swasta, yaitu Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) dan Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS).

Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) berdiri pada 1 Desember 1879. Perusahaan ini mengelola jalur kereta api di Demak, Kudus, Pati, Jepara, Rembang, Blora, dan Rembang. SJS juga memiliki jalur trem uap yang menghubungkan antar daerah di Semarang. Stasiun Central Djoernatan sebagai pusat operasional kereta api milik SJS.

Pak Tjahjono menjelaskan, sekitar tahun 1940-an operasional trem uap di Semarang dihentikan. Trem uap dinilai sudah tidak efisien dan kalah bersaing dengan kendaraan pribadi dan bus. Sementara itu, sekitar tahun 1970-an Stasiun Central Djoernatan dibongkar dan diubah menjadi terminal bus. Saat ini bekas area stasiun tersebut telah berubah menjadi kawasan perniagaan.

Sementara itu, Semarang-Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) berdiri pada tahun 1895. SCS memiliki jalur kereta api dari Stasiun Pendrikan, Semarang menuju Stasiun Kadipaten, Cirebon. Jalur ini melewati kota-kota penting di pantai utara Jawa, mulai dari Kendal, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, hingga Brebes.

Pada 6 Agustus 1914, SCS meresmikan Stasiun Poncol sebagai pengganti Stasiun Pendrikan. Stasiun Pendrikan memiliki kapasitas yang kecil dan dirasa tidak mampu menampung pengunjung Koloniale Tentoonstelling.

Dari kiri, searah jarum jam: Stasiun Samarang circa 1905, Stasiun Tawang (1920), dan Stasiun Poncol (1927)/KITLV

Kereta Api pada Masa Pendudukan Jepang

Pada masa pendudukan militer Jepang, kereta api juga dimanfaatkan untuk mengangkut militer dan logistik untuk kebutuhan perang. Gedung Lawang Sewu yang dulu digunakan sebagai kantor NIS dialihfungsikan sebagai markas militer oleh Jepang.

Para pekerja romusa dan tawanan perang dipaksa untuk mengerjakan pembangunan jalur kereta di Pekanbaru. Ribuan pekerja dan tawanan perang kehilangan nyawa dalam pengerjaan jalur ini.

“Sejarah rel di Indonesia tidak hanya dapat dibaca sebagai sejarah inovasi dan kemajuan, tetapi juga sebagai catatan tentang eksploitasi, perang, dan penderitaan manusia,” tulis Pak Tjahjono dalam catatan kuratorial.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Avatar photo

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Merawat Tradisi di Saparan Gogik