Tidak sulit menempuh perjalanan ke kota Sumedang, Jawa Barat, dari arah Jatinangor. Cukup sekali naik angkot 04 berwarna cokelat dengan ongkos Rp5.000.
Perjalanan bersama istri ditempuh kira-kira 30 menit. Kami akan melintasi kawasan Cadas Pangeran, yang dikenal sebagai perlintasan menanjak, menurun, dan berkelok-kelok. Di pinggirannya terdapat jurang yang curam.


Melintasi Cadas Pangeran
Cadas Pangeran panjangnya kira-kira tiga kilometer. Jalur ini adalah perlintasan Bandung–Cirebon, dengan nama resmi Jalan Raya Ciherang. Di balik indahnya panorama yang menemani perjalanan: tegaknya pohon-pohon di pinggir jalan, lembah curam dipenuhi tumbuhan liar, dan perbukitan yang menopang jalan, di sini tersimpan kisah muram.
Cadas Pangeran adalah saksi bisu kerasnya pembangunan Jalan Raya Pos atau De Grote Postweg dari Anyer (Banten) hingga Panarukan (Jawa Timur) yang dimulai pada 1808. Pembangunan jalan yang ambisius ini ditandai mobilisasi besar-besaran tenaga kerja wajib. Saat itu, masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang berkuasa 1808–1811.
Menurut Agustinus Handoko dan Mukhamad Kurniawan dalam “Pangeran Kornel, Simbol Perlawanan dari Cadas Pangeran” di buku Ekspedisi Anjer-Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas (2008), di Cadas Pangeran ketegangan muncul. Sebabnya, para pekerja harus membelah bukit di medan yang curam. Padahal, ketika itu, hanya linggis yang tersedia. Dari peristiwa ini, dalam cerita rakyat Sumedang, muncul nama Bupati Sumedang Pangeran Kusumadinata IX atau dikenal sebagai Pangeran Kornel. Ia tak rela rakyatnya diperlakukan semena-mena selama pembangunan jalan raya pos.
Kisah tutur yang berkembang menyebut, konon Pangeran Kornel berjabat tangan dengan Daendels menggunakan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya memegang gagang keris. Patung Pangeran Kornel dan seorang Belanda yang diduga Daendels itu berdiri tegak di kawasan ini. Terbuat dari perunggu, patung ini adalah karya pematung asal Bali, Gustiyan Rachmadi. Diresmikan pada 2012. Hanya saja, ini patung pengganti. Sebelumnya, monumen patung pertama di lokasi itu dibuat pematung Chaltim Pranajaya pada 1987–1988.
Riwayat Pangeran Kornel ditulis sastrawan Sunda R. Memed Sastrahadiprawira dalam novel berjudul Pangeran Kornel. Novel ini terbit pada 1930 oleh Balai Pustaka.


Masjid dan Taman Endog
Tak terasa, perjalanan angkot ini tiba di dekat Masjid Agung Sumedang. Tak jauh dari Alun-alun Kota Sumedang. Masjid itu dominan berwarna hijau. Menurut Annisha Ayudingdiah dalam “Pengaruh Belanda dalam Arsitektur Masjid Agung di Priangan 1800-1942” yang diterbitkan untuk Prosiding Seminar Heritage Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) (2017), Masjid Agung Sumedang dibangun pada 1850 atas inisiatif Bupati Sumedang Pangeran Suria Kusumah Adinata.
Kala itu, tulis Annisha, Sumedang didatangi pengembara dari Tiongkok. Selama pembangunan masjid, pengembara tersebut ikut serta. Maka, pengaruh Tiongkok terlihat pada tiga atap masjid, yang mirip bentuk pagoda.
Ukiran yang ada di masjid ini juga bercorak Tionghoa. Pada 1913 masjid ini dipugar. Kemudian, muncul arsitektur kolonial yang sangat terasa pada bentuk kolomnya, yang merupakan kolom Yunani. “Pola jendela yang besar dengan ujung setengah lingkaran juga merupakan khas zaman Belanda,” tulis Annisha. “Pengadaan serambi di timur menambahkan kesan neoklasik pada masjid.”
Waktu kami ke Sumedang, alun-alun sangat ramai. Kami berjalan menapaki Jalan Prabu Geusan Ulun. Sekitar satu kilometer lebih, di sebelah kanan terdapat tugu 0 Kilometer Sumedang. Cukup mencolok karena berwarna-warni.
Tak ada cerita heroik dari tugu ini. Di prasasti yang terpahat di marmer sisi tugu hanya tertulis keterangan jika tugu ini berada di antara pusat pemerintah kabupaten Sumedang di Alun-alun Sumedang dengan pusat ekonomi Pasar Sumedang di sebelah utara jembatan Sungai Cipeles. Tugu tersebut dibangun pada 2020, di masa Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.




Masjid Agung Sumedang (kiri) dan Tugu Nol Kilometer Sumedang/Fandy Hutari
“Sumedang adalah salah satu kabupaten yang dilintasi Jalan Raya Pos (De Grote Postweg). Jalan ini dibuat kolonial Belanda pada masa pemerintah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels. Terbentang dari Anyer–Panarukan sepanjang 1.000 kilometer. Selesai dibangun dalam waktu 1 tahun (1808),” tulis keterangan di prasasti tugu itu.
Di bawah tugu, masih terdapat patok lama jalan bertuliskan BD 45 (ke Bandung jaraknya 45 kilometer), CN 85 (ke Cianjur jaraknya 85 kilometer), dan SMD 0 (nol kilometer Sumedang). Tugu Nol Kilometer Sumedang ada persis di depan deretan pertokoan di Jalan Prabu Geusan Ulun.
Titik nol kilometer biasanya berfungsi sebagai pengukuran jarak, pusat titik koordinat, atau simbol geografis dan budaya. Pengukuran jarak mengacu pada rambu penunjuk jalan atau peta untuk menghitung jarak tempuh perjalanan. Pusat titik koordinat kerap kali diletakkan di bangunan atau area penting bersejarah di pusat kota. Sementara simbol geografis dan budaya menjadi titik acuan tata letak kota serta pusat ruang publik atau aktivitas sosial.
Dikutip dari artikel berjudul “Inilah tentang 0 Kilometer Sumedang di inimahsumedang.com (30/4/2023), Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir (menjabat 2018–2023) mengatakan, di zaman Belanda ada kantor pos setiap 30 sampai 40 kilometer untuk menggantikan kuda-kuda yang membawa kereta pos. Seiring waktu, keramaian tumbuh di sekitar kantor pos hingga menjadi desa atau kota.
Meski begitu, Dony mengaku belum mendapat literatur terkait penetapan titik nol kilometer Sumedang di lokasi saat ini. Akan tetapi, menurutnya, penetapan titik nol kilometer oleh pemerintah kolonial lazimnya mengacu pada tradisi Eropa: titik nol kota adalah kantor pos.


Kami melanjutkan jalan melintas jembatan di atas sungai yang airnya cokelat dan sangat deras. Tak jauh dari sana, keramaian pasar menyambut. Di sebelah kanannya, saya mendapati sebuah taman kecil. Ada tugu berbentuk telur raksasa di tengahnya. Taman ini dikenal sebagai Taman Endog.
Mengutip Babad Tanah Sumedang (2026) yang ditulis Yaya Mulyana dkk, taman ini dibangun pada 1991, semasa pemerintahan Bupati Sumedang Sutardja (menjabat 1983–1988 dan 1988–1993). Banyak informasi lain menyebut, pembangunannya dilakukan pada 1990. Telur raksasa di tengah taman itu disangga oleh dua buah tangan. Taman Endog adalah nama yang populer untuk menyebut Taman Sumedang Tandang.
Saya agak heran. Sumedang itu identik dengan tahu, tetapi kenapa yang dibangun taman dengan telur raksasa? Bukan tahu.
Seorang penulis dalam artikel “Taman Endog dan tentang Endog Sapatalang ‘Proses Penciptaan Alam Semesta” di inimahsumedang.com (8/5/2023) menyebut, Taman Endog adalah simbol tentang wawacan endog sapatalang, yang di dalamnya menyiratkan proses penciptaan alam semesta oleh Tuhan. Diibaratkan seperti telur. Taman Endog yang luasnya kira-kira 2.300 meter persegi difungsikan sebagai ruang terbuka hijau bagi masyarakat untuk bersantai.
Puas berjalan keliling, tak lengkap rasanya jika ke Sumedang belum menikmati langsung sajian tahu sumedang. Kami pun menyempatkan diri ke salah satu warung tahu sumedang, tidak jauh dari Griya Plaza Sumedang yang sangat ramai.
Di kota ini, sebenarnya ada lagi lokasi menarik yang bisa dikunjungi, yakni Museum Prabu Geusan Ulun—saya pernah ke sana sewaktu masih berkuliah—dan makam Cut Nyak Dhien di Gunung Puyuh. Hanya saja, waktu membatasi gerak kami.
Sebelum magrib tiba, kami bergegas kembali ke rumah mertua di bilangan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Naik angkot, seperti semula.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.


