EVENTS

Memperingati Berakhirnya Perang Dunia II di Asia

Ereveld Kalibanteng, Semarang, menjadi satu dari tiga ereveld yang menggelar upacara Peringatan Berakhirnya Perang Dunia II di Asia yang diadakan oleh Kedutaan Besar Belanda dan bekerja sama dengan Oorlogsgravenstichting (OGS) Indonesia—Yayasan Pengelola Makam Kehormatan Belanda.

Pagi itu (15/8/2026) suasana Ereveld Kalibanteng lebih ramai dari biasanya. Puluhan orang telah berkumpul di dekat Monumen Perempuan. Di sana juga terdapat beberapa karangan bunga yang akan digunakan dalam upacara peringatan. Aku berjumpa dengan beberapa kawan penggiat sejarah. Ini merupakan kedua kalinya aku mengikuti upacara Peringatan Berakhirnya Perang Dunia II di Asia. Keduanya dilaksanakan di Ereveld Kalibanteng.

Selain Ereveld Kalibanteng, upacara ini juga diadakan Ereveld Kembang Kuning, Surabaya, yang digelar di pagi hari dan Ereveld Menteng Pulo pada sore hari. Lokasi pelaksanaan upacara peringatan dilakukan secara bergantian di tujuh ereveld yang ada di Indonesia.

Pada 15 Agustus 1945 atau 81 tahun yang lalu, militer Jepang menyerah pada Sekutu. Ini menandai berakhirnya Perang Dunia II di wilayah Asia. Kemudian momen ini diperingati sebagai Peringatan Berakhirnya Perang Dunia II di Asia oleh Kedutaan Besar Belanda yang bekerja sama dengan OGS Indonesia.

Pada peringatan ini, OGS Indonesia mengibarkan bendera Belanda secara setengah tiang di tujuh ereveld yang ada di Indonesia. Ini merupakan satu dari tiga momen pengibaran bendera Belanda di kompleks makam kehormatan atau ereveld.

Peringatan Berakhirnya Perang Dunia II di Asia dihadiri oleh Allan Budi (OGS Indonesia), Kedutaan Besar Belanda, Agustina Wilujeng P. (Wali Kota Semarang), keluarga penyintas perang, dan masyarakat umum. Semua peserta terlihat khidmat mengikuti rangkaian acara. Mulai dari upacara penghormatan, mengheningkan cipta, hingga peletakan bunga.

Pengibaran bendera setengah tiang (Rivai Hidayat)
Pengibaran bendera setengah tiang/Rivai Hidayat

Tentang Ereveld Kalibanteng

Ereveld Kalibanteng diresmikan pada 22 April 1949. Ereveld ini juga dikenal dengan nama ‘Ereveld Perempuan’. Hal ini dikarenakan banyak perempuan dan anak-anak yang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng. Mereka merupakan korban dari kamp-kamp interniran yang ada di Jawa Tengah, antara lain kamp Ambarawa, Banyubiru, Lampersari, Halmahera, Bangkong, Gedangan, dan Karangpanas.

Di Ereveld Kalibanteng terdapat Monumen Perempuan yang melambangkan perjuangan dan ketangguhan bersama di masa sulit peperangan. Terdapat pula Makam Simbolis untuk perempuan yang tak dikenal dan Monumen Anak Laki-Laki di Kamp Interniran yang melambangkan anak laki-laki yang dipekerjakan secara paksa pada masa pendudukan militer Jepang.

Monumen anak di kamp interniran (Rivai Hidayat)
Monumen anak di kamp interniran/Rivai Hidayat

Cerita dari Keluarga Korban Perang

“Sebetulnya saya sudah menyiapkan teks berupa bahasa Inggris. Namun, karena banyak orang-orang Indonesia yang hadir pagi ini, maka saya akan bercerita menggunakan bahasa Indonesia,” ucap Henry Sandee sebelum dia berbagi kisah keluarganya tentang masa Perang Dunia II.

Henry Sandee bercerita tentang kakeknya yang bernama Thomas Henry Lewis. Henry tidak pernah bertemu dengan kakeknya. Dia hanya mendengar cerita dari pamannya. Kakek Thomas meninggal pada bulan April 1945 di kamp interniran Bangkong.

Henry pernah mengunjungi bekas kamp interniran Bangkong yang sekarang digunakan sebagai sebuah sekolah. Dia sulit membayangkan bahwa pada 81 tahun yang lalu tempat itu menjadi penjara yang dihuni oleh sekitar 1.400 orang.

“Kami tidak tahu banyak nasib dan kehidupan Thomas. Kami hanya mengetahui nomor registrasinya,” ujar Henry. Setiap korban perang yang dimakamkan di ereveld memiliki nomor registrasi. Nomor registrasi ini berisi informasi lokasi pemakaman dan data lainnya.

Saat Kakek Thomas meninggal, nenek Henry masih berada di kamp interniran Cideng, Jakarta. Berkali-kali neneknya berkirim surat kepada suaminya, tetapi tidak pernah ada balasan. Kemudian neneknya mendapat kabar bahwa suaminya telah meninggal setelah Perang Dunia II berakhir.

Kisah serupa juga dialami oleh ayah dan paman Henry. Keduanya bekerja di Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda. Kemudian ditangkap oleh militer Jepang. Keduanya dibawa untuk bekerja di jalur kereta api di wilayah Thailand dan Burma. Mereka berdua sempat bertemu ketika transit di Singapura. Paman Henry meninggal di Thailand.

Setelah Perang Dunia II berakhir, orang tua Henry kembali ke Belanda. Pengalaman keluarganya selama tinggal di Indonesia telah membentuk hidupnya. Henry masih mengingat suasana komunitas tempat tinggal keluarganya yang banyak dihuni orang-orang yang pernah tinggal di Indonesia.

Commander Patrick Stahli, perwakilan dari Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan, ikut berbagi cerita/Rivai Hidayat
Commander Patrick Stahli, perwakilan dari Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan, ikut berbagi cerita/Rivai Hidayat

“Bau kretek, ada yang pakai batik, ada yang pagi-pagi sudah makan nasi goreng. Suasananya seperti di Indonesia,” ujar Henry.

Henry juga bercerita bahwa dia menikah dengan perempuan Jepang. Pada awalnya dia merasa khawatir dengan sikap keluarganya tentang keputusannya itu. Dia sadar dengan pengalaman buruk keluarganya selama masa pendudukan Jepang.

Kekhawatiran Henry tidak pernah terbukti. Keluarga Henry tidak merasa keberatan. Mereka memang membenci masa pendudukan Jepang. Namun, mereka sadar bahwa ada hal-hal baik di setiap orang.

Sebuah cerita tentang keluarga korban juga diceritakan oleh Commander Patrick Stahli yang merupakan perwakilan dari Kerajaan Belanda dan Kantor Atase Pertahanan. Dalam pidatonya Patrick Stahli mengangkat kisah Gerrit van der Meulen yang merupakan seorang warga Belanda yang datang ke Jakarta pada 1930-an untuk bekerja di sebuah lembaga pemerintahan.

Pada masa pendudukan Jepang, Gerrit ditangkap dan dimasukan ke kamp interniran. Kemudian dia dipaksa bekerja dalam pembangunan jalur kereta api di Pekanbaru bersama para pekerja romusha lainnya. “Gerrit dan banyak pekerja romusha tidak selamat dalam kondisi tersebut,” kata Patrick.

Istri Gerrit juga menjadi salah satu orang terakhir yang melihatnya. Setelah Perang Dunia II berakhir, istri dan ketiga anaknya kembali ke Belanda dalam kondisi penuh trauma. Patrick menambahkan, “Dampak perang tidak berhenti ketika pertempuran berakhir, karena trauma dan kehilangan dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.”

Peletakan bunga di sebuah makam massal/Rivai Hidayat
Peletakan bunga di sebuah makam massal/Rivai Hidayat

Bukan Sekadar Makam Kehormatan

Dalam pidatonya, Allan Akbar, perwakilan OGS Indonesia, mengatakan bahwa Peringatan Berakhirnya Perang Dunia II di Asia yang digelar pagi itu bisa menjadi ruang untuk merefleksikan masa lalu, memahami dampak perang, dan membangun masa depan yang lebih damai. Allan Akbar juga menambahkan, “Lebih dari 3.000 korban perang dimakamkan di Ereveld Kalibanteng.”

Acara Peringatan Berakhirnya Perang Dunia II di Asia diakhiri dengan peletakan bunga di makam yang diikuti oleh seluruh peserta. Mereka terlihat sangat antusias mengikuti momen ini. Peletakan bunga ini merupakan sebuah simbol yang menandakan “kamu tidak dilupakan”.

Peringatan ini bertujuan untuk kembali mengenang cerita-cerita korban perang dan hal-hal yang berkaitan dengan perang. Bukan untuk meratapi apa yang terjadi di masa lalu, melainkan dijadikan kesempatan untuk belajar dan melakukan berbagai hal untuk mencegah perang, serta memperjuangkan perdamaian. Baik di masa kini, maupun di masa depan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Avatar photo

Rivai Hidayat tinggal di Semarang. Memiliki hobi traveling, fotografi dan, menulis. Berusaha mendokumentasikan setiap perjalanan yang dilakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menonton Pementasan Wayang Orang Ngesti Pandowo