TRAVELOG

Menyigi Taman Air Peninggalan Keraton Kasunanan Surakarta di Boyolali

Jika Keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki Taman Sari, Keraton Kasunanan Surakarta pun juga memiliki taman air, namanya Tirtomulyo Pengging. Lokasinya tepat di selatan Masjid Ciptomulyo Pengging, Dukuh Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. 

Meski begitu, gaya seni tamannya tidak sama. Taman air Tirtomulyo berupa empat kolam mata air berbeda. Hingga kini, keempat kolam mata air tersebut digunakan oleh Keraton Kasunanan sebagai bagian dari upacara adat. Warga sekitar sudah terbiasa dengan kehadiran keluarga keraton ke Tirtomulyo untuk mengadakan upacara kebudayaan.

Pintu masuk kolam Umbul Ngabean, Pengging, Boyolali (Ibnu Rustamadji)
Pintu masuk Umbul Ngabean, Pengging, Boyolali/Ibnu Rustamadji

Pengging, Wilayah Bekas Pesanggrahan Ngeksipurno

Menurut Heri Priyatmoko, masa lalu Pengging tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Buitenverblijf Ngeksipoerno atau Pesanggrahan Ngeksipurno milik Keraton Kasunanan Surakarta (kini Gedung Pertemuaan Kapujanggan). Sebagai rumah singgah keluarga raja, fasilitasnya cukup lengkap, termasuk taman air dan masjid untuk sembahyang keluarga dan masyarakat.

“Pesanggrahan Ngeksipurno dibangun tahun 1908 sebagai bagian dari taman air Tirtamarta yang kini lebih dikenal Tirtomulyo. Selain kediaman, juga dilengkapi masjid Ciptomulyo dan alun-alun kecil di timur,” ungkap Heri.

Tepat di timur Tirtomulyo, Masjid Ciptomulyo dan Pesanggrahan Ngeksipurno terdapat alun-alun yang kini menjadi Taman Alun-alun Pengging. Mungkin dahulunya merupakan areal lapangan, tetapi karena sempat menjadi Pasar Utama Pengging akhirnya lapangan tersebut berganti menjadi beraspal.

Fasilitas di Pesanggrahan Ngeksipurno kala itu cukup lengkap, bagaikan istana kecil. Merujuk serat (fisik) Biwaddha Nata Surakarta, Wángsaléksana, 1936, bertajuk “Pasanggrahan Dalem”, diketahui jika Kabupaten Boyolali memiliki tiga pesanggrahan, yakni Pracmaardja/Pratjimahardja, Selo Ngendramarta, dan Ngeksipoerna. 

”Ing Ngeksipoerna wonten umbulipun kagém pasiraman dalém, nama umbul Tirtamarta, ugi dipun sadhiyani papan padusan kangge umum. Kajawi pasanggrahan saha pasiraman dalêm, ing ngriku ugi wontên kagungan dalêm masjid, ing sabên wulan Sapar ing masjid wau dipun wontênakên karamean Yakawiyu kadosdene ing Jatinom (Klathèn). 

Sacêlakipun umbul Tirtamarta wau, ugi wontên umbul kawastanan umbul Ganawêling, ing ngajêng pangunjukan dalêm sampeyan dalêm ingkang wicaksana mêndhêt saking toya umbul wau, ananging samangke sampun botên. Ing dhusun Mungup (Sawit), ing ngriku ugi wontên umbul kangge padusan. 

Dumugi ing mangke pasanggrahan dalêm ingkang kêrêp dipun rawuhi sampeyan dalêm ingkang wicaksana ingkang sinuhun kangjêng susuhunan, amung pasanggrahan dalêm ing Pracimaarja, amargi hawanipun pancèn sakeca (asrêp) papanipun asri anêngsêmakên, saha kêrêp kagêm manggihi para ingkang sami mêrtamu sampeyan dalêm ingkang wicaksana ingkang sinuhun kangjêng susuhunan, saking măncanagari. Pasanggrahan wau kaprênah sakilèn kitha Bayalali, têbihipun watawis 7 kilo mètêr.”

Kolam Ngabean dengan panggung pagelaran sunan (Ibnu Rustamadji)
Kolam Ngabean dengan panggung pagelaran sunan/Ibnu Rustamadji

Berdasarkan serat tersebut, tiga pesanggrahan yang dimaksud adalah Pracmaardja/Pratjimahardja (Pesanggrahan Pracimohardjo) Desa Paras, Kecamatan Cepogo; Selo Ngendramarta (kini perkampungan dan simpang PB Selo) di Kecamatan Selo; dan Ngeksipoerna (Gedung Kapujanggan) Desa Pengging, Kecamatan Banyudono.

Pesanggrahan Ngeksipurno berada utara umbul atau kolam air Tirtamarta dan Masjid Ciptomulyo. Pesanggrahan memiliki kolam mata air sendiri khusus raja dan keluarga, untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan ibadah ke Masjid Ciptomulyo. Masjid tersebut setiap bulan Sapar atau Safar (penanggalan Jawa) diadakan hiburan Yaqowiyu seperti di Jatinom Klaten.

Gelaran Yaqowiyu Jatinom dan Pengging identik dengan perayaan sebaran kue apem untuk diperebutkan masyarakat di lapangan terbuka dan gelaran pasar malam. Hanya saja, ada yang membedakan. Sebaran apem Pengging dilaksanakan di areal depan Masjid Ciptomulyo, setelah didoakan di dalam masjid dengan sajian utama kue apem keong mas.

Sedangkan sebaran apem Jatinom dilaksanakan di selatan kompleks makam dan Masjid Ki Ageng Gribig di Jatinom, setelah didoakan di Masjid Alit Sememen dan diarak menuju pelataran Masjid Ki Ageng Gribig dengan sajian utama kue apem Ki Ageng Gribig. Upacara pembukaan biasa dilaksanakan setelah salat Jumat di bulan Sapar. 

Setelah mengikuti rangkaian Yaqowiyu Pengging, sunan kembali ke Pesanggrahan Ngeksipurno untuk bermeditasi di kolam raja di dalam pesanggrahan, yang mata airnya dialirkan dari kolam mata air Ganaweling—kini sudah tertutup. Di Dusun Mungup, Kecamatan Sawit (selatan Pengging) juga terdapat kolam mata air untuk pemandian.

Meski Pesanggrahan Ngeksipurno cukup mewah, Sunan Pakubuwana X lebih sering menempati Pesanggrahan Pracimohardjo untuk sekadar beristirahat atau menemui tamu kenegaraan karena berhawa sejuk dan menenangkan. Meski begitu, Pesanggrahan Ngeksipurno dan Tirtomulyo pun juga digunakan terlebih untuk menggelar upacara adat.

Tampak depan Masjid Ciptomulyo Pengging (kiri) dan Pesanggrahan Ngeksipurno Pengging/Ibnu Rustamadji

Taman Air Kebanggan Keraton Kasunanan Surakarta

Awal penamaan kawasan taman air Pengging ini adalah Tirtamarta, dari kata dasar tirta atau air dan amarta atau aliran, sehingga artinya air yang mengalir. 

“Penamaan tersebut diberikan langsung oleh Sunan Pakubuwana X di Pesanggrahan Ngeksipurno, sebelum perjalanan kondhur dhateng (pulang ke) Keraton Kasunanan,” ungkap Heri.

Ia menambahkan, mata air Tirtamarta tidak pernah berkurang debitnya meski di musim kemarau panjang. Bahkan salah satu kolamnya, yakni kolam temanten, memiliki dua mata air dalam satu kolam. Keberadaan dua mata air tersebutlah yang menjadi nama dari kolam temanten atau kolam pengantin.

“Para pangeran (putra raja) dan istrinya setelah melangsungkan seluruh prosesi upacara pernikahan, diwajibkan berendam bersama di kolam temanten didampingi keluarga masing-masing dan abdi dalem kepercayaan,” tambahnya.

Tujuannya untuk berdoa kepada Tuhan, supaya kedua mempelai mampu mengarungi kehidupan keluarga bersama dan mampu menjalin hubungan yang harmonis. Putra pangeran lain yang belum memiliki pasangan, tidak diperkenankan berendam di kolam temanten tetapi di kolam dudo di sisi selatan.

“Kolam dudo, tidak hanya untuk duda saja, tetapi juga yang masih single. Tujuannya sama, yakni bermunajat kepada Tuhan untuk diberi jalan bertemu jodoh,” ungkap Heri.

Mata air kedua kolam temanten (kiri) dan kolam dudo/Ibnu Rustamadji

Seperti namanya, kolam Ngabean merupakan kolam mata air khusus keluarga Sunan Pakubuwana X, termasuk putra pangeran dan Mas Ngabehi. Meski sunan memiliki kolam air di dalam pesanggrahan, ia juga menggunakan kolam Ngabean untuk bermunajat. Abdi dalem yang turut bermunajat, menempati kolam air di sisi luar. 

Lazim kala itu raja bermunajat di kolam air, selain di masjid. Tujuannya mendapatkan ketenangan jasmani dan rohani. Ada satu fakta terungkap, kolam Ngabean memiliki nama awal kolam siraman ndalem, artinya kolam untuk mandi raja. Tidak hanya untuk mandi, tetapi juga meditasi dan bermunajat bagi raja dan keluarga. 

Saya menduga kolam keempat, yang kini menjadi kolam anak, awalnya adalah kolam air keputren, khusus untuk anak perempuan, selir, dan permaisuri dari Sunan Pakubuwana X. “Keempat kolam mata air itu tidak berbentuk kolam, tetapi aliran dibatasi batuan dan tanah [yang] oleh sunan dibangun seiring selesainya pembangunan pesanggrahan dan masjid,” pungkas Heri.

Ia menambahkan, masyarakat Pengging yang ingin memasuki areal keempat kolam air kala itu harus secara sembunyi-sembunyi karena khawatir diusir abdi dalem. Sebab, memasuki areal kolam mata air adalah ilegal. Pasca kemerdekaan, Tirtamarta dibuka untuk masyarakat umum dan dilakukan perubahan nama menjadi Tirtomulyo, yang artinya air kesejahteraan.

Potret Sunan Pakubuwana X (tengah) di atas pintu masuk pagelaran kolam Ngabean (Ibnu Rustamadji)
Potret Sunan Pakubuwana X (tengah) di atas pintu masuk pagelaran kolam Ngabean/Ibnu Rustamadji

Tirtomulyo, Mata Air Kesejahteraan bagi Masyarakat Pengging

Seiring waktu, selain digunakan sebagai tempat pemandian, kolam mata air Tirtomulyo juga mengairi areal persawahan di sisi timurnya. Aliran tidak berhenti di areal persawahan Pengging saja, tetapi terus mengalir hingga ke arah Kabupaten Sukoharjo. Tidak sedikit masyarakat yang memanfaatkannya menjadi tambak ikan di areal sungai yang dialiri air dari Pengging.

Hal tersebut membuktikan, jika mata air Tirtomulyo memberikan kesejahteraan tidak hanya bagi keluarga Keraton Kasunanan, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Air yang terus mengalir di musim kemarau menjadi simbol, bahwa hidup harus terus berjalan walau di tengah masa paceklik dan penuh ketidakpastian.

Melimpahnya air, jika tidak dikelola dengan baik, tentu berakibat buruk untuk masa depan. Tidak hanya berkurangnya debit aliran, tetapi juga dapat memicu kelangkaan air. Kini sudah saatnya berpikir ulang bagaimana cara menyikapi dan mempersiapkan bekal untuk mengelola dan memanfaatkan air untuk jangka panjang. Besar harapan, keberadaan empat mata air tersebut tetap eksis di tengah ramainya persaingan bisnis wisata taman air dan tidak terjadi eksploitasi sumber air berlebihan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Makam Keluarga R.Ng. Prodjosoekemi, Pionir Seni Ukir Jepara dan Arsitek Kepercayaan Mangkunegaran