“Laut itu luas, tidak mungkin sebuah suku!” tegas Zakaria. Sambil mengacungkan telunjuk, ia melanjutkan, “Kami ini suku Duanu.”
Saya amati lelaki tua ini. Tubuhnya kecil, berkulit legam, dan meskipun kulitnya sudah mengendur, dari genggaman tangannya ketika bersalaman tadi, saya merasakan ototnya yang padat ditempa penderitaan.
Jujur, tidak disangka ia akan sedemikian reaktif ketika saya menyinggung mengenai identitasnya, apakah suku Duanu ataukah suku Laut. “Itu politik, Pak. Kami bukan suku Laut, meskipun sama-sama hidup di laut. Suku Duanu 100% beragama Islam. Suku Laut tidak. Kami ini kaum Protomele (kaum yang merantau dan mengembara).”
Zakaria mengucapkan Protomele dengan “e” pepet. Saya terdiam, mencoba mencerna. Oh, mungkin maksud Zakaria adalah Proto-Melayu.


Para Pengembara Laut
Kata Zakaria, suku Duanu pada zaman dahulu hidup dari sampan ke sampan, dari laut ke laut, menangkap ikan, menongkah kerang, dan lain sebagainya. Pokoknya, kata Zakaria lagi, semua aktivitas mereka dilakukan di laut.
“Dulu, (leluhur) kami menjaga laut ini di bawah komando Kerajaan Indragiri.” Ia menegaskan betapa leluhurnya ditakuti di laut, hingga dijuluki lanun atau bajak laut oleh Belanda, seakan-akan Zakaria sendiri hidup sezaman dengan mereka.
Saya teringat buku Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut. Adrian B. Lapian, si empu buku, menyebutkan ketiga julukan ini sejatinya entitas yang sama, yakni sesosok etnis yang menghuni sampan kajang di atas laut—orang Barat menyebut mereka sebagai sea-gypsies—dan terkenal sebagai penakluk laut ulung. Segala legenda dan kehebatan mereka lebih menyerupai mitos ketimbang sejarah.


Ironis, sejak zaman Orba mereka dipaksa bermukim dan hidup sebagaimana masyarakat darat pada umumnya. Dicerabut dari akar budaya membuat mereka merana dan hampir tidak mampu bertahan menghadapi perubahan zaman—dimiskinkan secara struktural dan fungsional.
Zakaria makin semangat bercerita. Namun, tangan saya digamit oleh pemandu kami yang memaksa kami harus pamit. Ia mengingatkan laut mau surut, dan kalau tidak lekas, speedboat tidak akan bisa keluar. Kami harus melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Concong, meninggalkan Desa Sungai Bela.
Concong dan Sungai Bela sebenarnya berada pada pulau yang sama. Kendati demikian, untuk ke sana kami harus memutar melewati laut menggunakan speedboat yang kami sewa dari Tembilahan, ibu kota Kabupaten Indragiri Hilir.
Sembari jalan, kami mengambil data kualitas air di selatan, sekitar perairan Kecamatan Tanah Merah. Kami berangkat menuju titik terjauh, Stasiun 20 yang berlokasi di zona inti Kawasan Konservasi Perairan di Indragiri Hilir.


Gelombang cukup kuat mengombang-ambingkan kapal, membuatku hampir mabuk ketika menyauk sampel air laut. Kami bergegas menyelesaikan pengambilan data dan berangkat menuju Concong sebelum badai tiba.
Di Concong, tim Survei Kawasan Konservasi Perairan Daerah Indragiri Hilir (KKPD Inhil) briefing singkat. Tim sosek sibuk dengan kuesionernya, sedangkan saya dan Hendra, sebagai penanggung jawab data biofisik, sibuk mengemas alat pengukur kualitas air.
Pukul sepuluh seusai makan malam, saya, Bang Opu, Hendra, diikuti Mila dan Febri menuju ke sebuah gudang ikan di ujung Desa Panglima Raja. Kami yang laki-laki akan bernegosiasi menyewa kapal pompong—menggunakan speedboat pancong ke stasiun terjauh terlalu berisiko. Selain karena lunasnya datar dan rawan gelombang besar, speedboat pancong yang kecil juga menyulitkan mobilisasi ketika mengambil data kualitas air.
Sembari kami bernegosiasi sewa kapal, tim perempuan akan mewawancarai nelayan untuk kepentingan data sosial ekonomi. Sialnya, gudang ikan kosong. Tidak ada nelayan di sana, apalagi pompong yang hendak disewa. Kami kembali ke penginapan, menyisir Sungai Concong sambil memandangi kunang-kunang di pohon api-api yang menyaru dengan bintang di langit pekat.
Kami pun menyepakati rencana lain untuk tim biofisik: melanjutkan survei menggunakan dua buah speedboat: satu speedboat untuk saya, Hendra, dan Bang Dul tumpangi sebagai tim pengambil sampel air laut beserta alat-alat pendataan, dan speedboat satunya lagi berisikan Kak Yun dan Khusna sebagai tim dokumentasi dan pencatat data.
Esok pagi sebelum berangkat, Concong kembali dirundung hujan. Di kedai kopi, Bang Opu dan tim sosek sudah mulai mewawancarai nelayan. Saya tersenyum sambil mengudap roti bakar srikaya sambil mengamati orang lalu-lalang menuju ke pasar.


Pasai Tersadai Diamuk Badai
Hujan menyisakan renyai. Speedboat kami berangkat beriringan, pacu-memacu satu sama lain. Dari 20 stasiun pengambilan sampel, baru empat yang terselesaikan kemarin sepanjang jalan dari Sungai Bela–Concong.
Kami bekerja secara estafet dengan pembagian tim yang sempurna. Saya mengambil sampel plankton, Hendra mengukur kecepatan arus, dan Bang Dul membungkus sampel air dan memasukkannya ke dalam icebox. Kak Yun dan Khusna bergantian mencatat parameter fisika-kimia serta mendokumentasikan kami.
Stasiun pertama kami selesaikan tanpa kendala dan hendak menuju stasiun selanjutnya. Dari belakang, motoris speedboat berseru. Saya menoleh ke arah yang ditunjuk olehnya. Langit seketika gelap; awan kumulonimbus menggulung dan angin kencang menguarkan bau amis dan lembap.
“Merapat ke kelong terdekat, Bang!”
Motoris sigap mengikuti instruksi saya. Di haluan, saya langsung mengikatkan perahu speedboat kami ke kayu pancang di kelong, berlomba dengan hujan disertai badai yang tiba-tiba menerpa. Ombak gulung-menggulung melambungkan perahu kami ke atas, kemudian terempas lagi ke air. Andai tidak berpegangan pada tali, dan kaki yang mengunci pada ujung haluan, sudah pasti saya akan tercampak ke laut dan hanyut.


Kawan saya yang di dalam speedboat duduk terdiam, menutupkan atapnya dengan terpal, sedangkan saya berdiam di haluan, menikmati ayunan gelombang. Pandangan mata saya layangkan ke sekeliling. Kami berasa berada di dalam kubah raksasa berisi air, awan, dan daratan di ujung jauh yang membundar menjadi batas antara laut dan langit. Saya kembali merasa kecil di tengah genangan air maha luas ini.
Kak Yun dan yang lainnya memanggil, menyuruh masuk, tapi saya menjawab kalau harus ada yang menjaga perahu agar tidak membentur tiang kelong. Terkesan heroik memang, padahal alasan sebenarnya saya takut mabuk laut jika masuk ke dalam speedboat yang sempit, pengap, dan terkurung terpal.
Dari arah depan, sebuah garis kuning melesat cepat, lalu hinggap di pucuk pohon di daratan seberang. Diikuti di sebelah kanan dan kiri kami, mencabik-cabik langit, disusul bunyi gelegar yang membuat gentar.
Andai saya tetap bertahan di luar, bisa saja saya ikut tersambar seperti warga Desa Igal yang tewas beberapa minggu lalu saat hujan petir ketika tengah melaut.
Saya putuskan naik ke atas kelong. Sambil berpegangan erat pada tiang kelong, saya longgarkan tali tambat speedboat beberapa meter hingga cukup leluasa dilamun gelombang tanpa khawatir berbenturan satu sama lain, ataupun menghantam tiang kelong.
Saya meniti naik dengan hati-hati. Pijakan tangga terlalu kecil dan rapuh, serta licin. Salah-salah, saya bisa terjatuh dan menjadi korban dari gempuran Zeus dan Poseidon yang tengah adu mekanik, lalu berakhir dimakan buaya muara.
Dimensi kelong itu tak lebih dari 1×2 meter persegi, tanpa daun pintu. Di depan pintu masuknya, terdapat papan yang dibentuk serupa peti tanpa tutup, tempat meletakkan ikan rucah. Saya melangkahi papan tersebut ke arah sudut, mencari tempat yang agak bersih.
Di dalamnya sungguh tidak nyaman. Saya meringkuk serupa mayat dalam sarkofagus memeluk kaki dengan kepala yang disembunyikan di sela lutut. Sungguh sangat menyiksa. Meskipun begitu, saya sempat tertidur sekejap dan bermimpi. Speedboat kawan-kawan saya terbalik. Mereka mati dan saya tinggal sendiri, terdampar di tengah kelong tanpa bisa ke mana-mana.


Saya tersentak dan buru-buru mengintip sebalik daun nipah—yang menutupi celah dinding kelong—memastikan kondisi kapal aman atau mungkin tepatnya memastikan saya tidak ditinggalkan. Ketika melirik arloji. Ternyata baru tiga puluh menit berlalu. Tapi saya merasa sudah setengah hari berlalu—serasa setengah nyawa saya dicabut di sini.
Dulu Pak Elizal, dosen saya, selalu berkata bahwa badai itu hanya berdampak pada permukaan laut saja. Di dalam perairan gelombang lebih tenang. Bahkan, sehabis badai, permukaan laut akan terlihat seperti permukaan kaca. Ya, saya percaya itu. Namun, sekarang saya hanya ingin bertanya satu hal saja pada Pak Elizal: Kapan badai itu akan berlalu, Pak?
Kira-kira, apa yang Zakaria dan orang suku Duanu—atau mungkin suku Laut—lakukan jika badai petir begini? Tidakkah kalian takut mati di laut, duhai Zakaria?
“Piak duanu lap ne dolak (takkan mati Duanu di laut)!” seru mereka bangga.
Benarkah?
Bisa saja, iya. Namun, tentu itu hanya berlaku bagi Zakaria dan kaumnya. Saya bukan Duanu. Tentunya saya juga belum mau mati.
Di dalam kelong sempit itu pula saya menemukan Tuhan, dan dari celah nipah di atas kelong, saya melihat langit mulai terbelah, meski tanpa malaikat bersayap yang turun membawa berkat diiringi senandung kidung.
Badai mulai usai, sedangkan perjalanan kami baru akan dimulai.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
WS. Djambak saat ini bermukim di Pekanbaru, Riau. Menyukai dunia tulis-menulis; fiksi dan nonfiksi. Beberapa cerpennya pernah terbit di media cetak dan daring. Pernah juga menjuarai lomba kepenulisan cerpen, esai, dan puisi tingkat daerah dan nasional. Tahun 2023 terpilih sebagai Emerging Writer pada Balige Writers Festival. Saat menjabat sebagai peneliti madya di Laboratorium Sastra Mazhabpanam.

