Siapa sangka, dua kampung lawas di pusat kota Kabupaten Boyolali kini masih menyimpan beberapa pemakaman lama, sebagai jejak eksistensi masyarakat Tionghoa di Boyolali. Dua kampung itu adalah Tacung (Kelurahan Siswodipuran) dan Banaran (Kelurahan Banaran). Masing-masing kampung hanya berjarak 2,5 kilometer.
Medan jalan berbukit dan tata letak permukiman yang saling berjarak, menjadi acuan saya untuk melacak lokasi pemakaman Tionghoa yang tersisa di pusat kota Boyolali. Meskipun awalnya saya ragu bisa berhasil menemukan jejak pemakaman tersebut.
Setelah berkeliling kampung sekitar 10 menit, hingga diarahkan warga setempat mengenai keberadaan bongpai (batu prasasti) makam Tionghoa di Tacung, sampailah saya di tujuan pertama: Kampung Tacung. Antara senang, sedih, dan tidak tahu harus berbuat apa menyelimuti pikiran saat melihat kondisi bongpai tersebut.


Masa Lalu Kampung Tacung dan Banaran yang Terlupakan
Merujuk peta Kabupaten Boyolali tahun 1933 yang diproduksi oleh Bataviasche Topografischen Dienst, kedua kampung tersebut diketahui awalnya adalah kompleks pemakaman Tionghoa di selatan dan utara pusat kota Boyolali. Kompleks makam dalam peta tersebut disimbolkan bentuk setengah lingkaran tertutup warna merah, dengan titik merah di tengah.
Simbol setengah lingkaran terbuka berwarna merah menandakan areal tersebut merupakan kompleks pemakaman Jawa. Layaknya simbol bulan dan bintang sebagai perwakilan Islam. Tepat di pusat kota Boyolali, hanya ada dua tanda salib merah yang menandakan areal tersebut sebagai Europeeschegraafplaats atau kompleks pemakaman Eropa (Belanda). Keduanya kini menyisakan makam Clara Hortense Juch dan Karel Simon di timur benteng De Veldwachter (kini Taman Kridanggo) di Kelurahan Siswodipuran dan makam Johannes Marius van Braam dan sang istri di Kampung Pambraman, Kelurahan Banaran.
Kampung Tacung di selatan Pasar Besar Boyolali, selain menjadi kompleks pemakaman Tionghoa, juga didesain sebagai kawasan permukiman dan usaha masyarakat Tionghoa di Boyolali. Letaknya saling membelakangi. Kompleks makam berada di atas bukit—kini berjuluk Ngebong—sedangkan permukiman berada di utara bukit menghadap pasar dan Jalan Pandanaran.
Hal yang sama terjadi di Kampung Banaran. Bedanya, peninggalan makam Tionghoa di Kampung Tacung hanya menyisakan satu bongpai, sedangkan di Kampung Banaran masih utuh empat bongpai lengkap dengan makam dan altar dewa bumi. Sisanya menjadi kawasan hunian dan kebun warga.
Warga kedua kampung tidak ada yang takut dengan keberadaan makam Tionghoa di sekitar mereka. Bahkan sudah biasa menerima tamu anak turun mendiang yang masih hidup dan menemani mereka berziarah, atau sekadar berjumpa warga lain di areal makam. Mereka paham, jika permukiman dan kehidupan mereka berdampingan dengan makam Tionghoa.


Hanya saja, mereka tidak memahami secara detail siapa yang dikuburkan di makam tersebut. Mereka hanya mengetahui sebatas saat masa kecil mereka menyaksikan beberapa makam Tionghoa lain mulai dipindah.
“Dulu banyak dan tersebar, sekarang menyisakan satu bong ini saja. Saya pun tidak tahu atas nama siapa, karena berhuruf Cina,” ungkap salah satu warga Tacung seraya menunjukan satu bongpai.
Warga meyakini, makam Tionghoa lain dipindahkan ke kompleks pemakaman Sonolayu di Kampung Kesatriyan, Kelurahan Siswodipuran. Lalu ada juga yang dikremasi oleh keluarga. Sebagian bongpai dihancurkan dan sisanya dipertahankan sebagai living monument keluarga di Sonolayu.
Lantas bagaimana nasib kompleks makam Tionghoa di Kampung Banaran?
Ternyata sama tragisnya. Namun, saya bersyukur masih terdapat empat bongpai dalam dua makam yang cukup besar dan dalam kondisi utuh. Jujur, karena saya tidak bisa membaca inskripsi Mandarin dan keterbatasan pengetahuan warga yang menemani, sulit mengungkap siapa saja mendiang tersebut.
“Dulu waktu masih menjadi pemakaman Cina, setiap tahun pasti ramai orang berziarah. Anak-anak sering dapat rezeki apa pun itu. Saya dulu ikut bersih-bersih saja dapat buah-buahan yang dibawa untuk ziarah. Kayak ada ritualnya selain doa gitu loh, Mas,” ungkap salah satu warga.
Prosesi itu disebut upacara cheng beng atau sembahyang leluhur. Bagi masyarakat Jawa istilah tersebut juga sama dengan ziarah. Namun, semenjak pembongkaran makam Tionghoa di Tacung dan Banaran, upacara cheng beng pun hilang dan sembahyang berpindah ke Sonolayu atau kediaman keluarga masing-masing.


Sonolajoe, Kediaman Abadi Orang Mati
Rampungnya pembongkaran kompleks makam Tionghoa di kedua kampung terjadi beriringan pada tahun 1980. Pembongkaran ini sebagai bagian dari penataan permukiman di Kabupaten Boyolali. Kawasan itu pun tidak lagi menjadi pemakaman, tetapi mulai dijadikan sebagai hunian hingga menjadi kampung.
Begraafplaats “Sonolajoe” atau Taman Pemakaman Sonolayu, diketahui eksis sejak tahun 1924. Sonolayu merujuk istilah bahasa Jawa, sasana atau sono yang artinya tempat dan layu yang artinya kematian. Mereka yang dikubur di sini beragam etnis dan agama yang tinggal di Boyolali dan sekitarnya.
Masyarakat yang beragama Islam, Kristen, dan Buddha; Soeali Dwijosoekanto, Bupati Boyolali yang dieksekusi mati bersama anggota Partai Komunis Indonesia lain di Boyolali, dimakamkan dalam satu kompleks. Hal ini senada dengan masa lalu, kompleks makam Sonolayu sebagai tempat upacara akhir pemberangkatan jenazah dan Ngroektilajoe atau pemulasaran jenazah.
Merujuk surat kabar De locomotief 17-05-1927, diketahui jika kompleks Sonolayu dibangun tahun 1924. Berikut keterangan yang tertulis: “In 1924 werd door het zelfbestuur van Soerakarta in de Kota Bojolali naast de N.I.S.- station (Panti Marhaen kini) een algemeen begraafplaats aangelegd, die den naam Sonolajoe of wel doodenverblijf kreeg. Sindsdien moeten-met heel weinige uitzonderingen de overledenen uit de kota daar worden begraven.
Daar Sonolajoe aan de Zuidelijke grensligt, achten de bewoners van de Noordelijke stadsdeelen het te ver, vooral omdat zij gewend waren het stoffelijk overschot in de nabijheid te begraven. Om in deze behoefte te voorzien, heeft onlangs de heer Martosoetardjo te Siswodipoeran een vereeniging opgericht, genaamd Ngroektilajoe of doodenverzorging.”


Selain sebagai pemakaman, tujuan awal dibukanya Sonolayu adalah juga menjadi tempat upacara penghormatan terakhir jenazah sebelum dimakamkan. Ada dua sistem pemakaman, yakni pemakaman dengan ruang bertembok (graafkelder) dan pemakaman secara langsung tanpa menggunakan ruang bertembok mengikuti permintaan keluarga (aardengraf).
Sonolayu memiliki tiga blok, yakni blok makam Islam di sisi tengah dan timur membujur utara–selatan, blok makam Kristen di sisi barat membujur barat–timur, dan blok makam Tionghoa di sisi selatan membujur barat–timur dan sebagian utara–selatan. Upacara pemberangkatan masing-masing dilakukan sesuai ajaran agama mendiang dan keluarga.
Namun, sistem pemakamannya sama, yakni aardengraf. Tujuannya mempercepat proses pemakaman dan memberi tempat mendiang lainnya. Di kawasan inilah letak pemakaman keluarga dan istri masyarakat Belanda di Kabupaten Boyolali. Adapun suami Belanda dimakamkan di Europeeschebegraafplaats Bojolali—kini kampung lawas Recosari, Banaran, Boyolali.
Penamaan Recosari diambil dari bahasa slang ‘arca’ yang dalam bahasa Jawa berbunyi reco, merujuk pada areal tersebut dahulunya makam Belanda dengan nisan megah dan mewah. Satu keunikannya, sesepuh kampung Recosari masih menyebut kawasan ini dengan kerkop, merujuk istilah lain dari Europeeschegraafplaats.


Menjaga Warisan, Menjaga Memori Kehidupan Lintas Generasi
Makam atau batu nisan bukan hanya sebagai benda mati, melainkan sebagai pengingat generasi penerus mengenai masa lalu keluarganya. Tanpa keberadaan makam, ibarat pepatah masyarakat Jawa mengatakan kepaten obor, yang bermakna terputusnya kehidupan masa lalu dan masa depan.
Masyarakat setempat secara turun-temurun meyakini, makam yang tidak mau dipindahkan bukan berarti mereka memercayai takhayul. Namun, tujuan utamanya berusaha menjaga eksistensi makam tersebut dan menghindari konsekuensi terburuk, yakni hilangnya tetenger kampung mereka.
Hal senada tampaknya juga berlaku bagi keluarga mendiang. Sebagai bentuk hormat dan menghargai para leluhur, selain membuat papan arwah atau shin cia, banyak di antaranya membeli tanah di kompleks Sonolayu untuk kemudian dibangun layaknya makam Tionghoa. Lengkap dengan batu prasasti hasil pindahan dari wilayah sebelumnya.
Batu nisan yang akhirnya menjadi warisan peninggalan, tak ubahnya sebagai pengingat waktu kehidupan antargenerasi. Berawal dari pemakaman, terungkaplah fakta yang akhirnya menjadi batu loncatan pewaris selanjutnya untuk menata hidup lebih baik di masa depan. Sudah saatnya menghilangkan stigma negatif mengenai pemakaman, dan menjadikannya sebagai sarana refleksi kehidupan.
Ibarat alfa dan omega, yang artinya awal dan akhir. Awal untuk melakukan refleksi kehidupan, supaya di akhir hidup mendapat tempat yang terbaik disisi-Nya. Ibarat kata ojo nganti kepaten obor, yang artinya jangan sampai teputus silaturahmi antara warga setempat atau dengan mendiang leluhur keluarga. Besar harapan saya kepada masyarakat kedua kampung agar tetap menjaga keberadaan bongpai makam Tionghoa tersebut.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.


