TRAVELOG

Mata Air Senjoyo Salatiga, Mengalir Sampai Jauh

Awal Juni 2026, saat mengunjungi Kota Salatiga, saya dan istri menyempatkan singgah di Senjoyo. Tempat ini direkomendasikan pemilik penyewaan sepeda motor yang kami temui. Sebenarnya, lokasi persisnya bukan di Salatiga, melainkan Desa Tegalwaton, Tengaran, Kabupaten Semarang. Namun, jaraknya lebih dekat dari Salatiga.

Umbul Senjoyo atau Sendang Senjoyo adalah kawasan wisata yang terkenal karena sumber mata airnya yang jernih. Tempat itu pernah ditulis seorang warga Salatiga, termuat di de Locomotief, 13 Juni 1907. Penulis artikel itu menyebut, Salatiga adalah kota kecil yang indah. Namun, tak punya tempat hiburan. “Hiburan yang ada di sini hanyalah berupa melakukan jalan-jalan kaki, berkeliling dengan kereta, atau menunggang kuda,” tulisnya. “Tempat-tempat wisata yang terkenal adalah Kali Taman, Senjaya (Senjoyo), dan Kali Muncul.”

Jalanan yang menanjak, menurun, dan berkelok-kelok ke objek wisata itu dibayar dengan pemandangan yang menyegarkan mata: kolam besar dengan air yang jernih dan pepohonan rindang. Biaya retribusinya hanya Rp3.000 untuk parkir sepeda motor.

Selain kolam besar yang tenang dengan air yang sangat jernih, ada pula kolam besar berisi ikan. Lalu, area yang mirip sungai dengan sumber-sumber air yang mengalir deras. Di tepiannya, terdapat kursi-kursi terbuat dari ban bekas, tempat para pengunjung menikmati suasana sembari istirahat sejenak. Jika berjalan lebih ke dalam, kita akan menemukan sebuah kolam persegi empat yang besar, dengan air yang juga sangat jernih. Di kolam ini, pengunjung bisa sekadar berendam.

Menurut Lestariningsih, di sekitar Umbul Senjoyo terdapat enam mata air yang berukuran lebih kecil, yakni Sendang Slamet, Sendang Bandung, Sendang Putri, Sendang Lanang, Sendang Teguh, dan Tuk Sewu. Kawasan itu memang berlimpah air lantaran berada di ketinggian 450–800 meter di atas permukaan laut. Mata air dari lereng Gunung Merbabu, Telomoyo, dan Gajah Mungkur mengalir ke sungai-sungai di berbagai kampung dan dusun di Tengaran.1

Salah satu kolam di kawasan mata air Senjoyo (Fandy Hutari)
Salah satu kolam di kawasan mata air Senjoyo/Fandy Hutari

Antara Sejarah dan Legenda

Lestariningsih mengemukakan, cerita rakyat yang populer di Kabupaten Semarang menyebut, nama Senjoyo berasal dari tokoh Arya Senjaya yang dikenal sebagai figur legendaris dan dianggap sakti. Arya Senjaya adalah tokoh pewayangan keturunan Arya Widura. Ia kalah perang melawan Adipati Karna, lalu moksa menjadi mata air Senjoyo.

Pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Medang, yang juga dikenal sebagai Mataram kuno—berkuasa sekitar tahun 732–746—juga dikaitkan dengan muasal nama Senjoyo. Menurut Nur Fauzi, penamaan Umbul Senjoyo dipercaya karena dahulu menjadi tempat pertapaan Sanjaya.2

Bukti kuat kisah ini adalah ditemukannya petilasan dari batu yang berasal dari Kerajaan Medang, berdampingan dengan pohon besar berusia ratusan tahun. Selain Sanjaya, keluarga kerajaan yang lain dan para pendekar disebut-sebut juga dikirim ke Umbul Senjoyo untuk melakukan pertapaan.

Versi lainnya, Umbul Senjoyo merupakan tempat bertapa Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya—pendiri sekaligus raja pertama Kerajaan Pajang pada 1554. Ia berasal dari daerah Pengging—nama kuno Boyolali—tetapi dipercaya menghabiskan masa kecil hingga remaja di Desa Tegalwaton. Joko Tingkir dipercaya pula sering datang ke Umbul Senjoyo untuk bertapa.

“Konon katanya, Joko Tingkir yang menyumbat sedikit arus mata air Senjoyo yang sangat deras agar daerah sekitarnya tidak tenggelam,” tulis Nur Fauzi.

Sumbatan yang digunakan berasal dari rambut Joko Tingkir yang diikat. Hingga kini masyarakat percaya di sumber mata air itu masih ada rambut Joko Tingkir.

Menurut Lestariningsih, Joko Tingkir sering melakukan lelaku kungkum—berendam di air selama berjam-jam—sebelum memutuskan mengabdi menjadi prajurit di Kerajaan Demak. Konon, di salah satu pohon besar di rimbunnya pepohonan kawasan itu, Joko Tingkir pernah bertapa untuk memperdalam ilmu kanuragan.

Lebih lanjut, di lereng bukit sebelah utara Umbul Senjoyo ada makam Ki Ageng Slamet dan Nyai Welas Asih. Juru kunci di sana dan masyarakat Tegalwaton percaya, itu adalah makam Joko Tingkir dan istrinya. Hingga kini, Senjoyo diyakini keramat. Tak sedikit orang yang menepi di sana untuk mengharap berbagai macam permohonan agar terkabul.3

Dahulu ada Candi?

Di jalan area mata air Senjoyo, saya melihat batu-batu tempat kita menapaki kawasan itu, mirip bebatuan candi. Ada juga bebatuan anak tangga kecil, yang masih terdapat gambar mirip pahatan. Saya berpikir, apakah dahulu ada candi di sini?

Lalu saya menemukan penelitian sejarawan Belanda, Hermanus Johannes de Graaf berjudul “De Verdwenen Tjandi te Salatiga” di Bijdragen tot de taal-, land- en volkenkunde yang diterbitkan Journal of the Humanities and Social Sciences of Southeast Asia, Volume 114, 1958. Menurut ahli sejarah Nicolaas Johannes Krom, dikutip de Graaf, deskripsi tertua soal peninggalan kuno di Jawa berasal dari tahun 1733, ditulis seorang asisten pedagang dan fiskal di Semarang, C.A. Lons. Ia mendampingi F.J. Coyett selama beberapa waktu untuk menelusuri wilayah Mataram kuno. Dalam laporan pengalaman perjalanan Lons tersebut, ada berbagai kapel kecil tanpa perbedaan bentuk, ukuran, maupun rupa, seperti yang ditemukan di Salatiga.

Lantas, catatan perjalanan seorang bendahara Hendrik Graven yang mengikuti Coyett dari pantai utara Jawa menuju Kartasura pada 1730 mengungkap, di Salatiga mereka menyaksikan beberapa mata air indah yang muncul secara alami dari tanah dan sebuah bangunan tua yang menjulang tinggi. Bangunan itu berdiri di atas sebuah bukit di tengah aliran sungai, bentuknya menyerupai makam, tersusun dari batu besar yang dipahat dengan berbagai figur dan ornamen. Menurut penduduk, bangunan itu didirikan ratusan tahun sebelumnya oleh seorang tokoh suci sebagai monumen peringatan.

“Dari catatan tersebut, dapat disimpulkan bahwa candi itu memang ada di Salatiga, lokasinya dekat beberapa mata air dan sungai, sebagian besar bangunan masih berdiri, bentuknya menyerupai makam atau candi, dan dibangun dari batu-batu besar yang dipahat,” tulis de Graaf.

Untuk menjawab apa yang terjadi dengan candi itu, de Graaf mengacu pada tiga karya, yakni Salatiga, Merbaboe en de Zeven Tempels (1825) karya H.J. Domis; Nederlandsch Oost-Indie (1859-1861) karya S.A. Buddingh; dan Rapport over reizen gedaan op Java (1876) karya R.H. Th. Friederich.

Pada 1822–1827, H.J. Domis menjabat Residen Semarang. Menurutnya, nama Salatiga berasal dari kata sela (batu) dan tiga, berarti tiga batu. Tiga batu itu dianggap merujuk pada tiga buah candi yang dahulu berdiri di dekat sebuah kolam besar. Batu-batu candi itu lalu dipakai untuk membangun benteng De Hersteller. Di dekat kolam, terdapat sebuah mata air yang jernih. Saat itu, lokasinya disebut Kali Taman, sedangkan kolamnya dinamakan Benaja. Hanya perempuan dari kalangan bangsawan tinggi yang diizinkan mandi di sana.

Menurut de Graaf, masuk akal bila batu-batu candi itu dimanfaatkan untuk membangun benteng De Hersteller karena dianggap tidak lagi berguna. Benteng De Hersteller dibangun setelah berakhirnya peristiwa Geger Pacinan (1740–1743)—ketika ribuah pelarian Tionghoa dari Batavia bersekutu dengan Mataram dan para santri melawan VOC—seiring dengan perjanjian tanggal 11–13 November 1743.

Keterangan Buddingh menyebut, ketika mengunjungi Salatiga pada 1859, ia hanya menemukan reruntuhan sebuah candi batu—bukan tiga. Menurut cerita yang ia dengar, candi itu didirikan raja Pengging bernama Prabu Birdwo pada 1373 atau 1394. Sementara itu, Friederich yang melakukan perjalanan di Jawa pada 1865 dan 1866 menyebut soal tiga candi. Menamakan reruntuhan itu sebagai Prabu Serowo. Namun, ia sudah tak menemukan lagi sisa-sisa bangunan candinya.

Seorang warga tengah berziarah di depan sebuah makam dan tepi kolam/Fandy Hutari
Seorang warga tengah berziarah di depan sebuah makam dan tepi kolam/Fandy Hutari

Air Minum

Mulanya, sumber mata air Senjoyo dimanfaatkan secara tradisional untuk keperluan sehari-hari dan pertanian. Namun, pada masa kolonial, sumber mata air tersebut digunakan sebagai jaringan air minum.

Koresponden de Locomotief, 29 Januari 1908, melaporkan, pada 1907 jaringan pipa untuk air minum dari Senjoyo dipasang hingga ke rumah-rumah penduduk kota. Untuk menikmati air ini, dikenakan biaya 10 sen per meter kubik. Namun, pernah ada keluhan dari konsumen yang dicatat Burgerlijke Openbare Werken atau Dinas Pekerjaan Umum. Suatu pagi, seorang warga membuka keran airnya. Namun, bukan air yang keluar, melainkan angin.

“Setelah menunggu sejenak, barulah air keluar sedikit, lalu angin bertiup lagi, dan jarum meteran maju lagi. Karena sangat marah atas kejadian tersebut, ia mengeluh kepada seorang temannya, ‘Kalau saya harus membayar untuk air, ya sudahlah, tapi kalau harus membayar untuk angin pemerintah, saya tidak mau’,” tulis de Locomotief.

Seturut itu, jaringan air minum dari Senjoyo dibangun setelah Salatiga resmi menjadi gemeente (kotapraja) pada 1917. Salah satu langkahnya, membangun instalasi penampungan mata air Senjoyo dan reservoir di sekitar Mrican. Dari reservoir ini, air dialirkan ke rumah-rumah penduduk, keran-keran umum, dan hidran-hidran di tepi jalan raya.4

Maka, Senjoyo tak hanya sebuah tempat untuk melepas lelah dengan pemandangan dan kejernihan airnya. Senjoyo adalah mata air, yang airnya mengalir sampai jauh.


  1. A. Lestariningsih, 2009, “Cerita Rakyat Sendang Senjaya di Desa Tegalwaton, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah (Sebuah Tinjauan Folklor)”, https://idtesis.com/cerita-rakyat-sendang-senjaya-sebuah-tinjauan-folklor/, diakses pada 21 Juni 2026. ↩︎
  2. Nur Fauzi Saputro, “Asal Muasal Desa Tegalwaton: Studi terhadap Cerita Rakyat Umbul Senjoyo” dalam Sejuta Pesona Desa Tegalwaton: Sebuah Laporan Kegiatan dan Catatan Perjalanan (Bogor: Guepedia, 2002. ↩︎
  3. Al-Fikri, Muhammad Nizar, Nazila Anis Hukama, dan Luthfiah Arya Saputri, “Analisis Makna Simbolik dalam Ritual Kungkum di Sumber Mata Air Senjoyo”, Jurnal Ar-Rosyad, Vol. 1, No. 1, 2024. ↩︎
  4. Agus Permadi dkk, Salatiga dari Masa ke Masa (Salatiga: Dinpersip Kota Salatiga, 2016). ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Fandy Hutari

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Jurnalis, tinggal bersama istri di Jakarta. Gemar membaca dan jalan-jalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *