TRAVELOG

Pelajaran dari Gunung Prau via Patak Banteng

Dari penginapan di tengah kota Wonosobo, pagi itu saya dan tiga kawan beranjak mencari sarapan khas setempat. Pilihan pun jatuh pada nasi soto daging yang hangat untuk mengawali hari. Sangat mewah sekali, pikir saya. Setelah sarapan kami mencari minimarket untuk belanja logistik sebagai bekal pendakian Gunung Prau.

Setelah berkemas di penginapan, kami berangkat menuju base camp Patak Banteng dengan mobil pribadi. Kawan saya yang mengemudi, sedangkan saya duduk di kursi belakang. Perjalanan dari kota ke base camp memakan waktu satu jam.

Udara dingin dan awan tebal yang bercampur kabut menyambut setibanya kami di Dieng. Kami mampir sejenak di masjid untuk beribadah. Butuh adaptasi untuk menghadapi air yang rasanya seperti baru keluar dari kulkas. Selepas beribadah, kami menuju base camp Patak Banteng. Di base camp ini, tersedia lahan parkir yang luas untuk kendaraan pendaki.

Sebelum registrasi, kami kembali mengisi perut dengan semangkuk mi ayam di warung sekitar base camp. Tatkala bersiap mengurus perizinan, tak disangka hujan turun cukup deras. Membuat saya bertanya, “Yakin masih lanjut mendaki, kah?” 

Namun, mundur tampaknya bukan pilihan, mengingat perjalanan kali ini sudah dipersiapkan dari jauh-jauh hari. Persiapan dan registrasi pun sudah selesai. sudah selesai, Toh, ada jas hujan yang dapat dipakai.

Tas gunung yang kami bawa saat pendakian Gunung Prau via Patak Banteng (kiri). Foto bersama di bawah guyuran hujan di depan pos registrasi base camp Patak Banteng sebelum mendaki/Ari Saputra

Pendakian Diguyur Hujan

Kami memulai pendakian di tengah derasnya hujan bulan Januari. Tepat puncak musim hujan menurut ramalan cuaca, terlebih pendakian ini kami lakukan beberapa hari sebelum jalur ditutup karena cuaca ekstrem. Agak nekat, pikir saya, dengan memilih waktu pendakian di puncak musim hujan. Dan inilah awal pelajaran yang saya pribadi rasakan selama menekuni aktivitas luar ruang—pendakian gunung.

Fasilitas ojek motor menawarkan jasanya untuk mengantar kami sampai Pos 1. Namun, kami ingin merasakan sensasi mendaki dari base camp sampai puncak dengan berjalan kaki. Saya ingin memberikan pengalaman kepada kawan-kawan saya, bagaimana mendaki gunung dengan durasi dan trek yang lebih panjang dari pendakian sebelumnya, tapi tetap nyaman dan terjangkau. Itulah mengapa kami memilih Gunung Prau via Patak Banteng.

Tak terasa, hujan mulai mereda dan kami sampai di Pos 2 sekaligus gapura pendakian Prau via Patak Banteng. Di sini terdapat dua percabangan, antara jalur lama dan jalur baru. Jalur lama cukup menukik dan penuh tanjakan tanpa bonus trek datar. Cepat sampai tujuan memang, konsekuensinya energi akan lebih terkuras selama perjalanan.

Alhasil kami memutuskan mencoba jalur baru yang katanya lebih ramah pemula dan banyak trek datar. Kami berjalan menyusuri jalur yang sudah tertata rapi sambil mengobrol satu sama lain. Tidak lupa kawan saya mendokumentasikan setiap langkah kaki dan momen yang menarik selama pendakian. Suasana jalur terbilang masih ternaungi rindang pepohonan, sebelum kami menyusuri jalur terbuka di tepi bukit.

Saat dirasa sudah reda, beberapa kawan saya memutuskan untuk melepas jas hujan mereka. Berbeda dengan saya yang tetap memakai jas hujan. Selain khawatir hujan turun lagi, rasanya agak repot kalau harus menaikturunkan dan membongkar tas untuk melipat jas hujan. Toh, hari sudah sore dan semakin gelap, jas hujan bisa juga difungsikan sebagai “jaket” penghalau dingin.

Dan benar saja, sesampainya di jalur yang sangat terbuka di tepi bukit, hujan kembali turun. Intensitasnya terbilang cukup untuk membasahi badan. Kawan-kawan saya pun kembali mengenakan jas hujan. Kami juga mengeluarkan headlamp karena hari sudah semakin gelap.

Melanjutkan pendakian setelah gerimis berhenti (Ari Saputra)
Melanjutkan pendakian setelah gerimis berhenti/Ari Saputra

Ramah Pemula Tidak Sama Dengan Mudah

Salah satu pelajaran yang saya dapatkan pada pendakian kali ini, mengenai jalur yang datar dan ramah pemula. Memang betul mayoritas jalur terasa datar dan tidak menanjak signifikan. Namun, namanya mendaki gunung, pasti akan tetap naik bahkan kami harus menghadapi tanjakan berundak seperti tangga. Masih aman sebenarnya. Akan tetapi, karena sudah termanjakan dengan jalur yang datar, rasanya berat sekali harus menghadapi tanjakan. Ditambah suasana gelap, hujan, dan pastinya berangin.

Malam pun tiba. Suasana menjadi sepi. Kami masih menyusuri jalur yang entah masih berapa jauh lagi. Rasanya ingin lekas istirahat di tenda berselimutkan sleeping bag dan minum cokelat hangat, tetapi kami harus tetap fokus menyusuri jalur. Hingga pada sebuah area terbuka di atas bukit dengan dataran luas, angin semakin kencang disertai kabut yang membuat jarak pandang terbatas. Sorot cahaya headlamp kami sampai tidak bisa menembus tebalnya kabut.

Suasana ini tidak pernah saya alami sebelumnya. Perjalanan turun saat malam dan hujan sudah pernah, tapi kali ini, terbatasnya pandangan akibat kabut semakin membuat mental kami jatuh. Badan pun telah terasa lelah, ditambah dingin dan basah. Di momen ini kami tidak banyak berbicara maupun bercanda seperti awal pendakian.

Beberapa saat kemudian, plang Pos 3 di sekitar pohon-pohon menyambut. Pikir saya, karena situasi, mungkin baiknya berkemah di sini. Toh, dari sini tidak jauh kalau mau ke Sunrise Camp dan puncak. Namun, berbeda dengan kawan saya yang tetap ingin lanjut, karena merasa Sunrise Camp masih di depan lagi.

Kami tidak berdebat panjang. Kami melanjutkan perjalanan menembus kabut tebal. Saya sampai meminta untuk mengecek kembali peta yang diberikan pengelola base camp, untuk memastikan jalur yang kami tempuh sudah benar.

Tidak jauh dari pandangan, kami melihat sorot lampu headlamp dari depan. Ternyata ada pendaki lain yang berjalan mengarah ke kami. Kami pun berpapasan sambil mengobrol sejenak. dengan mereka sambil ngobrol sejenak. Kami sama-sama mengalami disorientasi, sama-sama mencoba mencari Sunrise Camp, tetapi tidak ketemu.

Perbukitan di jalur pendakian Gunung Prau berselimut mendung (Ari Saputra)
Perbukitan di jalur pendakian Gunung Prau berselimut mendung/Ari Saputra

Lokasi Berkemah di Luar Rencana

Akhirnya, kami semua memilih kembali ke Pos 3. Setelah merasa buntu untuk mengecek kembali jalur, kami segera memutuskan untuk mendirikan tenda dan beristirahat di pos ini. Sebab, kondisi kawan tampaknya sudah kedinginan. Begitu pun saya.

Kami mendirikan tenda dengan susah payah mengingat kondisi masih diguyur gerimis. Setelah tenda berdiri, kami lekas berganti pakaian. Di sini saya sadar pakaian saya sudah basah bukan karena hujan, melainkan keringat sendiri yang terjebak di balik jas hujan yang tidak breathable sehingga membasahi pakaian. Pantas saja badan terasa dingin selama mendaki malam.

Saya pun izin kepada kawan-kawan saya untuk tidur sejenak karena sangat mengantuk. Saya sangat senang mereka masih bisa terjaga dan langsung berinisiatif memasak makanan yang kami bawa. Sehingga, begitu saya bangun dari tidur singkat, saya langsung makan dengan lahap. Tidak lupa menyeduh jahe hangat untuk menghangatkan badan.

Malam itu, kami tidak banyak menghabiskan waktu di luar tenda untuk menikmati suasana. Sebab, situasi masih gerimis, walaupun perlahan mereda. Kami memilih tetap di dalam tenda sembari mengobrol.

Bersantai di area camp setelah kawan-kawan turun dari puncak (Ari Saputra)
Bersantai di area camp setelah kawan-kawan turun dari puncak/Ari Saputra

Sadar Diri itu Penting

Keesokan harinya, saya memutuskan tidak melanjutkan pendakian ke puncak Prau. Saya memilih rehat di tenda sambil menikmati suasana dan melihat orang lalu-lalang melewati Pos 3. Adapun ketiga kawan saya melanjutkan summit dan berfoto di puncak.

Pendakian kali ini mengajarkan kepada saya, bahwa gunung yang dinobatkan “ramah pemula” serta jalur yang dikatakan banyak landai pula, nyatanya bisa menjadi sangat menantang saat cuaca hujan dan kabut tebal mengaburkan jalur pendakian. Bahkan dapat menjatuhkan mental serta fisik seseorang.

Terima kasih kawan-kawan saya, Ari, Hardi, dan Rais; yang tetap kompak dan peduli satu sama lain. Sebab, seramah apa pun jalur pendakian sebuah gunung, jika tidak disertai dengan teman seperjalanan yang solid, maka justru akan menjadi perjalanan yang tidak berkesan.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Bepergian mendaki gunung dan menyelami laut.

dimas wilatikto

Bepergian mendaki gunung dan menyelami laut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
“Wajah Baru” Gunung Papandayan