Pantang mabuk laut. Tim Wanadri bergerak ke timur. Selama empat hari tiga malam mereka mencumbu mentari dan mencium rembulan dari atas KM Labobar; armada Sabuk Nusantara andalan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).
Senin (1/6/26), ke-15 anggota Wanadri turun di Pelabuhan Ambon. Sementara Labobar terus ke Banda Neira, Tual, Dobo, Fakfak, Sorong hingga Jayapura.
“Kami sampai Pelabuhan Ambon jam sembilan malam,” kata Mustofa (58), salah satu peserta ekspedisi selam Wanadri bertajuk Rediscover Buru: Moving Forward — Coral Restoration and Beyond.
Tak disangka, lanjut dia, ada dua iring-iringan kendaraan menjemput. Satu dari Komando Resor Militer (Korem) 151/Binaiya. Lainnya dari Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) IX Ambon.
“Kami lalu diangkut truk Kodaeral menuju mes untuk beristirahat,” ujar Mustofa. Besoknya, Komandan Kodaeral Ambon, Laksamana Muda Hanarko Djodi Pamungkas, dan Komandan Korem 151/Binaiya, Brigjen Raffles Manurung, melepas tim Wanadri menuju Namlea, Pulau Buru.


“Kami naik kapal feri ke sana. Turut bergabung penyelam dari Kodaeral, termasuk prajurit Kowal (Komando Wanita Angkatan Laut),” tutur anggota Wanadri angkatan Elang Rawa (1996) itu.
“Pesisir Buru memukau, ya, Kang?” tanya saya.
“Kapal tiba di Namlea menjelang subuh. Perjalanan ke Resor Jikumerasa mengitari bibir pantai, indah sekali.”
Tapi, kata Mustofa, jangan bayangkan ekspedisi Wanadri seperti tamasya. Kami menjalankan tugas operasional penuh tanggung jawab. Semua bekerja keras. Kegiatan harian berlangsung pukul 08.00–16.00 WIT.
Ekspedisi yang diinisiasi Wanadri Women Divers (WWD) ini merangkul elemen lainnya. Semisal komunitas lokal Bupolo Reefs Restoration, Laskar Bahari Liliali, akademisi Universitas Pattimura, Ambon Dive Explorer (Adex), dan perwakilan otoritas kesyahbandaran setempat.
Transplantasi Karang
Dihubungi terpisah, Ketua WWD Endah Wahyu Sulistianti menjelaskan, aksi konservasi ini menindaklanjuti temuan tim selam Wanadri pada Oktober 2025, yang mendapati kerusakan ekosistem terumbu karang di perairan Pulau Buru.
Langkah kolaboratif kemudian digaungkan. Wanadri Women Divers menghimpun potensi lintas instansi guna mewujudkan misi restorasi. Terhitung delapan hari (3–10 Juni 2026), tim gabungan berhasil menanam 2.500 fragmen terumbu karang melalui metode substrat spiderweb.
“Ada 50 unit media buatan spiderweb, kami sebar di dasar laut,” sebut Endah kepada penulis, Jumat (26/6/2026).
Teknisnya, kata dia, potongan karang yang masih bagus diikat ke rangkaian besi “jaring laba-laba” menggunakan tali ties. Karang-karang itu koyak akibat ulah manusia yang memakai bahan peledak saat mencari ikan di laut.
Model transplantasi alami digunakan pula. Karang ditempel langsung ke habitatnya dengan cara dipaku. “Agar tetap di tempatnya, tidak terbawa arus,” ujar anggota Wanadri angkatan Pualam (1996) itu.






Proses restorasi terumbu karang dengan metode tanam langsung/Dokumentasi Wanadri
Berkejaran dengan Angin Timur
Apa tantangan selama ekspedisi kemarin? Endah menyebutkan, selain siklus angin timur yang menguji nyali penyelam, juga soal manajemen personel dan waktu penyelaman.
“Ada 55 penyelam. Kami atur jadwal sebaik mungkin. Keselamatan dan kekompakan tim paling penting. Per hari sepuluh penyelam turun, memastikan aktivitas restorasi karang berjalan sesuai target,” papar wanita yang pernah menempuh pendidikan di Lemhanas itu.
Memasuki Juni, terang dia, adalah musim angin timur untuk perairan wilayah Indonesia Timur. Memengaruhi arus bawah laut dan tiupan angin di permukaan. Sejak matahari terbit sampai tengah hari, arus tenang dan angin sepoi. Setelahnya jadi kencang.
Personel ekspedisi, kata Endah, seoptimal mungkin bekerja hingga istirahat makan siang. Kalau belum selesai, tetap dilanjutkan sambil mengamati keadaan. “Arus kencang membuat air laut keruh. Jarak pandang terbatas. Penyelam sulit melakukan transplantasi karang,” jelasnya.
Endah menambahkan, jarak dari garis pantai ke titik penyelaman sekitar 800 meter. Kedalamannya lima sampai delapan meter. “Ideal untuk kegiatan konservasi karang, karena pengembangannya membutuhkan sinar matahari,” ucapnya.




Temu muka dengan warga (kiri) dan pelatihan selam bagi komunitas lokal/Dokumentasi Wanadri
Program Jangka Panjang
Ekspedisi Rediscover Buru: Moving Forward — Coral Restoration and Beyond tidak tamat cerita, setelah peserta pulang ke daerah asal. Wanadri Women Divers berkomitmen menyokong ekosistem laut dan kehidupan masyarakat lokal yang lebih baik.
“Ekspedisi ini dirancang sebagai program berkelanjutan hingga tahun 2028. Mencakup monitoring kondisi karang secara berkala, serta pemberdayaan masyarakat pesisir agar mandiri dalam menjaga lautnya,” paparnya.


Guna menyukseskan program tersebut, WWD menjalin kerja sama aktif dengan dua mitra setempat: (1) Bupolo Reefs Restoration, beranggotakan 21 orang yang telah dibekali pelatihan serta sertifikasi selam (scuba diving) sebanyak dua angkatan untuk mendukung monitoring bawah laut; (2) Laskar Bahari Liliali, berisi sembilan nelayan yang berperan sebagai Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas). Bertujuan melindungi wilayah pesisir dari aktivitas destruktif.
Endah menegaskan, keterlibatan masyarakat lokal adalah kunci keberhasilan restorasi. Pihaknya berharap semangat kolaborasi dari Desa Jikumerasa, menjadi inspirasi bagi upaya perlindungan ekosistem laut di seluruh Indonesia. “Sebagai fondasi ketahanan lingkungan dan ekonomi masa depan kita,” pungkasnya.
Foto sampul: Para penyelam mengikat patahan karang di rangka besi “spiderweb” (Dokumentasi Wanadri)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.




