TRAVELOG

Menapaki Rumah Inggit Garnasih di Bandung

Aku menyambangi Bandung untuk menghabiskan libur Idulfitri pada Maret 2026 lalu. Di Kota Kembang ini, aku penasaran dengan rumah yang pernah ditinggali Inggit Garnasih. Saat aku mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno di Bengkulu sebelumnya, aku membaca sejumlah informasi tentang Inggit Garnasih.

Pada 1934–1938, Bung Karno diasingkan ke Ende, Flores. Di sini, Bung Karno sempat mengalami penurunan mental parah. Berkat dukungan istrinya, Inggit Garnasih, semangat Bung Karno perlahan bangkit dan kembali meneguhi upaya untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia. Ya, membaca riwayat Bung Karno, tidak akan terlepas dari sosok Inggit Garnasih.

Lebih dekat dengan bagian depan rumah Inggit Garnasih (Raden Firkan Maulana via Kompasiana)
Tampak dekat bagian depan rumah Inggit Garnasih/Raden Firkan Maulana via Kompasiana

Rumah Sepetak Inggit Garnasih

Aku menelusuri Jalan Asia Afrika, kemudian berbelok ke Jalan Otto Iskandar Dinata. Dari Google Maps, aku harus menuju Jalan Ibu Inggit Garnasih untuk menemukan rumah yang pernah ditinggali mantan istri Bung Karno ini. Kuikuti arah yang ditunjukkan peta, seraya menikmati hiruk-pikuk kesibukan warga Bandung di sepanjang Jalan Otto Iskandar Dinata, yang didominasi pertokoan tersebut.

Setelah berjalan hampir setengah jam, aku menyeberang dan berbelok ke Jalan Ibu Inggit Garnasih. Kuedarkan pandangan dengan saksama. Dan, itu dia. Aku menemukan sebuah rumah petak, yang di halamannya berdiri sebuah penanda sederhana bertuliskan “Rumah Bersejarah Inggit Garnasih”.

Aku menapaki halaman rumah tersebut. Siang itu, rumah Inggit Garnasih terasa lengang. Di ujung teras, terpajang sebuah prasasti marmer. Prasasti ini menginformasikan bahwa rumah Inggit Garnasih adalah bangunan cagar budaya yang dilindungi negara. Aku menuju pintu depan rumah. Rupanya terkunci. Aku bergeser ke samping dan mendapati seorang pria paruh baya yang sedang menyapu halaman samping rumah.

Aku menyapa si bapak. “Rumahnya sudah tutup, Pak?”

“Buka,” jawab bapaknya singkat.

Ternyata aku perlu mengisi buku tamu yang ada di dekat pintu samping tersebut. Si bapak mempersilakan aku untuk masuk melalui pintu depan. Sebelum aku kembali ke pintu depan, aku membaca sekilas sebuah media yang menampilkan perjalanan hidup Inggit Garnasih. Bagiku, usia beliau cukup panjang untuk ukuran orang Indonesia. Inggit lahir pada 1888 dan wafat tahun 1984.

Sebelum memasuki rumah, kulepas sepatuku. Aku pun masuk dan mendapati ruangan yang tidak begitu besar. Kupikir ini pasti ruang tamu. Namun, aku tak menemukan perabot di sini. Cuma sebuah lampu gantung antik, dan foto-foto berpigura yang terpajang di dinding. Ada foto Inggit saat berusia 35 dan 70 tahun. Ada pula foto Bung Karno saat berusia 22 tahun.

Meski tidak ada perabot yang dipajang, tetapi bagian dalam rumah relatif bersih. Pintu dan jendelanya berpelitur dan terlihat masih mulus. Hal ini menandakan rumah bersejarah ini dirawat dengan baik. Aku juga menemukan surat keterangan status cagar budaya yang dikeluarkan Wali Kota Bandung, dan dipajang di dinding ruang tamu.

Dari informasi yang tercantum di standing banner, rumah Inggit Garnasih dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat. Rumah ini dibangun pada 1949, di atas tanah bekas rumah Sukarno-Inggit sebelumnya. Rumah dibangun kembali dari hasil patungan teman-teman Sukarno yang bersimpati kepada Inggit, pasca berpisah dengan sang proklamator.

Di rumah ini, Ibu Inggit menghabiskan waktunya hingga wafat pada 1984. Lalu tahun 1997, rumah ini diserahterimakan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Rumah berubah fungsi menjadi cagar budaya dan museum di bawah pengelolaan Museum Sri Baduga, Bandung. Rumah Inggit beralamat di Jalan Ciateul Nomor 8, yang belakangan berubah nama menjadi Jalan Ibu Inggit Garnasih.

Penetapan Bangunan Cagar Budaya oleh Pemkot Bandung (Johar Dwiaji Putra)
Penetapan Bangunan Cagar Budaya oleh Pemkot Bandung/Johar Dwiaji Putra

Perempuan Sunda Istri Sukarno

Setelah dari ruang tamu, aku bergerak ke dalam dan menemukan ruangan kamar tidur. Di sini, aku juga tidak menemukan satu pun perabot. Hanya media-media berisi informasi dan foto yang dipasang di dinding. Aku membaca siapa itu Inggit Garnasih. Beliau terlahir dari pasangan Ardjipan dan Amsi pada 17 Februari 1888, di Desa Kamasan, Banjaran, Kabupaten Bandung.

Nama asli sebenarnya hanya Garnasih. Konon, banyak pemuda yang menaruh hati pada Garnasih muda lantaran kecantikannya. Kata mereka, jika mendapat senyuman dari Garnasih seakan memperoleh uang satu ringgit. Bermula dari situ, panggilan “Si Ringgit” pun tersemat kepadanya. Supaya lebih manis didengar, maka namanya berubah menjadi Inggit Garnasih.

Pada usia 12 tahun, Inggit dijodohkan dengan seorang pegawai di Karesidenan Priangan yang bernama Nata Atmadja. Pernikahan antara keduanya berlangsung tanpa ikatan cinta, dan tak lama pupus di tengah jalan. Setelah bercerai dengan Nata Atmadja, Inggit kembali kepada cinta masa lalunya, H. Sanoesi. Mereka menikah pada 1916.

H. Sanoesi dikenal sebagai saudagar kaya yang mempunyai sejumlah perusahaan. H. Sanoesi juga merupakan aktivis Sarekat Islam (SI) yang pada saat itu dipimpin H.O.S. Tjokroaminoto. Sebagai seorang istri, Inggit ikut berperan dalam aktivitas politik suaminya di Bandung.

Pada 1921, H. Sanoesi dan Inggit menerima surat dari H.O.S. Tjokroaminoto. Beliau hendak menitipkan menantunya yang bernama Sukarno. Sukarno sendiri akan bersekolah di Technische Hoogeschool (THS) yang sekarang dikenal sebagai Institut Teknologi Bandung. Untuk keperluan ini, H. Sanoesi dan Inggit memberikan kamar depan di rumah mereka untuk ditinggali Sukarno. Kala itu, Sukarno juga mengajak Siti Oetari, istrinya yang merupakan putri H.O.S. Tjokroaminoto.

Sejak tinggal dalam satu atap, Sukarno kerap berdiskusi dengan Inggit karena H. Sanoesi lebih sering berada di luar rumah. Keakraban inilah yang akhirnya menimbulkan benih-benih cinta di antara keduanya. Sukarno kemudian menceraikan Siti Oetari, dan mengutarakan keinginannya untuk memiliki Inggit kepada H. Sanoesi.

Selepas Inggit melewati masa idah, Sukarno menikahi perempuan Sunda tersebut. Pasangan ini mengangkat seorang anak yang diberi nama Ratna Djuami. Ratna adalah anak dari kakak Inggit, Murtasih. Keluarga ini sempat berpindah-pindah rumah, hingga akhirnya menetap di sebuah rumah di Jalan Ciateul Nomor 8, Bandung.

Potret Inggit Garnasih saat berusia 35 tahun (kiri) dan informasi sejarah di ruang tidur/Johar Dwiaji Putra

Penopang Perjuangan Bung Karno

Setelah berumah tangga, Inggit tak lepas mendampingi Bung Karno. Baik dalam menyelesaikan sekolahnya, maupun tatkala berpidato di depan publik. Inggit ikut kemana pun Bung Karno pergi dan menjadi penerjemah kala suaminya memberikan kursus politik pada masyarakat Sunda di pinggiran Kota Bandung.

Aku membaca informasi bahwa ketika sedang berada di Yogyakarta, Sukarno ditangkap lalu dijebloskan ke penjara Banceuy, Bandung. Mengalami hal ini, Inggit tetap setia kepada Bung Karno, dengan rutin mengirimkan makanan dan menyelundupkan buku-buku ke dalam penjara. Hasil jerih payahnya ini membuat Bung Karno dapat menuliskan pembelaan (pleidoi) yang dibacakan di depan hakim di gedung Landraad, yang berjudul “Indonesia Menggugat”. Pembelaan ini membuat Bung Karno divonis empat tahun di penjara Sukamiskin, Bandung.

Aku kemudian bergeser ke sebuah ruangan yang berlabel “pembuatan bedak dan jamu”. Rupanya, Inggit mempunyai kemampuan untuk membuat bedak dan jamu. Di sini terdapat sejumlah batu yang dipajang dalam kotak kaca. Bukti bagaimana Ibu Inggit bisa mencari uang sendiri dengan berjualan. Tidak hanya bedak dan jamu, beliau juga menjahit kutang dan meracik tembakau untuk dijual. Dengan berjualan, dapur rumah tangga mereka tetap mengepul.

Rumah tangga Bung Karno dan Ibu Inggit retak lantaran Bung Karno hendak menikahi seorang gadis bernama Fatma, yang mereka temui saat menjalani pengasingan di Bengkulu. Inggit memilih mundur dan berpisah dengan Bung Karno. Ia kemudian kembali ke Bandung pada 1943.

Batu yang digunakan Inggit untuk membuat bedak dan jamu (Johar Dwiaji Putra)
Batu yang digunakan Inggit untuk membuat bedak dan jamu/Johar Dwiaji Putra

Penghargaan untuk Inggit Garnasih

Inggit memang bukanlah istri yang mendampingi Bung Karno tatkala memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun, peran dan jasanya tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada 1961, Bung Karno menganugerahinya Satyalantjana Perintis Pergerakan Kemerdekaan. Penghargaan ini diberikan atas jasa Inggit dalam pergerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, Inggit juga memperoleh penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Soeharto pada 1997. Aku juga membaca informasi mengenai seminar yang diadakan untuk mengusulkan Inggit sebagai Pahlawan Nasional. Seminar ini berlangsung di Museum Sri Baduga, Bandung, pada 22 Desember 2008.

Meski gelar Pahlawan Nasional belum tersemat padanya, tetapi beliau akan selalu dikenang sebagai sosok yang pernah mendampingi Bung Karno pada masa-masa memperjuangkan kemerdekaan. Inggit Garnasih berpulang pada 13 April 1984 di usia 96 tahun. Beliau dimakamkan di TPU Porib, Caringin, Kabupaten Bandung. 


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Johar Dwiaji Putra

PNS yang suka bertualang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mengenal Riau melalui Museum Sang Nila Utama di Pekanbaru