TRAVELOG

Biru-Hijau Nadi Alam di Kepulauan Selayar

Awal Januari 2026 membawa saya kembali ke Kabupaten Kepulauan Selayar, setelah kedatangan pertama tahun 2022. Bersama Atisa, kami berangkat dari Terminal Malengkeri, Kota Makassar sekitar pukul 23.00 WITA.

Bus menjadi moda transportasi paling mudah untuk mencapai kabupaten paling selatan di Provinsi Sulawesi Selatan ini. Bus akan lanjut menyeberang dengan kapal feri, sehingga kita tak perlu mengurus penyeberangan lagi. Selain bus dan kendaraan pribadi, ada beberapa pilihan moda transportasi lain, seperti pesawat atau kapal laut dengan rute langsung Makassar—Selayar, tetapi jadwal keberangkatannya tidak setiap hari.

Gawai masih menunjukkan pukul lima pagi, saat bus yang kami tumpangi tiba di Pelabuhan Bira, Kabupaten Bulukumba. Belakangan kami baru tahu, bulan Januari ternyata musim angin dan ombak. Beberapa orang yang saya temui di pelabuhan juga bercerita, kapal feri biasanya terlambat berangkat, menyesuaikan cuaca.

Saya sedikit cemas, sedangkan banyak juga yang sudah terbiasa. Sembari menunggu, kami menyempatkan waktu membeli segelas kopi hangat yang dijajakan pedagang di sekitar pelabuhan. Dari belakang bus tampak wanita paruh baya (WNA) berjalan ke arah kami. Sebelumnya kami pernah bertemu di terminal sebelum berangkat. Dia tidak fasih berbahasa Indonesia, jadi kami membantu sebisanya untuk beberapa urusan sejak di terminal.

Morning,” saya menyapanya kembali. “Morning,” jawabnya.

Dengan tatapan sedikit bingung, dia menanyakan apakah bus hanya mengantarkan sampai di pelabuhan atau akan ikut naik feri.

“Bus akan ikut menyeberang,” jawabku dalam bahasa Inggris seadanya. Kabupaten ini memang mulai banyak didatangi pelancong domestik dan mancanegara sejak beberapa tahun terakhir.

Pagi yang tenang di Pelabuhan Kota Benteng (Syamsumarlin)
Pagi yang tenang di Pelabuhan Kota Benteng/Syamsumarlin

Cuaca Harus Jadi Pertimbangan Sebelum ke Selayar

Kami sampai di Pelabuhan Pamatata menjelang siang hari. Angin kencang dan ombak cukup membuat pelayaran kami terasa seperti dalam ayunan. Dari balik jendela saya sempat melihat penumpang yang mabuk laut.

Dari pelabuhan, bus membawa kami menuju terminal di Kota Benteng. Sudah ada mobil pikap yang menunggu di sana, dilengkapi bangku dan atap tambahan di bak belakang. Mobil ini akan mengantar penumpang dari terminal menuju alamat masing-masing tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan lagi.

Dalam perjalanan menyusuri jalanan Kota Benteng, seorang pria seusiaku menanyakan tujuan kami. Ia kemudian menjelaskan, bulan Januari adalah musim angin dan ombak, sehingga bukan waktu yang tepat untuk datang ke Selayar. Penumpang lain mengiyakan.

Kebanyakan destinasi di Selayar adalah wisata bahari. Saya merasa kami memang salah jadwal, bagaimana mungkin bermain di laut saat musim ombak. Bukan sekadar ucapan, angin kencang dan ombak—yang menghantam tanggul dan pohon-pohon di pinggir laut—telah lebih dulu menemani kami menyusuri jalanan dari pelabuhan.

Apakah memang ini bukan jadwal yang tepat?

Snorkeling di Pantai Pinang (Syamsumarlin)
Aktivitas wisata snorkeling di Pantai Pinang/Syamsumarlin

Malam tiba ketika kami bertemu dan berkenalan dengan Restu (guide). Menurutnya, jika datang ke Selayar untuk berlibur, perlu memperhatikan beberapa hal, termasuk musim angin dan ombak. Ia menjelaskan, Januari adalah musim angin dan ombak barat. Tidak disarankan beraktivitas di pesisir barat.

Namun, bukan berarti aktivitas lumpuh. Sebagai opsi, semua kegiatan beralih ke pesisir timur dengan ombak yang lebih tenang. Begitu pula sebaliknya. Konsekuensinya, belum banyak tempat yang bisa dikunjungi di pesisir timur, karena mayoritas destinasi yang ramai dikunjungi ada di pesisir barat.

Rasa ragu perlahan mereda. Lagi pula kami sudah sampai di Selayar. Bagi kamu yang berencana berlibur ke Selayar, pastikan mencari informasi detail terlebih dahulu, kapan waktu terbaik ke sana. Saya menyarankan untuk menggunakan jasa pemandu lokal, mereka lebih mengerti kondisi setempat.

Terumbu karang dan anemon laut (Heterictis magnifica) (Syamsumarlin)
Terumbu karang dan anemon laut (Heterictis magnifica)/Syamsumarlin

Biru Laut di Bawah Langit

Pagi masih terasa sejuk saat kami hendak mengunjungi Pantai Pinang, salah satu titik snorkeling, freediving, dan scuba diving di pantai pesisir timur. Dari Kota Benteng, kami berkendara menuju Pelabuhan Pattumbukan, lalu naik kapal kayu sekitar 15 menit menuju Pantai Pinang.

Selayar memang terkenal sebagai destinasi wisata bawah laut. Tidak sedikit pelancong yang membagikan pengalamannya melalui media sosial. Banyak terumbu karang beraneka warna, pasir putih, dan tebing karang bawah laut di sini. Sebuah pengalaman menarik, begitulah pikiranku.

Selain destinasi wisata, laut biru kabupaten ini menghidupi nelayan-nelayan setempat. Selayar merupakan salah satu penyangga perikanan di Sulawesi Selatan, baik perikanan tangkap maupun budi daya.1

Olahan ikan memang menjadi kuliner khas Selayar. Selama berkunjung ke sana, saya selalu menyempatkan untuk mencicipi ikan bakar dan nasi santan khas Selayar, saya mendapat rekomendasi ini dari seorang ibu yang kami temui di terminal Kota Benteng. Ada beberapa tempat yang menyediakan kuliner ini, salah satu yang saya rekomendasikan adalah Wisata Kuliner PKK Selayar. Lokasinya di samping Pelabuhan Kota Benteng. 

Produk turunan perikanan lainnya yang bisa kita temui adalah terasi Selayar. Diolah dari udang rebon segar dan menjadi salah satu produk turunan unggulan Selayar.2 Produknya bisa dibeli di pasar atau toko oleh-oleh.

Dalam kunjungan berikutnya (April 2026), saya menyempatkan berkunjung ke Pelabuhan Padang di Kecamatan Bontoharu. Tidak jauh dari Bandara H. Aroeppala. Ini adalah pelabuhan nelayan. Saat sampai di sana, tampak kapal-kapal pencari ikan dengan berbagai ukuran, sedangkan di area tanggul menjadi tempat menjemur ikan.

Sebagai kabupaten kepulauan, pelabuhan adalah gerbang utama penghubung antarpulau. Pelabuhan menjadi area penting sebagai jalur keluar masuk berbagai macam kebutuhan masyarakat setempat, baik dari luar kabupaten atau menyuplai barang ke pulau-pulau kecil sekitarnya.

Seorang warga sedang mengolah kelapa untuk membuat kopra (Atisa Muslimin)
Seorang warga sedang mengolah kelapa untuk membuat kopra/Atisa Muslimin

Hijau di atas Tanah, Pasir, dan Batu Kapur

Pemukiman, perkebunan, semak, dan hutan berdiri di atas tanah, pasir, dan batuan kapur. Selayar juga menumbuhkan beragam produk perkebunan, salah satunya kelapa yang diolah menjadi kopra (kelapa kering).Tidak heran, jalanan di pesisir pantai tampak membelah perkebunan kelapa. Di bawah pohon kelapa, kita bisa dengan mudah bertemu beberapa warga yang sedang membuat kopra.

Selain kopra, di wilayah dataran tinggi Kabupaten Kepulauan Selayar juga ada perkebunan jeruk dan kacang kenari. Bersama Atisa dan Evi, kami mengunjungi seorang kawan di wilayah Kecamatan Bontomatene. Dalam perjalanan, kami menyempatkan untuk berhenti sejenak melihat perkebunan jeruk. Evi, yang juga warga lokal, menjelaskan bahwa Kabupaten Kepulauan Selayar pernah terkenal sebagai penghasil jeruk. “Jeruk keprok namanya,” ujar Evi.

Nasrah, warga Bontomatene, mengungkapkan hal serupa. “Selayar pernah terkenal dengan jeruknya, tetapi sekarang sudah mulai berkurang minat petaninya,” keluhnya. 

Berdasarkan interaksi Nasrah dengan petani setempat, faktor yang memengaruhi turunnya minat petani jeruk antara lain harga jual yang rendah dan perawatan jeruk yang cukup rumit. Meski demikian, perkebunan jeruk ini masih banyak kami temui. “Musim panen biasanya tiga bulan: Mei, Juni, dan Juli,” tambahnya.

  • Kebun jeruk keprok Selayar (Syamsumarlin)
  • Buah kenari yang dijemur (Atisa Muslimin)

Setelah melihat kebun jeruk, kami kembali melanjutkan perjalanan. Selang beberapa menit, saya kembali berhenti tepat di tepi sebuah jalan. Tampak buah kenari yang sedang dijemur. Kenari juga menjadi salah satu produk perkebunan yang menjadi komoditas unggulan Selayar.

Nasrah menjelaskan, untuk bisa dikonsumsi, buah kenari yang dikumpulkan dari kebun-kebun warga terlebih dahulu harus dijemur, lalu ditumbuk untuk memisahkan kulit luar dan kulit buah bagian dalam. Buah yang telah terlepas dari kulit luar masih perlu direbus, untuk memisahkan kulit bagian dalam dengan kacang kenari berwarna putih. Kacang kenari yang sudah bersih masih perlu dijemur kembali sebelum diolah lebih lanjut.

Produknya dijual secara langsung, ada juga yang diolah menjadi tenteng kenari (camilan manis campuran gula merah dan kacang kenari). Untuk menemukannya tidaklah sulit, produk turunan kenari banyak dijual di sekitar pelabuhan dan toko oleh-oleh.

Pemandangan kontras di tepian pantai: sampah yang berserakan dan matahari terbenam/Syamsumarlin

Tren Ekowisata

Di tengah tren berwisata yang mengarah pada pengalaman personal yang lebih bermakna (alternative tourism), Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki potensi menjelma destinasi favorit di Sulawesi Selatan. Bukan hanya wisata bahari, melainkan juga pengembangan sumber daya perikanan dan perkebunan melalui ekowisata.

Saya cukup terpukau dengan jalan-jalan di tepian pantai, kebun kelapa, pasir putih, dan ombak laut yang tersapu angin. Sepanjang perjalanan, saya merasa semua tempat di kabupaten ini adalah destinasi wisata. Sayangnya di beberapa lokasi, pantai dan tanggul-tanggul tampak tidak terawat, banyak sampah plastik yang bertebaran.

Barangkali kolaborasi antara masyarakat dan pemangku kepentingan menjadi kunci pengelolaan yang lebih baik di masa mendatang. Kita jangan sampai menjualnya untuk keuntungan semata. Sebab, pelancong sebenarnya mengajarkan kita bahwa nilai alamiah, orisinal atau autentik adalah esensi berwisata yang sesungguhnya. Lebih dari sekadar menikmati keindahan alam.

Hari mulai sore seusai menyapa kawan. Selayar menjadi salah satu tempat terbaik menyaksikan momen matahari terbenam (sunset) saat langit cerah di sore hari. Jika bosan, kita bisa ke Kota Benteng menikmati sarabba (minuman jahe) dan pisang goreng, sembari menikmati debur ombak.


  1. Media Selayar, (2025, 19 September), “Laut Selayar Jadi Penyangga Perikanan Sulsel Tapi Tak Masuk Daftar KNMP”, https://www.mediaselayar.com/2025/09/laut-selayar-jadi-penyangga-perikanan.html. ↩︎
  2. Disparbud Selayar, (2014, 19 September), “Terasi Khas Pulau Selayar”, https://pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id/2014/09/terasi-khas-pulau-selayar/. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Syamsumarlin

Syamsumarlin, suka mendokumentasikan hutan. Bertamu dengan teman baru, berjalan sambil membawa kamera. Bermimpi untuk keliling Indonesia.

Syamsumarlin

Syamsumarlin, suka mendokumentasikan hutan. Bertamu dengan teman baru, berjalan sambil membawa kamera. Bermimpi untuk keliling Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melacak Jawawut di Bumi Massenrempulu