ITINERARY

Toko Buku Bandung: Ruang Kecil bagi Ingatan yang Panjang

Di sebuah ruas jalan yang tidak terlalu riuh di Kota Bandung, tepatnya di Jalan Garut No. 2, Kelurahan Kacapiring, Kecamatan Batununggal, berdiri sebuah toko buku kecil yang mudah terlewat dalam sekejap mata bila seseorang sedang terburu-buru. 

Letaknya bersisian dengan Perpustakaan Ajip Rosidi, seolah bukan kebetulan bila tempat itu tumbuh di dekat jejak seorang legenda sastra Sunda. Bagi mereka yang masih percaya bahwa buku bukan sekadar benda cetak, melainkan ruang tempat manusia menyimpan ingatan dan melanjutkan percakapan panjang tentang hidup, keberadaan toko itu menghadirkan semacam penghiburan kecil di tengah zaman yang bergerak cepat, masih ada orang-orang yang menjaga napas buku tetap menyala.

Dari luar, bangunannya tampak sederhana. Tidak terlalu besar, tanpa tampilan yang mencolok, bahkan sedikit tersembunyi di balik rindang pepohonan dengan dinding yang mulai dimakan usia. Namun, ketika melangkah masuk, suasana berubah perlahan: rak-rak buku berdiri rapat, judul-judul bertumpuk dari berbagai zaman.

Fasad depan Toko Buku Bandung di Jalan Garut, Bandung (Rizky Triputra)
Fasad depan Toko Buku Bandung di Jalan Garut, Bandung/Rizky Triputra

Bukan Sekadar Toko Buku

Tempat itu bernama Toko Buku Bandung. Orang datang ke sini bukan untuk sekadar membeli sesuatu lalu pergi. Ada yang berdiri lama di depan rak sejarah, ada yang membuka satu dua halaman buku sambil tetap berdiri, ada pula yang hanya berjalan perlahan seolah sedang mencari sesuatu yang bahkan belum benar-benar tahu apa namanya. 

Pagi itu, Minggu (3/5/2026) aku datang tanpa rencana panjang. Hanya ingin mampir sebentar, melihat-lihat rak, lalu mungkin membawa pulang satu atau dua buku. Namun, seperti banyak toko buku kecil lainnya, tempat semacam ini punya cara unik memperlambat waktu dan selalu mempunyai kejutan. 

Mataku mulai berpindah dari satu rak ke rak lain. Judul demi judul tampak seperti sedang menawarkan kemungkinan kecil: pengetahuan baru, sudut pandang berbeda, atau mungkin jawaban atas pertanyaan yang diam-diam sedang dibawa seseorang di kepalanya. Rak-rak di Toko Buku Bandung dipenuhi buku dari berbagai usia. Sebagian tampak baru, sebagian lain mulai menguning di bagian tepinya. 

Ada sejarah, sastra, filsafat, sosial-politik, kebudayaan, agama, biografi, hingga sejumlah buku lawas yang mulai sulit ditemukan di toko besar. Nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer, Tan Malaka, Jonathan Rigg, Ajip Rosidi, Soni Farid Maulana, Franz Magnis-Suseno, hingga berbagai literatur sejarah Indonesia berdiri berdampingan seperti sedang melanjutkan percakapan panjang yang belum selesai. 

Di salah satu sisi toko, beberapa buku tampak ditumpuk seadanya. Tidak seluruhnya tersusun terlalu rapi. Namun, justru di situlah daya tarik toko buku semacam ini terasa berbeda. Berkunjung ke toko buku independen seperti ini menghadirkan kemungkinan menemukan sesuatu secara tidak sengaja—semacam keberuntungan kecil yang sulit diperoleh ketika segala sesuatu terlalu dikendalikan algoritma. 

Barangkali karena itu toko buku kecil selalu terasa personal. Orang tidak datang hanya untuk membeli buku yang sudah masuk daftar belanja. Kadang seseorang pulang membawa buku yang bahkan tidak pernah ia cari sebelumnya.

Toko Buku Bandung bersebelahan dengan Perpustakaan Ajip Rosidi (Rizky Triputra)
Toko Buku Bandung bersebelahan dengan Perpustakaan Ajip Rosidi/Rizky Triputra

Tantangan dan Harapan

Di sela-sela aku mencari buku, seseorang menyapa dan ia memperkenalkan diri, Kang Deni, sosok di balik tempat ini yang oleh banyak orang lebih dikenal lewat Lawang Buku (Instagram @lawangbuku). Kami berdiskusi santai hingga kupahami tersimpan kisah panjang tentang bagaimana ia bertahan di toko buku ini. Mengelola toko buku, rupanya, bukan perkara mudah. Terlebih di zaman ketika orang semakin terbiasa dengan buku elektronik dan membeli apa saja tanpa perlu datang ke toko fisik. 

Akan tetapi, tantangan paling berat datang ketika pandemi COVID-19 melanda. Saat itu, nyaris tidak ada pengunjung yang datang. Jalanan sepi. Kota seperti berhenti bernapas. Orang-orang lebih sibuk menjaga keselamatan dirinya masing-masing, sementara toko buku pelan-pelan kehilangan alasan untuk didatangi. Kang Deni bercerita bahwa ada masa ketika dirinya sempat merasa ingin menyerah. Mendengar itu, sulit rasanya menolak kenyataan bahwa toko buku kecil hari ini memang sedang bertahan di tengah perubahan cara manusia membaca dan mencari pengetahuan. Manusia hidup di tengah banjir informasi. Ironisnya, semakin banyak informasi hadir, semakin sedikit waktu yang benar-benar diberikan untuk memahami sesuatu secara utuh.

Kaset dan CD lagu-lagu yang juga dijual di Toko Buku Bandung (Rizky Triputra)
Kaset dan CD lagu-lagu yang juga dijual di Toko Buku Bandung/Rizky Triputra

Orang membaca judul tanpa isi, menyimpan artikel tanpa pernah membukanya kembali, atau merasa telah memahami dunia hanya dari potongan video satu menit. Di dunia seperti itu, membaca buku sering terasa terlalu lambat. Padahal mungkin justru kelambatan itulah yang semakin dibutuhkan manusia. Buku, sejak lama, tidak pernah hanya soal informasi. Ia mengajarkan sesuatu yang perlahan mulai langka yaitu kesediaan untuk tinggal sedikit lebih lama bersama pikiran sendiri. Membaca memaksa seseorang berhenti. Tidak semua jawaban harus hadir cepat. 

Menariknya, di tengah kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh dari buku, Kang Deni justru melihat sesuatu yang perlahan berubah.  Menurutnya, dua tahun terakhir minat baca anak muda, terutama Gen Z, mulai kembali terasa hidup. Mereka datang, bertanya tentang judul tertentu, melihat-lihat rak, atau sekadar menghabiskan waktu cukup lama di antara buku. Di saat yang sama, sejumlah influencer dan kreator konten mulai hadir meliput tempat ini.

Toko Buku Bandung rupanya tidak hanya hidup sebagai tempat membeli buku. Ruang kecil ini juga perlahan tumbuh menjadi tempat orang-orang datang untuk bercakap dan bertukar pikiran.

Sudut khusus untuk buku-buku yang mendapatkan potongan harga (kiri) dan harta karun yang berhasil dibawa pulang oleh penulis/Rizky Triputra

Toko ini buka setiap Senin–Jumat serta Minggu, pukul 09.00–16.00 WIB. Namun, ada kegiatan lain yang sering berlangsung setelah toko tutup. Pada hari Minggu, tempat ini kerap mengadakan diskusi buku dengan menghadirkan beragam pembicara: penulis, pegiat literasi, akademisi, hingga orang-orang yang sekadar ingin berbagi gagasan. 

Diskusi biasanya dimulai sejak siang dan tidak jarang berlangsung hingga malam hari. Meskipun toko sudah tutup, percakapan tetap berjalan. Kursi-kursi digeser seadanya. Buku-buku menjadi latar. Orang-orang duduk mendengar, sesekali bertanya, lalu membiarkan waktu berjalan tanpa terlalu dipikirkan.

Menjelang pulang aku berpamitan dengan Kang Deni dan mengucapkan terima kasih karena berhasil mendapatkan sejumlah harta karun antara lain: Pesona Gunung-Gunung Jawa karya C.W. Wormser, biografi Franz Junghuhn yang diterjemahkan oleh Muhammad Malik Ar Rahiem, beberapa buku puisi cetakan baru Pustaka Jaya karya Rendra, Nyanyian Tanah Air karya Saini K.M., hingga Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih yang merupakan kumpulan artikel dari koran dan majalah sejak tahun 1971 yang disusun oleh Kang Deni sendiri. Buku-buku itu mungkin akan selesai kubaca dalam waktu berbeda.

Di luar, Bandung masih seperti biasanya. Desir udara sejuk, kendaraan berlalu, dan orang-orang bergerak menuju urusannya masing-masing.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Rizky Triputra

Rizky Triputra sering menulis dari perjalanan dan perjumpaan kecil di jalan. Sesekali mendaki gunung, lebih sering belajar menunggu. Bermukim di Indonesia, tetapi pikirannya kerap tersesat di antara hutan, kopi, dan pertanyaan yang tidak minta segera dijawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Pendakian ke Gunung Karang dan Seni Menunggu