TRAVELOG

Merekam Peristiwa di Sikkodasere Pustaka

Suatu siang yang basah selepas hujan di pekan terakhir Desember 2025, jalan di Desa Kanaungan, Labakkang, Pangkep, Sulawesi Selatan tampak lengang. Mendung masih bergelayut di langit barat yang menjadi petunjuk kalau hujan akan kembali mengguyur.

Berkunjung ke desa ini tidaklah sulit karena wilayahnya termasuk dataran rendah. Pembacaan kawasan wilayah di Pangkep terbagi ke dalam tiga topografi. Selain dataran rendah, ada juga wilayah pegunungan dan kepulauan. Nah, berkunjung ke desa-desa di dua kawasan terakhir membutuhkan persiapan lebih matang, tidak serta-merta bisa langsung berkunjung semudah kita memesan kopi di warkop.

Patung jambu mete di ujung jalan desa menjadi tengara, menyiratkan Desa Kanaungan sebagai penghasil jambu mete terbaik di Pangkep. Namun, kini tidak lagi. Perubahan komoditas bernilai ekonomi selalu tergantikan dengan komoditas lain yang lebih menguntungkan. Atau, telah terjadi perubahan ekosistem yang tidak lagi mendukung daya tumbuh perkebunan jambu mete. Konon, pada satu fase, warga di Desa Kanaungan menggantungkan hidup dari penghasilan kebun jambu mete.

Kiri ke kanan: Patung jambu mete yang jadi ikon desa. Pohon jambu mete di kebun warga. Meski tidak semarak seperti dulu, masih ada warga yang mengolah jambu mete untuk dijual/F Daus AR dan Muhammad Syawal Saputra

Sepotong kisah di atas saya dengar dari teman yang berasal dari desa itu. Kedatangan saya ke desa ini—setidaknya untuk saat ini—bukan untuk melakukan penelitian mengenai perubahan lanskap ekonomi warga. Saya berkunjung untuk ikut mengalami sebentuk proses anak muda di Desa Kanaungan yang mendorong adanya ruang perpustakaan yang dapat diakses oleh warga desa.

Muhammad Syawal Saputra, teman yang membangun perpustakaan bernama Sikkodasere Pustaka tersebut, menempati satu bangunan bekas kantor loket pembayaran rekening listrik yang dulu dikelola bapaknya. 

Jika melihat saksama, sebidang tembok bagian belakang setinggi tiga meter dengan lebar sekitar empat meter yang mulai mengelupas mengindikasikan usia bangunan mencapai puluhan tahun. Tinggi tembok di sisi kiri dan bagian depan hanya sekitar semeter. Bagian atasnya dikombinasikan dengan dinding kayu khas arsitektur Bugis. Yang bikin melongo justru bagian kanan—jika dilihat dari arah depan bangunan—tidak ada dinding sehingga langsung terhubung ke kolong rumah yang berdiri pas di sampingnya. Bagian itu lalu ditutupi spanduk bekas.

Syawal, sapaan akrabnya, membangun perpustakaan itu sudah lama di dalam benaknya. Mungkin sekali itu terlintas ketika mulai menyenangi sebuah bacaan. Menggeluti sejudul buku kemudian mulai menyisihkan uang belanja membeli buku yang menarik perhatiannya. Begitu terus menerus hingga buku-buku itu tampak ganjil jika menjadi hiasan dinding di rumah orang tuanya, atau, akan berakhir sebagai pajangan erotis di kamarnya, yang cuma Syawal yang akan merasakan kenikmatannya. 

Bincang santai di depan perpustakaan Sikkodasere Pustaka (Saenal N)
Bincang santai di depan perpustakaan Sikkodasere Pustaka/Saenal N

Bakkā dan Setelahnya

Bakkā dalam bahasa Bugis berarti sedang tumbuh. Suatu peristiwa di tahun 2024, Syawal bersama empat orang temannya dari Pangkep mengemas selipat pakaian ke dalam ranselnya untuk memulai suatu proses mengalami dalam lokakarya yang dinamai Bakkā. Program inkubasi yang digelar oleh Tanahindie-Makassar Biennale guna meretas kesenjangan ruang bagi seniman, penulis, atau kurator muda dari berbagai wilayah di Indonesia Timur.1

Kira-kira pascakegiatan itulah yang semakin menabalkan impiannya mengenai pentingnya sebuah perpustakaan. Selama mengikuti program Bakkā, tentulah ia membangun lapisan percakapan sesama peserta dari kota lain. Terlebih kegiatan dipusatkan di Kampung Buku, sebuah ruang komunitas legendaris di Makassar. Bisa jadi seluruh indranya bekerja menyerap beragam informasi lalu menjadi pupuk yang mempercepat tumbuhnya ide lama yang tertanam di kepalanya.

Sepulang dari proses menjalani segala rangkaian program Bakkā, semai ide di kepalanya dipindahkan. Kini media tanamnya berupa bangunan tua peninggalan kakek-neneknya. kira-kira begitulah latar belakang berdirinya Sikkodasere Pustaka. Nama depannya diambil dari nama dusun tempatnya tinggal di Kanaungan. Syawal kemudian mulai mengajak sejumlah kawan kentalnya di kampung untuk saling mendukung merawat perpustakaan.

Muhammad Syawal Saputra, inisiator Sikkodasere Pustaka (Saenal N)
Muhammad Syawal Saputra, inisiator Sikkodasere Pustaka/Saenal N

Seiring waktu, Sikkodasere Pustaka mulai mengenalkan dirinya ke publik komunitas di Pangkep, sebuah akun Instagram adalah penandanya. Syawal menerangkan, kalau tempatnya memang kerap jadi ruang berkumpul anak-anak muda di sekitar rumahnya, jauh sebelum ia mulai mengeluarkan koleksi bukunya untuk bacaan umum. Ia paham jika membaca bukanlah teman kencan yang baik di kalangan anak muda, yang hidup dalam rimba informasi dan seabrek kesenangan digital yang ditawarkan melalui gawai. 

Sekali waktu, Anwar Jimpe Rachman, pendiri Kampung Buku berujar, jika tujuan membangun perpustakaan itu mula-mula memang untuk diri kita sendiri karena kitalah yang ingin belajar. Saya yakin jika di suatu kesempatan, Syawal juga mendengar sabda itu langsung dari mulut Jimpe, panggilannya.

Perpustakaan di desa bukanlah barang mewah, melainkan lebih tepat jika disebut sebagai sebuah keganjilan. Menurut saya, perpustakaan sebagai ruang koleksi buku untuk umum, biarlah diurus oleh perpustakaan milik pemerintah di segala bentuk institusi. Jika Nirwan Ahmad Arsuka mencetuskan perpustakaan bergerak yang menyandarkan pada usaha gila para penggeraknya mengangkut buku menggunakan kuda, bendi, becak, perahu, atau segala akomodasi lainnya untuk mengantarkan buku mencari pembacanya. Maka inisiatif yang perlu ditawarkan perpustakaan berbasis komunitas ialah ruang interaksi membincang gagasan. 

Perlu disadari jika kategori perpustakaan komunitas seperti Sikkodasere Pustaka bukanlah perpustakaan bergerak. Ia memiliki bangunan permanen tempat menyimpan buku. Kembali pada fondasinya, menyulap bangunan lama menjadi ruang perpustakaan. Di situlah titik pijakannya, perpustakaan didorong sebagai ruang penciptaan peristiwa. Orang yang datang, apalagi seorang pembaca aktif, tujuannya bukanlah untuk mencumbu sejudul buku. Ia datang untuk mengalami suatu peristiwa personal atau komunal jika di perpustakaan itu sedang menggelar sebuah kegiatan. 

Kegiatan bincang buku bersama sejumlah perwakilan komunitas di halaman Sikkodasere Pustaka (Saenal N)
Kegiatan bincang buku bersama sejumlah perwakilan komunitas di halaman Sikkodasere Pustaka/Saenal N

Perpustakaan sebagai Pusat Peristiwa

Lantas, peristiwa seperti apa? Bukankah semua pengalaman adalah peristiwa mengalami? Mari tengok kembali perilaku atas peristiwa lampau di sebuah perpustakaan sekolah. Di tahun 1997–1999, ketika masih duduk di bangku SMP, perpustakaan adalah pengalaman yang buruk. Saya mengalami perpustakaan sebagai ruang menjalani hukuman dari guru yang merasa perlu mengurung kami: siswa yang dicap nakal.

“Kalau kedapatan merokok atau bolos lagi, kalian akan dikurung di perpustakaan,” ucapan seorang guru di masa SMP yang terus terngiang. Saya tidak tahu apakah generasi saya di masa SMP di seluruh Indonesia mengalami hal serupa. Jika iya, maka itu penciptaan peristiwa komunal yang buruk tentang perpustakaan. Jika tidak, maka ini kasuistik yang dialami bagian satu generasi di waktu dan tempat tertentu. Poinnya, tetaplah peristiwa buruk tentang perpustakaan.

Perlu semacam cara sebagai metode kerja menghadirkan perpustakaan sebagai implementasi dari kesadaran kritis. Jika kedudukannya demikian, aplikasinya berupa transformasi. Bila berupa transformasi, keluarannya sebuah produk gagasan sebagai nilai baru yang akan diujicobakan. Mereka, para pegiat komunitas, saya kira telah menerapkan praktik care work (kerja-kerja perawatan) dengan saling mengabarkan program melalui sosial media sebagai ruang saling berbagi dan peluang lahirnya kolaborasi.

Nah, dalam posisi inilah Sikkodasere Pustaka menemukan relevansinya. Sebagai komunitas literasi yang baru lahir, Syawal membuka peluang lahirnya kolaborasi antarkomunitas yang ada di Pangkep. Dimulai pada pertengahan tahun 2025 lalu, Sikkodasere Pustaka mengundang pegiat komunitas di Pangkep untuk hadir di halamannya yang luas sebagai permulaan mengalami peristiwa. Tamasya Purbakala dan Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung, dua buku yang terbit hasil dari gelaran Makassar Biennale 2023, dipercakapkan dengan santai. Membicarakan buku hasil sebuah program komunitas juga mendandai bentuk lain dari upaya membangun keberdayaan komunitas itu sendiri.

Dua orang perwakilan komunitas di Pangkep mendiskusikan sebuah buku (Saenal N)
Dua orang perwakilan komunitas di Pangkep mendiskusikan sebuah buku/Saenal N

Menurut saya penting bagi komunitas agar mulai mendorong lahirnya peristiwa penciptaan. Tidak hanya berupa sajian obrolan buku, tetapi juga penciptaan pengetahuan yang dibukukan. Tentu masih banyak hal di sekitar yang belum banyak dituliskan, dan itu menunggu sentuhan para pegiat komunitas. 

Ruang baca yang yang dihadirkan warga ketika dana desa belum menganggap perpustakaan sebagai strategi pembangunan bagi umat manusia. Ya, minimal dari cara pandang itu saja dulu, sebuah komunitas yang dengan sadar lahir, saya kira, sudah bentuk implementasi pengetahuan kritis.

Dorongan seperti itulah yang membuat saya menerabas jalanan basah di suatu siang di pekan terakhir Desember 2025. Saat itu, Sikkodasere Pustaka kembali mengajak hadir untuk mengalami percakapan. Sajian program berupa curah gagas pengalaman penelitian berbasis warga yang dibingkai dalam platform “Melintas di Pangkep”, kolaborasi dengan Rumah Saraung. 

Program ini merupakan pembacaan spasial karena lokasi Pangkep di sepanjang jalan Trans Sulawesi memanglah area perlintasan menuju kawasan kabupaten/kota di utara Makassar. Jadi, memang memungkinkan kawan-kawan pegiat komunitas di selatan dan di utara untuk singgah di Pangkep jika sedang melintas. 

Sikkodasere Pustaka menangkap itu sebagai ruang dan menempatkan keberadaannya sebagai terminal yang dapat disinggahi sebelum melanjutkan kembali perjalanan. Sebentuk cara kreatif, saya kira, untuk menyiasati modal sosial program sekaligus upaya cerdas mencipta dan merekam peristiwa agar terjalin erat kekerabatan para pegiat komunitas. Sebagaimana semantik Sikkodasere itu sendiri, bahasa Bugis yang merujuk pada produk kerajinan tangan berbahan bambu, anyaman yang saling merekatkan.


  1. Selengkapnya mengenai program Bakkā, dapat disimak pada tautan berikut: https://artefact.id/2024/08/19/bakka-pamerkan-dua-puluh-karya/ ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

F Daus AR

F Daus AR terlibat kerja apa saja. Kontributor di sejumlah buku, seperti "Menarasikan Indonesia" (New Naratif-Insist Press: 2021) dan yang terbaru "Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung" (Yayasan Makassar Biennale-Tanahindie: 2024). Berkhidmat di Rumah Saraung, ruang komunitas yang mendorong transformasi sosial anak muda di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Sila berkunjung ruang maya kami di rumahsaraung.com.

F Daus AR

F Daus AR terlibat kerja apa saja. Kontributor di sejumlah buku, seperti "Menarasikan Indonesia" (New Naratif-Insist Press: 2021) dan yang terbaru "Hanya Ada Babak, Tidak Ada Panggung" (Yayasan Makassar Biennale-Tanahindie: 2024). Berkhidmat di Rumah Saraung, ruang komunitas yang mendorong transformasi sosial anak muda di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. Sila berkunjung ruang maya kami di rumahsaraung.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Belajar pada Penjaga Hulu Sungai Mata Allo di Kaki Gunung Latimojong