TRAVELOG

Gelagat Air di Kaki Bukit Kapur

Setiap awal tahun, Maros–Pangkep dan sekitarnya memasuki musim basah. Hujan rutin mengguyur tanah ini—rintik hingga deras. Bahkan, ia telah mengundang beberapa tanah yang tertutup semen menjadi sarang genangan air, sebuah dampak dari logika kemajuan yang disandarkan pada deretan bangunan mewah. Ketika membicarakan hujan, saya tetiba teringat dengan Huderiah, seorang ibu yang bermukim di sekitar bentangan taman bumi karst Maros–Pangkep yang akhir Desember kemarin saya jumpai di Limbangan, Pangkep.

Membentang dari selatan ke utara, dinding-dinding alami bentangan tower karst yang dikenal sebagai taman bumi Maros–Pangkep tegak berdiri. Kawasan dengan luas sekitar 45.000 hektare ini menghampar di Kabupaten Pangkep, Maros, dan sebagian di utara Barru dan timur Bone. Tubuhnya menyimpan gua-gua prasejarah lewat etalase gambar seni cadas yang disebut arkeolog pernah menjadi satu lukisan tertua di dunia buatan manusia modern awal dengan usia 51.200 tahun sebelum digeser temuan arkeologis terbaru berupa cap tangan berusia 67.800 tahun di gua Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Sidang UNESCO pada tanggal 24 Mei 2023 di Paris, Prancis, menetapkan bentang alam bukit kapur Maros–Pangkep sebagai UNESCO Global Geopark.

Rumah Penduduk di Hadapan Bukit Kapur Maros-Pangkep, 22 Desember 2025/Abdul Masli
Rumah Penduduk di Hadapan Bukit Kapur Maros-Pangkep, 22 Desember 2025/Abdul Masli

Ahli geologi sering menyebut kawasan alam bukit kapur serupa tandom raksasa bagi kehidupan di sekitarnya. Diperkirakan 15 persen penduduk dunia menggantungkan sumber air dari kawasan bukit kapur, dan menyimpan air bagi 25 persen populasi dunia. Fungsi serupa tandom raksasa ini lantas menjadikan bukit kapur laiknya benteng pelindung alami bagi permukiman warga karena sistemnya yang menyerap air ketika hujan, dan bisa menjadi penampung air untuk pemenuhan kebutuhan di musim kemarau. Bahkan banyak ahli telah menyebut jika manusia bisa bertahan hidup ketika air sebagai kebutuhan intinya terpenuhi.

“Ini (bukit kapur) sebenarnya yang bikin aman Pangkep. Karena kan dia sebagai area penampung air hujan. Kayak ki dia spons. Debit air hujan kalau tidak ada begituan, itu besar langsung ki masuk ke sungai. Jadi itu bukit kapur sama kayak fungsinya bendungan, penampung air,” jelas Ikhwan. 

Sayangnya, pengetahuan tentang bukit kapur sebagai pelindung Pangkep yang diungkapkan Ikhwan tidak sejalan dengan yang dia alami akhir-akhir ini. Pengelolaan sumber air di Pangkep dinilainya masih kelabakan, belum dikelola dengan baik. Efek sampingnya bencana. “Kita di sini (Pangkep) kalau hujan bisa kelebihan air, tapi tidak ada yang bisa [mengelola] bagaimana air ini ditahan dulu. Pada saat kemarau kita butuhkan. Kalau di sini pada saat kemarau kering sekali. Begitu pun sebaliknya, kalau hujan air bisa melimpah sampai banjir.”

Rawa-rawa di halaman rumah Huderiah dilihat dari balik jendela, Pangkep, Sulawesi Selatan, 21 Desember 2025 (Abdul Masli)
Rawa-rawa di halaman rumah Huderiah dilihat dari balik jendela, Pangkep, Sulawesi Selatan, 21 Desember 2025/Abdul Masli

Air, Lahan, dan Pengetahuan yang Beralih

PEKAN KETIGA DESEMBER 2025. Saya bertemu Huderiah untuk belajar budaya warga setempat lewat pembacaan terhadap gelagat air. Air menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana warga berkebudayaan lewat siasat bertahan terhadap krisis dan relasi dengan ruang mukimnya. Satu di antaranya, cara mereka membaca tanda-tanda alam dan pengaruhnya terhadap laku mitigasi bencana.

Huderiah tampak sederhana. Matanya berkilau, suaranya teduh, gambaran sosok ibu yang penuh kasih pada anak-anaknya. Namun, di balik keteduhan matanya, saya menemukan kegetiran. Awal tahun 2025, rumahnya yang berdiri kokoh di tengah pematang yang dikepung air tambak, untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun ia huni tergenang banjir. Air luapan Sungai Lamadingin yang bertemu air laut menimbulkan genangan. Tingginya bahkan menutup seluruh tambak ikan bak laut luas.

Pascabanjir melanda di awal tahun 2025, ketika deras hujan dan pasang laut bertemu bersamaan, air yang meningkat hingga melewati pematang tambak ikan menjelma tanda siaga atas bencana banjir yang bisa datang. Pengetahuan ini berangkat dari amatan dan pengalaman sebelumnya yang menenggelamkan tambak ikan di halaman rumahnya saat banjir.

“Waktu banjir kemarin (awal 2025), tidak terlihat mi itu tambak. Itu kita lihat kayak laut semua. Pematangnya tenggelam, rata semua dengan air,” kenang Ikhwan sambil mengarahkan telunjuknya pada petak-petak tambak di samping hingga ratusan meter ke halaman belakang rumahnya.

Kendaraan mencoba membelah banjir yang masih merendam ruas Jalan Trans Sulawesi di kota Pangkajene, 14 Februari 2023/Abdul Masli
Kendaraan mencoba membelah banjir yang masih merendam ruas Jalan Trans Sulawesi di kota Pangkajene, 14 Februari 2023/Abdul Masli

Perubahan lanskap kawasan sebuah tempat dapat membawa dampak turunan terhadap lingkungan dan kehidupan sosial-budaya di sekitarnya. Fenomena ini serupa dengan yang terdengar melalui tuturan Huderiah perihal semesta pengetahuan warga Limbangan yang menyimpan kesadaran ekologis tentang persebaran air di tanah lapang dapat mencegah banjir. Ketika jalur moda transportasi bergerbong dibangun, bentangan alam berubah dan air tidak lagi menyebar luas.

“Sejak dibangun itu rel kereta api, cepat sekali mi naik air, bahkan masuk mi air dalam rumah. Seingatku itu pertama kali sejak ada ini rumah. Saya sudah di sini sejak kelas dua SD. Mungkin sekitar 40 tahun mi saya di sini, barupi di awal tahun (2025) itu banjir sampai masuk rumah,” kenang Huderiah.

Tanah lapang, sawah, tambak, atau kebun, yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan tidak lagi berfungsi baik. Arah aliran berubah mengikuti siklus alaminya, luapan air cepat mengisi cerukan atau daratan yang lebih rendah. Satu dampak turunannya yang paling nyata menyebabkan banjir merendam beberapa titik permukiman warga.

“Secara teknikal, ini jalur kereta api kan dia potong jalur air yang pada umumnya terjadi sebelumnya. Dulu, pada saat hujan, air itu mengalirnya sama, rata semua daerah dialiri. Air lewat di sawah, lewat selokan-selokan pemukiman warga, tersebar di hamparan tanah luas, tapi mungkin karena tertutup jalurnya, tidak bisa mi lewat di situ. Nah, sementara pada saat ada jalur kereta api, otomatis dia tutup semua jalur air. Akibatnya air ini susur jalur kereta untuk cari sungai langsung. Makanya daerah-daerah dekat sungai itu sekarang potensi banjir, seperti terjadi di daerah Maros, Pangkep, dan Barru. Mungkin karena air menumpuk di sungai, lewat di situ semua kalau mau ke laut. Sementara lebarnya itu sungai tidak bertambah, tapi debit air kan bertambah,” tutur Ikhwan.

Jalur kereta api Trans Sulawesi yang melintas di Pangkep, 22 Desember 2025 (kiri) dan terowongan di bawah rel kereta di Pangkep/Abdul Masli

Rumah Huderiah berlantai dua berdiri di atas tanah yang dikelilingi air. Ketinggian permukaan tanahnya berada di bawah jalan utama Trans Sulawesi. Dulu halaman sekitarnya bekas rawa-rawa ditumbuhi bakau yang dialihkan menjadi petak-petak tambak. Dalam ingatan sebagian warga, peralihan besar itu terutama dipicu ketika harga udang windu sedang meroket pada tahun 1990-an. Pengalihan fungsi lahan sawah, pekarangan, dan tambak ini utamanya terjadi pada tahun 1992 dan 1996.1

Masa peralihan fungsi lahan ini senada dengan liputan Eko Rusdianto yang tayang di Mongabay (23/05/2022), sejarah praktik tambak di Sulawesi Selatan dimulai masyarakat sejak tahun 1960-an, dekade tahun 1980, dan kembali menjadi primadona tahun 1998 saat badai krisis moneter menghantam Indonesia. Periode ketiga ini sejalan dengan ingatan warga di Limbangan yang ditandai dengan naiknya harga udang windu. Jelang pertengahan tahun 2000-an, tambak menjadi surut karena beragam faktor, seperti benih yang kurang sehat hingga penyakit.2

Orang tua Huderiah termasuk salah seorang yang ikut dalam mengalihfungsikan rawa-rawa menjadi tambak sebagai sumber penghidupan. Peralihan itu pun disertai perpindahan permukiman mereka dari Kampung Kanaungan ke petak-petak tanah timbunan yang dikelilingi air. Tambak yang pernah dibuka oleh orang tua Huderiah kini dikelola suaminya sebagai salah satu sumber penghidupan yang terwariskan dari orang tuanya. Keluarganya pun selama ini hidup dengan mengandalkan hasilnya, mulai pemenuhan kebutuhan sehari-hari, hingga biaya sekolah anaknya.

Tambak ikan di Limbangan, Pangkep, Sulawesi Selatan, 21 Desember 2025 (kiri). Kondisi air tambak ikan milik keluarga Huderiah yang mulai naik setelah diguyur hujan sejam lebih di Limbangan/Abdul Masli

Awal Mula “Babakan Horor” bersama Air

F Daus AR (baca: Daus), pegiat Rumah Saraung, komunitas orang muda Pangkep yang kerap menggelar dialog, penelitian, dan penerbitan tentang kebudayaan warga tempatan di Pangkep, menyebut banyak warga kaget dengan kondisi Pangkep yang akhir-akhir ini dilanda banjir. Pengalaman tersebut seingat Daus, sebagai pengalaman pertama sejak 30 tahun terakhir. Peristiwa banjir itu terjadi setidaknya sejak proses pembangunan hingga beresnya pembangunan jalur transportasi bergerbong Trans Sulawesi yang membentang dari Maros, Pangkep, dan Barru.

Daus menambahkan temuan pelacakannya terhadap jejak banjir di wilayah perkotaan Pangkep melalui media digital telah tercatat sejak 2013. Banjir tersebut merendam rumah dan areal persawahan warga. Kabarnya disiarkan media nasional Kompas.com, penanda jika peristiwanya tidak berskala kecil. Riwayat banjir tersebut terjadi pada tanggal 18 Februari 2013 setelah diguyur hujan beberapa jam pada malam hari. Banjir merendam beberapa wilayah di bagian barat kota Pangkep, yakni Kelurahan Tekolabbua, Kelurahan Mappasaile, Desa Balanakang, Bantilang, Lomboka, Toli-toli, Bucinro, Solo’, dan Padadae.3

Daus menyebut banjir di tahun 2013 ini penanda awal mula ‘babakan horor’ bagi warga Pangkep bila air mulai berjatuhan dari langit. Menurutnya hujan tidak hanya menimbulkan kekhawatiran, tapi sudah menakutkan. Warga takut banjir semakin meluas bilamana hujan turun. Wilayah yang sebelumnya tidak terdampak kini mesti waspada menunggu giliran yang bisa datang tanpa diduga.

Sumber Mata Air di Mate'ne Pangkep, 22 Desember 2025/Abdul Masli
Sumber mata air di Mate’ne Pangkep, 22 Desember 2025/Abdul Masli

Potensi bencana sebagai konsekuensi jumlah air berlimpah atau sedikitnya air sudah lama dibicarakan oleh seorang pemikir ekofeminis, Vandana Shiva. Sejak dua dekade silam, dalam bukunya Shiva menyebut air adalah kehidupan.4 Air adalah cairan sederhana yang sangat berharga, tak tergantikan dalam keperluan kelangsungan hidup banyak makhluk–tumbuhan, hewan, dan manusia. Shiva menyebut air sebagai hak asasi yang berasal dari konteks ekologis tertentu dari eksistensi manusia–hak yang muncul dari kodrat manusia, kondisi historis, kebutuhan dasar, atau gagasan tentang keadilan.

Air menjadi pusat material dan budaya kehidupan masyarakat. Namun, terlalu banyak atau terlalu sedikit air akan menjadi ancaman terhadap kehidupan. Ketika air berlimpah, ia bisa menjelma bencana banjir atau air bah yang menyapu kehidupan. Sedangkan ketika terlalu sedikit air, bisa menjelma bencana kekeringan yang terus berulang. Kedua bencana itu bisa kian membesar dan sering terjadi, serupa roda yang berputar, silih berganti seturut periode musim yang datang, juga bisa terus melebar menjangkau banyak persoalan ekologis, ekonomi, sosial, hingga budaya.


  1. Mohammad Adib, 2000, “Analisa Kebijakan Pengelolaan Tambak bagi Pengembangan Ekonomi Masyarakat di Kabupaten Pangkep Propinsi Sulawesi Selatan”, Prosiding Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia I Makassar, hlm 143-149. ↩︎
  2. Eko Rusdianto, “Kisah Belantara Karst Maros-Pangkep yang Menakjubkan”, Mongabay, 2022, 23 Mei, diakses melalui https://mongabay.co.id/2022/05/23/kisah-belantara-karst-maros-pangkep-yang-menakjubkan/ tanggal 9 Januari 2026, Pukul 19.22 WITA. ↩︎
  3. Hendra Cipto, “Lagi, Tujuh Desa di Pangkep Terendam Banjir”, Kompas.com, 2013, 19 Februari, diakses melalui https://regional.kompas.com/read/2013/02/19/1357033/lagi-tujuh-desa-di-pangkep-terendam-banjir tanggal 4 Januari 2026, Pukul 04.06 WITA. ↩︎
  4. Vandana Shiva, Water Wars: Privatisasi, Profit, dan Polusi (INSIST Press–WALHI, 2002). ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Abdul Masli

Abdul Masli, kadang hidup nomaden. Menyenangi perjalanan dengan sepeda, jalan kaki, atau menggunakan transportasi warga. Suka memakai sandal jepit.

Abdul Masli, kadang hidup nomaden. Menyenangi perjalanan dengan sepeda, jalan kaki, atau menggunakan transportasi warga. Suka memakai sandal jepit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melihat “Passandeq” Menjadi Guru di Pesisir Selat Makassar