TRAVELOG

Menyusuri Jalan Raya Cilimus hingga Pos Cibunar Gunung Ciremai

Sewaktu kecil, kalau sudah sampai Alun-alun Cilimus, saya senang sekali. Pertanda tujuan kami sudah dekat: kolam renang Linggarjati. Tersisa tiga ratus meter lagi, sebelum berbelok ke pertigaan arah Gedung Perundingan Linggarjati.

Tahun 1990-an dulu, kolam renang Linggarjati dan pemandian air hangat Sangkanurip jadi idola wisatawan lokal. Kenangan rekreasi di sana jadi “memori baik yang kusimpan hingga kumenua…” seperti didendangkan Akhdiyat Duta Modjo dari Sheila on 7 tahun 2024. 

Apalagi kalau ingat ayah membonceng saya dan ibu naik vespa merayapi tanjakan jalan raya Cirebon-Kuningan, Ternyata semua bertumbuh pada akhirnya//Segenap cinta yang kau berikan//Tak akan hilang ditelan zaman//Kau yang terbaik…

Tahun menjauh. Ayah telah tiada. Giliran saya jadi ayah. Alun-alun Cilimus tetap menggembirakan. Orang-orang terlihat antusias. Ada yang ke pasar di seberangnya. Ada yang bersiap ikut pengajian di masjid. Satu area dengan Kantor Desa Cilimus, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan.

Pagi yang cerah di Alun-alun Cilimus (Mochamad Rona Anggie)
Pagi yang cerah di Alun-alun Cilimus/Mochamad Rona Anggie

Melatih Otot Kaki

Suasana lengang, masih pagi. Baru pukul 06.15 WIB, ketika saya memarkir motor depan masjid, Sabtu (25/4/2026). Saya lekas ke tempat duduk bergaya amfiteater, lalu membuka bekal nasi kuning. Elf Kuningan dan angkutan desa (angdes) lalu-lalang. Tak lagi tersendat barisan delman yang biasa mangkal depan pasar.  

Sarapan beres, saya kencangkan tali sepatu. Petualangan dimulai. Gunung Ciremai di barat laut menyemangati. Pukul 06.45 WIB, saya mulai menyusuri pedestrian jalan besar. Target pertama adalah persimpangan menuju objek wisata alam Linggarjati.

Saya melewati deretan penjual hucap (kupat tahu), bubur ayam, toko oleh-oleh, rumah makan Padang hingga kantor Polsek Cilimus. Otot kaki perlahan menguat. Mentari hangat menyapa. Percabangan jalan ke desa wisata Panawuan, dilalui pula. Tak ada kerumunan penumpang bus ke Jakarta. Biasanya, sih, berjubel.

Langkah kaki terus terayun. Keringat merembesi kaus lengan panjang yang saya pakai. Topi rimba dari TelusuRI setia menemani. Pukul 07.05 WIB, saya tiba di pertigaan Linggarjati. Lalu lintas pagi bergeliat. Pak Ogah stand by membantu kendaraan yang menikung. 

Saya menyeberang dan bergerak ke barat. Ruas jalan ini mengantarkan pula ke jalur pendakian Gunung Ciremai via Desa Linggasana dan Desa Linggajati. Dalam nomenklatur pemerintahan disebut Linggajati, tetapi sebutan Linggarjati kesohor sejak lama. Terkait kisah Sunan Gunung Jati dan wali lainnya yang berkelana ke Ciremai pada abad ke-16 Masehi.

Dari kiri, searah jarum jam: Persimpangan Linggarjati dan tugu ikonisnya, dengan latar Gunung Ciremai di kejauhan. Angdes yang membawa penumpang ke pasar. Pengendara motor melintas di depan salah satu hotel di Linggajati/Mochamad Rona Anggie

Lanskap Alam Memukau

Warung tahu Sumedang dan pos jaga polisi menyambut di sisi kiri. Rumah penduduk terlewati hingga ke kolam renang J & J. Pemandangan sawah memanjakan mata. Ladang kol serta daun bawang andalan pertanian.

Kawasan di lereng Ciremai ini, dari zaman Belanda memikat siapa saja. Bentang alam hijau dan udara sejuk membuat betah. Tak ayal hotel sekelas Santika (Kelompok Kompas Gramedia) dan hotel yang dikelola Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI-Polri (Pepabri), hadir. Pemain lama tetap Hotel Ayong, yang eksis sejak tahun 90-an. 

Belum lagi penginapan kelas melati, termasuk restoran, berlomba menggaet pelanggan. Menunjukkan tamu konsisten datang. Terlebih akhir pekan. Acara keluarga, komunitas motor, dan penggiat arisan, kerap memilih Linggarjati sebagai arena kumpul.

Aksesnya mudah. Pakai kendaraan pribadi nyaman. Naik angkutan umum bisa. Kondisi jalan terawat. Pengunjung bakal puas rekreasi ke sana. 

Ketika saya berjalan kaki pun asyik sekali. Masih pagi, belum banyak kendaraan melintas. Beberapa pelari tampak kembali turun. Saya melangkah dengan mantap, sampai di gerbang lama objek wisata Linggarjati Indah. Sudah dipalang dan ditumbuhi rumput liar. Belakangan pintu masuknya pindah ke sebelah barat.

Akses kolam renang Linggarjati tempo dulu (kiri) dan gerbang baru yang lebih megah/Mochamad Rona Anggie

Linggasana, Baru Linggajati

Saya lanjut berjalan, mengitari sisi luar hutan objek wisata Linggarjati. Tak lama, tiba di gapura Desa Linggasana: pintu menuju base camp (BC) pendakian Ciremai. 

Trek Linggasana adalah kembaran jalur Linggarjati. Posisinya bersebelahan. Tahun 2001, saat perdana nanjak Ciremai, rute Linggasana belum dibuka resmi. Sementara setapak ke atap Jawa Barat via Linggarjati telah dikenal luas.  

Saya perkirakan dari persimpangan jalan besar ke gedung perundingan sekitar satu kilometer. Tinggal seratus meter lagi ke titik masuk Desa Linggajati. Jalan aspal mulus menanjak. Pemotor dari arah berlawanan menuruninya dengan lincah. Saya memacu langkah. Target kedua perjalanan depan mata. 

Dari gapura ke pintu gedung perundingan hanya 25 meter saja. Pagar hitam mengelilingi tempat bersejarah seluas 2,4 hektare itu. Saya izin masuk ke halamannya. Memotret beberapa sudut bangunan bekas hotel tersebut.

“Mau lanjut ke Cibunar,” kata saya ketika dipersilakan melihat ke dalam.

Gerbang Desa Linggajati (kiri) dan Gedung Perundingan Linggarjati/Mochamad Rona Anggie

Menuju Cibunar 

Pukul 07.42 WIB. Langkah terayun kembali. Melintasi hunian di Dusun 03, 02, dan 01. Jalan terus menanjak. Rumah-rumah kian meninggi. Keberadaan dapur makan bergizi gratis (MBG) jadi pemandangan baru di pelosok desa Indonesia. Menyuplai pesantren di dekatnya.

Teduh pohon durian menaungi. Kambing peliharaan warga mengembik. Asap bakaran daun kering melengkapi suasana khas perdesaan. Ujung jalur ini adalah vila Obim dan penangkaran rusa di tengah hamparan ladang.  

Saya tatap jalan menikung tajam di depan. Ini rute petani kopi yang membawa motor ke kebun. Sebenarnya ada setapak ke arah kiri yang bisa dilalui pendaki, tapi sudah lama tak dilewati. Padahal ini jalan alternatif kalau ingin menjamah belantara Ciremai.

Di area vila berundak yang terbengkalai, kini ada warung kopi yang dikelola Kang Barna; mantan Ketua Ranger BC Linggajati. “Buka mulai jam dua siang sampai malam,” katanya saat saya kontak beberapa hari sebelum treking ke sana.

Menapaki jalan desa sejauh satu kilometer dari gedung perundingan ke titik pendakian Ciremai via Cibunar (Linggajati)/Mochamad Rona Anggie
Menapaki jalan desa sejauh satu kilometer dari gedung perundingan ke titik pendakian Ciremai via Cibunar (Linggajati)/Mochamad Rona Anggie

Plang penanda ke BC Linggajati, mengarahkan terus naik. Tanjakan curam menanti. Benar saja, keringat saya gemerojos. Langkah terasa berat, seiring ketinggian bertambah. 

Saya sempat berhenti. Merasakan getaran dengkul dan napas yang memburu. Jantung berdegup kencang, serupa gempuran dobel pedal Putra, drummer Burgerkill. Bunyi tonggeret memecah kesunyian hutan. Entah menertawakan saya atau memberi ucapan selamat datang.

Genjot terus! Otot paha dan betis menegang. Tak ada bonus landai. Nikmati saja! Paru-paru bekerja ekstra. Menghimpun oksigen segar, lantas mengirimnya ke otak. Ini yang membuat kita terus tersadar. Organ tubuh seirama mengiyakan tekad hati untuk tiba di tujuan.

Kira-kira sesudah 300 meter, gapura Cibunar terlihat. Terdengar suara orang mengobrol di warung. Namun, tidak mudah menyelesaikan sisa 25 meter terakhir. Tanjakan tiada ampun. Saya kuatkan langkah, dan akhirnya sampai. 

Tubuh terasa bugar. Saya selonjoran dekat pos registrasi. Menenggak bekal air dari rumah hingga tandas. Sudah niat mau isi ulang dari mata air yang menyejukkan.

Tempat ngopi asyik (kiri) dan penangkaran rusa di sisi jalur menjelang Cibunar/Mochamad Rona Anggie

Mampir ke pos ranger, belum ada siapa pun. Angin berdesir. Barisan Pinus merkusii membuat saya larut dalam kenangan pendakian masa SMA dulu: naik dari Palutungan, turun lintas jalur ke Linggajati. Berlanjut kemah di Cibunar.

Rupanya panggilan alam: 22 tahun kemudian saya melatih anak-anak camping dan hiking di sana, sebelum lanjut ke puncaknya sebagaimana diceritakan dalam Jangan Menyerah di Pos Pangasinan Gunung Ciremai.

Tak lama datang petugas BC, Ilham (28). Info darinya, tidak boleh ada aktivitas tektok di rute Linggajati. “Medan terjal, risikonya besar,” ucapnya. “Tapi kalau atlet trail run boleh (tektok).”

Pihaknya mengantisipasi remaja atau konten kreator yang ingin bertualang, tetapi enggan membawa perbekalan standar mendaki. “Berbahaya tektok di jalur Linggajati. Kalau mau hiking bisa sampai Pos 3 (Pangalap),” tegasnya.

Pos ranger BC Linggajati (850 mdpl) (Mochamad Rona Anggie)
Pos ranger BC Linggajati (850 mdpl)/Mochamad Rona Anggie

Oleh karena itu, suasana di Cibunar tak seramai BC Cadas Poleng (Palutungan). Menjadi keunggulan tersendiri. Para petualang yang merindukan keheningan alam, bisa lewat sini. Termasuk pendaki asing, penasaran dengan trek Linggajati yang dikenal paling terjal dibanding empat rute lainnya ke titik 3.078 mdpl.

“Belum lama, pasangan dari Spanyol dan pendaki Prancis naik ke puncak. Mereka didampingi pemandu serta porter,” beber Ilham.

Puas menghirup wangi pinus dan merengkuh dingin hutan Cibunar, saya turun gunung pukul 09.30 WIB. Terlintas agenda yang sebelumnya tak direncanakan: menengok Gedung Perundingan Linggarjati. Malu ah, sama Sutan Sjahrir dan Presiden Sukarno yang sudah menjejakkan kaki di sana tahun 1946.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Damai di Puncak Ciremai