Setelah beberapa bulan di Bogor dan kembali ke Jember, rasanya saya ingin sekali jalan-jalan mengelilingi Jember untuk merasakan suasananya. Rencana untuk berkeliling Jember ini sayangnya harus dijalani seorang diri. Teman-teman semasa kuliah sudah pulang ke kampung halaman masing-masing, sementara teman yang menetap di Jember sudah sibuk dengan keluarganya masing-masing. Nah, dengan kondisi seperti itu, saya pikir akan sangat menyedihkan dan membosankan jika saya berjalan-jalan ke mal atau tempat wisata. Jadi, saya memutuskan untuk menelusuri tempat-tempat yang sesuai dengan minat saya, yaitu tempat-tempat bersejarah.
Jember sebenarnya bisa dikatakan cukup kaya sejarah. Namun, kurangnya perhatian dari pemerintah membuat situs-situs sejarah di Jember menjadi kurang terurus. Selain itu, rendahnya minat masyarakat juga membuat situs-situs ini terabaikan dan sepi pengunjung. Semoga saja tulisan ini bisa menambah ketertarikan orang untuk mengunjungi situs dan belajar sejarah, khususnya di Jember.


Monumen Mastrip
Pertama saya menuju situs yang cukup dekat dengan rumah saya dulu, yaitu Monumen Mastrip. Monumen Mastrip sangat mudah untuk dijangkau karena letaknya tepat berada di pinggir jalan kabupaten yang menghubungkan Jember dan Bondowoso. Letaknya di Desa Sukojember, Kecamatan Jelbuk. Letaknya di sebelah kiri jalan jika dari arah Jember, tepat di seberang warung kopi. Ada sebuah tangga kecil yang menghubungkan jalan raya menuju lokasi monumen.
Sampai sekarang, Monumen Mastrip menjadi salah satu monumen favorit saya. Bentuknya memang sederhana, hanya tiga tiang menjulang dengan ornamen helm dan pena serta senapan yang saling menyilang. Tempatnya juga tak terlalu luas. Namun, karena monumen ini terletak di pinggiran hutan pinus, suasana sekitar sangat rindang dan sejuk. Rasanya enak sekali menggelar tikar dan duduk berlama-lama di sini.
Monumen Mastrip dibangun untuk mengenang gugurnya Tentara Republik Indonesia Pelajar atau disebut juga dengan nama MASTRIP. Pada Juli 1947, Batalyon 4000 Mastrip mengadang konvoi pasukan Belanda dalam peristiwa Agresi Militer Belanda I. Lokasi pengadangan tepat berada di lokasi Monumen Mastrip dibangun.




Palagan Jumerto didirikan di tengah perkampungan warga. Nama-nama pahlawan yang gugur terukur di salah satu bagian dinding monumen/Sigit Candra Lesmana
Palagan Jumerto
Setelah cukup lama mengamati dan mengambil beberapa gambar, saya lalu memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke situs kedua. Kali ini saya harus kembali ke Kecamatan Patrang untuk mengunjungi situs Palagan Jumerto. Sebenarnya Patrang memang lebih dekat dari rumah saya. Akan tetapi, letak situs yang ada di Kelurahan Jumerto ini cukup pelosok dan melewati jalanan berliku. Sehingga, jika dihitung-hitung masih lebih dekat Monumen Mastrip dengan rumah saya.
Saat pertama kali mengunjungi monumen ini, saya sempat beberapa kali kebingungan. Tak seperti Monumen Mastrip yang ada di pinggir jalan, Palagan Jumerto berada di tengah-tengah perkampungan. Beruntung Google Maps memberikan jalur perjalanan ke lokasi monumen dengan akurat.
Begitu tiba di sana, seperti halnya monumen-monumen lain, suasananya tampak sepi. Tidak ada yang berjaga, hanya bangunan yang tidak terlalu tinggi itu berdiri sendirian. Beruntung, pagar besi yang membatasi area monumen itu tidak dikunci sehingga saya bisa masuk untuk melakukan pengamatan dan mengambil gambar.
Palagan Jumerto dibangun untuk mengenang peristiwa gugurnya 13 personel Brimob dan 20 masyarakat sipil dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia dari Agresi Militer Belanda II. Relief-relief yang menceritakan peristiwa itu terukir pada dinding yang memisahkan monumen tersebut dengan rumah warga. Peristiwa itu terjadi pada 11 Februari 1949, sekitar tiga hari setelah gugurnya Letkol Mohamad Sroedji yang kisahnya juga sudah pernah saya tulis di TelusuRI.
Setelah puas melakukan pengamatan dan karena hari sudah cukup siang, saya lalu bergegas menuju lokasi selanjutnya, yang cukup jauh dari Palagan Jumerto. Sekitar 20–30 menit perjalanan dengan sepeda motor.


Monumen Bura
Monumen Bura, lokasi situs sejarah selanjutnya, juga tak jauh-jauh dari peristiwa perjuangan pahlawan melawan penjajahan kolonial Belanda. Sama seperti Palagan Jumerto, lokasi monumen ini juga bisa dikatakan cukup terpencil. Tepatnya di Desa Jatian, Kecamatan Pakusari.
Bura merupakan nama dari seorang petani yang menjadi pemimpin pasukan laskar rakyat di wilayah Jember Utara. Selain keberaniannya melawan Agresi Militer Belanda II, Bura juga dikenal karena kekebalannya terhadap senjata. Karena kekebalan dan keberaniannya itu, Bura menjadi incaran militer Belanda.
Bura akhirnya tertangkap pada 26 Maret 1948. Ia memberitahu pihak Belanda mengenai kelemahannya terhadap api karena ibunya disandera. Pihak Belanda pun langsung membakar Bura hingga menjadi abu. Tempat dibakarnya Bura ini berada di pinggir Sungai Jatian dan menjadi lokasi pembangunan Monumen Bura yang berdiri hingga sekarang.
Sama seperti dua monumen sebelumnya, Monumen Bura juga tampak kesepian. Namun, dari yang saya dengar, monumen ini masih sering dikunjungi untuk dibersihkan dan dikenang setiap Hari Pahlawan 10 November. Monumen Bura berbentuk persis seperti Monumen Nasional atau Monas. Di sebelahnya ada sebuah bangunan tak beratap yang terpasang tulisan:“MERDEKA ATAU MATI”.
Awan-awan putih sudah mulai berkumpul menjadi awan mendung, sehingga saya sudahi perjalanan berkunjung ke situs-situs sejarah ini. Mengunjungi tiga tempat yang memiliki nilai historis membuat saya merefleksi kembali masa lalu dari sebuah daerah yang menjadi tempat tinggal saya saat ini. Selain itu, bagi seseorang yang berpenghasilan kecil seperti saya, jalan-jalan mengunjungi monumen seperti ini sangat hemat biaya. Tidak ada uang sepeser pun untuk tiket masuk, hanya untuk biaya bahan bakar motor saja.
Jadi, buat teman-teman yang sedang gabut seperti saya, perjalanan saya kali ini mungkin bisa ditiru dengan mengunjungi tempat-tempat serupa yang ada di kota tempat tinggal kalian.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Sigit Candra Lesmana, kelahiran Jember, 12 Maret 1992. Penulis lepas, beberapa tulisannya tersebar di berbagai media cetak maupun digital. Aktif berkegiatan di FLP Jember dan Prosatujuh. Dapat dihubungi melalui [email protected]


