TRAVELOG

Jangan Menyerah di Pos Pangasinan Gunung Ciremai

Akhirnya, kami berhasil menapaki puncak Ciremai via Linggarjati, Kamis (6/7/2023). Jalur legendaris sejak zaman Belanda. Satu kawasan dengan Gedung Perjanjian Linggarjati di perkampungan bawahnya.

Rute Linggarjati ada di Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan. Kesohor paling terjal di antara lima jalur menggapai atap Jawa Barat. Pendakian terhitung berat. Medan terus menanjak. Minim bonus. 

Bekal air pun dibawa dari base camp (BC) Cibunar. Menuju 11 pos ke depan, tak ada lagi sumber air. Setapak rute Linggarjati sungguh menantang. Keasrian hutannya terjaga. Nama tiap pos mengabadikan cerita rakyat. Menyuguhkan jejak sejarah. 

Ada Pos 4 Kuburan Kuda. Menandai lokasi kuburan kuda milik tentara Jepang; pengawas pribumi yang sedang kerja rodi menanam kopi. Kabarnya ringkik kuda kerap terdengar di waktu tertentu. “Kuburannya di sebelah barat jalur pendakian,” ujar seorang warga.

Lalu, kisah pilu di Pos 8 Bapa Tere. Tempat seorang ayah tiri tega menghabisi anaknya. Trek ini menguji ketangguhan pendaki. Akar-akar besar pepohonan menyembul. Langkah tersendat. Terkadang jalur menyempit. Pijakan sulit, karena tubuh mesti menyelinap di sela lorong-lorong.

Area kuburan kuda yang sebaiknya tidak dilewati saat malam hari (kiri) dan tenda kami di Pos 5 Pamerangan/Mochamad Rona Anggie

Batu Lingga Raib

Pos 9 Batu Lingga dikenal paling wingit. Ketika menjajal rute Linggarjati tahun 2001, saya menyaksikan sendiri ada batu segede gajah. Dupa menyala di bawahnya. Bunga tujuh rupa berserakan. Tapi belakangan, batu itu raib!

Batu Lingga dipercaya tempat munajat Sunan Gunung Jati dan para wali lainnya. Mereka ke Ciremai dipandu kakek sang sunan, Satria Kawirangan. Di sana para wali memohon pertolongan Allah dalam menghadapi penjajah Portugis.1

“Batu Lingga itu besar sekali. Namun, pada 2000-an batunya hilang entah ke mana,” kata salah satu ranger Linggarjati, Kang Ewer, seperti dilansir Balai Taman Nasional Gunung Ciremai.2

Selepas Batu Lingga, trek berikutnya kian menguras tenaga. Perbekalan air mesti dihemat. Diatur sebaik mungkin. Jangan sampai kehabisan tengah jalan.

Pos 10 Sanggabuana memberi harapan ujung setapak—padahal masih jauh banget. Pemandangan mulai terbuka. Padang edelweis menyambut. Sengat mentari menghunjam tubuh. 

  • Menyusuri padang edelweis menuju puncak/Mochamad Rona Anggie
  • Menyusuri padang edelweis menuju puncak/Mochamad Rona Anggie

Tiba di Pangasinan

Pos 11 Pangasinan bukan tempat berpijak mereka yang menyerah atau takluk. Semangat tak boleh goyah. Takbir menguatkan jiwa. Napas yang ngos-ngosan, jangan membuat tubuh kuyu.

Ada dua versi cerita asal-usul Pangasinan. Pertama, lokasi pengasingan pejuang republik oleh tentara Jepang. Mereka dibiarkan mati perlahan tanpa bekal di sana. Kedua, dari nasi dan garam (asin) yang dibawa wali sanga ke situ.      

Setelah tiga kali rehat untuk meneguk air dan mengambil napas, Pangasinan sukses kami pijak. Berurutan memasuki batas vegetasi: saya, Muhammad Kaldera (9), Rean Carstensz Langie (13), dan Evan Hrazeel Langie (13). 

Jangan Menyerah di Pos Pangasinan Gunung Ciremai
Anak-anak tiba di Pangasinan/Mochamad Rona Anggie

Ujian Pamungkas

Di hadapan kami membentang punggungan berbatu. Mental jangan sampai jatuh melihatnya. Itu adalah ujian pamungkas. Step terakhir sebelum atap Jawa Barat kau gapai. Serasa puncak Ciremai memanggil-manggil, “Ayo… Ayo! Semangat!”

Pangasinan ada di ketinggian 2.813 mdpl. Tersisa ketinggian 265 meter lagi, untuk sampai di 3.078. Sedangkan panjang jalur “tinggal” 500 meter ke depan. Sekitar 60 menit merayapi medan berbatu, tanah berdebu, membelah hamparan edelweis. 

Di titik ini fisik dan mental kita seolah “dihabiskan”. Digenjot full! Demi mencapai puncak impian. Namun, jangan lupakan energi untuk turun. Fokus melangkah dan terus berdoa. Memohon kekuatan dari-Nya. Pendakian gunung bukan hanya soal keberhasilan merengkuh puncak, melainkan juga bagaimana bisa pulang dengan selamat.

Tentu beralasan, komentar beberapa pendaki Ciremai yang menjajal jalur Linggarjati. “Bisa sampai Pangasinan, sudah bagus,” katanya. Memberi gambaran, perjuangan untuk sampai di Pos 11, sudah oke banget.

Sementara meneruskan sisa perjalanan ke puncak, adalah pilihan masing-masing pendaki. Mencukupkan di Pangasinan saja, dengan panorama langit biru dan hamparan edelweisnya, ya, sah-sah saja. Ndak ada larangan, he-he…

Anak-anak tiba di Pangasinan/Mochamad Rona Anggie
Menyusuri padang edelweis menuju puncak/Mochamad Rona Anggie

Atau pantang ciut nyali, rawe-rawe rantas malang-malang putung. Terus berjalan menuju pelataran tertinggi Jawa Barat. Ini yang kami pilih. 

“Ayo, Bang, lanjut…” ucap saya ke si kembar dan adiknya. 

Tidak mudah memang. Medan terjal berbatu. Kemiringan 60–75 derajat. Beberapa saat melangkah, duduk istirahat. Jalan lagi, rehat sejenak. Alon-alon asal kelakon. Belum lagi, mendekati ujung jalur, mesti scrambling. Memanjat bebatuan. 

Pinggiran bibir kawah sudah tampak depan mata. Membuncahkan harapan. Otot paha digeber. Tapak sepatu Jack Wolfskin pemberian akang Wanadri dientak. 

Alhamdulillah, akhirnya sampai di puncak. Langsung sujud syukur. Cuaca cerah. Kabut tipis menari-nari di atas kawah. Waktu masih aman, baru pukul 09.25 WIB.

Kami santai menikmati pemandangan lautan awan. Tebing kaldera begitu gagah. Luas sekali kawah Ciremai: radius 600 meter, kedalaman 250 meter. Beberapa kasus pendaki tewas, di antaranya terjatuh ke dalam kawah. Harus ekstra waspada! 

Kami memerlukan 60 menit dari Pangasinan ke puncak/Mochamad Rona Anggie

Pendaki Makassar

Waktu itu ada tiga tim pendaki. Kami (empat orang dari Cirebon), enam mahasiswa pecinta alam (Bandung), kemudian rombongan 10 orang: delapan dari Makassar dan dua Jakarta.

Yang delapan dari Makassar itu, dua anak (kakak beradik kelas 2 SMP dan 5 SD), enam lainnya usia 40, 50, dan 60 tahunan. Masing-masing dua orang.

“Sebelum bertemu bapak-bapak, saya kira selalu paling tua di antara pendaki lainnya,” kata saya, disambut tawa renyah mereka.

“Ini pendakian pengulangan. Tahun lalu (2022), kami naik sampai Pos 7. Tapi turun lagi, karena batu empedu saya bermasalah. Sampai bawah langsung dirawat enam hari di RSUD Linggajati,” cerita Juanda (52), yang asli Kuningan, tapi sejak 1991 menetap di Makassar hingga kini punya cucu.  

Jujur, yang saya salut, para kakek itu tidak mengubah rute pendakian. Walau sebelumnya sudah merasakan jalur Linggarjati, yang memang galak ke betis.

Jangan Menyerah di Pos Pangasinan Gunung Ciremai
Rehat bareng pendaki asal Makassar/Mochamad Rona Anggie

“Kenapa enggak lewat Palutungan saja? Lebih ramah dengkul.”

“Biar lewat sini saja,” ucap mereka mantap. Tidak menyesali jalur yang dipilih.

Selama pendakian, kami saling susul. Lima anggota tim Makassar, tiba lebih dulu di puncak. Ketika turun dari puncak, dua kakek yang berusia 60-an, menyisakan jarak seratus meter lagi.

Saya dan anak-anak menyalami mereka. Memberi semangat. Seraya berpamitan. “Bisa mendaki Bawakaraeng dan Latimojong kalau ke Sulawesi,”sahutnya. 

Pendakian Ciremai via Linggarjati menambah koleksi puncak gunung saya dan anak-anak. Senang kiranya bisa menularkan aktivitas petualangan kepada mereka. Menyadarkan pentingnya menjaga kelestarian alam, dengan tidak membuang sampah di gunung dan di mana pun.


  1. Direktorat Jenderal KSDAE, “Sejarah dan Budaya Lokal Gunung Ciremai”, Juni 18, 2018, https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/berita/sejarah-dan-budaya-lokal-gunung-ciremai-LZPi5ARt/. ↩︎
  2. RakyatCirebon.id, “Ada Kisah Legenda di Pos Batu Lingga Gunung Ciremai”, Juni 30, 2022, https://rakyatcirebon.disway.id/kuningan/read/581162/ada-kisah-legenda-di-pos-batu-lingga-gunung-ciremai. ↩︎

Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Damai di Puncak Ciremai