TRAVELOG

Jalan Kaki Meneropong Kawasan Tua Kota Tuban

Di bawah terik matahari pukul 09.00 pagi, di pelataran kompleks perkantoran Pemerintah Kabupaten Tuban, Yudha menyapa para peserta walking tour “Kawasan Tua Kota Tuban”. Aku mendengarkan dengan saksama penjelasannya tentang destinasi yang akan kami kunjungi nanti. 

Ini adalah kali pertama aku mengikuti tur sejarah. Sebenarnya sudah cukup lama aku ingin belajar tentang sejarah Tuban—kota kelahiranku. Beberapa kali aku berencana ingin berkeliling sendiri, mencari tempat-tempat atau pun bangunan bersejarah di Tuban. Namun, sayangnya hal itu selalu hanya menjadi wacana. Selain belum ada waktu yang pas, aku juga belum cukup berani berkeliling sendirian, dan tentunya aku butuh pemandu tur agar tidak kebingungan.

Suatu hari, seorang teman bernama Fia memberitahuku mengenai acara walking tour yang diadakan oleh komunitas Teropong Sejarah. Tentu saja aku sangat bersemangat dan tak mau melewatkannya. Menjelang detik-detik penutupan registrasi, aku segera mendaftarkan diri. Aku agak menyesal kenapa baru tahu kalau ada komunitas yang mengeksplorasi tentang sejarah kota Tuban.

Jalan Kaki Meneropong Kawasan Tua Kota Tuban
Tampak samping gedung yang dulunya bekas kediaman asisten residen Hindia Belanda di Tuban/Lya Munawaroh

Menilik Bekas Kediaman Asisten Residen

“Destinasi pertama yang akan kita kunjungi adalah bekas kediaman asisten residen. Letaknya ada di belakang gedung ini,” Yudha menjelaskan dengan menggunakan megafon.

Tak lama, kaki kami mengikuti langkah Yudha menuju belakang salah satu gedung milik Pemkab Tuban. Di sana tampak sebuah bangunan putih dengan delapan tiang cukup besar di bagian terasnya. Kami semua berkumpul di sana sambil menanti penjelasan Yudha mengenai bangunan ini. 

Ia menjelaskan, dulunya bangunan ini merupakan bekas kediaman asisten residen pada masa Hindia Belanda. Saat itu seorang pejabat asisten residen adalah pegawai negeri tertinggi yang diangkat oleh gubernur jenderal.

Seorang asisten residen memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda dengan bupati. Pada masa Hindia Belanda, asisten residen bertugas untuk mengawasi dan membantu bupati selaku kepala daerah dalam menjalankan pemerintahan di wilayah regentschap (sebutan untuk wilayah setingkat kabupaten di masa kolonial Belanda).

Sebenarnya bangunan ini telah direstorasi secara keseluruhan. Namun, ciri khas dari bangunan era kolonial masih tetap dipertahankan. Seperti jendela kayu yang berukuran besar, juga tiang-tiangnya yang mengadopsi gaya neoklasik rumah-rumah pejabat zaman Yunani Kuno.

Tampak depan Hotel Slamet (kiri) dan salah satu contoh corak pintu rumah lawas di kawasan pecinan Tuban/Lya Munawaroh

Jejak Etnis Tionghoa di Hotel Slamet dan Gang Pecinan

Usai foto bersama, kami beranjak ke destinasi kedua, yakni Hotel Slamet. Letaknya tak jauh dari Alun-alun Tuban. Lebih tepatnya di sebelah utara SMPN 1 Tuban. Tampak depan hotel ini terlihat sederhana, bahkan tidak seperti hotel pada umumnya yang berupa bangunan tinggi. Namun, justru itulah daya tarik Hotel Slamet. Sebab, hotel ini adalah bangunan bersejarah yang dijaga keasliannya.

Bagian depan hotel berupa bangunan satu lantai berwarna putih dengan jendela dan pintu yang tinggi. Menurut Yudha, Hotel Slamet merupakan salah satu bangunan bersejarah yang memiliki arsitektur khas Tionghoa. Bangunan ini didirikan pada tahun 1914 dan saat ini masih terjaga keasliannya, meskipun telah direnovasi. Salah satu yang dipertahankan adalah motif keramik pada lantai bangunan ini. Selain itu, ukiran burung phoenix di atas pintu dan jendela bangunan ini yang menjadi ciri khas ornamen arsitektur Tiongkok yang masih bagus dan menarik.

Pada era kolonial Belanda atau bahkan jauh sebelum itu, kelompok masyarakat Tionghoa memang sudah memiliki peranan penting dalam kehidupan sosial dan ekonomi di Tuban. Setiono (2008: 24–25) menyatakan, orang-orang Tionghoa di Tuban adalah keturunan dari tentara Tar-tar pada sekitar abad ke-13 yang pernah mendarat di Pantai Boom, Tuban. Letak Pantai Boom sendiri berada di sebelah barat Hotel Slamet. Sebagian tentara tersebut tidak kembali ke Tiongkok dan menetap di Tuban. Aktivitas ekonomi masyarakat Tionghoa dilakukan di sekitar pantai, seperti penjahit, reparasi sepeda, tukang kayu, pandai besi, dan juru masak.

Kami melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Rupanya Yudha masih mengajak kami menelusuri jejak peninggalan kehidupan masyarakat Tionghoa lainnya, dengan berjalan ke sebuah gang kecil di sebelah gedung Telkom. Yudha menyebut gang ini sebagai salah satu kawasan pecinan di Tuban.

Tak seperti ornamen Hotel Slamet yang masih berciri khas Tionghoa dan terawat, di gang ini yang terlihat hanya beberapa rumah dan ruko yang tidak terawat. Kami berhenti di salah satu rumah yang memiliki pintu berwarna hijau. Rupanya pintu inilah yang masih punya corak khas Tionghoa. Tak lama kami berjalan, tanpa sadar kami sudah di ujung gang yang menjadi kawasan parkir Pantai Boom. 

Menelusuri kawasan ini membuatku membayangkan Tuban tempo dulu. Tempat yang sangat penting bagi perdagangan dunia dari era Majapahit hingga kolonial Belanda. Sebagai salah satu kota yang memiliki pelabuhan besar di Jawa, yakni Pelabuhan Kambang Putih, Tuban menjadi pintu gerbang perdagangan internasional Majapahit yang dilalui China dan India. Dari aktivitas perdagangan tersebut kemudian memunculkan keragaman etnis dan budaya di Kota Tuban.

Jalan Kaki Meneropong Kawasan Tua Kota Tuban
Kotak surat peninggalan Belanda di depan Kantor Pos Tuban/Lya Munawaroh

Jejak Kolonial Belanda di Kantor Pos Tuban

Dari parkiran Pantai Boom kami menyeberang ke selatan, melewati Alun-alun Tuban untuk menuju Kantor Pos Tuban. Kami tidak menyangka, ternyata bangunan ini juga merupakan salah satu peninggalan Belanda. 

Dari depan memang tidak terlihat seperti bangunan lawas. Namun, ada sebuah kotak surat kuno yang membuktikan bahwa kompleks ini juga peninggalan Belanda. Terdapat tulisan “Brievenbus” di tepi bagian atasnya, yang berarti kotak surat dan beberapa tulisan lainnya dalam bahasa Belanda. Meski memiliki desain kuno, tetapi kotak surat tersebut tidak terlihat usang karena dicat oranye senada dengan nuansa kantor pos pada umumnya.

Selanjutnya Yudha mengajak kami masuk ke kantor pos hingga ruangan paling belakang. Ternyata di sini terdapat bangunan peninggalan Belanda berupa sebuah rumah dengan arsitektur era kolonial.

Perbandingan Masjid Agung Tuban dulu dan sekarang/KITLV & Lya Munawaroh

Sejarah Masjid Agung Tuban

Dari kantor pos, kami pun beranjak ke destinasi terakhir, yaitu Masjid Agung Tuban yang berada tepat di sebelah Kantor Pos Indonesia Tuban. Sayangnya saat itu sedang ada renovasi sehingga kami tidak bisa mengambil foto tampak depan masjid. Yudha mengajak kami masuk ke masjid dan mengamati arsitektur di dalamnya.

“Masjid ini memiliki perpaduan gaya arsitektur Eropa, Arab, dan Jawa,” tutur Yudha. “Kalau kita lihat desain jendelanya memakai kaca patri, mengadopsi gaya arsitektur gereja,” lanjutnya sambil menunjuk langit-langit kubah. 

Masjid Agung Tuban didirikan oleh Bupati ke-7 Tuban, Adipati Raden Ario Tedjo, dan diresmikan pada tahun 1894 oleh Bupati ke-35 Tuban, Raden Tumenggung Kusumodigdo. Setelah renovasi, tempat ibadah umat Islam ini tampak semakin megah. Bangunan utamanya didominasi warna cerah dengan kubah besar di bagian tengah yang menjulang. Bagi kami masyarakat Tuban, masjid ini menjadi ikon kebanggaan dan bangunan yang kaya nilai sejarah.

Melalui walking tour bersama Teropong Sejarah, senang sekali rasanya bisa lebih mengenal kota kelahiranku sendiri. Aku jadi tahu tempat-tempat bersejarah dan cerita-cerita di balik bangunan yang setiap hari aku lihat, tetapi jarang aku perhatikan lebih jauh. Ternyata kotaku juga punya sejarah yang menarik untuk ditelusuri.


Referensi:

Setiono, B. G. 2008. Tionghoa dalam Pusaran Politik. Jakarta: Transmedia.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Lya Munawaroh

Lya tinggal di Tuban Jawa Timur. Fresh graduate jurusan fisika, tetapi suka sastra. Pengen jadi perempuan petualang, keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru.

Lya Munawaroh

Lya tinggal di Tuban Jawa Timur. Fresh graduate jurusan fisika, tetapi suka sastra. Pengen jadi perempuan petualang, keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Eksplorasi Mengulik Keunikan Pulau Nyamuk di Karimunjawa