Di era seperti sekarang, rasanya keseharian kita tak lepas dari konten-konten media sosial, terutama Instagram. Apalagi kalau hobi traveling dan senang menyelam di Instagram untuk hiburan atau inspirasi destinasi liburan mendatang di sela-sela penatnya rutinitas pekerjaan. Sampai-sampai traveling tidak lagi menjadi kebutuhan tersier, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang harus selalu dilakukan demi menjaga kewarasan—sekalipun hanya sekadar pergi sejenak tanpa tujuan khusus di akhir pekan.
Saat ini sudah semakin banyak akun media online maupun influencer yang memproduksi konten-konten foto maupun video dengan corak dan gaya penyampaian yang menarik. Sebut saja rekomendasi wisata atau kuliner anti-mainstream, panduan naik gunung, festival budaya, sampai dengan opini publik yang menanggapi isu-isu pariwisata terkini.
Dari sekian variasi konten yang membanjir di lini masa Instagram, model teks timpa foto dengan caption berupa quotes atau kutipan-kutipan bijak dari para pesohor lebih populer. Konten semacam ini mudah menggamit audiens lebih banyak daripada konten konvensional.

Sebab, kata-kata itu penting
“Jangan ambil sesuatu kecuali gambar, jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu.”
Pernah dengar atau familiar dengan kutipan tersebut? Biasanya muncul di konten-konten pendakian gunung dan menjadi jargon para pegiat alam bebas. Barangkali kutipan yang paling mudah disisipkan dalam caption konten di Instagram sebagai bentuk edukasi dan literasi perjalanan di alam secara bertanggung jawab.
Menurut sejumlah sumber, semboyan itu—dalam bahasa Inggris—mulanya dipakai oleh organisasi penelusuran gua asal Amerika Serikat, yaitu National Speleological Society pada 1941 dan Baltimore Grotto pada 1952.
Konon, kutipan tersebut terinspirasi dari Chief Seattle, tetua Indian dari suku Duwamish pada 1854, yang mengucapkan “Take only memories… leave only footprints”. Terlepas dari akurasi sejarah dan perdebatan yang timbul, semboyan ini kemudian berevolusi menyesuaikan zaman, namun tetap bermakna sebagai landasan etis atas kegiatan apa pun di alam secara universal.
Bahkan di Instagram yang memanjakan ruang visual, kata-kata pun tetap penting. Tanpa kata-kata, sebuah konten bisa kehilangan konteks dan bahkan makna yang mungkin terkandung di dalamnya. Itulah alasan kenapa kata-kata pun memiliki kekuatannya tersendiri.
Tidak hanya itu. Kutipan-kutipan bijak yang disematkan dalam konten—dan ini dampak yang diharapkan—mampu menggugah kesadaran audiens dan kemauan bergerak atas sesuatu. Misalkan mengacu pada quote klasik di awal subbab tulisan ini. Ketika kita mendaki gunung, menyusuri sungai dan gua, atau wisata ke pantai, kita harus menempatkan diri sebagai tamu dan tidak mengotori tempat kita berpijak dengan sampah-sampah yang kita hasilkan.
Sudah tak terhitung kasus penumpukan sampah dan ulah vandalisme di jalur pendakian maupun tempat-tempat wisata. Rambu-rambu peringatan dan imbauan pengelola wisata seringnya tak mempan jika pengunjung tidak memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan. Oleh karena itu, kekuatan kata-kata dari quotes yang bernuansa bijak terkadang lebih menyentil lubuk hati sekaligus sebagai nasihat sosial.

Memilah quotes yang bijak dan bermakna
Saat ini, keterbukaan informasi dan akses internet memungkinkan siapa pun bisa berkarya atau sekadar menjadi penikmat karya di media sosial. Siapa pun bisa melakukan perjalanan (traveling) dan membagikan ceritanya di Instagram—karena setiap orang pada dasarnya adalah pencerita.
Narasi cerita dan kutipan-kutipan bijak dari orang-orang atau sosok tokoh yang ditemui selama perjalanan bisa melengkapi cerita. Bahkan tidak sekadar pelengkap, tetapi juga sebagai pencerita itu sendiri. Dengan kekuatan kata-kata atau kutipan bijak, senyampang tidak bertendensi menggurui, maka makna cerita yang ditulis bisa utuh dan pesannya tersampaikan kepada audiens.
Selain dari orang-orang lokal, kutipan pernyataan bisa terinspirasi dari berbagai sumber: buku, koran, majalah, media online, bahkan mungkin kata-kata bijaksana dari bokong truk yang jamak terlihat di jalanan Indonesia. Tidak ada yang salah, asal relevan dan bermakna. Terkadang kita juga harus percaya diri mengemukakan pendapat atas pengalaman dan perjalanan kita, lalu menelurkan ucapan atau petuah dari mulut sendiri sebagai ekspresi atau refleksi atas pengalaman hidup yang dirasakan.

Namun, penting untuk memastikan bahwa penggunaan kutipan dalam konten, yang biasanya ditujukan untuk menyentuh emosi atau kesadaran pengguna media sosial, diharapkan bisa berdampak positif. Sebab, adakalanya niat ingin bijaksana bergeser sebagai eksploitasi psikologis, terutama oleh generasi muda. Dari yang semula ingin memberikan inspirasi atau semangat, malah ditelan begitu saja tanpa pemahaman kritis.
Konsep social resonance perlu kita jadikan pegangan ketika menyisipkan kutipan bijak dalam konten, memperhatikan asal dan konteks kutipan—jika mengutip dari narasumber atau tokoh tertentu. Sebab, sebuah pesan yang tersirat maupun tersurat dalam konten Instagram akan dimaknai secara rasional dan emosional. Pada akhirnya, cerita perjalanan dengan muatan kutipan bijak tidak sekadar pemanis visual, tetapi juga menciptakan keterikatan dengan audiens.
Bagaimana dengan kamu? Apakah sudah memikirkan kutipan-kutipan bijak untuk caption konten perjalananmu di Instagram hari ini? Kalau belum terbayang, kamu bisa mempertimbangkan 7 Quotes Bijak buat Caption Konten Gunung di Instagram buat dicoba di postingan-mu.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.


