TRAVELOG

Gebong Memarong, Perjalanan Singkat ke Rumah Leluhur

Sabtu siang saya meninggalkan Pangkalpinang dengan motor, berbekal peta dari Google Maps. Jalanan berdebu, angin membelai wajah. Perjalanan sekitar satu setengah jam menuju Dusun Air Abik (Aik Abik), Desa Gunung Muda, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka terasa seperti menumpas lapisan-lapisan modernitas: rumah-rumah beton digantikan rumah-rumah panggung dari kayu beratapkan daun nipah.

Papan bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Adat Gebong Memarong” menjadi gerbang menuju sebuah dunia yang serba sederhana dan ramah.

Gebong Memarong, Perjalanan Singkat ke Rumah Leluhur
Permukiman rumah Memarong yang asri/Ramsyah Al Akhab

Malam Pertama di Memarong

Di sana saya bertemu Rahman, teman lokal yang juga jadi pemandu saya selama kunjungan. Saya datang hanya untuk berlibur, tetapi yang saya dapatkan lebih dari sekadar liburan: tamasya ke cara hidup yang terjaga.

Malam itu saya tidur di salah satu rumah memarong, beralaskan tikar rumbia yang agak kasar di kulitnya, tetapi hangat dalam kesederhanaan. Rumah panggung itu berbau kayu, dindingnya dari kulit kayu, atapnya dari daun nipah. Bunyi angin menggesek atap dan derit kayu menjadi lullaby alami.

Kesederhanaan ini, mengambil biaya yang sederhana juga dari dompet saya. Cukup Rp50.000 sudah bisa menginap dengan fasilitas tempat tidur, toilet, tunggu memasak, musala, dan akses Wi-Fi. Kalau ingin sekaligus fasilitas makan, itu bisa dibicarakan lebih lanjut dengan pemandu yang kontaknya terdapat di situs web Desa Wisata Memarong.

Malam Minggu di sana tidak ingar seperti di kota. Di balai kayu beberapa warga berkumpul santai: berbincang, merokok, menyeruput kopi, dan tertawa. Saya duduk bersama mereka di lantai bambu balai yang lapang. Suasana itu membuat saya merasa menjadi bagian dari percakapan, bukan sekadar penonton.

Salah satu foto malam yang saya abadikan memperlihatkan balai menerangi pekarangan di bawah bulan berawan. Pemandangan yang magis. Di balai itu orang-orang berkumpul, bercerita, merencana, dan sekadar menjaga kebersamaan. Lantai balai dari bilah kayu diikat rotan menunjukkan konstruksi tradisional yang lentur dan kuat. Duduk di atasnya sambil mendengarkan cerita-cerita lokal memberi saya rasa aman dan keterikatan.

Balai tempat kumpul warga di bawah cahaya bulan/Ramsyah Al Akhab

Arsitektur dan Filosofi Rumah Memarong

Gebong Memarong tersusun rapi. Tujuh rumah memarong membingkai sebuah lapangan tengah yang berfungsi sebagai ruang komunitas dan arena upacara. Dari udara, tatanan itu jelas. Balai besar berada di salah satu ujung lapangan, sedangkan rumah-rumah lain menghadap ke ruang bersama. Konfigurasi ini bukan semata soal estetika. Ia mengekspresikan filosofi kolektif— hidup yang bersanding dan dialog antarkeluarga.

Setiap rumah memarong berdiri di atas tiang kayu (rumah panggung). Lantainya dari susunan papan, dinding dari kulit kayu yang disambung rapi, dan atapnya dari daun nipah yang menyelimuti seluruh ruang. Penggunaan bahan alami dan teknik ikat rotan tanpa paku menegaskan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Rumah-rumah ini bukan sekadar tempat tidur. Struktur panggung mencerminkan fungsi ganda: menghindari banjir, binatang seperti ular, dan memberi ruang bawah panggung untuk menyimpan peralatan—sebuah hubungan praktis antara manusia dan alam. Kulit kayu sebagai dinding memungkinkan sirkulasi udara dan menciptakan suhu yang nyaman di iklim tropis—atap nipah tahan panas dan mudah diperbaiki.

Filosofinya sederhana namun dalam. Manusia hidup bersama alam, dan rumah adalah titik temu antara spiritualitas, sosialitas, dan pragmatisme. Jumlah rumah yang tujuh juga—dalam banyak tradisi—mewakili keteraturan komunitas. Di Gebong Memarong, susunan rumah memfasilitasi interaksi kolektif, ritual, dan tanggung jawab bersama.

Gebong Memarong, Perjalanan Singkat ke Rumah Leluhur
Rumah Memarong saat malam/Ramsyah Al Akhab

Ritual Tradisional

Di salah satu papan informasi yang terpajang di kampung, tertulis beberapa ritual penting Mapur Dangkel. Yang paling berkesan bagi saya adalah nujuh jerami, upacara syukur panen yang dilakukan untuk memohon berkah dan melindungi hasil bumi. 

Selain itu ada ritual lain seperti berume (permohonan izin membuka ladang), menimang (ritual tanam padi pertama), dan naber (ritual menolak bala). Di papan itu juga diterangkan tentang matic, upacara kematian Mapur. Prosesnya unik. Jenazah dimandikan berkali-kali, dikafani dengan elemen khusus, dan diberi tanda tertentu sebagai panduan roh.

Kepercayaan pada penunggu, makhluk penguasa alam, dan aturan meminta izin sebelum mengambil dari alam muncul berulang kali dalam penjelasan plang. Itu bukan takhayul semata, melainkan cara etis menjaga sumber daya bersama.

  • Gebong Memarong, Perjalanan Singkat ke Rumah Leluhur
  • Gebong Memarong, Perjalanan Singkat ke Rumah Leluhur
  • Gebong Memarong, Perjalanan Singkat ke Rumah Leluhur
  • Gebong Memarong, Perjalanan Singkat ke Rumah Leluhur

Ekonomi Lokal dan Alasan Gebong Memarong Penting

Selama berkeliling saya melihat banyak kerajinan: topi dari kulit kayu, anyaman suyak, bubu (perangkap ikan), keranjang, dan berbagai alat rumah tangga. Kerajinan-kerajinan ini dipamerkan dan juga dijual—membuka peluang ekonomi lokal yang mempertahankan teknik tradisional. Membeli sebuah suyak atau topi bukan hanya soal estetika. Itu membantu keberlangsungan pengetahuan tangan yang diwariskan.

Di dalam rumah saya melihat rak-rak berisi alat dapur tradisional, tangkai-tangkai anyaman, dan peralatan pertanian. Bawah rumah sering dipakai menaruh peralatan yang berat atau yang mudah rusak jika diletakkan di tanah yang lembap. Semuanya tersusun dengan logika praktis dan kebijaksanaan lokal.

Saya pulang Minggu siang—meninggalkan balai, rumah-rumah panggung, dan tawa orang yang masih berkumpul di pekarangan. Di motor saya membawa beberapa suvenir anyaman dan kenangan: rasa cukup, pelajaran tentang keseimbangan, dan hormat baru pada bentuk hidup yang sederhana. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi. Bukan karena sepi, melainkan karena ada sesuatu yang saya bawa lebih berat. Refleksi tentang bagaimana kearifan lokal bisa jadi penawar pada laju hidup yang serba cepat.

Gebong Memarong adalah lebih dari koleksi rumah adat. Ia adalah laboratorium hidup yang menolak reduksi budaya menjadi artefak. Di situ saya menemukan bahwa rumah, ritual, crafts, dan cara berbicara dengan alam membentuk satu jaringan makna. Bagi saya, perjalanan singkat itu membuka kembali kemungkinan, bahwa kita masih bisa tinggal di warisan leluhur—bukan sebagai tamu pasif, melainkan sebagai pewaris yang siap merawat.


Referensi:

ANTARA. (2025, 22 Agustus). PT Timah dorong ekonomi dan wisata Kampung Adat Gebong Memarong. Antaranews.com, https://m.antaranews.com/berita/5057969/pt-timah-dorong-ekonomi-dan-wisata-kampung-adat-gebong-memarong.
Hardyanti & Anggara, B. (2025). Sustainable tourism development combining health and culture as a local community-based wellness tourism attraction in Gebong Memarong Traditional Village, Airabik, Bangka Regency. Journal of Tourism Sustainability, 5(2), 124–132, https://doi.org/10.35313/jtospolban.v5i2.142.
Jadesta. Desa Wisata Gebong Memarong. Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata, https://jadesta.kemenpar.go.id/desa/gebong_memarong.
PT Timah. (2022, 6 September). Gebong Memarong Traditional Village, keeping the tradition of the Lum people in Air Abik hamlet. https://timah.com/news/post/gebong-memarong-traditional-village-keeping-the-tradition-of-the-lum-people-in-air-abik-hamlet.html.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ramsyah Al Akhab

Ramsyah Al Akhab tinggal di Pangkalpinang. Kalau lagi senggang, suka membaca buku, menulis dan jalan-jalan (traveling) untuk mencari tempat baca buku dan menulis.

Ramsyah Al Akhab tinggal di Pangkalpinang. Kalau lagi senggang, suka membaca buku, menulis dan jalan-jalan (traveling) untuk mencari tempat baca buku dan menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Mengunjungi Museum Perkebunan Indonesia (Musperin-2) di Medan