“Buku itu bukan obat tidur, tapi obat agar pikir dan kebijaksanaan kita terus bertumbuh, maka cintailah membaca! Dan ia akan menyempurnakan hidup kita.” — M. Riza Perdana Kusuma
Tidak pernah terbayangkan dalam benak seorang M. Riza Perdana Kusuma, yang sudah berkarier mapan di BUMN selama puluhan tahun, memilih resign dan pulang ke tanah kelahiran untuk membangun Narapuspitan Library & Public Space di lingkungan perdesaan Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari yang duduk di kursi direksi perusahaan-perusahaan besar negara, seperti Garuda Indonesia, Angkasa Pura Solusi, dan Indonesia Ferry Property; menjadi pengelola ruang baca untuk publik di Karangrejek, sebuah dukuh asri yang berjarak sekitar 500 meter dari Jalan Lingkar Selatan Wonosari.
Lompatan-lompatan karier telah dialami oleh alumni S-1 Manajemen Universitas Islam Indonesia dan S-2 Manajemen Universitas Indonesia itu. Sampai menginjak usia ke-46, ia memutuskan untuk mencukupkan diri sebagai petinggi BUMN dan melanjutkan kehidupan baru, yang mungkin menjadi idaman bagi sebagian besar orang. Tidak hanya sukses secara profesi, tetapi juga punya keberanian untuk mengambil peran baru di tengah komunitas.

Mimpi besar di era pandemi
Tahun 2020–2022, gelombang pandemi COVID-19 melanda banyak negara di dunia, tak terkecuali Indonesia. Pandemi ini tidak hanya melumpuhkan kesehatan masyarakat, tetapi juga denyut perekonomian di sebagian besar lini, dari skala raksasa hingga mikro. Di tengah gejolak pandemi, Riza dan Puspita, istrinya yang berlatar belakang teknik sipil, merancang ‘dunia baru’ yang kontras—dalam arti positif—di Karangrejek.
Mereka memermak rumah-rumah kavling milik keluarga istri, yang mulanya vila keluarga, menjadi kediaman baru berarsitektur Jawa, bersanding dengan perpustakaan Narapuspitan yang berkonsep industrial. Meski tidak memiliki latar belakang seni, tetapi sentuhan-sentuhannya tetap terasa nyeni dan filosofis. Nama Narapuspitan merupakan gabungan nama anak keduanya, Nara, dan Puspita, sang istri.
Beberapa aksesoris atau ornamen tambahan di dalam perpustakaan didatangkan langsung saat Riza dan keluarga jalan-jalan ke luar negeri, seperti lampu mosaik khas Turki dan rak buku yang terinspirasi dari perpustakaan di Edinburgh, Inggris. Riza memiliki mimpi besar untuk mendekatkan buku-buku ke khalayak lebih luas. Baginya, buku bukan cuma jendela dunia, tetapi pintu dunia yang membawa pembacanya menuju kedalaman ilmu pengetahuan dan pengalaman hidup.
Narapuspitan sejatinya ikut menggenapi geliat literasi yang sedang tumbuh pesat di Yogyakarta dan sekitarnya. Toko-toko buku independen seperti Buku Akik, Solusi Buku, Nathan Bookshop, dan Akal Buku, punya karakter yang tidak kalah menarik dengan toko buku mayor seperti Gramedia dan Togamas. Bahkan di Desa Candirejo, Borobudur, taman baca Melek Huruf telah banyak menggelar program literasi lewat Pekan Buku Magelang dalam 2,5 tahun terakhir. Ini belum menghitung acara-acara diskusi, bedah buku, dan kegiatan literasi lainnya di tingkat sekolah maupun kampus.
Namun, kehadiran Narapuspitan di Gunungkidul seakan menjadi standar perpustakaan baru yang autentik, segar, dan estetik. Riza menyebut perpustakaannya sebagai Spirit Indonesia Pintar. Tanpa bermaksud mengurangi apresiasi kepada Perpustakaan Daerah (Perpusda) Gunungkidul, jam operasional yang lebih panjang dan fleksibel serta kedalaman koleksi yang beragam, membuat Narapuspitan lebih memikat pengunjung ketimbang perpustakaan daerah yang beroperasi mengikuti jam kerja PNS. Senin–Jumat buka delapan jam sehari, Sabtu dan Minggu libur. Sementara anak-anak sekolah, mahasiswa, bahkan pengunjung umum mungkin lebih memiliki waktu di luar jadwal konvensional khas dinas-dinas pemerintahan.
Mimpi besar Riza tidak berhenti sampai di Narapuspitan dan Karangrejek. Saat ini, pendiri Indonesia Leadership School itu juga sedang dalam tahap membangun perpustakaan baru bernama Kinan Library—diambil dari nama anak pertama—di Jalan Ireda, Keparakan, Kota Yogyakarta. Kelak perpustakaan ini akan memiliki segmentasi khusus dan lebih high class, dengan kewajiban keanggotaan dan ribuan buku bernilai lebih tinggi dari koleksi buku miliknya di Narapuspitan. Riza juga akan bekerja sama dengan SMA Praxis Yogyakarta untuk mendirikan sekolah alternatif berbasis STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics), mengisi peran pendidikan untuk mencetak generasi muda yang kritis, berpikiran terbuka, dan kreatif.
Setidaknya untuk saat ini, Riza dan istri telah menitis jiwa Narapuspitan kepada generasi penerus mereka—Kinan dan Nara—yang tumbuh besar ditemani buku-buku fiksi dan nonfiksi, dengan kekayaan cerita dan ilmu pengetahuan. Sebuah ‘privilese’ dan warisan tak ternilai yang jadi bekal baik untuk keduanya di masa depan.


Punya koleksi 6.000 bacaan hingga ruang pameran
Menurut Riza, Narapuspitan mulanya didirikan sebagai tempat aman untuk menyimpan ribuan koleksi buku pribadinya, yang ia kumpulkan sejak kuliah sampai bekerja di korporasi nasional. Total ia telah mengumpulkan sekitar 6.000 buku beragam tema, antara lain agama, biografi, novel, hingga pengembangan diri.
Sebagai pelengkap, perpustakaan ini memiliki kios buku mini yang menjual buku-buku terbitan Bentang Pustaka, Yayasan Obor, dan penerbit independen lainnya yang bekerja sama dengan Narapuspitan. Di sudut toko, terdapat etalase mini untuk menjajakan produk-produk kerajinan tangan UMKM lokal, seperti buku jurnal, serta gelas dan tumbler berbahan bambu.
Namun, seiring waktu bertumbuh, ketika ide-ide kreatif di dalam otak mengalir deras, maka jadilah Narapuspitan seperti yang dikenal saat ini. Ia menjelma lebih dari sekadar ruang baca, menjadi pusat gerakan kolektif untuk peningkatan literasi, kesehatan mental, dan pikiran-pikiran kritis di tengah kebijakan-kebijakan negara yang serba membingungkan akhir-akhir ini.
Riza berharap Narapuspitan menjadi ruang publik untuk membaca buku, mengerjakan tugas-tugas kuliah, kegiatan komunitas, bahkan pameran seni. Selain rak-rak buku, ia juga menyediakan public space di sayap timur perpustakaan untuk pameran, lokakarya, maupun sesi diskusi. Di area outdoor yang teduh dengan aneka pepohonan, terdapat amfiteater mini yang bisa dimanfaatkan sebagai ruang berbagi apa pun.
Untuk meramaikan Narapuspitan, Riza dan istri dibantu tim pustakawan menyelenggarakan beberapa kegiatan. Sebagai contoh, merilis klub buku ‘Read n Talk’ yang mengajak peserta membedah buku dan diskusi bersama. Kemudian yang spesifik adalah menggelar agenda “Bulan Kesehatan Mental Narapuspitan: Merawat Kesehatan Mental, Merawat Harapan”, yang bulan ini telah memasuki batch ke-4. Melalui wadah ini, Riza dan sejumlah praktisi yang dihadirkan akan melatih dan mengarahkan individu maupun profesional untuk memulihkan diri dari tekanan hidup dan karier, agar tetap menjaga keseimbangan hidup.
Memantik potensi ekonomi lokal Padukuhan Karangrejek
Di dinding samping kediaman Riza dan keluarga, hanya terpisah gang kecil dengan Balai Dukuh Karangrejek, terpampang peta potensi wisata Padukuhan Karangrejek. Sebuah papan informasi, yang bahkan mungkin belum pernah terpikirkan para perangkat desa dan penduduk Karangrejek akan menyokong perekonomian desa melalui pariwisata dan UMKM.
Riza menyadari, kehadiran Narapuspitan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga harus bisa memberi manfaat untuk kampung. Sejak pembukaan yang dihadiri seribu lebih pengunjung, tamu undangan, dan kolega pada April 2025 lalu, setidaknya Riza telah turut merecik sejumlah inisiatif. Mulai dari membantu pengelolaan puluhan homestay sederhana milik warga sesuai standar, menata satu-satunya rumah kampung—sejenis limasan berarsitektur vernakular Jawa yang tersisa—menjadi tempat makan Mulih Mangan dengan kuliner ndeso dan melalui reservasi terbatas, hingga menghidupkan lagi industri rumahan perajin tempe garit khas Gunungkidul.
Narapuspitan juga terkoneksi dengan kedai kopi Nwa Nwa yang menjadi tetangga persis di timur perpustakaan. Kedai kopi ini buka selepas magrib. Pengunjung Narapuspitan bisa memesan kopi dan kudapan melalui jendela khusus di dinding yang menjadi sekat kedua bangunan. Namun, makanan dan minuman yang dipesan hanya boleh dikonsumsi di area terbatas dekat selasar luar mengarah ke amfiteater. Pengunjung dilarang makan dan minum di area baca.
Ekonomi lokal Karangrejek turut terkerek seiring kerapnya Riza kedatangan rombongan tamu berjumlah besar, kebanyakan lembaga dan kolega Riza dari ibu kota, yang melakukan kegiatan outing di dukuh tersebut. Riza mengaku, ia hanya menjadi jembatan dan tidak mengambil keuntungan bisnis dengan masyarakat. Barangkali, kiprahnya kini sebagai praktisi kesehatan mental, konsultan manajemen perusahaan, serta penulis buku dan pembicara profesional, membukakan jalan rezeki yang baru dan tidak terikat dengan jam kerja kantor seperti sebelumnya. Narapuspitan menjadi napas baru untuk menjaga nyala semangat menjalani hidup meski usianya sudah menginjak setengah abad.
Geliat literasi di Narapuspitan dan wisata khas desa yang saling terintegrasi di Karangrejek seperti oase baru bagi Gunungkidul. Selama ini, kabupaten yang berdiri di atas tanah karst Gunung Sewu tersebut telah masyhur dengan wisata pantai, gua, air terjun, dan destinasi wisata kelas dunia seperti Gua Pindul dan Nglanggeran.
Bagi Anda yang sedang di Jogja, atau merencanakan liburan ke Jogja, masukkan Narapuspitan Library & Public Space ke dalam daftar tujuan. Jika tidak ingin berlelah-lelah menembus kepadatan lalu lintas menuju pantai selatan Gunungkidul di akhir pekan, alangkah baiknya menghabiskan waktu dengan membaca buku, menulis, dan bersantai di Narapuspitan. Atau, coba juga membuat program residensi pribadi selama beberapa hari. Siapa tahu, akan ada karya baru yang lahir dari ruang nyaman Narapuspitan.
Khusus di bulan Ramadan tahun ini, Narapuspitan buka sejak pukul 5 pagi dan tutup pukul 5 sore. Sebelum ke sini, pastikan mengecek akun Instagram narapuspitanlibrary terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi terbaru tentang peraturan kunjungan, jadwal klub bedah buku “Read n Talk”, kelas kesehatan mental bulanan, lokakarya, dan kegiatan seru lainnya.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.







MashaAllah. Seperti biasanya Rifqy selalu berhasil menata diksi yang mudah untuk dipahami dengan selaras nada yang indah merasuk jiwa. Annie Nugraha Mediatama (ANM) dan Pondok Antologi Penulis Indonesia (PAPI) bangga bisa bergabung di NARAPUSPITAN Library mulai awal tahun ini. Semoga kerja sama ini menjadi jejak berharga bagi ANM dan PAPI dalam membangun networking yang valuable ke depannya.
Secara pribadi, saya juga ingin datang dan bertamu langsung di sini. Merasakan sebuah lingkungan yang makin menambah rasa cinta pada buku dan dunia literasi. Duduk menyesap kopi, membuka buku, berdiskusi, dan menghadirkan sekian banyak letupan semangat agar tak henti berharap dan bermimpi untuk memiliki tempat sejenis. Semoga Dia berkenan mengabulkan.