Mengapa harus Baturraden? Mengapa tidak Bambangan, Dipajaya, atau Permadi Guci saja, yang lebih ramah dengkul?
Pertanyaan-pertanyaan itu terlontar setelah saya sampaikan rencana pendakian Gunung Slamet ke sejumlah kawan dan sahabat di sebuah grup WhatsApp. Bagi orang yang pernah mendaki gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Semeru, nama Baturraden adalah ‘momok’. Vegetasi khas hutan tropis begitu rapat, lembap, trek panjang dan terjal, hingga potensi perjumpaan dengan satwa liar endemik, yang sebagian spesies tidak kita harapkan untuk bertemu tatap muka.
Itulah sebabnya jalur Baturraden sepi peminat. Singkatnya, jalur ini tidak cocok bagi pendaki yang waktu luangnya terbatas, atau mengejar puncak sebagai sebuah pencapaian. Di era seperti sekarang, ketika pendakian telah menjadi kegiatan sensasional atau bagian gaya hidup, Baturraden adalah pilihan teratas kami yang rindu kesunyian hutan, jauh dari kebisingan rutinitas pendakian akhir pekan (untuk panduan pendakian lebih lengkap silakan baca di sini).

Dari pilihan jalur yang ada, saya memilih Baturraden Lestari. Jalur ini menyusul dua jalur klasik lainnya di kawasan Baturraden, yaitu Baturraden Lama (Jalur Juang) dan Baturraden Baru (Raden Pala). Bedanya, Baturraden Lestari dikelola oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Wana Karya Lestari dengan skema perhutanan sosial. LPHD Wana Karya Lestari mengelola kawasan hutan desa seluas 247 hektare, yang mendapat pengesahan Kementerian Kehutanan sejak 18 September 2023. Pengakuan hutan desa ini diperjuangkan sejak tahun 2006–2007.
Saat kebanyakan pengembangan wisata alam terlalu berorientasi cuan, Daryono, ketua LPHD Wana Karya Lestari beserta anggota pengurus, mengerem ambisi itu. Mereka percaya, alam memberi manfaat lebih dari yang dibayangkan jika dijaga dan—sesuai namanya—dilestarikan. Sejumlah pos bahkan diberi nama lokal burung endemik Gunung Slamet untuk mengabadikan jejaknya di ekosistem. Komitmen inilah yang memotivasi kami mendaki Gunung Slamet via Baturraden Lestari selama 3 hari 2 malam, 19–21 Juli 2025. Tim pendakian kali ini beranggotakan lima orang, yakni saya dan Lucky (Magelang), Evelyne (Purbalingga), Eko (Pemalang), dan Muh (Bogor).
Di tengah cuaca yang tak menentu, langit biru nyaris tanpa awan menyertai langkah awal kami dari Base Camp Baturraden Lestari, Desa Kemutug Lor, Kabupaten Banyumas. Dari base camp yang terletak di ketinggian 613 meter di atas permukaan laut (mdpl), kami menyewa ojek menuju gerbang awal pendakian di dalam kawasan wisata Kebun Raya Baturraden (770 mdpl). Angka ini sudah memberi gambaran gamblang betapa beratnya jalur ini.

Jenggala Slamet, bagaikan dunia yang berbeda
Dari keterangan Daryono, hari itu ada tiga tim yang naik via Baturraden Lestari. Pertama, rombongan asal Kebumen yang sudah naik lebih pagi dari kami. Kabarnya, mereka akan bablas langsung ke Pos 7 Simbar Angin, area camp aman terakhir di jalur ini. Kedua, rombongan mahasiswa pencinta alam dari Purwokerto yang sedang kegiatan diklat, mereka tidak ada misi ke puncak. Ketiga, kami, yang tampaknya secara sadar diri sudah memandang Pos 4 Katik sebagai target realistis untuk pendakian hari pertama.
“Kalau langsung ke Pos 7 paling sekitar 7–8 jam perjalanan normal,” kata Daryono, “tapi kalau sampai Pos 4 sudah sore, lebih baik di camp di Pos 4 saja.”
Di jalur ini, ada tiga pos yang memiliki sumber air, yaitu Pos 2 Sintok, Pos 4 Katik, dan Pos 7 Simbar Angin. Ketiganya berada pada satu aliran sungai yang sama, hanya saja Pos 4 lebih stabil karena juga menjadi jalur pipa air. Saat kemarau, debit sumber air di Pos 7 akan menyusut drastis.
Kami memulai pendakian dari titik nol pukul 9 pagi. Trek awal berupa jalan setapak di antara rerumputan basah di pinggiran hutan pinus, lalu berpindah punggungan setelah menyeberangi sungai kecil. Medan pendakian menuju Pos 1 Percit relatif bersahabat dan minim tanjakan, meski jarak cukup panjang (2,7 kilometer). Kami tiba di Pos 1 (1.085 mdpl) sekitar pukul 10.20. Di sini kami rehat sejenak sekitar 10 menit untuk duduk dan ngemil sebelum melanjutkan pendakian.
Menuju Pos 2 Sintok (1.241 mdpl) yang berjarak satu kilometer, kami mulai menyapa tanjakan-tanjakan tipis yang lumayan buat memanaskan “mesin” otot-otot kaki. Tutupan jenggala mulai rimbun dan terasa lembap. Saking rapatnya kanopi, sejumlah ruas jalur masih basah, berlumpur, dan licin karena tak tertembus cahaya matahari. Kami melihat aneka pohon tua yang tampak lestari karena jarang terjamah manusia.
Suasana hutan di jalur Baturraden Lestari mengingatkan saya pada jalur hutan lumut yang panjang di Gunung Argopuro, Jawa Timur. Teduh, sejuk, memanjakan mata dengan hijaunya tanaman semak dan pepohonan, serta terasa sakral. Serasa berada di dunia yang berbeda, yang kadang-kadang saya sendiri tidak menyangka tempat seperti ini ada di bumi. Betapa magisnya hutan jika terawat dan lestari.
Sejam kemudian kami tiba di Pos 2. Di sini kami memulihkan energi dengan makan camilan dan buah, serta mengisi ulang persediaan air. Sumber air Pos 2 berupa kali kecil, sekitar 30 meter di sisi kiri jalur pendakian. Kami beristirahat lebih lama, hampir 20 menit. Sebab, mengacu peta pendakian, trek ke Pos 3 Bongkrek (1.660 mdpl) merupakan yang terpanjang dan terberat di jalur ini. Jaraknya mencapai 2,8 kilometer dengan elevasi lebih dari 400 meter.
Sudah lebih dari 1,5 jam berjalan, tetapi Pos 3 belum tampak. Kami harus mempertebal kesabaran untuk meniti satu per satu tapak setiap tanjakan. Di tengah berjalan dengan napas ngos-ngosan—kami semua begitu—Lucky menceletuk, “Kayaknya kita camp di Pos 4 saja, deh. Edan ini jalurnya.”
Maka, begitu tiba di Pos 3 Bongkrek yang sangat sempit sebagai tempat istirahat, spontan kami mendudukkan diri ke permukaan tanah dengan carrier masih melekat di badan. Tidak ada sumpah serapah setelah melewati tanjakan-tanjakan gila barusan, hanya ada sepatah dua patah kata keluhan bernada sopan yang terucap. Seperti “gila, jalurnya panjang banget” atau “mantap!”, yang disimbolkan dengan acungan jempol dan kepala geleng-geleng. Di pos ini, kami menebus tenaga yang hilang dengan makan siang nasi kuning yang dibeli Evelyne di Purbalingga. Pada titik ini, saya merasa usulan Lucky menjadi masuk akal. Walaupun secara matematis masih memungkinkan untuk berkemah di Pos 7, tetapi tubuh dan pikiran menunjukkan perlawanan. “Aku setuju kita camp di Pos 4 saja. Konsekuensinya, ke puncak masih sangat jauh. Tapi daripada kemalaman di jalan.” Sesuai dugaan, semua sepakat.

Tanjakan demi tanjakan masih kami lalui menuju Pos 4 Katik, meski tidak separah sebelumnya. Kami tetap menjalaninya dengan tabah, dan sedikit ceria, karena perjalanan hari pertama ini akan kami sudahi di Pos 4. Tidak ada lagi bayang-bayang kekhawatiran menyusuri jalur dalam keheningan malam yang melelahkan.
Setelah berjalan hampir 45 menit dari Pos 3, dengan langkah agak tertatih, plang Pos 4 Katik akhirnya benar-benar terlihat di depan mata. Area camp ini ideal buat berkemah karena dekat sumber air, tetapi memang tidak terlalu luas. Saya melihat arloji digital yang melingkar di pergelangan tangan kiri, sudah pukul 15.40. Tidak ada siapa pun di sini. Rombongan asal Kebumen sudah melesat jauh tak terkejar menuju Pos 7.
Sebelum menurunkan carrier, saya mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi kamera, dan memotret plang yang disangga tiang besi bercat hitam itu. Tertera nama Pos 4 Katik (1.839 mdpl), titik koordinat, dan sedikit informasi tentang nama pos ini. Katik adalah nama lokal dari jenis burung yang bulunya dominan hijau dari kelompok merpati (Columbidae), yang perannya sangat penting sebagai penyebar biji di ekosistem hutan.
Begitu napas sudah tertata, kami segera membongkar carrier dan mendirikan tenda. Malam ini, kami menjadi satu-satunya rombongan yang camp di Pos 4.

Di Baturraden, menuju puncak berarti mencoba peruntungan
Kami start ke puncak sekitar pukul 2 dini hari. Waktu yang lazim sebenarnya untuk memulai summit, umum di beberapa gunung dengan trek yang berat, seperti Semeru, Arjuno, dan Rinjani. Tapi masalahnya, jarak ke puncak masih sekitar 4 kilometer lagi, dengan elevasi 1.500-an meter vertikal yang masih harus ditempuh. Kami menyadari, ini bukan perjalanan berdurasi 2–3 jam saja, tetapi bisa dua kali lipat lebih lama.
“Kayaknya aku cuma sampai Pos 7 saja, deh,” celetuk Lucky, yang diamini Eko. Keduanya ngantuk berat. Pun saya, Muh, dan Evelyne.
Meski sudah merasa cukup istirahat, tetapi rasa-rasanya trek panjang dari pintu hutan ke Pos 4 kemarin masih menyisakan lelah. Oleh karena itu, setibanya di Pos 5 Kantong Semar (2.050 mdpl) dan Pos 6 Kuda-kuda (2.298 mdpl), yang masing-masing berjarak kurang lebih 40–45 menit antarpos, kami selalu menyempatkan istirahat agak lama. Duduk di atas tanah dengan rumput yang sedikit basah karena embun, mengatur ulang napas sambil memejamkan mata barang sejenak.

Sebab, sesuai dugaan, jalur ke Pos 7 Simbar Angin (2.695 mdpl) kian terjal. Kami baru tiba di area camp yang sempit ini pukul 6 pagi. Hari sudah terang, kanopi hutan perlahan terbuka. Dua tenda dome rombongan Kebumen itu kosong. Mereka sudah summit, yang lebih dekat jaraknya ke puncak daripada kami yang berjalan terengah-engah selama empat jam, tetapi baru sejauh ini. Kami tidak membayangkan andaikata kemarin memaksakan naik ke Pos 7 dengan membawa beban carrier penuh muatan. Bisa-bisa saja kami tetap sampai di Simbar Angin. Namun, Daryono tidak menyarankan perjalanan malam di hutan serapat Baturraden karena berisiko tinggi.
Alih-alih menyusul anak-anak Kebumen, saya kemudian mengajak teman-teman sarapan terlebih dahulu. Di petak tanah datar sempit agak jauh dari tenda, Eko membuka lembaran footprint dan matras alumunium untuk alas duduk. Kami membuka perbekalan yang tersimpan di kotak-kotak makanan. Roti selai hazelnut, ubi, telur rebus, dan buah anggur memulihkan energi dan menghangatkan tubuh yang agak menggigil karena angin pagi berembus cukup kencang di area pos Simbar Angin.
Di Pos 7 inilah, kami kemudian terbagi dua tim. Lucky dan Eko memutuskan kembali ke Pos 4 untuk istirahat, sedangkan saya, Muh, dan Evelyne mencoba lanjut ke arah puncak. Kami tidak sedang menegosiasikan peruntungan, tetapi ingin mencoba berjalan lebih jauh. Sejauh apa hutan di jalur ini menemui ujung, setinggi apa kami bisa berdiri.

Batas vegetasi, batas diri
Di atas Pos 7, mulanya kami menyusuri lorong panjang yang terbentuk alami dari ranting-ranting pohon-pohon di sekitarnya. Tanaman perdu setinggi betis tumbuh rapat nyaris menutup jalur yang sempit. Elevasi bertambah, memaksa telapak kaki menekuk mengikuti kontur, memberi tekanan lebih pada otot-otot kaki untuk menjaga keseimbangan.
Beberapa kali kami menghentikan langkah, menginginkan jeda di antara belasan atau puluhan langkah. Jeda sejenak menikmati cahaya matahari yang menembus sela-sela pepohonan. Bias ray of light yang terpancar terasa magis. Tidak ada pendaki lain selain kami. Anak-anak Kebumen mungkin sudah tiba di puncak, sedangkan Lucky dan Eko tak lama lagi akan tiba di tenda. Hanya ada tiupan napas yang berkabut di suhu rendah, obrolan sekenanya, dan kicau burung yang mengisi keheningan. Suasana yang bertahan sampai kami tiba di Pos 8 Cantigi (2.963 mdpl) pukul 9 pagi. Tempat datar yang tidak terlalu luas ini ditumbuhi banyak cantigi atau beri gunung (Vaccinium varingifolium) dan edelweis.
“Sudah cukup atau masih mau coba lanjut lagi?” tanya saya memastikan. Muh dan Evelyne memberi sinyal aman. Agar cukup perhitungan, saya juga memberi ultimatum, “Kalau sampai jam 10 siang kita belum sampai puncak, atau di mana pun itu, kita harus balik ke camp supaya tidak kesorean.”

Kurang lebih sejam dari Pos 8, lapisan batuan khas gunung berapi mengubah jalur pendakian saat kami mendekati batas vegetasi atau Plawangan (3.092 mdpl). Medan menjadi sangat terbuka, langit biru dan matahari seolah-olah hanya sejengkal di atas kepala. Sisa-sisa vegetasi hutan bertahan di punggungan-punggungan cadas, tak lagi menyemut di jalur menuju puncak.
Seratus meter di depan kami, selembar plat besi bertopang dua tiang penyangga memberi pesan yang jelas: BATAS AMAN PENDAKIAN, DILARANG MELINTAS. Saya kembali mengecek arloji, sudah pukul 10.20. Meski suhu masih terasa sejuk, terik matahari semakin menyengat. Batu-batu yang berserakan terasa panas dan bisa membakar kulit jika terlalu lama berjalan di area ini.
Sudah 8 jam lebih kami berjalan dari Pos 4. Meski ujung jalur tampak di depan mata, berupa dinding raksasa yang mengelilingi kawah Gunung Slamet, tapi saya yakin jarak 500 meter ke puncak 3.428 mdpl belum tentu bisa digapai dalam waktu satu jam. Meski cuaca hari ini diperkirakan cerah dan di atas kertas akan aman jika lanjut ke puncak, belum tentu fisik kami mumpuni untuk perjalanan turun. Perbekalan pun mepet. Di sisi lain, plang batas pendakian bukan sekadar hiasan, melainkan juga peringatan penting demi keselamatan pendaki.
“Kita cukupkan sampai di sini pendakian kita. Lebih baik turun dan sampai di tenda saat hari masih terang,” usul saya, yang disetujui Muh dan Evelyne.

Rombongan Kebumen menyusul kami dalam perjalanan turun. Kami sempat saling sapa dan mengobrol sebentar di Plawangan. Kata mereka, puncak dari Baturraden bertemu dengan jalur Permadi Guci. “Meski Permadi Guci lebih terjal dan batu-batunya labil, tapi masih enak karena ada bantuan tali buat muncak. Kalau di sini tidak ada dan harus pilih jalur sendiri yang aman buat ke puncak,” katanya.
Sebulan sebelum lewat Baturraden Lestari, saya pernah mencoba Permadi Guci, dan sama-sama memilih tidak melanjutkan ke puncak. Dari pengalaman yang ada, jika ingin mengejar puncak lebih efisien lewat Bambangan dan Dipajaya yang membeludak saat akhir pekan—keduanya bertemu di satu jalur antara Pos 2 dan Pos 3. Namun, seperti saya katakan di awal, jalur Baturraden Lestari cocok buat pendaki yang merindukan kedamaian hutan. Syaratnya, mendaki 3 hari 2 malam.
Seperti yang kami lakukan. Tak ada yang lebih melegakan selain menikmati malam kedua dengan makan dan tidur enak, tanpa harus berjalan kedinginan di antara pekatnya malam.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Seorang penulis perjalanan, pemerhati ekowisata, dan Content Strategist di TelusuRI. Penikmat kopi. Gemar mendaki gunung demi gemintang, matahari terbit dan tenggelam.




