TRAVELOG

Monyet-Monyet Doyan Sampah di Petilasan Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga keberatan. Banyak sampah di sudut petilasannya. Hati-hati, para pembuang sampah sembarangan, boleh jadi “kutukan” masa lalu menyambar kalian. Mau jadi kera berikutnya?

Jika dulu, murid sang sunan mengacuhkan perintah untuk salat Jumat menjelma monyet, kini bisa saja manusia yang tak peduli keasrian lingkungan berubah wujud. Mungkin bukan bentuknya, tapi kelakuannya jadi binatang.

Kiranya mendiang Jane Goodall juga kesal, andai tahu kera ekor panjang (Macaca fascicularis) penghuni hutan petilasan, menyantap remahan sampah yang menumpuk. Kalau masih hidup, Jane sang ahli primata, pasti tertarik meneliti jumlah monyet di sana, yang dipercaya selalu genap 40 ekor—tak bertambah atau berkurang. Sumber lain menyebut ada seratusan monyet.

Sayangnya, walau tinggal di situs cagar budaya nasional, kera-kera itu kurang perhatian dari aspek ketersediaan pakan alami maupun pengamatan populasinya. Kehadiran peneliti bisa menjawab rasa penasaran publik selama ini, apa benar jumlahnya segitu terus?

Monyet-Monyet Doyan Sampah di Petilasan Sunan Kalijaga
Monyet mejeng di atas pagar bata berlumut di pendopo petilasan Sunan Kalijaga/Mochamad Rona Anggie

Magnet Wisata Religi

Jumat pagi (19/12/2025), saya bersama keluarga main ke petilasan Sunan Kalijaga. Kawasan ini merupakan Pedukuhan Kalijaga, ketika dulu Raden Said babat alas untuk membuat tajug sekaligus sumur. Nama Kalijaga melekat padanya sebagai salah satu wali sanga.

Zaman berganti, petilasan yang dikelilingi hutan lebat tersebut kini menjadi magnet wisata religi di Jawa Barat. Ada di Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, pelancong luar kota dan warga sekitar kerap menyambangi kompleks penyebaran agama Islam periode akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16.

Pada masanya, petilasan yang dilintasi sebuah sungai itu merupakan salah satu pusat dakwah sembilan wali di pantai utara Jawa bagian barat. Aktivitas keagamaan dan budaya di tempat ini berpadu dengan padepokan Sunan Gunung Jati di kaki Gunung Sembung, sekitar 20 kilometer ke arah utara.

Tak heran jika para peziarah dari banyak daerah memasukkan Petilasan Sunan Kalijaga dalam daftar kunjungan “Ziarah Wali Songo”, walau makam Raden Said ada di lokasi lain. Menunjukkan ikatan histori yang kuat antara manusia modern dengan situs warisan leluhurnya.

Monyet-Monyet Doyan Sampah di Petilasan Sunan Kalijaga
Masjid Kramat rintisan Sunan Kalijaga yang sudah dipugar/Mochamad Rona Anggie

Masjid dan Sumur Tua

Area masuk petilasan tidak terlalu luas. Hanya mampu menampung tiga bus. Kalau mobil pribadi membludak, bisa parkir pinggir jalan yang terhubung dengan Bandara Cakrabuana dan Terminal Harjamukti.

Titik parkir motor agak ke dalam, dekat halaman Masjid Kramat Sunan Kalijaga. Begitu pengunjung datang, monyet spontan “menyerbu”. Waspada barang bawaan, jangan sampai digasak monyet.

Kita boleh memberi mereka kacang atau buah-buahan. Bisa membeli di warung setempat. Suasana seru saat monyet bersamaan keluar hutan dengan suara riuh. Anak-anak bakal teriak dan cepat mencari perlindungan bunda. Antarmonyet kerap berebut makanan atau saling serang tanpa alasan yang kita mengerti.

Halaman Masjid Kramat Sunan Kalijaga tampak bersih. Pengelola rutin menyapu dan selalu mengingatkan turis buang sampah di tong. Masjid yang dikelola Keraton Kanoman ini, terakhir renovasi tahun 2022. Bangunan asli telah dipugar, demi kenyamanan jemaah. Menghindari risiko kayu penopang lapuk dan atap yang kian menua.

Sementara sumur peninggalan Sunan Kalijaga lima abad lampau, masih tegak di samping masjid. Sengaja diberi pagar pelindung—akses terbatas—guna mempertahankan keasliannya. Memandangi sumur ini, serasa waktu berputar ke masa silam, ketika bangsa Eropa berlomba menuju Nusantara demi mengincar rempah-rempah. Portugis mengawalinya, Belanda menyusul kemudian.      

Sayangnya, bagian samping dan belakang masjid masih satu area dengan pekuburan (keluarga dan kerabat keraton). Harusnya diberi dinding pembatas, demi menjaga kesahan ibadah salat sesuai syariat. 

  • Monyet-Monyet Doyan Sampah di Petilasan Sunan Kalijaga
  • Monyet-Monyet Doyan Sampah di Petilasan Sunan Kalijaga

Naik Atap Rumah 

Kami mengitari masjid menuju bagian belakang petilasan. Ada pemandangan unik: bila di halaman depan para kera cenderung agresif menyambut tamu, lain hal di sisi belakang. Terlihat monyet mencari kutu di tubuh pasangan, bayi monyet digendong sang induk, sekawanan lainnya balapan naik pohon dan atap rumah penduduk.

Sontak seorang warga keluar kediamannya dengan muka masam. Si bapak kemudian memungut batu, melempar monyet yang nangkring di genteng. Ada kalanya para monyet bosan main di hutan petilasan. Akhirnya berkejaran dan melompat sekehendak hati di atap-atap rumah.

Sementara monyet remaja asyik berjemur di atas pagar bata merah khas keraton. Mereka duduk berderet menyerap hangat sinar mentari pagi. Beberapa monyet memasang raut galak. Seringai taringnya pertanda kita mesti menjaga jarak. Saya tarik anak-anak supaya tidak terlalu dekat.

Monyet-Monyet Doyan Sampah di Petilasan Sunan Kalijaga
Tumpukan sampah liar di sekitar petilasan jadi tempat bermain dan “sumber” makanan monyet/Mochamad Rona Anggie

Bau Sampah Menyengat

Jalan kampung di sebelah selatan petilasan masih dipakai lalu-lalang warga. Di dekat situ ada sebuah jembatan yang sekelilingnya penuh sampah. Miris! Kawanan monyet mengais sisa makanan di tempat pembuangan sampah liar itu. 

Siapa menjamin monyet dewasa atau anak monyet tak menelan sampah plastik yang merajalela? Rupanya pembiaran terjadi. Semua menutup mata. Padahal, bau busuk menyeruak di antara lantunan doa dan zikir para peziarah.  

Masalah ini perlu atensi pihak terkait. Publik menanti kolaborasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon, guna mengatasi masalah tersebut.

Selain penanganan timbunan sampah, hendaknya dipikirkan pula langkah konkret agar tidak ada lagi yang buang sampah sekitar petilasan. Masak, sih, destinasi wisata sejarah yang kesohor di Nusantara ini dibiarkan kumuh dan kotor? 

Apa alasan kita, kalau Sunan Kalijaga meminta pertanggungjawaban? Apa perlu beliau berdoa lagi kepada Sang Pencipta, untuk menambah jumlah monyet di sana?


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelusuri Plang Jalur Evakuasi di Kota Cirebon