TRAVELOG

Melacak Jejak Makam Belanda dan Hunian Tuan Tanah di Boyolali

Awal tahun 2026, saya melakukan perjalanan ke kampung lawas Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Saya hendak melacak jejak keberadaan makam Belanda dan hunian tuan tanah di dua lokasi, yang saya duga berada di selatan pemandian keluarga Keraton Kasunanan, atau pemandian Tirtomarto dan Masjid Ciptomulyo. 

Sebelum perjalanan, saya melakukan riset data tertulis dan pemetaan lokasi. Meski lama, hal ini penting saya lakukan untuk menghindari kesalahpahaman dengan warga Pengging. Saya yakin dan memaklumi, tidak semua warga mengetahui dua lokasi yang akan saya eksplorasi.

Jika bertemu sesepuh, sungguh beruntung bisa berbagi cerita pengalaman. Berbeda jika bertemu mereka yang mengaku mengetahui, tetapi setelah dicari tahu, ternyata pendatang. Sumbernya cerita simpang siur yang masih sangat diragukan informasinya. Hal ini yang membuat saya menunda keberangkatan, hingga akhirnya memulai eksplorasi di Masjid Ciptomulyo Pengging. 

Melacak Jejak Makam Belanda dan Hunian Tuan Tanah di Boyolali
Cerobong bekas pabrik pewarna tekstil di timur kampung lawas Pengging/Ibnu Rustamadji

Pengging, Jejak Eksistensi Pesanggrahan Ngeksipurno

Merujuk peta keluaran Leiden tahun 1934, Pengging awalnya merupakan wilayah Buitenverblijf Ngeksipoerno atau Pesanggrahan Ngeksipurno. Meski begitu, pesanggrahan ini berumur lebih muda dari Pesanggrahan Pracimoharjo dan Pesanggrahan Selo. Menurut Heri Priyatmoko, Pesanggrahan Ngeksipurno dibangun tahun 1908 semasa Sunan Pakubuwana X.

Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Sunan Pakubuwana X mendirikan ketiga pesanggrahan sebagai rumah singgah ketika lawatan ke mancanegara kulon atau mancanegara barat. Istilah mancanegara mengacu pada wilayah di luar Karesidenan Surakarta, salah satunya Karesidenan Kedu. Sebagai rumah singgah raja, Pesanggrahan Ngeksipurno dilengkapi fasilitas pendukung, seperti masjid, alun-alun, dan pasar.

Satu fasilitas lain yang menarik adalah taman air di selatan Pesanggrahan Ngeksipurno. Layaknya Tamansari di Yogyakarta, pesanggrahan ini pun memiliki taman sari sendiri. Warga menyebutnya umbul atau kolam mata air Ngabean. Mata air tersebut dipercaya merupakan tempat sunan bermeditasi, berendam bersama permaisuri, dan bermunajat. Pesanggrahan Ngeksipurno di utara Umbul Ngabean kini menjadi Gedung Kapujanggan.

Melacak Jejak Makam Belanda dan Hunian Tuan Tanah di Boyolali
Tampak depan bekas Pesanggrahan Ngeksipurno di kampung lawas Pengging/Ibnu Rustamadji

Heri menambahkan, penamaan “Ngabean” merujuk pada istilah penyebutan bangsawan yang dalam dialek Jawa disebut ngabehi. Sehingga Umbul Ngabean berarti kolam mata air keluarga Keraton Kasunanan dan bangsawan. Abdi dalem dan pendamping bangsawan diperkenankan berendam di luar umbul.

Awalnya, umbul ini berupa mata air di antara bebatuan di bawah naungan pohon. Usai membangun Pesanggrahan Ngeksipurno, sunan lantas memerintahkan untuk melakukan pembangunan Umbul Ngabean sebagai taman air pesanggrahan. Umbul Ngabean lantas digunakan keluarga Keraton Kasunanan dan bangsawan hingga tahun 1942.

Ketika Agresi Militer Belanda II (1948), Pesanggrahan Ngeksipurno turut dibumihanguskan gerilyawan bumiputra seperti yang terjadi di Pesanggrahan Pracimoharjo dan Pesanggrahan Selo. Tujuannya supaya tidak digunakan sebagai markas militer Belanda. Hanya Masjid Ciptomulyo yang dibiarkan berdiri sebagai sarana peribadatan, selebihnya terbakar dan terbengkalai. Pascakemerdekaan, dalam kondisi tidak menentu Umbul Ngabean direnovasi bertahap dan berganti nama Pemandian Tirtomulyo. Kawasan sekitar pun turut berubah seiring waktu. 

Jika ditotal, pesanggrahan milik Keraton Kasunanan Surakarta di Boyolali berjumlah tiga unit. Pesanggrahan Selo, Pesanggrahan Pracimoharjo, dan Pesanggrahan Ngeksipurno.

  • Melacak Jejak Makam Belanda dan Hunian Tuan Tanah di Boyolali
  • Melacak Jejak Makam Belanda dan Hunian Tuan Tanah di Boyolali

Jejak Makam Belanda dan Landhuis di Pengging

Tercatat sejak tahun 1890 sudah ada masyarakat Belanda di Pengging. Melansir surat kabar Semarangsch Handels en Advertentieblad edisi 1891, tersiar kabar wafatnya J.A. van Zanten, seorang perempuan janda kelahiran Wina, Austria, wafat di Pengging, Rabu malam, 29 Juli 1891 di usia 74 tahun, dan dimakamkan Kamis, 30 Juli 1891 di Pengging. Wali keluarganya J.L. Bub dan F.R. Coers.

“…In den nacht van 29 op 30 Juni 1891, overleed plotseling Mevrouw de weduwe  J. A. Van Zanten, geboren Wener in den  ouderdom van 71 jaren. Pengging 30 Juni 1891. Voor de vele blijken  van deelneming en belangstelling  bij het overlijden en de  begrafenis van Mevrouw de weduwe J. A. Van Zanten geboren Wener, betuigen de ondergeteekenden,  namens de familie, hunnen hartelijken dank. Pengging (Solo) 2 Juli 1891. Namen de familie: J.L. Bub & F.R Coers…”

Semasa hidup, J.A. van Zanten menempati hunian tuan tanah di Pengging. Setelah upacara kematian digelar, kediamannya dilelang oleh wali keluarga atas persetujuan Sunan Pakubuwana X seharga 6000 gulden. Sebelum lelang dibuka, sunan memerintahkan mempertahankan kondisi kediaman dan semua perabot seperti sediakala. Sunan juga mengutus seseorang, mengurus makam mendiang sebagai bentuk penghormatan kepada J.A. van Zanten.

“…Door het overlijden van mevrouw weduwe van Zanten in Pengging, aan Z.H. Soesoehoenan teruggegeven geworden, die het landhuis na taxatie door heeren Carlier en Bub voor f. 6000 heeft overgenomen. Uit achting voor de overladen zal alle blijven zoo alas het geweest is terwijl er iemand is aangesteld om voor de familigraven te zorgen…”

Sayang, tidak ditemukan catatan mengenai keluarga dan suami J.A. van Zanten. Begitu juga jejak makam Belanda tempat ia dimakamkan kini telah hilang. Merujuk peta Leiden tersebut, lokasi makam Belanda Pengging kini menjadi permukiman di selatan Pemandian Tirtomulyo Pengging. 

Melacak Jejak Makam Belanda dan Hunian Tuan Tanah di Boyolali
Bekas kompleks makam Belanda di selatan Pemandian Tirtomulyo, Pengging/Ibnu Rustamadji

Selanjutnya saya melacak jejak hunian tuan tanah (landhuurder) yang disebut landhuis. Landhuis tersebut milik keluarga L.W.D.H.G. Monod de Froideville. Dugaan saya, landhuis tersebut awalnya milik J.A. van Zanten yang dilelang seharga 6000 gulden. 

Merujuk surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden tanggal 6 Agustus 1906, istri dari L. W. D. G. H. G. Monod de Froideville diketahui bernama J.W. Monod Tinneveld. Ia wafat Sabtu, 4 Agustus 1906 di Pengging (Karesidenan Surakarta), Banyudono.

“…Heden overleed tot omze diepe droefheid onze innig geliefde echtgenoote, dochter en zuster, vrouwe J.W. Monod de Froideville geb. Tinneveld. Pengging-Solo, 4 Aug. 1906. L. W. D. G. H. G. Monod de Froideville. K. Tinneveld, E.F. Tinneveld van der Heijde, C. Tinneveld…” 

Merujuk surat kabar De Nieuwe Vorstenlanden edisi 26 Agustus 1906, landhuis milik L. W. D. G. H. G. Monod de Froideville, diketahui eksis terakhir kali Kamis, 23 Agustus 1906. Jumat siang, 24 Agustus 1906, landhuis resmi dilelang oleh Oei Joe Ping dari balai lelang di Pasar Gede Kota Surakarta. Mebeler di dalam maupun luar, dilelang keesokan hari oleh L.F. Corija dari Klaten. 

“…Aangeslagen vendutien. Op Donderdag  23 Augustus 1906, door Oei Joe Ping, pachter van  het pandhuis te Pasar-Besar van  onuitgeloeste pandgoederen. Op Vrijdag 24 Augustus 1906, door Th. R. Landouw ten huize van den heer L W. D. G. H. G. Monod de Froideville te Pengging van meubilaire goederen. Op  Zaterdag 25 Augustus  1906. door L F. Corija te Klaten  van meubilaire  goederen. De Vendumeester: J. J. Sneep…”

Sebelum dibuka, segala kebutuhan termasuk kereta khusus barang, gerobak sekaligus kuli angkut telah disiapkan untuk mempercepat proses lelang. Selama lelang, pelelang harus membayar uang tunai kepada juru lelang: Th.R. Landbouw dan W.J. van den Boogaart.

“…Vendutie wegens vertrek van den WelEdelGeb: Heer L. W. D. G. H. G. Monod de Froideville op Vrijdag den 24 Augustus 1906 te Pengging. Van ZEd’s grooten zeer mooien in  boedel, planten, dieren enz: enz: enz: Uitgebreide specificatie volgt per strooibiljetten. Op den dag der vendutie zullen extratrams rijden. Voor koelies en  grobakken zal worden zorg gedragen. Met commissien belasten zich gaarne De venduhouders. De venduhouder: Th. R. Landbouw & W.J. Van den Boogaart…”

Jumat, 24 Agustus 1906, setelah lelang ditutup, tidak diketahui nasib landhuis milik L.W.D.G.H.G. Monod de Froideville. Dugaan saya mengarah pada salah satu rumah yang kini menjadi pabrik roti rumahan di Dukuh Plumutan RT 05 RW 01. 

Melacak Jejak Makam Belanda dan Hunian Tuan Tanah di Boyolali
Diduga bekas Landhuis yang awalnya milik J.A. van Zanten kemudian dimiliki L. W. D. G. H. G. Monod de Froideville dan sang istri J.W. Monod Tinneveld/Ibnu Rustamadji

Menjaga Warisan, Menjaga Amanat Leluhur

Mewarisi peninggalan tidaklah mudah. Tidak ada salahnya jika melakukannya, meski bertahap dan lama. Bagaikan merawat anak dari lahir hingga dewasa. Apa pun bisa dilakukan, tetapi harus sesuai koridor dan aturan. Merawat peninggalan, tidak bisa dibedakan atas dasar negara yang mewariskan. Apalagi jika bersikukuh peninggalan leluhur lebih baik daripada peninggalan bangsa asing. 

Pola pikir tersebut harus mulai dihilangkan. Peninggalan bangsa lain di Indonesia, harus mendapat perlindungan yang sama seperti peninggalan leluhur. Perlu diingat, yang harus dihilangkan dari kolonialisme adalah sifat buruk dan bukan peninggalan yang benda mati. 

Peninggalan di Pengging, cukup beragam sejatinya selain yang saya sebutkan di atas. Beberapa peninggalan masih tampak keberadaanya, meski dengan segala kondisinya karena keterbatasan warga. Diharapkan kepada warga yang menemukan, memiliki, atau mengelola warisan, tidak ada salahnya melakukan pelestarian dengan tidak merusak, memindahkan, atau menambah dalam bentuk apa pun. Jika tidak mengetahui narasi masa lalu peninggalan tersebut, alangkah baik jika mengakui tidak mengetahui.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Ibnu Rustamaji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Ibnu Rustamadji

Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Bertemu Heru, Penyandang Tunarungu-wicara di Desa Jelok Boyolali