Berada di jantung kota Jakarta, tepat di seberang Stasiun Gambir, titik transit bagi penumpang dari dan menuju berbagai kota, berdiri Galeri Nasional Indonesia. Galeri Nasional menjalankan pengelolaan koleksi seni rupa nasional, mulai dari pencatatan hingga penyajiannya kepada publik. Di saat yang sama, galeri ini juga merangkul berbagai praktik seni rupa kontemporer, mendorong seniman untuk bereksperimen dan menantang batas ekspresi artistik. Upaya tersebut memastikan karya-karya yang ada tidak berhenti sebagai artefak masa lalu, tetapi tetap hidup untuk dipelajari dan dimaknai oleh generasi berikutnya.
Umumnya, Galeri Nasional Indonesia menghadirkan pameran yang terbagi ke dalam tiga bentuk. Pertama, pameran tetap yang menampilkan karya koleksi permanen milik negara. Kedua, pameran temporer yang diselenggarakan dalam kurun waktu tertentu. Ketiga, pameran keliling, program berkala yang membawa koleksi Galeri Nasional ke berbagai daerah di dalam negeri, bahkan ke luar negeri, sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap seni rupa.
Saat aku berkunjung kala itu, dua ruang pamer sedang aktif. Gedung B yang menampilkan pameran tetap, dan Gedung A yang menjadi lokasi pameran temporer NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro.

Memasuki Gedung B
Pameran tetap di Gedung B menjadi titik awal kedatanganku. Dari lobi, aku diarahkan ke konter tiket dengan harga Rp50.000. Setelah itu, alur kunjungan berlanjut ke lantai dua, tempat pameran dimulai. Di ruang inilah sejarah seni rupa Indonesia dibentangkan secara bertahap: dari masa sebelum kemerdekaan, periode awal republik, hingga karya-karya pascakemerdekaan dan kontemporer.
Koleksi tetap Galeri Nasional Indonesia yang dipamerkan di Gedung B mencakup karya seni rupa dari era kolonial hingga hari ini. Karya-karya tersebut memberi gambaran panjang mengenai perkembangan rupa seni Indonesia.
Memasuki ruang pamer, yang menyambutku adalah deretan lukisan pemandangan alam. Salah satu yang paling membekas adalah karya Wahdi Sumanta berjudul ”Pemandangan Dataran di Cibogel”. Detail lukisannya sangat terjaga, sementara komposisi ruang, pengolahan cahaya, hingga warna-warna yang disusun membuat lanskapnya tampak hidup dan meyakinkan.
Di sela karya lukis, arsip-arsip visual seperti foto masyarakat masa lalu dan poster propaganda Jepang turut ditampilkan. Kehadiran arsip ini memberi konteks sejarah yang penting, mengingatkan bahwa perjalanan seni rupa Indonesia selalu berjalan berdampingan dengan dinamika sosial dan politik zamannya.

Menyelami Lukisan Raden Saleh
Selain deretan karya, terdapat juga ruang-ruang yang memberi kesan tersendiri. Salah satunya bilik khusus lukisan Raden Saleh berjudul ”Kapal Karam Dilanda Badai” warsa 1840.
Lukisan cat minyak di atas kanvas berukuran 74 x 98 sentimeter itu menampilkan dua kapal yang terombang-ambing di tengah badai laut. Awan gelap dan ombak tinggi mendominasi bidang lukis, menghadirkan ketegangan yang kuat, sementara secercah cahaya matahari di bagian atas memberi kontras yang memperdalam kesan dramatis. Karya ini mencerminkan corak Romantisisme yang lekat dengan Raden Saleh: emosional dan teatrikal.
Tidak hanya itu saja. Yang membuat pengalaman ini berbeda bukan hanya lukisannya, melainkan cara ruang tersebut dirancang. Selain kanvas yang dipajang, ruangan dilengkapi dengan video visual ombak serta audio suara laut, petir, dan angin. Elemen-elemen tersebut membangun suasana yang imersif, membuatku seolah ikut berada di tengah badai. Pendekatan ini memberi pembeda dari cara melihat lukisan secara konvensional, di mana pengunjung tidak sekadar berdiri mengamati, tetapi juga diajak masuk ke atmosfer yang menyelimuti karya.


Detail instalasi ”Reverie” karya Mang Moel/Gita Maharsi
Di Antara Terumbu Rajut dan Ikan Menggantung
Impresi lain datang dari bilik instalasi karya Mulyana, atau Mang Moel, berjudul ”Reverie” (2025). Di lantai ruangan yang relatif kecil ini, terhampar terumbu karang rajut berwarna-warni yang seolah memindahkanku ke dunia lain; dunia fantasi bawah laut yang lekat dengan imajinasi masa kecil. Di langit-langit, untaian boneka ikan berwarna kuning digantung dan ’berenang’ di udara, berjumlah ratusan, mungkin ribuan (dapat dihitung dengan imajinasi). Di sekeliling ruangan, instalasi cermin memantulkan elemen-elemen tersebut berulang kali, membentuk efek seolah tak berujung.
Berdiri di tengah ruangan, aku merasa seakan berada di antara dua lapisan dunia: dasar laut yang padat oleh karang dan ruang air terbuka yang dipenuhi kehidupan. Pengalaman visualnya terasa setara dengan animasi tingkat dunia, tetapi dengan konteks dan imaji yang berangkat dari praktik seni Indonesia.
Sebelum keluar dari Gedung B, ada satu ruang terakhir yang dapat disinggahi, yaitu Ruang Aktivitas Anak dan Keluarga (RAK). Ruang ini disiapkan sebagai area berkreasi yang lebih santai, dengan berbagai perlengkapan sederhana, seperti kertas, spidol, dan alat tulis lain yang bisa digunakan. Di ruang ini, aku menggambar temanku. Aktivitas sederhana ini terasa personal dan spontan, memberi tempat bagi ekspresi kecil yang berangkat dari selera dan kesenangan sehari-hari.

Gedung A dan Api Ingatan Perang Diponegoro
Seusai dari Gedung B, kunjunganku berlanjut ke Gedung A untuk menyaksikan pameran temporer. Saat itu, Galeri Nasional tengah menggelar pameran NYALA: 200 Tahun Perang Diponegoro, yang berlangsung dari Juli hingga akhir Desember 2025. Pameran ini diselenggarakan dalam rangka memperingati dua abad Perang Diponegoro.
Begitu memasuki area awal gedung, pengunjung disambut oleh arsip, dokumen, dan berbagai literatur. Salah satu pendekatan yang menarik adalah penggunaan teknologi imersif, yang memungkinkan sosok Pangeran Diponegoro ’dihadirkan’ secara interaktif, seolah dapat diajak berdialog. Lainnya yang mencuri perhatian adalah instalasi Jompet Kuswidananto berjudul “War of Java, Do You Remember? #2”, dengan figur-figur serdadu menyerupai hantu dan bunyi drum yang membangun atmosfer tegang.
Di balik pintu lain, ruang pamer selanjutnya menampilkan narasi berlanjut lewat beragam medium, mulai dari lukisan, patung, instalasi, hingga seni media. Aku bahkan menjumpai lukisan ikonik Raden Saleh ”Penangkapan Pangeran Diponegoro”, karya yang belakangan kembali ramai dibicarakan karena kemunculannya dalam film populer ”Mencuri Raden Saleh”.
Secara keseluruhan, persinggahanku ke Galeri Nasional Indonesia terasa seperti membaca ulang sejarah melalui beragam bahasa visual. Baik koleksi maupun pameran temporer, semuanya membentuk percakapan panjang tentang seni rupa Indonesia dan bagaimana ia sampai di titik kini. Bagi yang ingin melihat langsung jejak seni rupa Indonesia, Galeri Nasional di Jalan Medan Merdeka Timur No. 14, Jakarta Pusat, membuka pintunya setiap Selasa–Minggu, pukul 09.00–16.00 WIB.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Seorang yang gemar bercerita.

