EVENTSURBAN FUTURES

Kebun Belajar: Langkah Orang Muda Merawat Pangan Lokal Manggarai Barat

Di balik pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pariwisata yang masif di Labuan Bajo, Manggarai Barat, tersimpan kekhawatiran lain yang jarang disorot: terkikisnya kebiasaan pangan lokal. Pertumbuhan ekonomi melalui pariwisata massal hadir dengan masuknya budaya pangan impor, yang mengancam jejak panjang gastronomi masyarakat Manggarai, kelompok etnis paling barat di Pulau Flores, dalam membangun ketahanan pangannya sendiri.

Keresahan itu dirasakan sebagian orang muda Manggarai Barat. Salah satunya oleh Maria Oktaviani Simonita Budjen (32), yang akrab disapa Ani. Lima kilometer dari pusat wisata Labuan Bajo, di Dusun Kaper, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Ani mendirikan Kebun Belajar, sebuah gerakan kolektif yang menjadikan pangan lokal sebagai pintu masuk pemberdayaan masyarakat.

Sebelum berkecimpung di bidang pangan, Ani aktif sebagai relawan lembaga swadaya masyarakat di isu kesehatan masyarakat. Sejak 2016 hingga 2023, Ani fokus pada pendampingan masyarakat disabilitas untuk bisa mendapatkan akses layanan rumah sakit yang layak. Pengalamannya bekerja dengan lembaga internasional dan dalam negeri membuat Ani belajar memahami berbagai isu kebutuhan masyarakat. 

Ani sadar permasalahan pariwisata dan pangan juga merupakan hal yang serius. Eksklusivitas pariwisata Labuan Bajo dan masuknya beragam jenis pangan internasional, membuat informasi atas pangan lokal terhadap wisatawan menjadi terbatas. Ia lalu berpikir bahwa pemberdayaan masyarakat juga bisa dimulai dari langkah kecil, dari sepetak kebun di halaman rumahnya. Berangkat dari hal itu, Ani lalu menginisiasi Kebun Belajar pada awal 2024.

Kebun Belajar tidak hanya lahir dari kritik atas eksklusivitas pariwisata, tapi dari kegelisahan bahwa orang muda Labuan Bajo semakin jauh dari pengetahuan tentang makanan khas daerahnya sendiri. Minimnya literasi pangan lokal membuat wisatawan yang datang ke Manggarai Barat lebih akrab dengan menu “kota” ketimbang masakan kampung setempat.

Aktivasi Kebun Belajar dimulai dari hal sederhana: membuka kelas bahasa Inggris untuk anak-anak dan orang dewasa, lalu memanfaatkan lahan kecil di rumah Ani untuk berkebun. Berkat jejaring dan pengalaman yang ia bangun sebelumnya, Kebun Belajar mulai kedatangan tamu dari berbagai kalangan yang ingin mencari pengalaman berbeda. Di saat itulah Ani memilih menyuguhkan masakan lokal, dengan melibatkan mama-mama di desa untuk memasak bersama.

“Akhirnya kami coba bikin sayur lomak, ayam goreng, ayam bakar, dan ikan kuah asam,” kata Ani. Sambutan tamu di luar dugaan, masakan khas Manggarai justru dipuji kelezatannya. Sejak saat itu, Kebun Belajar rutin menggelar sesi fun cooking class, dengan jamuan pangan lokal khas masyarakat Kaper, Manggarai Barat. 

Menu masakan di Kebun Belajar menampilkan identitas Manggarai yang kuat. Ada sayur lomak (ute lomak) yang terbuat dari buah pepaya kecil, daun singkong, dan jantung pisang dengan bumbu-bumbu rempah, serta kelapa parut; lowuk, bubur berbahan dasar jagung dan kacang-kacangan; tapa kolo, nasi bakar bambu; songkol, makanan khas berbahan dasar tepung singkong; hingga rebok, kudapan tradisional dari tepung beras dan jagung.

Mama-Mama, Pangan, dan Kemandirian

Pelibatan mama-mama menjadi inti misi Kebun Belajar. Bagi Ani, di tengah budaya patriarki yang masih kuat, perempuan seringkali dibatas pada peran domestik, sementara ekonomi keluarga tak selalu cukup hanya dari penghasilan suami yang umumnya bekerja serabutan.

“Saya berharap mama-mama ini bisa mandiri. Setidaknya mereka tahu bahwa mereka punya kemampuan, punya nilai, dan punya pengetahuan [pangan lokal] yang orang lain butuhkan,” ujar Ani.

Meski tidak menjanjikan keuntungan ekonomi yang lebih, saat ini, sekitar 27 mama-mama dari komunitas gereja setempat ikut terlibat di Kebun Belajar. Pada akhirnya, Kebun Belajar hadir lebih dari sekedar dapur dan kebun. Kebun Belajar menjelma ruang belajar dari hulu ke hilir pangan: dari asal bahan, cara mengolah, hingga makna budaya di balik setiap sajian. Di sana, tamu diajak membangun keterikatan dengan masyarakat lokal, bukan sekadar menjadi penonton.

Kesadaran akan pentingnya regenerasi juga mendorong Ani untuk membuat program Jelajah Kebun. Anak-anak usia SD hingga SMP diajak berkebun, mengenali tanaman lokal, dan memahami makanan yang mereka konsumsi. Harapannya sederhana namun strategis, menumbuhkan kepedulian sejak dini dan melahirkan local champions pangan di masa depan.

“Jika bukan orang muda yang kreatif, siapa lagi yang mau merawat warisan pangan lokal di Manggarai Barat?” katanya.

  • Kebun Belajar: Langkah Orang Muda Merawat Pangan Lokal Manggarai Barat
  • Kebun Belajar: Langkah Orang Muda Merawat Pangan Lokal Manggarai Barat
  • Kebun Belajar: Langkah Orang Muda Merawat Pangan Lokal Manggarai Barat

Simpang Belajar dan Harapan Kolektif

Titik balik lain bagi Ani datang saat ia mengikuti lokakarya Simpang Belajar, program Konsorsium Simpul Pangan sebagai bagian dari program Urban Futures. Bersama 14 orang muda lainnya, Ani belajar menganalisis sistem pangan lokal perkotaan, keberlanjutan, hingga pengarsipan pangan melalui media digital.

Pengalaman itu memperluas perspektifnya: Kebun Belajar bukan sekedar inisiatif lokal, melainkan bagian dari upaya mencegah kepunahan pangan dan budaya Manggarai barat. “Kami perlu duduk sama-sama lagi. Kalau misalnya nanti program dari Simpang Belajar selesai, kami [harus tahu] mau ke mana dan bagaimana [mempertahankannya]. Komunitasnya jangan mati,” ujar Ani, menegaskan pentingnya keberlanjutan.

Ani bersama Kebun Belajar tidak menolak pariwisata. Ia memahami Manggarai barat masih membutuhkan pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun, ia berharap pembangunan wisata bisa bersifat inklusif: tidak hanya menjual panorama dan komodo, tetapi juga memperhatikan kisah manusia, adat, dan budaya yang menghidupi wilayah ini.

Kebun Belajar: Langkah Orang Muda Merawat Pangan Lokal Manggarai Barat
Ani praktik memasak saat kunjungan lapangan ke The Kitchen Garden dalam rangkaian Lokakarya Simpang Belajar di Manggarai Barat/Dokumentasi Simpang Belajar

Ani juga membuka diri untuk berkolaborasi dengan pemerintah serta pelaku pariwisata lainnya. Sebab, kolaborasi lintas sektor sangat penting dilakukan oleh orang muda untuk menjaga warisan dan pengetahuan budaya lokal. Baginya, orang muda dari kampung kecil seperti Kaper pun bisa turut serta membangun ekosistem pangan lokal di Manggarai Barat. 

Semakin banyak orang muda yang memperkenalkan pangan dan budaya kampungnya, pariwisata tak akan terpusat di Labuan Bajo saja, melainkan bisa menyebar ke desa-desa dengan kekhasannya masing-masing.

“Ketika orang memandang alam [Manggarai Barat] yang cantik, sambil minum kopi hitam dan makan ubi kayu bersama orang-orang lokal, itu saya rasakan lebih nikmat, lebih indah, dan lebih bermakna daripada hanya [sekadar] foto-foto dan melihat komodo di Pulau Komodo,” tambah Ani.


Artikel ini dapat tersusun berkat dukungan dari Yayasan Humanis dan Inovasi Sosial melalui Program Urban Futures


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

TelusuRI

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Avatar photo

Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Melirik Potensi Manggarai Barat sebagai Kota Gastronomi