TRAVELOG

Rupa-Rupa Rasa Desa di Pasar Papringan Temanggung

Duduk mencicip dari satu warung ke warung lain, dari satu kota ke kota lain, ada rasa yang tak kunjung terpuaskan. Dipaksa bertahan dengan makanan yang cenderung serupa, bergantung pada penguat rasa hingga bahan kimia lainnya. Ada rasa yang kerap dirindukan lidah namun tak kunjung ditemukan.

Pagi yang cukup cerah, samar-samar sinar matahari menembus tanah melewati rimbunnya pepohonan bambu. Bukan di Arashiyama, Kyoto, melainkan di Temanggung, Jawa Tengah. Lahan penuh pohon bambu di tengah desa itu disulap menjadi pusat kehidupan baru. Riuh ramai memenuhinya setiap Minggu Pon dan Minggu Wage.

Rupa-Rupa Rasa Desa di Pasar Papringan Temanggung
Suasana Pasar Papringan yang padat pengunjung/Finariyah

Nikmat yang Sempat Tak Terlihat

Bambu-bambu telah lama tumbuh subur tak jauh dari pemukiman warga yang cukup padat di Dusun Ngadiprono. Bukan tanpa alasan, selain tumbuh cukup mudah, tanaman ini memiliki banyak manfaat. Bambu adalah tanaman yang sangat cocok untuk konservasi air karena tanahnya memiliki kapasitas yang tinggi dalam menyerap air. Hal ini senada dengan keberhasilan lahan itu dalam merawat mata air yang terletak tak jauh menurun dari kawasan pasar.

Awalnya, hanya beberapa ekor ayam saja yang sudi berkunjung ke sana. Maklum saja, lokasi itu sebelumnya hanya menjadi tempat pembuangan sampah bagi warga sekitar. Namun, semuanya berubah di tahun 2017 ketika Pak Singgih S. Kartono (pendiri Spedagi), Mbak Fransisca Callista, dan komunitas Mata Air memutuskan merevitalisasi lahan tak berfungsi di Dusun Ngadiprono bersama warga untuk mendirikan Pasar Papringan. Sudah pasti kata pring yang berarti bambu dalam bahasa Jawa itu menjadi dasar penamaannya. Dari sana bertebaran pasar dengan konsep yang serupa. Namun, seolah ada yang berbeda, Pasar Papringan masih ramai dan selalu dirindukan para pelancong.

Tidak semua duplikasi berhasil, sementara Pasar Papringan dibangun dengan pendampingan sosial yang cukup fundamental. Mbak Siska (panggilan akrab Fransisca Callista) harus live in selama sekitar enam bulan untuk melakukan pendampingan kepada warga. Ia paham betul bahwa untuk membangun sebuah ekosistem baru perlu pendekatan yang ekstra. Dedikasinya membuahkan hasil, warga perlahan memercayai ide yang diusung oleh tim Spedagi akan berdampak besar pada masa depan mereka.

Setiap pukul 6 pagi ketika gelaran pasar berlangsung, dengan bahagia warga setempat telah bersiap menjajakan makanan, kerajinan, hingga hasil alamnya. Perlahan hawa dingin menghilang, perlahan pula para pengunjung berdatangan. Antrean mengular, mereka menukar uang rupiahnya menjadi uang bambu (pring)—mata uang dari Pasar Papringan senilai 2.000 rupiah.

  • Rupa-Rupa Rasa Desa di Pasar Papringan Temanggung
  • Rupa-Rupa Rasa Desa di Pasar Papringan Temanggung

Rasa Sederhana dari Desa

Disambut iringan musik gamelan, tugas mencari menu sarapan kini dimulai. Makanan berat, makanan ringan, minuman segar, jamu, kopi, hingga signature Pasar Papringan, wedang pring, siap ditukar dengan uang bambu. Sangat bervariasi, tetapi harga termahal dibanderol untuk makanan berat mulai dari 4–6 pring. Sementara makanan ringan bisa dinikmati cukup dengan membayar 1–2 pring saja.

Bukan fast food, semua makanan yang dijual di pasar ini murni berasal dari dapur warga yang sudah siap menyambut pengunjung selama berjam-jam sebelumnya. “Ha, sudah dari kemarin sore buat adonannya, pagi tinggal ngolah,” sebut Mak Otim, salah satu penjual jajanan pasar di sini. Berbagai menu jadul yang begitu dirindukan lidah telah dicipta penuh kasih yang sempurna. 

Hampir semua makanan dibuat dari bahan-bahan lokal dari warga setempat yang juga berprofesi sebagai petani. Rasa sederhana, tanpa pengawet, tanpa perasa buatan. Semua umur dapat menikmatinya dengan bahagia. Ada menu-menu yang aman bagi kesehatan seperti gorengan dan jajan manis dengan bahan dasar tepung mocaf. Jajanan menarik untuk anak-anak seperti gulali, hingga selera orang tua seperti jenang selalu tersedia siap untuk dicicip.

“Dicoba dulu,” ujar bapak penjual soto lesah kepada suamiku, “ada yang baru (di sini), kami pakai kecap manis buatan sendiri yang dibuat dari campuran kulit pisang dan gula merah.” Kecapnya lebih kental daripada yang lain dengan rasa gurih yang lebih menonjol kata suamiku—lidahnya cukup tajam dalam mengecap rasa. Adalah sebuah inovasi baru yang menarik dari Mas Yudhi, kurator makanan di Pasar Papringan yang menjadi bagian dari tim Spedagi.

Dari kiri, searah jarum jam: kudapan ringan dan gurih (klethikan), jajanan pasar berbahan umbi-umbian macam singkong dan talas (tela, jendal, kimpul), dan gablog pecel, salah satu makanan berat untuk sarapan di Pasar Papringan/Finariyah

Tak hanya ramah soal rasa, penyajian makanan di tempat ini juga ramah lingkungan. Makanan yang dinikmati beralaskan piring anyaman bambu dan juga daun pisang. Berbagai minuman tersaji dalam gelas-gelas pring yang siap menemani hidangan terpilih. Tas bambu sederhana ala perajin Ngadiprono juga tersedia, siap ditenteng dengan nyaman sambil berkeliling menampung jajanan yang dibungkus dengan daun pisang.  

Berprinsip 3L (lokal, lezat, lestari)—mengedepankan bahan lokal, bercita rasa lezat, dan turut melestarikan lingkungan dengan pasar bebas kemasan plastik. Pasar Papringan berhasil mengubah wajah desa yang selama ini dianggap tertinggal menjadi sebuah fondasi gerakan menuju masa depan baru.

Meski digandeng oleh Spedagi, Pasar Papringan mengutamakan warga sebagai tokoh utamanya. Kecintaan warga Ngadiprono pada pasar ini berhasil membuat para pengunjung turut jatuh hati. Sempat tutup saat COVID-19, pasar perlahan pulih ketika dibuka kembali hingga kini. Pengunjung dari luar kota, dalam kota, bahkan luar negeri selalu siap membanjiri setiap gelaran pasar. Suasana alam hingga makanan penghibur lidah menyatu sempurna dalam Pasar Papringan. Wisata yang sederhana namun begitu unik karena kelokalan menjadi daya tarik utamanya.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Finariyah

Fina tinggal di Temanggung. Gemar menyelami arsip kuno yang membawanya kini menjadi pekerja (dipaksa) kreatif.

Finariyah

Fina tinggal di Temanggung. Gemar menyelami arsip kuno yang membawanya kini menjadi pekerja (dipaksa) kreatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Kopi Pakpos Toegoe: Dari Film Horor ke Kedai Kopi