ITINERARY

Teluk Buo, Secuil Ketenangan di Tepian Kota Padang

Kemacetan, polusi, dan kebisingan Kota Padang membuat raga ini sesekali harus rehat sejenak. Berbekal Google Maps, sepeda motor, dan secuil nyali, hari itu saya memutuskan untuk melakukan perjalanan satu jam lebih sejauh 17 km dari Universitas Andalas demi mengunjungi Teluk Buo, desa wisata tersohor di sudut Kota Padang, tepatnya Kelurahan Teluk Kabung Tengah, Kecamatan Bungus.

Tiga puluh menit pertama saya berpacu dengan truk-truk besar bermuatan hingga kawasan Teluk Bayur. Tiga puluh menit kedua saya habiskan dengan menikmati panorama pantai yang membentang di sepanjang jalan. Sisanya, saya hanya bisa bertaruh dengan kendaraan saya karena harus melintasi tanjakan, turunan, dan tikungan yang curam. Terdapat lubang di beberapa titik jalan yang, beruntungnya, tidak begitu membahayakan.

Seakan alam juga ikut merestui, cuaca Kamis pagi itu cerah dan sedikit berawan sehingga amat memudahkan perjalanan saya. Seperti yang sudah saya duga, rasa lelah setelah berkendara seketika terbayarkan setibanya di Teluk Buo. Desa bahari ini tidak terlalu padat penduduk. Area permukimannya hanya terfokus dalam satu kawasan di pesisir pantai. 

Teluk Buo telah mengalami perjalanan panjang yang menjadikan kawasannya sebagai daerah tujuan wisata baru di Kota Padang. Terlebih ketika masuk 100 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia Tahun 2024, sebuah ajang bergengsi tahunan yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf. Kunjungan ke desa wisata ini kian meningkat dan menjadi lokasi studi tiru berbagai pengelola destinasi dan desa wisata di Ranah Minang.

Teluk Buo, Secuil Ketenangan di Tepian Kota Padang
Gapura masuk Kupi Batigo di kawasan wisata Teluk Buo/Cici Famelya Sari

Pantai Berpasir Putih

Pernahkah Anda menonton SpongeBob SquarePants episode “Tiki Land”? Pulau tersembunyi tempat Squidward yang biasanya murung bisa bersantai dan bersenang-senang. Desa Wisata Teluk Buo merupakan representasi Tiki Land di dunia nyata.

Begitu kaki saya melangkah melewati gerbang masuk, saya langsung disambut dengan simfoni debur ombak yang begitu sopan menyapa gendang telinga. Saya terpesona dan langsung menuju bibir pantai. Untuk sejenak, saya seperti dihipnotis oleh suara ombak yang terdengar begitu lembut dan menenangkan hati. Hening tetapi ramai, ramai tetapi menenangkan, itulah yang saya rasakan. Tak hanya itu, ombak juga mengantarkan air melewati jemari kaki saya, menyeret kelomang yang berjalan tertatih-tatih.

Saya mengalihkan pandangan pada pasir putih yang membentang. Cocok sekali bersanding dengan air laut biru sejauh mata memandang. Perpaduan sempurna laut, pasir, serta langit yang bisa membuat Anda berdecak kagum, duduk termenung dalam waktu yang lama.

Puas menikmati hamparan pantai, saya berbalik menuju Kupi Batigo, coffee shop bernuansa bahari yang saat itu saya anggap sebagai pahlawan karena berhasil menolong perut saya yang keroncongan. 

Kupi Batigo di Teluk Buo (kiri) dan tampilan Tiki Land di salah satu episode SpongeBob SquarePants

Terlihat sekali pemilik kafe ini ingin menyuguhkan yang terbaik untuk para pengunjung. Tidak ada pungutan biaya apa pun, termasuk parkir. Bahkan bangunannya pun didesain sangat autentik dengan atap daun dan dinding kayu yang dilukis sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan unik dan bahari.

Menu yang beragam, harga terjangkau, dan pramusaji yang ramah membuat kesan saya kepada Teluk Buo semakin meningkat. Hanya dengan Rp50.000, saya sudah mendapatkan sepiring besar nasi goreng dan segelas mojito strawberry.

Saya kembali berkeliling pesisir pantai, nyaman sekali rasanya bertelanjang kaki di atas pasir putih. Tidak ada bunyi kendaraan, hanya ada suara ombak dan angin sepoi-sepoi yang membuat saya merasa sangat nyaman. Duduk di bawah pohon kelapa, saya memperhatikan kelomang yang berjalan perlahan mencari makanan di antara batu-batu kecil. Mereka terguling saat air laut menghempas, tapi kembali bangkit dan berjalan tertatih-tatih.

Saya mengambil salah satu dari mereka dan mengembusnya, teringat kebiasaan saat kecil dulu. Setelahnya, saya juga mengambil beberapa cangkang kerang sebagai kenang-kenangan.

Teluk Buo, Secuil Ketenangan di Tepian Kota Padang
Area pantai di Desa Wisata Teluk Buo/Cici Famelya Sari

Wisata Mangrove dan Kolam Hiu Teluk Buo

Selain pantai, terdapat juga wisata ke hutan mangrove. Desa Wisata Teluk Buo terkenal dengan kawasan hutan mangrove yang kaya akan flora dan fauna. Hutan mangrove ini menjadi daya tarik utama yang tidak boleh dilewatkan oleh para pelancong. Mereka dapat menyusuri hutan mangrove ini dengan menggunakan sampan tradisional atau kapal mesin nelayan.

Berlayar menggunakan sampan terdengar menarik di telinga saya, dan saya langsung menghubungi Kapten Moed, pemandu wisata di Teluk Buo. Sayangnya, Kapten Moed mengatakan bahwa air sedang surut dan baru akan kembali pasang di sore hari. “Biasanya air pasang itu di pagi dan sore hari, jadi sebaiknya mengabarkan beberapa hari sebelumnya supaya kita bisa memprediksi cuaca untuk melakukan perjalanan,” terang Kapten Moed.

Menurut keterangan Kapten Moed, biasanya satu sampan bisa dinaiki hingga lima orang. Perjalanan dimulai dari bibir pantai dan melaju membelah laut menuju kawasan hutan mangrove yang rimbun. Ketenangan di hutan mangrove ini cocok untuk bersantai.

Matahari terbenam di kawasan Teluk Buo juga merupakan salah satu atraksi terbaik yang tidak boleh dilewatkan jika berlibur ke desa wisata ini. Menurut keterangan pramusaji di Kupi Batigo, lokasi yang pas untuk menikmati sunset adalah Kolam Hiu. Daya tarik wisata yang diresmikan pada 7 April 2024 oleh Dinas Pariwisata Kota Padang ini menjadi tempat yang cocok untuk menikmati matahari terbenam, berenang, dan snorkeling.

Persis seperti namanya, Kolam Hiu ini memang menjadi tempat tinggal hiu. Tetapi tenang saja, hiu yang ditangkarkan bukan jenis hiu yang agresif. Sayangnya, saat ini sudah tidak ada hiu lagi di sana dan telah beralih fungsi menjadi kolam pemandian yang memiliki pemandangan pesisir pantai. Lokasi Kolam Hiu menghadap langsung ke laut lepas, menjorok ke lautan, dan dikelilingi oleh batu karang. Kolam Hiu memiliki warna air laut yang biru dengan ekosistem bawah laut yang masih terjaga.

Seandainya saya memiliki waktu luang, saya mungkin akan memutuskan untuk menginap di sana malam itu, agar dapat berwisata ke hutan mangrove dan Kolam Hiu keesokan harinya. Wisatawan seperti saya tidak perlu khawatir karena Desa Wisata Teluk Buo juga menyediakan beberapa homestay dan guest house, termasuk area camping ground Kupi Batigo yang bisa dicoba bersama keluarga atau rekan sejawat.

Area hutan mangrove (kiri) dan guest house di Teluk Buo/Bayu

Aktivitas Lain di Teluk Buo

Ada beragam aktivitas lain yang dapat dinikmati oleh para pengunjung ketika menjelajah Desa Wisata Teluk Buo. Kita bisa berkemah, yoga di pantai, meditasi di tepi laut, atau hanya sekadar berjalan menyusuri pantai. Bagi yang ingin berenang atau menyelam juga bisa. Bersampan-sampan hingga memancing pun boleh dicoba.

Saat menikmati pantai lengkap dengan deburan ombaknya yang lembut, saya bertemu dengan salah seorang pelancong bernama Najwa. Ia berasal dari Kota Pariaman yang sedang menempuh jenjang perguruan tinggi di Kota Padang. Najwa mengaku memilih Desa Wisata Teluk Buo sebagai tujuan berliburnya karena melihat destinasi ini di media sosial dan sudah bosan dengan pantai di sekitar kota. “Aku nggak tahu harus ke mana lagi di Padang, dan kebetulan desa ini lewat di algoritma media sosialku,” terangnya.

Najwa mengaku tidak menyesal sudah menempuh perjalanan cukup panjang dari pusat kota menuju tempat ini karena benar-benar sesuai seperti yang ia harapkan. Kondisi pantai yang sepi juga membantunya menenangkan diri dari bisingnya perkotaan. “Rasanya seperti private beach, mungkin karena aku datang di hari kerja.”

Sebagai mahasiswa yang selalu disibukkan dengan tugas kuliah, ia merasa bahwa Desa Wisata Teluk Buo merupakan tempat yang sangat tepat untuk bersantai. “Tempatnya tenang banget, terus suara ombak yang menyatu dengan pasir pantai itu bikin perasaanku menjadi lebih tenang.”

Najwa juga merasa bahwa pelayanan yang diberikan pihak kafe sangat memuaskan. Para pegawai memberikannya informasi yang ia butuhkan dengan senang hati. Bahkan ia sempat kaget dengan porsi makanannya yang sangat besar. Ia bersyukur sekali mengetahui tempat wisata ini dan berencana untuk mengajak keluarganya menginap di sini.

Meski Desa Wisata Teluk Buo memiliki potensi yang cukup besar, Yulviadi, pemilik Kupi Batigo, menilai fasilitas wisata di daerah ini masih membutuhkan perbaikan. Ia berharap pemerintah memberikan perhatian lebih agar pengembangan berjalan optimal.

Desa Wisata Teluk Buo dapat menjadi tempat yang tepat bagi para pelancong yang ingin mencari ketenangan dan menghilang sejenak dari rutinitas sehari-hari. Pantai yang memanjakan mata, wisata edukatif yang dapat menambah pengetahuan, serta tempat bernaung yang nyaman merupakan perpaduan apik bagi orang yang suntuk dengan berisiknya dunia. Bak mutiara dalam lumpur, pesona Teluk Buo yang masih jarang didengar khalayak perlu digaungkan lebih besar agar terdengar hingga wisatawan mancanegara.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Cici Famelya Sari

Si Bungsu yang suka melanglang buana demi menguji kesaktian doa ibunya.

Cici Famelya Sari

Si Bungsu yang suka melanglang buana demi menguji kesaktian doa ibunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Hipotesis Sederhana tentang Kebahagiaan dan Tawa di Kedai Sarapan