Travelog

Moncong Meriam di Taman Perjuangan dan ‘Dar’ ‘Der’ ‘Dor’ di Gunung Bohong

Sebuah panser Saladin FV601 terparkir di salah satu sudut Taman Perjuangan, di kawasan Baros, Kota Cimahi, Jawa Barat. Moncong meriam panser itu mengarah ke sisi barat. 

Panser Saladin merupakan kendaraan tempur untuk pasukan infanteri. Panser ini buatan Inggris. Beratnya 11,6 ton.  Dengan kemampuan kecepatan melaju maksimal sekitar 72 kilometer per jam, panser ini mempunyai satu senjata utama yaitu meriam L5A1 kaliber 76 mm dan satu senjata pendukung berupa senapan mesin kaliber 7,62 mm.

Para pengendara mobil yang akan menuju jalan Tol Baros dapat langsung mengenali keberadaan panser Saladin tersebut karena posisinya yang persis berada di median jalan, sekitar 350 meter sebelum pintu Tol Baros .

Taman Perjuangan
Taman Perjuangan/Djoko Subinarto

Sementara itu, di ujung timur Taman Perjuangan, terparkir tank Amx 13 Apc, buatan Prancis. Ini adalah jenis tank ringan, diproduksi oleh Perancis sejak tahun 1953 hingga 1985, dan telah diekspor ke lebih 26 negara. 

Panser Saladin dan tank Amx tersebut berada di Taman Perjuangan Cimahi sejak tahun 2019 lalu. Taman perjuangan bukan satu-satunya tempat publik di Cimahi yang sengaja dijadikan lokasi mangkalnya peralatan tempur militer. Di beberapa taman lainnya di Cimahi, kita bisa saksikan meriam, panser, dan juga tank.

Panser Saladin
Panser Saladin/Djoko Subinarto

Di Taman Adiraga, yang tak jauh dari kampus Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), terdapat pula panser Saladin. Lalu, ke sebelah utara, di Taman Segitiga, yang berdekatan dengan Cimahi Mall, mangkal tank Amx 13 Apc. Sementara di sebelah barat, yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, terdapat sebuah meriam jenis M 48, yang moncongnya mengarah ke Jalan Raya Barat. Meriam juga ditempatkan di Taman Kartini dan, tentu saja, di Taman Meriam.

Meriam M48
Meriam M48/Djoko Subinarto

Keberadaan alat-alat tempur militer di tempat publik di Cimahi itu tentu saja kian menegaskan kota seluas 40,47 kilometer persegi ini sebagai Kota Militer.

Pusat Komando Militer

Lembar-lembar sejarah menunjukkan Cimahi memang difungsikan sebagai pusat komando militer oleh pemerintah kolonial Belanda.  Cimahi dipilih karena posisinya demikian strategis, berada persis di jalur Grote Postweg yakni Jalan Raya Pos Besar, yang menghubungkan Batavia dan Bandung. Selain itu, Cimahi berada pula di jalur utama kereta api, yang juga menghubungkan Batavia dan Bandung.

Pemerintah Belanda membangun beragam fasilitas militer di sini. Mulai dari sejumlah markas/tangsi militer, pusat pendidikan militer, rumah sakit militer, penjara militer, lapangan latihan menembak militer, padang rumput untuk pakan kuda militer, hingga kompleks perumahan perwira militer. Sampai tahun 1885, terdapat sekurangnya tiga batalyon militer Belanda di Cimahi, yakni infanteri, zenie, dan artileri.

Setelah masa penjajahan Belanda serta Jepang berakhir, dan Indonesia menjadi sebuah negara kesatuan yang berdaulat, posisi Cimahi sebagai pusat militer boleh dibilang tidak berubah.

Hingga hari ini, Cimahi masih menjadi pusat sejumlah pendidikan militer. Sebut misalnya Pusdik Armed, Pusdik Pom, Pusdik Pengmilum, Pusdikhub, Pusdik Bekang, dan Pusdikjas. Cimahi juga menjadi pusat kesenjataan artileri medan dan pusat kesenjataan artileri pertahanan udara. 

Gunung Bohong
Gunung Bohong/Djoko Subinarto

Lapang tempat latihan militer di Cimahi juga masih berfungsi hingga saat ini. Lokasinya di kawasan Gunung Bohong, sebelah barat rumah sakit militer Dustira, tak begitu jauh dari Jalan Tol Padaleunyi. 

Dulu, bunyi desing peluru yang nyasar ke permukiman bukan hal yang aneh bagi penduduk sekitar Gunung Bohong, terutama yang berada di sisi utara lapang tembak. Adanya peluru yang nyasar dimungkinkan karena tanggul tempat untuk latihan menembak saat itu tidak terlalu tinggi. Sekarang, sejak posisi tanggul ditinggikan, tak lagi terdengar bunyi desing peluru-peluru nyasar.

Namun, dar der dor bunyi senapan, baik laras pendek maupun laras panjang, masih dapat kita dengar dengan nyaring ketika para tentara sedang melakukan latihan menembak, dan di saat kita berada di sekitar Gunung Bohong.

Di masa lampau, sekitar tahun 1970-an, anak-anak kampung di sekitar Gunung Bohong terbiasa mencari selongsong dan proyektil peluru bekas latihan menembak para tentara.

Selongsong yang terkumpul, kemudian mereka jual kepada pengepul barang-barang bekas. Untuk proyektil peluru, setelah terkumpul tidak langsung dijual. Melainkan harus dipanaskan terlebih dahulu. Caranya dengan merebus proyektil menggunakan air. Setelah air mendidih, timah yang ada dalam proyektil akan mencair. Timah inilah yang nanti dikumpulkan dan dijual ke pengepul.

Wisata Militer

Taman Meriam
Taman Meriam/Djoko Subinarto

Dengan peninggalan maupun fasilitas militer yang dimilikinya, Cimahi sesungguhnya memiliki modal kuat untuk menjadi sebuah kota wisata militer. Di sejumlah negara, konsep wisata militer sudah lazim dipraktikkan dan terbukti cukup berhasil mengundang minat para wisatawan. Di Amerika Serikat (AS), misalnya, terdapat kawasan wisata militer bernama Isaac Potts House di daerah Valley Forge, Pennsylvania, yang dulunya merupakan markas besar pasukan Jenderal George Washington.

Di Belgia, ada kawasan wisata militer Arlon, yang merupakan kota pertama yang pernah diduduki pasukan Jerman di masa Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Di kota kecil yang letaknya sekitar 40 kilometer dari perbatasan Jerman ini berdiri sejumlah tugu dan monumen militer berikut rumah sakit tentara peninggalan masa perang yang ternyata mampu menyedot minat para wisatawan untuk berkunjung ke kota ini.

Lantas di Rusia, sejumlah kawasan di Moskow menawarkan sejumlah paket wisata militer yang cukup menarik, mulai dari kunjungan ke kawasan bekas medan-medan pertempuran semasa perang, melihat bunker dan berbagai bangunan bekas markas tentara hingga paket berlatih menembak dan naik kendaraan lapis baja militer.

Di Ho Chi Minh (dulu bernama Saigon), Vietnam, juga ada daerah khusus wisata militer. Salah satunya yang terkenal adalah Chu Chi, yang merupakan jaringan terowongan bawah tanah yang menjadi markas pasukan Viet Cong ketika berjuang melawan tentara AS di masa Perang Vietnam. Terowongan sepanjang 121 kilometer itu kini menjadi kawasan wisata militer yang banyak dikunjungi turis asing. Selain menyusuri terowongan dan menikmati berbagai menu makanan khas pasukan Viet Cong, para wisatawan yang berkunjung ke Chu Chi juga dapat berlatih menembak menggunakan beragam jenis senapan yang dulu pernah digunakan selama Perang Vietnam.

Mampu Diandalkan

Ditilik dari aspek kekhasan, bangunan dan tempat-tempat bersejarah di Kota Cimahi tampaknya cukup mampu diandalkan untuk menarik minat para wisatawan yang hendak melakukan wisata militer ke Cimahi. Apalagi dalam waktu dekat ini Cimahi kabarnya akan mendirikan pula sebuah museum militer.

Bahkan, untuk membuat paket wisata militer seperti berlatih menembak sebagaimana yang biasa ditawarkan di Moskow, Rusia, dan di Chu Chi, Vietnam, tidaklah terlalu sulit dilakukan karena Cimahi memiliki areal latihan menembak untuk tentara yang cukup memadai.

Kini tinggal bagaimana pengelola Kota Cimahi, pihak militer serta para pemangku kepentingan lainnya dapat bersinergi dengan sebaik-baiknya untuk membuat program dan terobosan-terobosan kreatif dalam upaya memajukan sektor pariwisata Kota Cimahi, khususnya yang terkait dengan aktivitas wisata militer.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan TikTok kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Penulis lepas dan blogger yang gemar bersepeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyusuri Warisan ‘Londo’ di Cimahi