Itinerary

5 Rekomendasi Warung Kopi Madura di Jogja

Seorang kawan dari Jakarta sempat melayangkan kerinduannya terhadap Kota Jogja, yang menurutnya tidak dimiliki di tempat tinggalnya saat ini. Kawan saya itu sempat mengenyam pendidikan di Jogja, sebelum akhirnya memutuskan untuk tinggal lama di Jakarta.

Menurut kesaksiannya, hanya di Jogja seseorang bisa ngopi sampai pagi dengan biaya yang sangat murah. Ia hanya mengeluarkan uang lima ribuan, bisa nongkrong dari pagi sampai pagi tanpa perlu khawatir diusir penjaga maupun warga sekitar.

Warung yang ia maksud adalah warung kopi Madura yang kerap ada di tiap sudut kota Yogyakarta. Bahkan sampai ke pelosok pun ada. Disebut dengan warung Madura, selain menawarkan sajian kopi yang khas dengan serbuk tebal di atasnya, juga karena pemilik dan karyawannya berasal dari Madura.

Pengalamannya tersebut turut saya rasakan pula. Kehadiran warung Madura di Jogja cukup membantu saya selama menggarap pekerjaan atau sekadar nongkrong bersama teman sampai lupa waktu. Adapun beberapa warung Madura yang dapat ditemukan di setiap sudut kota Jogja, telah saya rangkum sebagai berikut.

1. Kafe Basabasi

Kafe ini merupakan tempat ngopi paling terkenal bagi mahasiswa-mahasiswa di kota pelajar. Saking terkenalnya warung ini kerap digunakan sebagai tempat untuk rapat organisasi, ruang kerja, atau hanya sekadar nongkrong.

Sebagaimana namanya, warung ini membawa konsep yang ramah untuk siapa pun. Berkumpul sembari menikmati sajian kudapan yang mereka sediakan. Selain itu di warung ini tidak hanya menjual kopi, tetapi juga ada banyak menu lainnya, seperti makanan berat yang cocok bila kelaparan saat asyik nongkrong di tempat ini.

Meskipun tidak buka 24 Jam, tetapi beberapa teman saya kerap singgah di kafe sampai Subuh. Warung ini membolehkan siapa pun yang betah berlama-lama di tempat ini, walau para karyawannya sedang beristirahat. Hal tersebut membuat tempat ini cukup direkomendasikan, apabila ada bahasan serius yang membutuhkan ruang dan waktu yang fleksibel. Kafe Basabasi pusat berada di Sorowajan dan memiliki sejumlah cabang di Jogja. Warung kopi ini beroperasi pada pukul 10.00—00.00.

2. Bjong Ngopi

Bjong Ngopi cenderung memiliki konsep yang hampir menyerupai Kafe Basabasi. Akan tetapi, menurut saya warung ini cenderung lebih nyaman untuk aktivitas kumpul karena suasananya yang tidak begitu ramai.

Sebagaimana namanya, Bjong merupakan plesetan dari nama Desa Bojong yang terdapat di Kabupaten Magelang. Desa tersebut merupakan tempat asal dari Awang, sang pemilik.

Meskipun pemiliknya berasal dari Magelang, tetapi beberapa konsep serta menu yang ditawarkan memiliki banyak persamaan dengan warung-warung kopi Madura pada umumnya. Persamaan tersebut dapat saya temukan di secangkir kopinya yang cenderung memiliki ampas tebal serta harga yang terjangkau. 

Jika mengunjungi warung kopi satu ini, sepertinya tidak perlu lagi khawatir dengan jam pelayanan yang disediakan. Beberapa cabang Bjong Ngopi sudah menerapkan jam pelayanan 24 jam penuh, bahkan dapat diakses setiap hari. 

3. Mato Kopi

Warung Madura satu ini dikenal cukup legendaris bagi masyarakat Jogja. Selain menyediakan tempat nongkrong selayaknya berada di rumah sendiri, menu yang tersedia pun sangat terjangkau bila dibandingkan dengan warung kopi Madura pada umumnya. Alhasil banyak mahasiswa-mahasiswa Jogja yang menggunakan warung ini sebagai tempat mengerjakan tugas serta berdiskusi sampai larut hari.

Mato sendiri berasal dari bahasa Madura yang memiliki arti candu. Nama tersebut merupakan harapan bagi para pelanggan yang datang, agar dapat betah dan merasa ingin kembali ke warung kopi tersebut.

Pada mulanya warung ini hanya bertempat di sebuah kios dengan luas sekitar 3×5 meter. Seiring berjalannya waktu, warung tersebut kian ramai. Kini telah menyediakan berbagai macam cabang dengan bangunan yang lebih luas dan tersebar di penjuru hingga pelosok Kota Yogyakarta.

Seperti halnya dengan Bjong Ngopi, Mato Kopi memiliki konsep jam pelayanan selama 24 jam penuh dan beroperasi setiap hari. Akan tetapi, karena karyawannya merupakan pemeluk agama Islam, maka ketika waktu salat Jumat tiba biasanya warung kopi ini berhenti melayani sejenak.

4. Bento Kopi

Bento Kopi termasuk warung kopi yang sukses, karena memiliki banyak jaringan di Yogyakarta. Warung ini didirikan oleh seorang pengusaha muda dari Pamekasan, yang kebetulan telah menyelesaikan studinya di Jogja. Pemuda tersebut bernama Hairul Umam Bento.

Berbeda dengan warung kopi Madura lainnya, Bento Kopi cenderung mengusung gaya pelayanan yang bersih dan modern. Hal tersebut didukung desain interior di dalam warung yang serba putih sekaligus bersih. Bahkan setiap karyawan memiliki seragam yang hampir serupa. Terdapat pula konsep costumer service yang lebih rapi dan terorganisasi, lantaran setiap pembeli akan diberi sebuah alat kecil untuk mendeteksi bahwa pesanannya sudah siap tersaji.. 

Selain itu, Bento Kopi juga menyediakan ruang kerja yang nyaman serta didukung dengan ketersediaan wi-fi yang cukup kencang. Pun jika hanya sekadar nongkrong, tempat ini juga cukup asyik karena pengunjung dapat menikmati fasilitas lesehan sembari menikmati live music yang ada di sekitar panggung.

Warung ini menyediakan menu yang beragam dengan rentang harga Rp10.000—25.000, tergantung menu yang hendak dipesan. Adapun jam operasionalnya mulai pukul sembilan pagi sampai dua dini hari.

5. Kobessah Kopi

Warung kopi ini hampir dapat ditemukan di setiap kampus yang ada di Kota Yogyakarta. Letaknya yang berdekatan dengan kampus membuat Kobessah Kopi menjadi andalan bagi para mahasiswa untuk sekadar berkumpul maupun mengerjakan tugas. 

Selain karena tempatnya yang nyaman, warung kopi ini juga menyediakan area outdoor yang kerap digunakan untuk para pengunjung berkumpul. Konsep bangunannya sendiri banyak terinspirasi dari joglo khas Jogja. Dapat ditemukan di tiap ornamen bangunannya yang menggunakan kayu jati dengan kualitas terbaik, serta didominasi dengan warna cokelat.

Harga menu yang ditawarkan pun beragam, mulai dari harga Rp5.000 sampai dengan Rp15.000. Dengan kisaran harga segitu, siapa pun dapat mengunjungi Kobessah Kopi sampai larut malam.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Kerap dipanggil sebagai Suden, kini tinggal di Yoyakarta dan sedang menempuh pendidikan panjangnya di menfess Twitter.

Kerap dipanggil sebagai Suden, kini tinggal di Yoyakarta dan sedang menempuh pendidikan panjangnya di menfess Twitter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Memandang Candi Prambanan dari Secangkir Kopi