Sang Alkemis disebut-sebut novel fiksi karya Paulo Coelho paling populer dan terlaris sepanjang sejarah. Sejak terbit pertama kali di Brasil tahun 1988 dengan judul asli dalam bahasa Portugis O Alquimista, hingga kini novel tersebut telah cetak ulang lebih dari 100 juta kopi dan telah diterjemahkan ke lebih dari 60 bahasa internasional. Karya ini menempatkan Paulo Coelho ke jajaran teratas sastrawan besar Brasil dan dunia.
Novel Sang Alkemis bercerita tentang petualangan spiritual Santiago, seorang bocah penggembala yang berkelana dari rumahnya di Spanyol ke padang pasir Mesir untuk mencari harta karun terpendam di antara piramida-piramida. Meski tidak ada yang tahu isi harta karun itu, Santiago tetap berusaha menempuh perjalanan penuh rintangan dan menemui banyak orang, seperti perempuan Gipsi, orang tua yang mengaku raja, dan seorang alkemis, yang menunjukkan jalan menuju harta karun tersebut. Namun, pada akhirnya perjalanan demi harta duniawi berubah menjadi penemuan harta di dalam diri. Lewat Santiago, Paulo Coelho menunjukkan kekuatan mimpi dan betapa pentingnya mendengarkan suara hati kita.
Gaya cerita yang mengalir, bahasa yang sederhana tapi penuh metafora, membuat Sang Alkemis memikat jutaan pembaca. Bahkan tidak sedikit pula yang mengalami perubahan sudut pandang terhadap kehidupan atau mengubah kehidupan itu sendiri setelah membaca novel ini. Dari penceritaan Coelho yang khas inilah, terdapat cukup banyak kutipan dialog maupun pemikiran dari karakter-karakter utama yang menarik. Sehingga, banyak pembaca atau pegiat internet mengutipnya sebagai bahan caption di konten media sosial mereka.
TelusuRI ikut membantu kamu merangkum lima kutipan tentang makna perjalanan yang paling menarik dari novel Sang Alkemis. Kami mengambilnya dari novel Sang Alkemis cetakan ke-15 (Januari 2014) yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Siapa tahu, kutipan-kutipan yang ditulis Paulo Coelho ini relevan dengan perjalanan kehidupanmu, kan?

“Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu, bagaimana orang lain seharusnya menjalani hidup, tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.” (hal. 23)
Kalimat ini merupakan buah pikiran Santiago saat pulang dengan perasaan kecewa setelah menemui perempuan Gipsi, yang dia anggap bisa menafsirkan mimpi-mimpinya. Saat sedang istirahat di bangku panjang alun-alun sembari mencicipi anggur yang menyegarkan, Santiago merenungi kegemarannya berkelana sembari menggembalakan domba-dombanya. Dari berkelana, ia bisa mengenal banyak orang dan teman baru di kota. Ia menyadari, meski akhirnya menjadi bagian hidup dari orang-orang yang ditemui, kita tidak bisa serta-merta meminta orang-orang itu berubah sesuai kehendak kita.
Begitu pun dalam perjalanan, kita akan menemui banyak orang dengan beragam latar belakang. Apa yang tampak di permukaan, belum tentu mewakili kepribadian sesungguhnya dari orang-orang tersebut. Perjalanan yang baik dan bermakna akan menuntut kita agar tidak mudah menilai orang lain hanya dari kulitnya saja.
“Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya.” (hal. 31)
Mungkin inilah kutipan paling terkenal dan paling banyak dikutip dari novel Sang Alkemis. Barangkali level spiritual kutipan ini setara dengan kutipan “Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu” dalam novel Sang Pemimpi (2006) karya Andrea Hirata, pencipta tetralogi Laskar Pelangi yang fenomenal di Indonesia.
Kutipan tersebut diucapkan oleh sosok orang tua bernama Melkisedek yang ditemui Santiago di sebuah alun-alun kota Tarifa. Kepada Santiago, orang tua itu mengaku sebagai raja Salem. Ia mengejutkan Santiago karena mengaku tahu cara untuk menemukan harta karun yang muncul di mimpi-mimpi Santiago, meski Santiago mencurigainya sebagai suami perempuan Gipsi yang berprofesi sebagai peramal dan sempat dianggapnya sama-sama penipu.
Seperti halnya kekuatan mimpi dan isi hati, jika kita benar-benar ingin pergi ke suatu tempat untuk melakukan perjalanan dengan tujuan tertentu, kita perlu yakin bahwa Tuhan pun dan seisi alam seakan melapangkan jalan meski banyak tantangan yang harus dilalui.
“Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya.” (hal. 155)
Kutipan ini diucapkan sang alkemis saat menasehati Santiago yang tengah galau, apakah meneruskan perjalanan menggapai mimpi atau menetap di oasis demi Fatimah, wanita yang dicintainya dan sudah dianggap lebih berharga daripada menemukan harta karun. Padahal, sebagaimana kehidupan orang gurun, menurut sang alkemis, laki-laki memang harus pergi untuk mencari dan perempuan hidup menunggu dengan setia. Sang alkemis pun mengingatkan Santiago bisa saja kelak menyesali keputusannya karena tidak mengikuti suara hatinya.
Dalam perjalanan, terkadang cinta dan hasrat (passion) diperlukan untuk menjaga semangat seseorang menjemput takdir yang ia yakini. Sebuah situasi yang mau tidak mau harus dilalui dengan cara terus bergerak, meneruskan langkah demi kehidupan di masa depan yang lebih baik dan berwarna.


Penggambaran adegan dari novel Sang Alkemis saat Santiago menggembalakan domba-dombanya di padang rumput Andalusia (kiri) dan di gereja terbengkalai lewat lukisan karya Karen (Art by Karen)
“Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada.” (hal. 165)
Pernyataan tersebut dilontarkan sang alkemis saat menjawab pertanyaan Santiago, “Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita?”. Percakapan ini terjadi saat mereka berdua hendak mendirikan tenda untuk beristirahat setelah perjalanan berkuda mengarungi padang pasir yang berat dan penuh bahaya.
Sang alkemis berusaha meyakinkan Santiago yang gelisah dan mulai khawatir memikirkan perjalanannya mencapai mimpi-mimpinya itu. Sebab, umumnya manusia merasa takut, tidak layak, dan tidak akan pernah bisa untuk mewujudkan impian-impian yang berharga, padahal belum pernah mencoba melangkah satu jengkal pun. Sampai akhirnya, Santiago menyadari bahwa setiap detik perjalanannya mencari jalan menuju impian juga menjadi momen pertemuannya dengan Tuhan. “Ketika aku sungguh-sungguh mencari harta karunku, sepanjang jalan aku menemukan hal-hal yang takkan pernah kulihat andaikan aku tak punya keberanian untuk mencoba segala sesuatu yang kelihatannya mustahil dicapai seorang anak gembala,” kata Santiago.
Maka, seperti kebanyakan seorang pejalan, proses menemukan makna perjalanan kerap jauh lebih berharga dibanding mencari kesenangan atau kepuasan di destinasi itu sendiri. Perjalanan untuk menguji batas dan keberanian diri bisa melebihi segala pencapaian fisik atau monumental untuk dipamerkan ke khalayak.
“Hidup ini sangat murah hati pada orang-orang yang mau mengejar takdir mereka.” (hal. 212)
Di bagian “Epilog”, perenungan ini muncul di pikiran Santiago setelah menemukan harta karun di gereja kecil terbengkalai, tempat ia dan domba-dombanya biasa beristirahat sepanjang malam. Peti keras itu berisi penuh keping-keping uang emas Spanyol, batu-batu mulia, topeng-topeng emas berhiaskan bulu-bulu merah dan putih, serta patung-patung batu bertatahkan permata..
Di antara kumpulan harta rampasan yang telah lama terlupakan, Santiago memasukkan batu Urim dan Tumim pemberian Melkisedek, orang tua yang mengaku raja Salem itu. Dua buah batu yang hanya sekali digunakan Santiago sepanjang perjalanannya untuk memberi pertanda berupa jawaban “ya” dan “tidak” atas pertanyaan dan kegelisahan yang berkecamuk di pikiran. Sisanya, Santiago lebih sering mengambil keputusannya sendiri, sebagai bentuk kemandirian dan tanggung jawab atas takdirnya yang ingin ia gapai.
Pencapaian Santiago memberikan perenungan kepada kita, bahwa terkadang harta yang paling berharga ternyata begitu dekat dengan kehidupan kita tanpa disadari. Namun, Tuhan memang perlu menguji manusia melalui perjalanan-perjalanan penuh rintangan, sebagai pelajaran betapa proses yang ditempuh acapkali jauh lebih berharga daripada hasil itu sendiri. Dengan perjalanan, kita bisa lebih memaknai setiap penggal kehidupan yang sering kali mengejutkan.
Foto sampul: Ilustrasi padang pasir dan piramida di Mesir yang menjadi salah satu latar perjalanan Santiago di novel Sang Alkemis (Dokumentasi oleh AXP Photography via Pexels)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Jika tidak dituliskan, bahkan cerita-cerita perjalanan paling dramatis sekali pun akhirnya akan hilang ditelan zaman.


