TRAVELOG

Tukang Air Keliling, Penolong Air Bersih Warga

Air bersih dari penjual air keliling jadi andalan warga untuk minum dan memasak. Perlu percepatan pemerataan distribusi air layak konsumsi dari instansi terkait.

Menuju 81 tahun kemerdekaan negeri ini, persoalan air bersih masih mengemuka. Terutama di Pulau Jawa, pasokan air penunjang kebutuhan rumah tangga disuplai perusahaan daerah air minum (PDAM). 

Namun, karena alasan teknis, di beberapa tempat banyak warga belum mendapat aliran air dari PDAM. Mereka bergantung pada air tanah yang disedot mesin. Lainnya memanfaatkan sumur warisan orang tua. 

Kualitas air tanah tidak sepenuhnya baik. Terkadang tercampur serpihan pasir, menyebabkan keruh. Air tanah yang tercemar akut, bahkan berbau. Rentan menimbulkan penyakit bila dipakai mandi, mencuci pakaian, dan buang hajat. 

Tapi, ada pula air tanah yang bening, tidak beraroma. Masyarakat mantap menggunakannya untuk bebersih. Namun, buat urusan dapur, mereka enggan kompromi. Tetap memercayakan waterleiding—istilah zaman kolonial Belanda untuk saluran air bersih—yang kemudian diserap lidah pribumi dengan sebutan “ledeng”.

Lalu, bagaimana dengan hunian yang belum mendapat sambungan pipa ledeng? Dari mana mereka memenuhi keperluan minum dan memasak?

Tukang Air Keliling, Penolong Air Bersih Warga
Sumur milik warga RT 07 Kampung Kalijaga, Kota Cirebon/Mochamad Rona Anggie

Deret Jeriken di Gerobak

Saya berjumpa penjual air keliling di perumahan Permata, Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti. Kawasan padat penduduk di selatan Kota Cirebon. Agak jauh ke pinggir dari tempat saya tinggal sebelumnya: kompleks Rajawali Barat. 

Di Permata, saya menyaksikan anomali kehidupan modern. Ternyata kebutuhan dasar makhluk hidup—air bersih—belum merata diperoleh. Padahal manusia sudah menjejak bulan, menyelami palung terdalam, menerbangkan drone tempur antarbenua, tapi di tempat saya berdiri sekarang, orang kalang kabut bila si “pahlawan” air keliling tak tampak batang gerobaknya. 

Gelinding roda dengan bunyi klenengan menjadi ciri khasnya. Pagi itu, saya yang sedang menyapu halaman, sengaja menyetopnya sejenak. Dia berkenan diajak ngobrol. Namanya Toyib, 38 tahun. Warga Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan itu sudah 11 tahun berdagang air keliling.

Ada 16 jeriken biru di gerobaknya. Tiap sisi berderet delapan jeriken. Saya sempat heran, ketika Toyib rajin lewat depan rumah, lantas mendatangi tetangga. Dia mengangkat beberapa jeriken ke dalam. “Sudah langganan. Biasa per dua hari pesan,” katanya menerangkan kebutuhan air bersih si pembeli.

Saya pun penasaran, dengan gerobak penuh muatan air per jeriken 20 liter, sanggup berapa kali putaran Toyib mengelilingi kompleks? “Tiga kali balikan, Pak. Mulai pagi sampai zuhur, jualan selesai,” ujarnya. 

Pertemuan pertama dengan Toyib, membuat saya antusias ingin menggali lebih jauh aktivitas usahanya. Saya berencana mendatanginya di tempat pengisian air bersih yang tak jauh dari rumah. Ada di perkampungan belakang Taman Kehati Harjamukti.

Tukang Air Keliling, Penolong Air Bersih Warga
Toyib mengisi ulang jeriken dengan air PDAM/Mochamad Rona Anggie

Setia Berniaga Air

Memasuki hari kelima belas Ramadan, saya bersirobok dengan Toyib di jembatan Kali Pacit. Dia tampak semringah. Baru menangguk untung. Dagangannya ludes, dan hendak mengisi ulang lagi untuk ketiga kali. Saya bersepeda, mengikutinya ke tempat pengisian air. Waktu itu pukul 10.30 WIB. Kami pun asyik berbincang.

“Kenapa belasan tahun betah jualan air keliling? Apa tidak mau ganti mata pencaharian?” tanya saya.

“Kepikiran (alih profesi). Tapi, apa yang mau dikerjakan?” jawabnya polos.

Toyib mengaku mulai memasarkan air keliling selepas menikah. Dia rela meninggalkan istri di desa, demi mencari nafkah. Toyib menawarkan per jeriken air ledeng Rp3.000, sementara modal pembeliannya Rp2.500 per jeriken. 

“Saya setor ke pemilik tandon air, usai berdagang. Atau besok paginya,” terangnya. 

Kepercayaan si empunya toren, kata Toyib, tumbuh seiring dirinya sekian tahun berniaga air bersih. Seperti yang saya saksikan siang itu, tak ada pemilik tandon atau pengawas, saat Toyib mengisi kembali deretan jerikennya. Setelah sepuluh jeriken penuh, ayah dua anak itu lanjut berjualan.

“Saya isi sepuluh saja, maklum lagi puasa,” alasannya tak mengisi semua jeriken. Dia lantas menggenjot langkah, mendorong gerobak penghidupan. Saya amati urat-urat betisnya menonjol, ketika jalan sedikit menanjak. Otot lengannya mengencang. Keringat membasahi kaus sang pejuang keluarga.

Di sebuah tikungan, kami berpapasan dengan tukang air keliling lainnya yang mengendarai motor roda tiga. Toyib menyapa kawan dekatnya itu. 

Lebih dari satu dekade, Toyib jualan air bersih mengitari permukiman/Mochamad Rona Anggie

Warga Butuh untuk Masak

Toyib mengarahkan gerobak ke perumahan Griya Jati. Tidak jauh dari titik pengisian air. Ini kompleks kelas menengah. Tipe rumah 36 mendominasi. Lelaki yang sepekan sekali pulang kampung itu, menghampiri satu per satu hunian pelanggan.

“Masih ada…” sahut pemilik rumah.

Toyib bergegas memutar gerobak. Balik arah. Menembus gang-gang lainnya.

“Nanti lagi, Mang…” kata perempuan di balik pagar putih.

Toyib tak patah arang. “Kalau yang sekali isi, empat-lima jeriken, memang agak lama kosongnya. Tapi yang pesan dua jeriken, biasa tiap dua hari isi lagi,” tuturnya.

Mentari kian meninggi. Lumayan panas. Langkah Toyib terhenti depan rumah hook. Saya tak mendengar teriakan pesanan. Namun, Toyib segera mengangkat jeriken ke dalam dapur, di samping bangunan utama.

Rupanya, pelanggan yang punya usaha katering itu order via telepon. Saya sempat melihat Toyib mengangkat ponsel. “Yang kenal dekat, bisa kontak kalau butuh air,” bebernya.

Dari sepuluh jeriken, delapan ditumpahkan ke ember penampung. “Air tanah saya lancar, bagus. Tapi untuk masak, tidak berani. Tetap beli air keliling,” ucap Bu Dzul yang tengah menyiapkan pesanan menu buka puasa.

“Apa saluran ledeng belum ada?” 

“Saya masuk daftar tunggu. Belum tahu kapan dipasang,” ujarnya.

Air bersih PDAM dalam tandon 5.000 liter dijual bebas. Suknadi membawa 30 jeriken sekali jalan/Mochamad Rona Anggie
Suasana dapur katering Bu Dzul. Tampak Toyib sedang mengisi air bersih ke ember/Mochamad Rona Anggie

Kemarau Pesanan Meningkat

Setelah merasa cukup mendokumentasikan rutinitas Toyib, saya pamit dan lekas mengejar rekannya di pengisian air. 

“Dia isi banyak, 30 jeriken. Sepertinya masih di sana,” katanya.

Saya kayuh sepeda sambil melirik jam tangan: 11.05 WIB.

Syukurlah, kelihatan motor roda tiga terparkir. Pemiliknya kaget, ketika saya dekati. 

“Mau nulis tentang penjual air keliling,” cerocos saya. “Namanya siapa, Pak? Usia berapa?”

“Suknadi. Kelahiran ’85.”

“Wah, kita seumuran, Pak! Tos dulu…” 

Lelaki berbadan gempal itu tersenyum. Menunjukkan keakraban.

“Sudah berapa lama jualan air keliling?”

“16 tahun!”

“Biasa muter ke mana?”

“Ke Taman Kalijaga,” ucapnya menyebut kompleks agak jauh dari titik pengisian air. “Kami bagi per wilayah, jadi tidak rebutan. Saya lebih jauh karena pakai motor.” 

Suknadi yang karib disapa Adam mengungkapkan, pasar air bersih keliling cukup potensial. Terutama di perumahan yang tidak terjangkau aliran PDAM. “Taman Kalijaga itu posisinya menanjak, jadi air ledeng tidak naik ke sana,” jelasnya.

Belum lagi saat musim kemarau, lanjut dia, pesanan air bersih melonjak. Warga yang mengandalkan air tanah disedot mesin, akan mengalami kekeringan. Mau tak mau, pedagang air keliling jadi penolong yang diharapkan. 

Warga Kabupaten Kuningan itu mengaku kerasan berjualan air keliling, karena bisa menghidupi keluarga di kampung. Dia merasa cukup atas rezeki yang diperoleh. “Niatnya membantu yang kesulitan air bersih juga, jadi terus semangat,” ucap ayah dua anak tersebut.

Air bersih PDAM dalam tandon 5.000 liter dijual bebas. Suknadi membawa 30 jeriken sekali jalan/Mochamad Rona Anggie
Air bersih PDAM dalam tandon 5.000 liter dijual bebas. Suknadi membawa 30 jeriken sekali jalan/Mochamad Rona Anggie

Aturan Komersialisasi Air Ledeng

Ini menggugah kesadaran saya. Bolehkah air konsumsi rumah tangga diperjualbelikan? Bagaimana regulasinya? Atau ada syarat tertentu.

Saya mendatangi kantor Perumda Tirta Giri Nata Kota Cirebon di Jalan Tuparev. Berharap bersua Kepala Bagian Pelayanan Langganan. Sayang tidak di tempat.

Saya coba menghubungi pejabat lainnya, tetapi memilih bungkam. “Harus bersurat resmi, kalau mau minta data,” katanya.

Padahal saya sudah menyiapkan tambahan pertanyaan lainnya. Berapa target pemasangan baru saluran ledeng tahun 2026? Berapa lama daftar antrean untuk bisa menjadi pelanggan aktif PDAM?

Semoga lain kesempatan, saya bisa mendapat jawabannya. Ini penting sebagai upaya menyuarakan hak dasar hidup semua manusia: air bersih!


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Mochamad Rona Anggie

Tinggal di Kota Cirebon. Kerap mengulas isu lingkungan, budaya, dan pariwisata. Ayah lima anak ini hobi mendaki gunung sejak 2001, dan tak bosan memanggul carrier hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menyusuri Taman Kehati Harjamukti Kota Cirebon