TRAVELOG

Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon

Mentari masih belia. Warga kota memulai hari, melintasi gerbang Pecinan yang baru bersolek. Warna merahnya memancarkan semangat ke segala penjuru. Menerangi cinta antaretnis di sepanjang pesisir utara. Ada Jawa dan Tionghoa. Satu untuk Indonesia.

Memasuki 2026, pariwisata di Kota Udang bakal menggeliat. Sejumlah titik dipercantik. Termasuk gerbang kawasan Pecinan yang terkoneksi dengan Pasar dan Keraton Kanoman. Letaknya strategis di persimpangan Jalan Karanggetas, Pasuketan, Pekiringan, dan Winaon. Simpul perniagaan yang melibatkan komunitas Tionghoa, Arab, India, dan pribumi. Tentunya menambah daya tarik pelancong untuk datang.

Selasa pagi (6/1/2026), saat sedang menyusuri gerbang Pecinan, sebuah insiden persis di depan saya: seorang ibu terjatuh dari motor ketika mau belok ke Jalan Winaon, selepas lampu hijau di Jalan Pasuketan. Suasana lengang, pengendara lain cepat menolong, termasuk polisi yang sedang berjaga di perempatan. 

Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon
Pemotor terguling saat hendak menikung ke gerbang Pecinan/Mochamad Rona Anggie

Vandalisme Merusak Estetika

Saya menyeberangi perempatan, lantas mengamati gerbang Pecinan dari muka Jalan Karanggetas. Terlihat megah. Tulisan “Pecinan Cirebon” dan aksara Mandarin menambah semarak. Gerbang masuk permukiman warga Tionghoa itu akan mengundang antusias pelancong untuk berfoto.

Sayangnya, di pojok bawah kiri gerbang, vandalisme berupa coretan pilox tampak jelas. Tentu saja mengganggu. Apalagi corat-coretnya di dinding keramik penunjuk wilayah RW setempat. Kian parah, karena huruf timbul nama kelurahan dan Kota Cirebon protol. Tak terbaca lagi! Sungguh menjungkirkan estetika gerbang Pecinan.

Saya mengelus dada. Tak habis pikir. Lha, waktu pembuatan gerbang ikonis ini, apa penanggung jawab proyek cuek saja dengan kondisi sekitar. Tidak berusaha memberi masukan kepada pimpinan, agar keindahan sekeliling gerbang Pecinan turut diperhatikan.

Dan terbukti, turis lokal semacam saya kecewa melihatnya. Bagaimana wisatawan luar kota atau mancanegara? Mereka pasti prihatin pula. Sudah senang lihat keelokan gerbang Pecinan, eh, mendadak kesal karena vandalisme mengotori.

  • Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon
  • Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon
  • Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon

Rongsokan Lamer dan PKL Kumuh

Saya menyelidik ke sudut lain gerbang, dan terperangah menyaksikan perangkat lampu merah (lamer) yang sudah tak berfungsi, dibiarkan macam rongsokan tergantung. Kotak lampu di tiang bawah, nyaris lepas. Sementara ujung tiang bengkok—tidak simetris—membuat lampu tengadah ke langit. Ini berubah jadi pengatur lalu lintas burung di udara, batin saya.

Penelusuran pinggiran gapura Pecinan berlanjut. Di pedestrian sebelah timur, warung pedagang kaki lima (PKL) yang lama tak beroperasi, tampak kumuh. Kesan jorok pun muncul. Saya menghela napas, dan kecewa lagi. 

Tata ruang sebuah kota, tentu saja mesti berpihak pada pegembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tapi rupanya, bukan hal mudah memahamkan PKL untuk peduli kebersihan tempat berjualan. Apalagi usaha mereka di titik strategis gerbang masuk kawasan wisata. 

  • Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon
  • Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon

Kelenteng Satu Abad

Saya meneruskan langkah ke arah selatan. Lima puluh meter dari gerbang Pecinan, ada Kelenteng Pemancar Keselamatan (Boen San Tong) yang berdiri sejak 1894. Warna kuning, merah, dan ornamen naga menghiasinya.

Rumah ibadah ini berderet dengan toko kelontong. Sementara di seberangnya, kediaman peranakan Tionghoa menyuguhkan desain tradisional Cina berikut lampion.

Trotoar sebelah timur gerbang Pecinan menuju kelenteng, dipenuhi penjual buah dan gerabah. Sedangkan di sisi baratnya, warga membuka toko obat, mainan, plastik, tas ramah lingkungan, hingga pakan binatang peliharaan. Termasuk toko penjual ikan hias yang menempel klenteng.

Persiapan Imlek dan Berburu Oleh-oleh

Sepekan berselang, saya kembali mengitari Pecinan. Ingin melihat dari dekat hiruk pikuk kunjungan turis ke sana. Benar saja, lapak kuliner khas Cirebon diserbu pelancong. Tak terkecuali gerai oleh-oleh.

Berada satu kawasan dengan Pasar Kanoman, membuat kampung Pecinan padat aktivitas bisnis. Penduduk sekitar biasanya membeli kebutuhan sehari-sehari. Sementara pencinta ikan hias berburu koleksi teranyar, penghobi burung kicau mencari jangkrik dan ulat untuk manuk kesayangan.

Di satu sudut, wisatawan antusias menikmati es durian yang dicampur sirup legendaris khas Cirebon. Padahal baru pukul sembilan pagi, si penjual berseri-seri. Laris-manis. Begitulah kalau akhir pekan. Omzet pedagang melonjak.

Pedagang buah kecipratan rezeki pula saat libur tanggal merah (Isra Mikraj Nabi Muhammad) bersambung Sabtu dan Ahad. Pinggiran jalur Pecinan sudah lama dimanfaatkan penjaja aneka buah. Ada berbagai jenis durian, pisang, mangga gedong gincu, alpukat, melon, dan pepaya.   

Saya terus berjalan di pedestrian sisi selatan. Mengamati turis yang berbelanja oleh-oleh. Mereka mengincar kerupuk kulit sapi, kerupuk udang, kerupuk melarat, emping, gapit, kecap tradisional, terasi berbahan rebon, serta ikan asin. Sejak lampau, produk olahan laut dari Cirebon memang kesohor di dalam dan luar negeri.

Sebentar lagi Tahun Baru Cina (Imlek) tiba. Semaraknya mulai terasa di Pecinan. Di emperan sebuah toko, tampak pedagang amplop angpao khas Imlek. Saya tak menyiakannya, dan segera memotret. Terlebih seorang nenek Tionghoa tengah memilih amplop bergambar simbol mitologi Tiongkok.

Suatu Pagi di Gerbang Pecinan Cirebon
Seorang nenek Tionghoa membeli amplop angpao memeriahkan tradisi Imlek/Mochamad Rona Anggie

“Persiapan Imlek, buat cucu nanti,” katanya tersenyum.

“Berapa ini?” tanya saya ke penjual.

“Amplop sedang per lembar sepuluh ribu, yang kecil lima ribu,” jawab lelaki beruban.   

 Tak dimungkiri, perayaan Imlek memperkaya khazanah budaya Nusantara. Asimilasi etnis di Cirebon sendiri terbilang bagus. Tiap suku bisa menempatkan diri. Saling menjaga keharmonisan. Belum pernah ditemui—dan jangan sampai—gesekan horizontal yang meletup hebat.

Semoga saja kehadiran gerbang Pecinan kian mengikat tali persaudaraan anak bangsa di daerah yang di-babad alas oleh leluhur Sunan Gunung Jati, yang notabene beristrikan keturunan Dinasti Ming (Tiongkok): Putri Tan Hong Tien Nio alias Nyi Ong Tien.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Mochamad Rona Anggie

Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Menelusuri Plang Jalur Evakuasi di Kota Cirebon