

Siswa PDW 2025 tiba di lokasi pelantikan/Mochamad Rona Anggie
Mereka berhasil!
Dentuman peledak, rentetan senapan, dan teriakan “Wanadri, Wanadri…” mengiringi derap langkah 87 putra-putri kebanggaan negeri, saat memasuki lapangan upacara penutupan Pendidikan Dasar Wanadri (PDW) 2025, Minggu (25/1/2026). Mereka berlari kecil, tertatih-tatih, bahkan sambil menggotong ransel dan memapah saudara seperjuangannya, demi berdiri tegak di hadapan tamu undangan serta keluarga yang datang menjemput.
Perbukitan Danau Sukasari, Desa Bukanagara, Kabupaten Subang, menjadi saksi pengukuhan anggota muda Wanadri. Keteguhan tekad para siswa dalam menuntaskan PDW, menunjukkan bangsa ini tidak kekurangan generasi muda yang setia dan tangguh.
Setia kepada persaudaraan perhimpunan; setia terhadap kemanusiaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tangguh di segala medan dan cuaca; tangguh dalam setiap situasi dan kondisi. Mengamalkan Janji Wanadri.

Selamat datang, angkatan Badai Kabut dan Bintang Rawa!
Rentang 27 Desember 2025–24 Januari 2026, peserta PDW berlatih intensif di alam terbuka. Medan gunung hutan, sungai arus deras, tebing terjal, rawa laut, dan jalan kaki 24 jam menempa mereka. Kalimat “tabah sampai akhir” benar-benar diresapi, agar sampai di tujuan.
Pada akhirnya, dari 117 peserta awal (107 pria, 10 wanita), tersisa 87 yang merampungkan pendidikan. Rinciannya 80 putra dan 7 putri. Mereka berasal dari 15 provinsi di Indonesia, dengan jenjang usia 18–30 tahun.
Komandan Pusat Kesenjataan Infanteri (Pussenif), Letjen Iwan Setiawan, selaku inspektur upacara penutupan PDW 2025 mengungkapkan, pelatihan yang dijalani selama sebulan tersebut merupakan proses pendidikan paling berat bagi warga negara Indonesia nonmiliter.
“Tidak semua orang bisa gabung Wanadri. Bersyukurlah kalian!” kata lelaki yang pernah menjejak puncak Everest tahun 1997. “Bagi kalangan sipil, Pendidikan Dasar Wanadri adalah yang terberat.”
Iwan menegaskan rangkaian PDW mengadopsi pola pendidikan prajurit infanteri yang hendak masuk Komando Pasukan Khusus (Kopassus). “Berlatih di area gunung hutan, rawa laut, hingga long march, adalah dasar pendidikan komando,” ujarnya.
Tantangan Cuaca Ekstrem
Komandan Latihan (Danlat) PDW 2025, Rudi “Kurdul” Mulyadi membeberkan, sebagian siswa terpaksa tidak melanjutkan pendidikan karena alasan medis dan mengundurkan diri. Pihaknya mengakui kondisi cuaca ekstrem memengaruhi fisik dan mental peserta. Ada yang tetap gigih berjuang. Ada yang memilih pulang. Bentuk tanggung jawab dan soliditas Wanadri, mereka yang mundur diantar sampai ke rumahnya. “Banyak yang gagal di medan operasi rawa laut,” kata Rudi kepada penulis.
Di tahapan operasional gunung hutan, guna mempraktikkan ilmu eksplorasi pencarian dan penyelamatan (ESAR) serta survival, hujan tak henti menerjang. Para pelatih memastikan keselamatan siswa, dengan tetap menerapkan kedisiplinan dan ketegasan. “Cuaca ekstrem jadi tantangan PDW kali ini. Salut buat siswa yang tak pernah menyerah,” tegas anggota Wanadri angkatan Elang Rawa (1996) itu.
Rudi dan tim telah mempersiapkan PDW sejak setahun sebelumnya, demi melahirkan generasi penerus Wanadri yang mumpuni. Awal perencanaan PDW, dia ingat tidak punya banyak staf karena tengah berlangsung ekspedisi Wanadri ke Kalimantan dan Pulau Buru. Namun, Rudi tetap optimis. Masih ada personel yang kompeten membantu, sehingga PDW berjalan lancar dan aman.

Ayah Wanadri, Anak Lulus PDW
Siang itu Fathan Muhammad Rakhekniven (24) ada dalam barisan yang dilantik menjadi anggota muda Wanadri. Syal oranye melingkar di leher, dan emblem Wanadri tersemat di lengan baju lapangannya.
Penuh suka cita, Niven–panggilan akrabnya–menerima ucapan selamat dari para senior Wanadri, tak terkecuali sang ayah Sutoyo, yang merupakan anggota Wanadri angkatan Elang Rawa.
“Alhamdulillah, anak saya lulus PDW. Ayahnya yang memberi motivasi kuat,” kata ibunda Niven. Bahkan anak sulungnya itu rela berkorban waktu, meninggalkan sementara perkuliahan pascasarjana di Singapura untuk mengikuti PDW.
Apakah ada persiapan khusus menuju PDW? Sang ibu mengaku anaknya hanya rutin joging. Terkait kesiapan mental, ayahnya yang banyak memberi arahan dan masukan. “Kebetulan adik Niven nomor dua masuk Akmil pula, jadi soal tekad dan kegigihan, Alhamdulillah saling support,” tuturnya bangga.



Dari kiri, searah jarum jam: Pendiri Wanadri, Kang Harrie (topi hitam) hadir di acara penutupan PDW 2025. Kang Toyo (kiri) dan anak sulungnya Niven yang lulus PDW 2025, bersama sang ibu (berkerudung). Rumah singgah milik M Alfan Baharudin di Desa Bukanagara, Subang/Mochamad Rona Anggie
Perdana di Bukanagara
Biasanya penutupan PDW berlangsung di kawasan Situ Lembang. Kali ini perdana di sekitar Danau Sukasari, Bukanagara. Tak jauh dari rumah singgah milik Letjen (Purn. Mar) Muhammad Alfan Baharudin, yang dijadikan titik kumpul panitia PDW 2025.
Tamu undangan dan rekan jurnalis diangkut mobil double cabin (4WD) dan truk Pussenif ke tempat upacara penutupan PDW. Jalur menanjak curam, melintasi dua aliran sungai yang menggenangi jalan. Pemandangan kebun teh hijau terhampar. Terasa udara sejuk dan kabut seliweran.
Saya sempat berjabat tangan dan menyapa pendiri Wanadri, Kang Harrie Hardiman Soebari (W-001 PEN), paman dari Achmad Hidayat atau Kang Yayat (W-006 PEN) yang tinggal di Kota Cirebon. Ketika saya bilang dari Cirebon, Kang Harrie yang tengah dituntun ke mobil Land Rover, seketika tersenyum lebar. “Wah, dari Cirebon! Terima kasih sudah datang,” kata lelaki 82 tahun itu.

Sementara Alfan Baharudin yang seorang Wanadri Kehormatan (WK), mengungkapkan rasa bahagia bisa memfasilitasi kegiatan positif untuk generasi muda Indonesia. “Saya senang dan menyambut gembira aktivitas Wanadri,” ucap penerima penghargaan Bintang Sakti dari Presiden Prabowo, 10 Agustus 2025.
Dalam sambutan penutupan PDW, Letjen Iwan Setiawan bangga bisa berjumpa kembali dengan seniornya, Alfan Baharudin. Dia memuji mantan Dankormar dan Kepala Basarnas itu sebagai teladan yang di masa pensiunnya tetap berkontribusi memajukan sumber daya manusia Indonesia.
“Pak Alfan ini patut dicontoh, mau meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran, demi pendidikan karakter anak bangsa yang tergabung dalam Wanadri. Selamat kepada siswa yang dilantik. Jaga kehormatan Wanadri!” tutupnya.
Jalan pengembaraan terbentang luas. Ibu pertiwi menanti baktimu, wahai Badai Kabut dan Bintang Rawa!
Foto sampul: Potret kekompakan siswa lulus PDW 2025 selepas upacara pelantikan menjadi anggota muda Wanadri, Minggu, 25 Januari 2026 (Mochamad Rona Anggie)
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Mochamad Rona Anggie tinggal di Kota Cirebon. Mendaki gunung sejak 2001. Tak bosan memanggul carrier. Ayah anak kembar dan tiga adiknya.





