TRAVELOG

Ngalap Ajip, Mengenang Warisan Kebudayaan Ajip Rosidi

Ada sosok yang begitu lincah dalam mengurus kebudayaan. Tokoh ini tidak hanya gemar mendokumentasikan karya-karya sastra. Tidak sekadar menulis buku, tetapi juga membuat cita-citanya melembaga.

Ia adalah Ajip Rosidi. Titelnya di mesin pencari ialah seorang sastrawan. Gelar itu tidak cukup untuk menggambarkan secara utuh kiprah pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat tersebut.

“Kalau bicara soal Ajip Rosidi itu bersinggungan dengan banyak bidang,” ucap Hafidz Azhar saat membuka diskusi “Ajip Rosidi dan Dunia Pustaka Jaya” pada Minggu (1/2/2026). Acara yang digelar di Perpustakaan Ajip Rosidi tersebut mengungkap kisah Ajip Rosidi sebagai pribadi yang berjuang di dunia literasi lewat dunia penerbitan, khususnya di Dunia Pustaka Jaya.

Ngalap Ajip, Mengenang Warisan Kebudayaan Ajip Rosidi
Suasana diskusi “Ajip Rosidi dan Dunia Pustaka Jaya”. Dihadiri oleh pembaca buku Pustaka Jaya, Bambang Q-Anees (kiri), sejarawan JJ Rizal (tengah), dan pegiat literasi sekaligus moderator Hafidz Azhar. Diskusi berlangsung di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung, 1 Februari 2026/Abdul Hamid

Saksi hidup yang menjadi pembicara, JJ Rizal, bercerita bahwa Ajip adalah sosok yang haus informasi. Dia bahkan bisa disebut orang Indonesia yang paling rakus buku. Sejarawan tersebut bisa mengenal lebih dekat setelah menyusun surat-surat Ajip Rosidi. Pekerjaan itu kemudian diterbitkan menjadi buku Yang Datang Telanjang: Surat-Surat Ajip Rosidi dari Jepang 1980—2002.

“Ajip sangat sering menulis surat untuk mencari informasi. Dia tidak ingin ketinggalan informasi di Indonesia saat bermukim di Jepang. Dan di antara surat-surat itu paling banyak tentang pemesanan buku ke berbagai negara,” kata JJ Rizal.

Ajip Rosidi juga menjalin hubungan pertemanan yang sangat luas. Dia tidak hanya berhubungan dengan kalangan sastrawan, tetapi juga politisi, pengusaha, tokoh agama, dan lain-lain. Di antara tokoh-tokoh yang bersinggungan dengannya antara lain Affandi (pelukis), Mahbub Djunaidi (sastrawan, politisi), Utuy Tatang Sontani (penulis/eksil), Dr Ir Ciputra (pengusaha), Ali Sadikin (Gubernur DKI 1966–1977) dan lain-lain.

Ngalap Ajip, Mengenang Warisan Kebudayaan Ajip Rosidi
Potret sampul-sampul buku karya Ajip Rosidi dipajang di pameran Kala Ajip di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung/Abdul Hamid

Ajip Dan Penerbitan

Sebagai seorang yang rakus buku, Ajip tidak ingin sendirian. Dia berusaha keras agar masyarakat juga bisa membaca, khususnya terkait kebudayaan. Lewat penerbit Pustaka Jaya, ia dan kawan-kawannya meramaikan dunia perbukuan di era tahun 1970 hingga 1980-an.

Menurut JJ Rizal, Pustaka Jaya saat itu menjadi penerbit yang khas. Pertama, karena penerbit ini memproduksi buku anak-anak. Kedua, penerbit inilah yang memulai menggunakan lukisan sebagai sampul buku.

Bambang Q. Anees, pemantik diskusi dari sudut panjang pembaca, merasa sangat dipengaruhi oleh buku-buku Pustaka Jaya. Sejak duduk di sekolah dasar ia sudah membaca karya-karya sastra dari penerbit tersebut.

Ngalap Ajip, Mengenang Warisan Kebudayaan Ajip Rosidi
Kumpulan foto-foto dan buku-buku klasik terbitan Pustaka Jaya yang dipamerkan di pameran Kala Ajip/Abdul Hamid

“Saya dulu tinggal di perkampungan dan saat itu bisa membaca buku-buku Pustaka Jaya. Didapatnya dari perpustakaan SD Inpres,” kata pria yang akrab disapa BQ. Pendirian Sekolah Dasar Instruksi Presiden (SD Inpres) pada 1973 memang menandai keberadaan perpustakaan di sekolah. Saat itu Pustaka Jaya banyak memasok buku-buku terbitannya.

Bambang secara khusus kagum dengan sosok Ajip. Menurutnya, dia sosok yang langka karena di usia 15 tahun sudah bisa berkarya saat itu. Ia juga memuji kerja penerbitan karya terjemahan Pustaka Jaya. Meski saat itu tidak dihiasi banyak gambar, tetapi bocah SD sudah bisa menikmati buku-buku tersebut.

“Buku-buku bagus yang pernah saya baca seperti Kuil Kencana, Musyawarah Burung, Haji Murad. Buku-buku itu sepertinya tidak bisa didapat anak-anak sekarang,” kata Bambang. Sebagai dokumenter karya sastra, Ajip Rosidi juga telah berhasil menerbitkan buku kumpulan karya sastra fenomenal, yaitu Langit Biru Laut Biru (2013). 

Di balik suksesnya Pustaka Jaya ini, menurut JJ Rizal, bukan karena sosok karena satu orang Ajip Rosidi saja. Pustaka Jaya juga diisi oleh orang-orang yang ahli.

“Kehebatan Pustaka Jaya ini berkat jejaring Ajip Rosidi yang luas,” katanya.

Ngalap Ajip, Mengenang Warisan Kebudayaan Ajip Rosidi
Ajip Rosidi (paling kiri) di acara peresmian pameran di Taman Ismail Marzuki yang dihadiri Gubernur Ali Sadikin. Tampak pula S. Takdir Alisjahbana (di sebelah kanan, sebagian terhalang)/Abdul Hamid

Pejuang Bahasa Daerah

Selain aktif di penerbitan, Ajip Rosidi juga aktif dalam mendorong modernisasi bahasa daerah. Salah satu warisannya adalah Yayasan Rancagé.

Lembaga tersebut didirikan pada 1989 untuk memberikan penghargaan pada karya-karya sastra berbahasa Sunda. Lembaga ini kemudian mengakomodasi karya sastra daerah lain, yaitu Jawa, Bali, Lampung, dan Madura.

Sayembara buku sastra daerah ini juga menjadi rangkaian acara Ngalap Ajip 2026. Pada tahun ini lembaga tersebut menganugerahi buku sastra berbahasa Sunda, Jawa, dan Bali.

Apresiasi pada karya sastra daerah ini merupakan bentuk komitmen Ajip Rosidi untuk memberi penghargaan kepada sastrawan lokal. Demikian cara Ajip merayakan kebinekaan Indonesia lewat karya sastra.

Ngalap Ajip, Mengenang Warisan Kebudayaan Ajip Rosidi
Potret Ajip Rosidi saat berkunjung ke Museum Affandi di Yogyakarta. Foto ini dipamerkan di pameran Kala Ajip. Acara diselenggarakan di Perpustakaan Ajip Rosidi, Kota Bandung (28 Januari–1 Februari 2026)/Abdul Hamid

Ajip Rosidi berhasil menjalankan misi kebudayaannya bahkan setelah dia meninggal dunia. Rancagé masih aktif bergulir, penerbit Dunia Pustaka Jaya masih berdiri, Perpustakaan Ajip Rosidi masih dipadati kegiatan-kegiatan literasi.

Di gedung perpustakaan ini pula kiprah Ajip Rosidi dikenang kembali. Para pegiat literasi menggelar acara Ngalap Ajip. Agenda tersebut berlangsung pada 28 Januari–1 Februari 2026. Upaya mengenang ini dilakukan dengan beragam acara, yaitu diskusi buku, pameran foto dan karya Ajip Rosidi, pemutaran film, musikalisasi puisi, dan bazar buku.

Kegiatan ini diharapkan bisa mengingatkan kepada publik bahwa Ajip Rosidi telah memberikan sumbangan berharga di bidang literasi dan kebudayaan. Meski sosoknya telah tiada, pengaruhnya masih terasa hingga kini.


Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.

Abdul Hamid

Abdul Hamid tinggal dan beraktivitas di Bandung Utara. Sesekali jalan-jalan. Berkali-kali menjelajahi bumi lewat perenungan.

Abdul Hamid

Abdul Hamid tinggal dan beraktivitas di Bandung Utara. Sesekali jalan-jalan. Berkali-kali menjelajahi bumi lewat perenungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Worth reading...
Jalan Terus: Mencari Identitas dan Menguatkan Spiritualitas