Jika biasanya mengeksplorasi kampung lawas dengan beragam peninggalannya, kali ini hanya satu peninggalan saja. Di kampung lawas Penggung, Boyolali, saya mengunjungi sebuah peninggalan—dari keluarga Pura Mangkunegaran—yang warga setempat menyebutnya monumen kematian Raditya.
Butuh sekitar 10 menit perjalanan dari pusat kota Kabupaten Boyolali. Lokasi monumen berada di balik jejeran kios, sebelum jembatan Kenteng Kluweh.

Penggung, Peradaban di tengah Perkebunan Kopi
Secara geografis, Penggung berada di antara dataran rendah dan dataran tinggi lereng timur Gunung Merbabu. Posisi ini membuat Penggung terbagi menjadi dua wilayah, yakni Penggung Barat dan Penggung Timur. Jalan raya penghubung Kota Semarang dan Kota Surakarta menjadi pemisah kedua wilayah.
Sehingga, lanskap Penggung didominasi perkebunan kopi dan permukiman yang letaknya berjauhan. Untuk menuju wilayah lain, harus melalui perkebunan tersebut. Hal ini senada dengan masa lalu Penggung, yang sejak tahun 1789 merupakan kawasan perkebunan kopi milik Johannes Agustinus Dezentje.
Tanaman kopi di perkebunan yang ada saat ini, merupakan hasil regenerasi oleh warga dengan menggunakan pohon kopi yang lebih tua umurnya. Selain ditanami kopi hasil regenerasi, sebagian ditanami tanaman tahunan untuk meningkatkan perekonomian warga.
Ketinggian pohon kopi bervariasi tergantung tahun penanaman. Semakin tinggi dan berbuah di pucuk, semakin tua umur pohon. Terlalu tinggi pohon membuat biji yang dihasilkan tidak semua dipanen, hingga akhirnya jatuh ke tanah dan tumbuh sebagai bibit pohon kopi muda. Pohon yang umurnya tua dibiarkan tumbuh menjulang, menaungi perkebunan. Sepanjang jalan ternaungi pohon besar hingga terasa sejuk karenanya.
Beberapa halaman rumah warga pun ditanami pohon kopi yang tumbuh subur. Di sisi lain, siapa sangka Penggung menyimpan cerita tragis? Kisah akhir perjalanan hidup Radityo Prabukusumo, putra mahkota Pura Mangkunegaran, 48 tahun lalu.


Jalan raya ke arah Kota Semarang (kiri) dan Boyolali-Surakarta (kanan) di wilayah Penggung, titik kecelakaan maut 48 tahun lalu/Ibnu Rustamadji
Tragedi yang Merenggut Nyawa Radityo Prabukusumo
Berdasarkan informasi rekan sekaligus keluarga Pura Mangkunegaran, Bambang Sujarwo dan Gusti Paundrakarna, Pangeran Haryo Radityo Prabukusumo lahir Minggu Wage, 20 September 1942. Beliau merupakan calon putra mahkota pewaris takhta bergelar Mangkunegara IX.
Radityo Prabukusumo merupakan putra Raden Mas (R.M) Saroso Notosuparto/Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Gusti Kanjeng Pangeran (G.K.P) Mangkunegara VIII dan sang ibu, permaisuri Gusti Kandjeng Putri (G.Kp) Sunituti. Radityo Prabukusumo wafat di usia 36 tahun akibat kecelakaan lalu lintas di Penggung pada Senin Kliwon, 21 November 1977. Pemicunya, kendaraan sedan Honda Civic yang ia kemudikan bersama Erna Santoso, gadis pujaan hatinya yang notabene ibu kandung aktris Ardina Rasti, terlibat adu banteng dengan sebuah jeep dari arah berlawanan.
“Wah, Mas, saya kira waktu itu terjadi ledakan dari salah satu kios atau kecelakaan truk tangki masuk jurang,” ungkap salah satu sesepuh desa.
Ia menambahkan, sesampainya di jalan, ia melihat dua kendaraan sudah berhenti di tengah jalan saling berhadapan. Dalam ingatannya, posisi mobil sedan yang dikendarai Radityo Prabukusumo melintang di jalur berlawanan, sedangkan jeep yang ditabrak berada di jalurnya.
“Jeep-nya utuh, Mas, cuma roda depan yang rusak. Sedannya hancur, dari bagian mesin sampai pengemudi ringsek tidak berbentuk,” tambahnya sambil menunjuk lokasi kejadian di jalan raya.
Warga sempat melakukan pertolongan pertama. Namun, karena kerasnya benturan membuat Radityo Prabukusumo tidak sadarkan diri hingga akhirnya wafat. “Ya, namanya warga mencoba menolong sebisanya, kita tidak tahu siapa korbannya, pokoknya dua orang suami istri,” jelasnya beraksen Jawa.
Ia melanjutkan, sehari setelah dilakukan evakuasi, warga dibuat terkejut dengan kabar mengenai korbannya, yakni putra mahkota raja dari Pura Mangkunegaran. Ia dan beberapa rekannya, mengakui merasa bersalah tidak bisa melakukan pertolongan lebih, tetapi juga takut jika menyalahi aturan menolong putra raja.
“Takut kena hal-hal buruk karena berani menyentuh putra raja, Mas,” ungkapnya.
Hari bahagia seketika berubah menjadi duka bagi keluarga Mangkunegara VIII. Perjalanan kedua pasangan dari Kota Salatiga harus berakhir di Penggung. Radityo Prabukusumo wafat di lokasi kejadian, sedangkan Erna Santoso luka-luka. Kabar duka membuat keluarga terpuruk seketika.
Isu tidak sedap pun segera berembus. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga. Salah satunya, pernikahan antara Radityo Prabukusumo dan Erna Santoso, dibumbui isu perselingkuhan antara Radityo Prabukusumo dengan Noeroel Rosemari, putri Keraton Kanoman Cirebon, yang berakhir perpisahan.
Radityo Prabukusumo lebih memilih menikahi Erna Santoso. Hasil pernikahan Raditya Prabukusumo dan Erna Santoso dikaruniai anak perempuan bernama Bendara Raden Ayu (B.R.Ay) Aminah Radyastuti, kakak kandung Ardina Rasti. Mungkin perjalanan mereka untuk kembali pulang bertemu keluarga di Pura Mangkunegaran.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Mendapat kabar putra mahkota wafat, keluarga segera menuju Penggung untuk membawa jenazah Radityo Prabukusumo menuju Rumah Sakit dr. Muwardi, Kota Surakarta. Sayang, sang putra mahkota dinyatakan wafat sesampainya di rumah sakit.
Setelah dilakukan pemulasaran, jenazah Radityo Prabukusumo selanjutnya dibawa ke Pura Mangkunegaran, sebelum dimakamkan di Astana Girilayu, berdampingan dengan sang ayah. Takhta raja akhirnya diwariskan kepada sang adik, yakni Gusti Pangeran Haryo (G.P.H) Sudjiwakusumo, bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Jumeneng Gusti Kanjeng Pangeran (G.K.P) Mangkunegara IX.
Upacara pelepasan jenazah Radityo Prabukusumo digelar mewah di Pura Mangkunegaran. Peti mati diletakkan di depan krobongan di Ndalem Ageng didampingi sang ibunda dan keluarga. Jenazah Radityo Prabukusumo dikenakan baju putra mahkota Pura Mangkunegaran. Pelayat tidak hanya keluarga, tetapi juga tamu kenegaraan dan warga Kota Surakarta yang menyaksikan di luar pura.

Satu tahun kemudian, keluarga Pura Mangkunegaran berinisiatif mendirikan monumen di lokasi kejadian. Monumen berbentuk pilar obelisk dengan hiasan patung setengah badan Radityo Prabukusumo ini untuk mengenang kepergian sang putra mahkota.
Terungkap satu fakta mengejutkan dari warga, monumen tersebut sejatinya berada di sisi kanan jalan. Namun, karena khawatir terjadi selisih paham dengan pemilik rumah tempat kejadian perkara, pembangunan monumen dilakukan di seberang. Bagian kemuncak dahulunya patung setengah badan Radityo Prabukusumo. Seiring waktu, patung tersebut diubah menjadi obelisk berbentuk mahkota raja, lalu patung dibawa kembali ke Pura Mangkunegaran.
Inskripsi pertama dalam bahasa Jawa berbunyi “Sekaring Suwarga Kusumaning Raditya”, yang artinya “Harum Bunga Raditya di Surga”, senantiasa menemani eksistensi monumen kematian Raditya. Inskripsi kedua, juga dalam bahasa Jawa, berbunyi: “Minangka pengetan surudipun Gusti Pangeran Haria Prabu Kusuma Putradalem Sampeyandalem Ingkang Jumeneng Mangkunegoro VIII ing Surakarta ing dinten Senen Kliwon tanggal kaping10 Besar 1909 utawi surya kaping 21 Nopember 1977”. Artinya, “Sebagai peringatan wafatnya Gusti Pangeran Prabu Kusuma, putra dari Gusti Mangkunegoro VIII di Surakarta pada Senin Kliwon 10 Besar 1909 atau 21 November 1977.“
“Dua tahun belakangan, tidak ada keluarga keraton (Pura Mangkunegaran) ke sini, Mas. Biasanya setiap tanggal seda (wafat) digelar doa Yasin dan tahlil bersama. Warga sekitar juga diundang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tidak sedikit warga yang turut serta membawakan makanan untuk dinikmati bersama setelah doa selesai digelar. “Mungkin, Ngarso Dalem (keluarga Pura Mangkunegaran) masih sibuk, Pak, jadi lupa kalau harus nyekar (ziarah) setiap tahun,” jawabku.
Monumen Kematian Raditya, Pengingat sekaligus Renungan
Keberadaan monumen kematian Pangeran Haryo Radityo Prabukusumo di Penggung sepantasnya menjadi pengingat sekaligus renungan. Tidak hanya untuk kalangan priayi, tetapi juga seluruh masyarakat. Pengingat untuk selalu berhati-hati dalam berkendara, tidak arogan, dan saling memahami antarpengguna jalan raya adalah syarat mutlak.
Terlebih ketika melintasi jalan yang cukup berbahaya, harus lebih waspada serta sehat fisik dan rohani. Sebab, faktanya medan jalan di Indonesia berbeda jauh dengan jalan raya di negara lain. Jika lelah dan belum menguasai medan, alangkah baiknya istirahat sejenak dan tidak memaksakan diri untuk melintas secara sembarangan.
Lokasi kecelakaan putra mahkota Pura Mangkunegaran di Penggung memang dikenal rawan kecelakaan. Sehingga, sering disebut “jalan tengkorak Boyolali”. Ibarat Highway Thru Hell, jalan datar dan panjang pasti sangat menggoda para pengguna jalan memacu kendaraannya. Akibatnya, banyak terjadi kecelakaan lalu lintas, selain karena kerusakan mesin atau kecerobohan pengemudi lain.
Peristiwa kecelakaan dan monumen kematian Radityo Prabukusumo ibarat dua sisi mata uang. Satu peristiwa, terabadikan dalam dua bingkai. Bukan untuk menakuti pengguna jalan atau warga, melainkan sebagai pengingat sekaligus renungan bersama. Pasti ada hikmah di balik keberadaan monumen tersebut. Besar harapan, keberadaan monumen tetap terjaga oleh warga, meski perlahan terdampak pengembangan wilayah dan jalan raya di sekitarnya.
Kenali Indonesiamu lebih dekat melalui Instagram dan Facebook Fanpage kami.
Tertarik buat berbagi cerita? Ayo kirim tulisanmu.
Biasa dipanggil Benu. Asli anak gunung Merapi Merbabu. Sering nulis, lebih banyak jalan-jalannya. Mungkin pengin lebih tahu? Silakan kontak di Instagram saya @benu_fossil.





